Posts Tagged ‘Nurcholish Madjid’

In Memoriam Nurcholish Madjid

”Jadilah bambu. Jangan jadi pisang. Daunnya lebar membuat anaknya tidak kebagian sinar matahari. Bambu lain rela telanjang asal anaknya, rebung, pakaiannya lengkap.”

Metafora itu berulang kali dilontarkan cendekiawan Nurcholish Madjid (66) dalam berbagai kesempatan. Mengingatkan bangsa ini betapa pentingnya menunda kesenangan untuk hari esok yang lebih baik. Menahan diri dari kemewahan dan mementingkan pendidikan.

”Bila perlu orangtua melarat, tapi anaknya sekolah dengan baik,” pesannya.

Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid

Dalam buku pamungkasnya, Indonesia Kita, Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish, menuturkan bahwa pendidikan adalah investasi paling strategis dan produktif. Karena itu, sudah sewajarnya jika pendidikan diletakkan pada salah satu tingkat paling tinggi dalam skala prioritas pembangunan bangsa dan negara.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Umumnya, hasilnya baru terlihat dalam 20 tahun atau satu generasi. Oleh karena itu, diperlukan ketabahan untuk menunda berbagai harapan kesenangan, dan untuk secara bersama-sama memikul beban penundaan itu. Khususnya dalam semangat ”lebih baik sekarang mandi keringat saat pendidikan daripada mandi darah saat perjuangan.”

Selengkapnya

Pesan Kemerdekaan

caknur.jpg

Saya sebetulnya berniat memasang postingan ini tepat pada Dirgahayu ke-64 Republik Indonesia, 17 Agustus 2009. Namun, karena satu dan lain hal, saya terlupa. Baru sepekan berikutnya, saya teringat. Ya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Memang, pesan kemerdekaan ini ditulis pada HUT ke-58 RI di tahun 2003 oleh almarhum Nurcholish Madjid. Meski begitu, menurut saya, pesan ini masih relevan untuk kondisi bangsa saat ini. Bahkan, hingga beberapa tahun mendatang sampai kemerdekaan yang dicita-citakan benar-benar terwujud. Dirgahayu Indonesia.