Posts Tagged ‘cikeas’

Ayo, Curhat ke SBY-Boediono

Lomba Menulis Surat Buat Presiden dan Wakil Presiden RI

(batas akhir 20 Oktober 2009)

PPWI Award & Lomba Menulis Surat Buat Presiden – Wakil Presiden RI periode 2009-2014

Aspirasi kreatif dan jenius baik berupa ide, gagasan, saran, maupun wacana bahkan “curhat” dari warga biasa kepada para pemimpin bangsa ini, sangat dibutuhkan untuk membantu mempercepat akselarasi pembangunan nasional. Sebab, tanpa adanya masukan dan saran dari rakyat (publik) secara langsung kepada pemimpin nasional, para pemimpin bakal kehilangan salah satu kontrol sosial—bahkan sarana introspeksi diri yang ampuh.

Dilatarbelakangi maksud dan tujuan di atas, Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) berinisiatif menggelar “Lomba (Nasional) Menulis Surat Buat Presiden dan Wakil Presiden RI (2009-2014).” Lomba berskala nasional diperuntukkan bagi masyarakat umum, wartawan, pewarta warga maupun pelajar/mahasiswa.

Lomba ini memperebutkan total hadiah puluhan juta rupiah, yang tersedia bagi 3 (tiga) orang dari masing-masing kategori. Khusus Juara I memperoleh hadiah spesial berupa PPWI Award, dan bagi semua pemenang I, II, dan III, diberikan trofi, piagam penghargaan, uang pembinaan, serta hadiah-hadiah menarik dari sponsor. Selain itu, seluruh naskah yang masuk akan dibukukan dan diserahkan kepada Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih periode 2009 – 2014. Selengkapnya

Iklan

Balita Juga Tahu…

Sang surya baru saja kembali ke peraduannya. Azan magrib berkumandang. Di ruang keluarga, saya duduk bersila di atas kasur lipat. Lembar demi lembar koran pagi baru mulai saya baca. Di depan saya, Nadia tengkurap. Dia tak sendiri. Bola-bola plastik warna-warni sebesar bola pingpong menemaninya. Bola-bola malang itu tak bulat lagi bentuknya. Jari-jemari bayi belum genap tiga tahun itu telah membuatnya penyok di sana-sini.

nadia baru
Nadia

Bosan dengan bola plastik, perhatian Nadia beralih. Mata bulat polosnya menatap tajam ke arah saya. Penuh konsentrasi. Pipinya yang tembem mengencang. Lesung pipitnya tenggelam. Semula, saya kira dia sedang tertarik dengan gambar iklan di koran. Biasanya memang begitu. Jika sudah demikian, dia akan langsung menerjang dan merampas koran itu tanpa kompromi. Tak peduli siapapun yang sedang memegang koran. Saya salah sangka. Sama sekali tak diusiknya koran itu. Anehnya, sorotannya tak bergeser sedikitpun dari koran yang masih saya baca. Tapi, saya tak ambil pusing. Saya teruskan saja membaca. Namun, sekonyong-konyong, Nadia berteriak keras.

Selengkapnya