Archive for the ‘Arsip 2010’ Category

Dedikasi Keluarga ”Oemar Bakri”

Suhirno (kiri) dan Andika Tri H di depan pintu masuk TBM Lesta Wacana, Desa Gendol, Sine, Ngawi (dok. msubchan)

                        Puluhan tahun bekerja sebagai amtenar sudah pasti meletihkan fisik dan pikiran. Maka ketika masa pensiun tiba, rehat panjang sembari menekuni hobi atau menemani cucu menjadi pilihan populer. Berbanding terbalik dengan pensiunan amtenar yang satu ini. Pengabdian selama empat windu sebagai guru SD rupanya masih belum cukup bagi Suhirno. Jiwa pendidiknya terus bergejolak kendati masa pensiun tiba pada 1995. Pria berpostur sedang dengan rambut perak sebahu ini berpikir keras menyiapkan arena pengabdian selanjutnya. Selengkapnya

Surga Baca di Kaki Lawu

 

TBM Lesta Wacana (pojok kanan) di Desa Gendol, Kecamatan Sine, Ngawi tertutup rimbunnya pepohonan. (dok. msubchan)

           Kisah negeri fantasi yang tersembunyi di balik lemari baju dalam dongeng fiksi The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe seperti terulang di Desa Gendol, Kecamatan Sine, Ngawi. Desa berjarak 200 Kilometer dari Surabaya itu terletak di kaki Gunung Lawu. Di balik rapatnya pintu bambu berlapis terpal putih yang memagari halaman, terhampar luas taman indah bak kebun raya. Taman terbentang ke samping kiri dan kanan seluas dua lapangan tenis.

            Kebun salak seluas lapangan bola voli menguasai bagian timur taman. Pohon buah terdapat di mana-mana. Buah durian, buah jambu air, buah pisang, dan buah nangka. Ada pula pohon jati, dan sono. Aneka tanaman dalam pot tanah liat dan plastik seperti sri rejeki, bugenvil, euphorbia, kaktus, kuping gajah, dan ekor ayam mengelilingi bakal kolam renang anak. Rimbunnya pepohonan nyaris menutupi rumah berwarna putih di pojok paling kanan. Rumah yang telah menjadi lentera desa dalam empat tahun terakhir.

            ”Sejak tahun 2009, penyandang buta aksara di kecamatan ini berhasil dituntaskan,” ucap Andika Tri Hirniamsyah bangga.

Selengkapnya

Pak Fadlun dan Keluarganya

Profilnya yang unik membuat saya kagum. Unik karena dia satu-satunya kepala unit teknis kami di bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bukan putra daerah. Dia asli Kebumen, kabupaten berjarak 180 Kilometer dari dari Semarang, ibukota Jawa Tengah.

Fadlun Sururiyadi nama lengkapnya. Kombinasi bahasa Arab dan Jawa itu kira-kira bermakna seseorang yang penuh rasa adil, selalu bahagia dan dinaungi kebijaksanaan. 

Penghujung 2008, pertama kali saya mengenalnya. Dia hadir dalam pertemuan rutin tahunan di Surabaya. Dalam kegiatan itu, seorang kawan, Yanti pernah salah tafsir kepadanya. Tepat saat Fadlun hendak check in. Begitu Pak Fadlun menuju meja check in, Yanti segera menyodorkan daftar hadir untuk wilayah Jatim kepadanya. Semua didasari raut wajah dan postur khas Jawa yang melekat pada diri Pak Fadlun. Melihat itu, Pak Fadlun tak marah. Dia cuma tersenyum simpul sambil memberitahu Yanti.

 “Saya bukan dari Jatim, mbak. Saya dari Rote, NTT,” ucapnya.

 Yanti kaget bukan kepalang. Mukanya merah padam. Yanti buru-buru minta maaf. Namun, Yanti masih penasaran. Beberapa kali dia melirik sembari mengamati inci demi inci Pak Fadlun, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Yanti tak salah. Perawakan Pak Fadlun memang beda macam langit dan bumi dengan tipikal warga NTT yang tinggi besar, dan berambut ikal. Sebaliknya, Pak Fadlun berpostur sedang, ramping, dan rambutnya lurus belah samping.

 Karakter khas tanah kelahirannya terpancar kuat dari raut wajah ovalnya. Pendiam, sabar, tenang, dan baik hati. Rahang yang kukuh membuatnya tampak berwibawa. Wibawa  yang membuatnya negitu dihormati anak buah dan rekan sejawat. Kharisma demikian tak dibangun dalam semalam.

 Sudah 12 tahun Fadlun menjejakkan kakinya di sini. Sejak menjadi staf fungsional atau pamong belajar (PB) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Rote Ndao pada tahun 1998 sampai akhirnya dipercaya memegang tampuk jabatan tertinggi sebagai Kepala SKB pada akhir 2006.  

Kantor SKB Rote Ndao (dok.msubchan)

Sudah setengah windu, Fadlun memimpin, mengelola dan mengendalikan unit terdepan milik Kementerian Pendidikan Nasional di pulau terpencil. Tanggungjawab utamanya menggelar pendidikan nonformal dan informal, jamak disingkat PNFI. Programnya terentang lebar. Dari menyiapkan generasi penerus bangsa lewat pendidikan anak usia dini (PAUD), memberi kesempatan kedua untuk mereka yang putus sekolah dengan pendidikan kesetaraan dalam bentuk Kejar Paket A sampai Paket C, pemberantasan penyandang buta aksara, hingga pelatihan keterampilan bagi kaum miskin dan pengangguran melalui pendidikan kecakapan hidup. Selengkapnya

Nemberala adalah Surga

Nemberala, Rote Ndao, NTT

Maukah anda berwisata pantai yang sebenarnya ? Pasir putih terhampar di mana-mana. Tenang dan menghanyutkan. Tidak hiruk pikuk. Bebas dari bangunan dan kios-kios penjualan suvenir. Jika anda menjawab iya, kemasi ransel anda lalu gapailah Nemberala.

Selengkapnya

Rote Ndao

Syahdan, dahulu sebuah kapal tentara Portugis terjerat badai di Laut Sawu. Kapal itu karam, tetapi penumpangnya berhasilmenyelamatkan diri ke sebuah pulau. Di pulau tak bernama itu, rombongan tentara asing ini berpapasan dengan penduduk lokal, seorang petani. Dalam bahasa Portugis, seorang tentara bertanya dimana ia sekarang. Jarang melihat orang kulit putih, sang petani kaget bukan main. Dia tak mengerti pula bahasanya. Dengan tergagap-gagap, petani menjawab hanya dengan menyebut namanya. “Rote..,Rote….” Jadilah pulau itu diberi nama Rote.

Perhatikan tiga anak Rote di belakang saya. Kulitnya kuning dan berambut lurus tebal.

Ini hanya salah satu legenda asal-usul Pulau Rote yang diceritakan turun-temurun. Namun, versi ini paling diyakini. Alasan utamanya adalah warisan genetik Portugis yang bisa dijumpai sampai hari ini di sana. Warisan ini paling banyak menurun pada kaum hawa. Mereka terlahir ke bumi dengan kulit putih bersih, dan rambut lurus nan lebat. Konon, anugerah ini menahbiskan mereka sebagai yang tercantik di seluruh dataran Timor.

Selengkapnya

Selat Pencabut Nyawa

Sebelum bertolak ke Rote, sempat saya telusuri informasi tentang Selat Pukuafu di dunia maya. Tak ada kabar baik dari sana kecuali ketakutan dan bertumbangannya nyawa. Penghujung Januari empat tahun silam, riwayat kapal motor Citra Mandiri Bahari berakhir. Dihempas ombak ganas, seratus enam puluh penumpang dan muatannya tumpah ke laut. Empat puluh satu orang pulang tinggal nama. Sembilan orang tak diketahui rimbanya. Selebihnya berhasil diselamatkan tim penolong.

Medio Januari tiga tahun berikutnya, selat di Timur Pulau Rote itu kembali makan korban. Kabur dari hotel prodeo, delapan belas imigran gelap asal Afghanistan, Pakistan dan Myanmar meregang nyawa. Perahu nelayan sewaan yang dipakai kabur ke negeri kanguru, pecah berantakan dihantam gelombang besar. Mereka bagai lepas dari mulut harimau masuk mulut buaya. Tiga dijemput ajal, enam hilang. Nasib baik masih memayungi delapan imigran lainnya. Lima berhasil renang ke daratan dengan susah payah. Tiga sisanya ditolong nelayan setempat.

19 Desember 2009. Gara-gara telat meramal cuaca dan gelombang, dua kapal penumpang, Ile Mandiri dan Uma Kalada terjebak arus gelombang tiga meter di Pukuafu. Demi keselamatan, nahkoda memutar balik kemudi kembali ke Kupang.

Selengkapnya

Rote, Kami Datang !

Dari Sabang sampai Merauke

Dari Miangas sampai Pulau Rote…

Anda pasti tahu potongan jingle iklan SBY yang disadur dari iklan Indomie saat kampanye Pemilu Presiden 2009 lalu. Anda juga pasti tahu kalau empat daerah itu merupakan batas terluar bumi nusantara. Pulau Sabang di Barat, Merauke di Timur. Lalu, di Utara teronggok Pulau Miangas dan Pulau Rote di Selatan.

Tentu menarik jika mendapat kesempatan menginjakkan kaki di empat batas wilayah republik ini. Sensasi perjalanan, menyelami kehidupan lokal, menikmati keindahan alam, atau mencicipi kuliner khas. Pengalaman semacam itu bak intan berlian.

Pulau Rote (dok.www.rotendaokab.go.id)

Pada suatu sore, tak ada angin, tak ada hujan, datang perintah untuk bertugas ke Pulau Rote. Durian runtuh kawan. Tak perlu berpikir dua kali untuk menerima tugas menantang ini. Tugas saya sebagai penyusun laporan untuk bimbingan teknis yang dilakukan dua rekan senior saya, Pak Jarno dan Pak Edi.

Selengkapnya