Nemberala adalah Surga

Nemberala, Rote Ndao, NTT

Maukah anda berwisata pantai yang sebenarnya ? Pasir putih terhampar di mana-mana. Tenang dan menghanyutkan. Tidak hiruk pikuk. Bebas dari bangunan dan kios-kios penjualan suvenir. Jika anda menjawab iya, kemasi ransel anda lalu gapailah Nemberala.

Nemberala adalah destinasi wisata kelas dunia. Langganan peselancar dari berbagai belahan bumi. Ada dari negeri sakura, negeri kanguru, hingga negeri Paman Sam. Peselancar membanjiri pantai yang terletak di barat daya Pulau Rote itu. Terutama di bulan Juli sampai September. Karena mereka hendak mencicipi surga. Surga berupa sembilan gulungan ombak dalam satu kali deburan.

Gulungan ombak nomor dua dunia

Konon, dahsyatnya ombak Nemberala menduduki peringkat kedua di dunia. Dia cuma kalah dari Hawaii. Kuta saja kalah mentereng. Nemberala jelas bukan pantai kacangan. Diam-diam, di kalangan peselancar asing, Nemberala telah menjadi tujuan wisata minat khusus.

Peselancar asing usai menaklukkan ombak Nemberala

Kamis sore, saya mendapat kesempatan emas menyaksikan eksotisme Nemberala. Pak Fadlun mengajak saya, Pak Jarno, dan Pak Edi berpelesir ke sana. Turut pula Reza dan Ridho, dua buah hati Pak Fadlun serta bawahannya, Mesakh dan Felipus. Sepanjang dua jam perjalanan, kami menyusuri jalanan sempit, berliku, naik-turun dan bopeng-bopeng. Sabana di kiri-kanan jalan mulai menguning. Sapi, kambing dan kuda kurus masih betah merumput di sana. Langit biru muda terang benderang tersaput putih awan.

Pemandangan berubah begitu memasuki gerbang Nemberala. Mata dimanjakan lambaian nyiur-nyiur kelapa yang memayungi desa. Lalu karpet pasir putih menjadi alas yang sempurna bagi desa yang bersahaja itu. Rumah-rumah beratap daun lontar berpadu manis dengan pagar batu karang sepinggang yang ditumpuk teratur. Di ujung sana, anak-anak desa lari-lari berebut si kulit bundar di lapangan desa. Gatal rasanya kaki ingin ikut bergabung.

Mengolah si kulit bundar di lapangan pasir putih

Mendekati Nemberala, kami disambut bukit-bukit karang ditumbuhi pohon kerdil serupa taman bonsai. Di sela-selanya, centang perenang bangunan-bangunan penginapan setengah jadi dipagari batu karang setinggi bahu. Cuma selintas lalu isi di dalam bangunan itu yang terlihat dari luar. Ada bungalow, bar, jejeran kursi malas berpayung menghadap pantai, dan jalan setapak batu sebagai penghubung. Pemiliknya jelas investor kelas kakap. Dari penuturan Pak Fadlun, bangunan-bangunan itu dan tanah di beberapa bagian pantai telah disewa atau dikuasai oleh turis Australia. Hendak disulap jadi resor-resor bergengsi. Uh, modal asing ternyata telah menusuk hingga pelosok nusantara. Jangan sampai warga lokal kelak dijadikan penonton saja, karena urusannya akan panjang.

Bulu babi satu

Bulu babi dua

Mobil berhenti. Kami tiba di pantai. Saya langsung menghambur keluar, melepas sandal gunung, berlari menuju bibir pantai sambil membentangkan kedua tangan lebar-lebar. Udara hangat pantai bersama hembusan angin segar segera menyergap. Pasir putih halus memijat-mijat lembut seluruh bagian kaki. Pasir putih bersih itu berselang-seling dengan cangkang kerang aneka rupa dan bentuk. Permukaan pantai yang dangkal membuat semua isinya terlihat jelas, bahkan dari kejauhan. Batu karang, ikan, dan pasir putih dasar laut. Hei, ada sesuatu yang bergerak-gerak di depan sana. Wow, ada bulu babi bersembunyi di batu karang. Dia tidak sendiri. Temannya ada di bagian lain batu karang. Di kejauhan dua bule mengayuh selancarnya meliuk-liuk menembus terowongan ombak.

Pak Fadlun (kanan) menikmati Nemberala dari pondok jamur

Kami sibuk sendiri-sendiri. Pak Jarno, Reza dan Ridho menyusuri bibir pantai sambil berburu cangkang kerang pilihan. Pak Edi, Pak Fadlun dan Felipus bercengkerama di pondok di belakang sana. Mesakh mengamati kami semua dari menara pengamatan setinggi 10 meter. Saya berjalan menyusuri pantai, memunguti kerang, sembari menonton aksi para peselancar. Saya gembira bukan kepalang berhasil menyesap surga. Surga dunia. Nun jauh di depan sana, arah barat daya, terletak Pulau Ndana. Penghuninya para tentara Marinir penjaga pos perbatasan. Mereka ditemani kijang, kelelawar, ketam, dan rusa.

Pak Jarno (kiri), Pak Edi (tengah), saya dan Pulau Ndana di belakang sana.

Senja merambat di ufuk Barat Nemberala

Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru sedetik lalu menghirup surga namun semburat jingga telah menyirami cakrawala. Mentari beringsut turun ke peraduan. Senja hampir sempurna. Saatnya kembali. Sampai jumpa lagi Nemberala. (bagian keempat)

Depan dari kanan Reza, dan Ridho. Belakang dari kanan, Mesakh, Pak Fadlun, Felipus dan sopir SKB Rote Ndao yang saya lupa namanya.

14 responses to this post.

  1. Posted by dindin on Juli 7, 2010 at 12:05 am

    jempol……bagusss!!!!!

  2. Posted by sedjatee on Juli 13, 2010 at 6:21 pm

    wow kereeennn… masih asli dan orisinil
    semoga bisa dikelola secara arif untuk kemajuan masyarakatnya
    salam sukses..

    sedj

  3. kang, kok ga ada info pantai itu di daerah mana ya?

  4. mas rahman, tulisan ini sebetulnya lanjutan dari tiga tulisan di bawahnya. jadi, lokasinya sengaja tak disebutkan karena sudah ada di tiga tulisan sebelumnya.

  5. iya bang. apik tenan. cobalah mampir ke sana. sukses selalu bang.

  6. mungkin lebih baik disebutkan atau dikasih keterangan, biar pembaca awam kyk saya yg tersesat tdk bingung dan penasaran🙂

  7. oke mas rahman, langsung dilaksanakan permintaan anda.

  8. Posted by yanuar on Juli 24, 2010 at 8:02 am

    nyuwun sewu mas, kalo dilihat dari foto-foto yang anda tampilkan, itu pantai Bo’a mas, bukan nemberala…. matur nuwun………

  9. mas yanuar betul. memang bo’a yang ada di tulisan ini, tapi karena bo’a adalah salah satu bagian dari pantai nemberala maka saya sebut saja nemberala. maksudnya, biar tidak membingungkan pembaca. selain itu, wisatawan yang ke sana umumnya menyusuri nemberala dari bagian yang berombak tenang sampai yang berombak tinggi di boa. apapun itu, terima kasih untuk tanggapannya, mas yanuar.

  10. Admin ayahaan…. Kami Menggunakan Artikel Anda Untuk Website Kami Karena Sangat Membantu … Sumbernya Kami Tetap Ikut Sertakan Untuk Laman Ini …

  11. oke bang. silahkan saja.

  12. Posted by imelda on Februari 20, 2011 at 3:50 am

    Sungguh indah kampung nenek dan kakekku, trima kasih mas subchan saya hanya mengenal dan melihatnya dari dunia maya belum pernah menginjakkan kaki di tanah asal alm nenek dan kakek saya….

  13. ayo imelda, luangkan waktu sejenak untuk main ke kampung halaman kakek-nenek anda. rote itu asli indah bukan buatan. coba deh buktikan sendiri🙂

  14. kalo saya campuran Flores(Ende) – Rote,yang sekarang tinggal di Bali dan bekerja diperusahaan Asing.Banyak Klien saya yang bilang kalau saya orang Portugis,India,Arab dan Amerika Latin karena wajah saya cenderung mirip ke Timur tengah dan Portu dan AM.Latin seperti yang saya sebutkan d atas.tp saya bangga dengan orang tua saya dan bangga juga dengan daerah NTT yang sangat unik dgn beragam adat dan budaya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: