Selat Pencabut Nyawa

Sebelum bertolak ke Rote, sempat saya telusuri informasi tentang Selat Pukuafu di dunia maya. Tak ada kabar baik dari sana kecuali ketakutan dan bertumbangannya nyawa. Penghujung Januari empat tahun silam, riwayat kapal motor Citra Mandiri Bahari berakhir. Dihempas ombak ganas, seratus enam puluh penumpang dan muatannya tumpah ke laut. Empat puluh satu orang pulang tinggal nama. Sembilan orang tak diketahui rimbanya. Selebihnya berhasil diselamatkan tim penolong.

Medio Januari tiga tahun berikutnya, selat di Timur Pulau Rote itu kembali makan korban. Kabur dari hotel prodeo, delapan belas imigran gelap asal Afghanistan, Pakistan dan Myanmar meregang nyawa. Perahu nelayan sewaan yang dipakai kabur ke negeri kanguru, pecah berantakan dihantam gelombang besar. Mereka bagai lepas dari mulut harimau masuk mulut buaya. Tiga dijemput ajal, enam hilang. Nasib baik masih memayungi delapan imigran lainnya. Lima berhasil renang ke daratan dengan susah payah. Tiga sisanya ditolong nelayan setempat.

19 Desember 2009. Gara-gara telat meramal cuaca dan gelombang, dua kapal penumpang, Ile Mandiri dan Uma Kalada terjebak arus gelombang tiga meter di Pukuafu. Demi keselamatan, nahkoda memutar balik kemudi kembali ke Kupang.

Pukuafu seperti momok dalam dunia bahari Nusa Tenggara Timur. Rekam jejaknya sebagai selat pencabut nyawa sudah lama tersohor. Pusaran arus kuat dengan gelombang tinggi nan berbahaya tak terjadi tiba-tiba. Ia adalah hasil pertemuan tiga arus besar. Samudera Hindia, Laut Timor dan Laut Sawu. Perilakunya tak bisa ditebak. Ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika setempat soal tinggi ombak kadang bertolak belakang dengan kenyataan di tengah laut. Dari cuma setinggi dua meter berlipat dua jadi empat meter. Inilah Segitiga Bermuda versi Indonesia.

Dipotret dari kapal cepat Citra Jet rute Rote-Kupang, terlihat kapal cepat Express Bahari rute Kupang-Rote baru saja lepas dari Pukuafu.

Semua cerita seram Pukuafu kini bagai terputar ulang di depan mata. Setelah satu jam perjalanan lancar, cuaca cerah, angin bertiup sepoi-sepoi, ikan terbang berloncatan kesana-kemari, mimpi buruk datang. Kapal tiba-tiba oleng ke kanan dan kiri menerjang hadangan ombak yang naik turun dengan kekuatan luar biasa. Dalam sekejap, keadaan tenang berubah menjadi tegang. Raut muka penumpang di dek VIP pucat pasi. Lagu pop Barat di layar televisi tak mampu lagi menghibur penumpang. Semua mata terpaku pada jendela masing-masing menyaksikan ombak yang menggila.

Tamparan demi tamparan gelombang dahsyat menerpa bertubi-tubi lambung sampai buritan. Dari jendela terlihat buih-buih putih membuncah terhambur pecah mengerikan di seluruh badan kapal. Gelombang berkali-kali mampu mengangkat kapal setinggi dua meter lalu menghempaskannya seolah tanpa beban. Nyali saya ciut melihat air laut yang menakutkan, bergulung-gulung dahsyat ingin menyambar kapal. Saya memandangi permukaan laut yang biru gelap dengan kedalaman tak terbayangkan dan dunia asing di bawah sana. Ngeri membayangkan diri tenggelam. Mata kami terbuka lebar-lebar akan kekuasaan Tuhan yang demikian besar tak terbatas.

Deru mesin kapal meraung-raung keras. Bukti kerja keras nahkoda mengendalikan kapal agar tak tersedot pusaran air lalu berputar-putar seperti gasing. Kapal terus bergerak maju dengan kecepatan tinggi. Coba melepaskan diri dari cengkeraman ombak. Laju kapal yang berulang oleng lantas terbang dan terhempas keras mulai meruntuhkan stamina. Kepala pening. Perut yang terisi sarapan sejam lalu ikut-ikutan bergejolak. Mabuk laut melanda. Air liur asin menahan muntah. Kelu bukan buatan. Pelajaran penting pertama saya dapat dari sini. Kalau mau berlayar, jangan makan berat sejam sebelumnya.

Lima belas menit berlalu, pertarungan nahkoda melawan sergapan ombak belum reda. Kapal berkeras maju dari tarikan tangan-tangan Pukuafu. Perjuangan tak kenal lelah nahkoda berbuah manis. Genap setengah jam, laju kapal stabil kembali. Pukuafu telah kami tinggalkan di belakang sana. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Ajaib. Mabuk laut saya ikut lenyap dalam sekejap. Saatnya menikmati perjalanan. Bergegas saya tinggalkan dek VIP menuju dek atas, dek ekonomi. Pak Jarno tak mau ketinggalan. Naik lima anak tangga, kami tiba di dek ekonomi. Dek itu penuh sesak dengan penumpang dan barang bawaan. Semua kursi terisi. Yang tak kebagian terpaksa duduk di bibir pintu besi persegi, di lambung samping kapal. Sambil merunduk kami melewati pintu besi itu menuju anjungan. Berpegangan pada pagar alumunium setinggi pinggang, tak terkatakan indahnya pemandangan. Laut seluas langit. Biru mendebarkan. Kapas-kapas awan berpencar-pencar menawan di horison biru muda. Terbentang tak terhingga. Semilir angin membelai lembut leher, wajah, dan menerbangkan rambut seperti dikipasi. Serpihan ombak memercik di pipi. Dingin dan asin tentu saja.

Baris kelima tempat duduk kami. Pak Jarno (kanan) sibuk bertelepon ria sedang Pak Edi bercukur sembari menikmati pemandangan dari jendela.

Puas menikmati bentangan alam, kami kembali ke dek tengah. Tuas di samping kursi saya tarik ke atas lalu punggung mendorong kursi sedikit ke belakang. Ah, enaknya meluruskan tulang belakang yang mulai pegal-pegal. Saya mencoba tidur sejenak tapi pendingin udara di dek ini seperti kulkas. Pak Jarno dengan jaket denim gelisah di kursinya. Ia berulangkali menuju dek ekonomi untuk mengejar matahari. Saya yang cuma dibungkus jaket poliester tipis sudah barang tentu gagal menghadang sengatan hawa dingin. Maka kandas sudah rencana melelapkan diri. Hanya bisa setengah tertidur, setengah terjaga. Begitu terus sampai setengah jam. Bosan menguap terus, saya kembali menyaksikan keindahan alam dari jendela.

Sepasang atol di Pulau Semau.

Rupanya kapal telah memasuki wilayah Pulau Semau. Pulau karang ini sangat menarik perhatian. Sepasang atol raksasa kelabu berdiri berdampingan di pantainya. Kokoh, keras, dan garang bak penjaga gerbang istana. Berikutnya, daratan yang lebih besar mulai terlihat samar-samar di kejauhan. Semakin dekat wujudnya tampak jelas. Teronggok seperti perahu terbalik dengan bukit-bukit hijau zamrud berselang-seling dengan berandanya hamparan pantai berpasir putih. Dikawal laut di segala penjuru. Laut Sawu menjaga di arah Utara dan Barat. Samudera Hindia mengawasi sebelah Utara dan Selat Pukuafu di bagian Timur. Pulau Rote di pelupuk mata.

Pulau Rote

Bukan "Dora The Explorer" tapi saya baru tiba di dermaga Pelabuhan Ba'a, Rote Ndao dengan kapal cepat Express Bahari.


Selamat datang di Pelabuhan Ba'a, Rote Ndao, NTT.

Kapal merapat. Tiba di dermaga Pelabuhan Ba’a, Rote Ndao pukul sebelas siang, Persis dua jam seperti dalam jadwal. Satu per satu penumpang melangkahkan kaki meninggalkan kapal. Sampai juga kami menginjakkan kaki di bumi paling selatan nusantara. Pak Fadlun, Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Rote Ndao melambai-lambaikan tangan di kejauhan dari balik pintu masuk pelabuhan. Mengenakan setelan safari coklat susu, pria asli Kebumen itu menanti kami bersama sopir dan anak keduanya, Ridho. Di belakangnya, mobil keluarga hijau lumut keluaran Jepang, telah disiapkan untuk mendukung tugas kami. Kami datang. Kami melihat. Kami siap menunaikan misi. (bagian kedua)

12 responses to this post.

  1. Posted by mrceko on Juni 27, 2010 at 8:36 pm

    thank’s brow dah mw berbagi pengalamanx

  2. thank’s juga mas tio sudah sudi mampir.

  3. thank’s juga mas tio sudah sudi mampir.
    +1

  4. […] pasti, tapi tampaknya memang potensial tidak menyisakan kenangan indah karena ia sampai dijuluki Selat Pencabut Nyawa *klik.. dan baca aja ya posting-an menarik mas Subchan di link […]

  5. makasih kuke buat link-nya. wah, ceritanya seru tuh. nggak sabar nunggu ceritanya yang di nemberala.

  6. Posted by fadhli on November 7, 2010 at 9:56 pm

    i love rote

  7. i luv rote too

  8. Posted by encka on Desember 27, 2012 at 2:51 am

    Rencana tahun baru mau kesana tapi setelah dengar cerita tentang ganas’y selat puku afu jadi merinding gak mau rencana indah liburan menjadi hal yg tidak terduga
    mending cancel ajalah

    cukup berputar” di kota kupang saja

  9. Posted by YOSEPSI TUY on Februari 10, 2013 at 2:50 am

    biar pun pulau rote ganas tapi banyak kenangannya,dan dri itu semua adalah rancangan TUHAN,

  10. […] pasti, tapi tampaknya memang potensial tidak menyisakan kenangan indah karena ia sampai dijuluki Selat Pencabut Nyawa *klik.. dan baca aja ya posting-an menarik mas Subchan di link […]

  11. bangga px daerah yg indah. i love rote…

  12. Posted by Yandres Nggebu on April 11, 2016 at 6:51 pm

    Sebelumnya terima kasih untuk ceritanya yang menarik, sedikit koreksi foto dengan judul Sepasang Atol di puau Semau seharusnya Sepasang atol di Pulau Rote.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: