Posts Tagged ‘Kategori’

Surabaya Dikepung Mal

Galaxi Mal 2 (Dok. tatamulia.co.id)
Galaxi Mal 2, salah satu mal baru di Surabaya Timur (Dok. tatamulia.co.id)

Bak cendawan di musim hujan. Pepatah ini tepat untuk menggambarkan kondisi mal di Surabaya sekarang ini. Fenomena ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ini menunjukkan membaiknya investasi namun di sisi lain kekhawatiran pun merebak. Apalagi kalau bukan timpangnya daya serap pasar dengan banyaknya mal baru. Ini akan menjadi gelembung sabun yang bakal meletus. Rendahnya okupansi bisa memicu persaingan tidak sehat. Bila tidak diantisipasi, bayangan munculnya mal mangkrak tak terelakkan.

Oleh : M Subchan S – Purnomo Siswanto – Ary Nugraheni

Sesekali cobalah berkeliling Surabaya. Lihatlah pertumbuhan mal yang tidak cuma modern tapi juga gemerlapan. Lihat saja superblok City of Tomorrow (Cito) yang tengah dibangun di kawasan bergengsi, Jalan Ahmad Yani, utara bundaran Waru. Cito menghimpun hotel bintang lima, kantor, mal, apartemen, dan lainnya di atas lahan seluas 3 hektar.

Selengkapnya

Putus Sekolah Bukan Kiamat

Proses belajar mengajar siswa Kejar Paket di Surabaya (Dok. BPPNFI Reg. 4 Sby)
Proses belajar mengajar siswa Kejar Paket di Surabaya (Dok. BPPNFI Reg. 4 Sby)

Oleh: M Subchan Sholeh*

Gemerlapnya Surabaya sebagai kota metropolitan dengan aneka fasilitas ternyata tak berbanding lurus dengan meratanya akses pendidikan. Indikasinya, jumlah anak putus sekolah di Kota Pahlawan masih cukup tinggi. Ironisnya, ini terjadi di hampir seluruh jenjang pendidikan. Angka terbanyak usia putus sekolah berada di kisaran usia 7-12 tahun atau usia siswa SD. Surabaya Utara menempati posisi tertinggi dengan jumlah 3.429 anak. Peringkat berikutnya Surabaya Timur (1.958 anak), Surabaya Pusat (1.829 anak), Surabaya Selatan (1.569 anak) dan Surabaya Barat (894 anak).
Jumlah anak putus sekolah terbanyak berikutnya berada di kisaran usia 16-18 tahun atau tingkat SMA. Paling besar masih di Surabaya utara dengan jumlah 499 anak disusul Surabaya Pusat (277), Surabaya Timur (218), Surabaya Selatan (166) dan Surabaya Barat (118). Jumlah anak putus sekolah paling sedikit berada di kisaran usia 13-15 tahun atau jenjang SMP. Di Surabaya Utara ada 468 anak, Surabaya Pusat (237), Surabaya Timur (204), Surabaya Selatan (182), dan Surabaya Barat (104).

Selengkapnya

Wajah Kota yang Mendua

Oleh : M Subchan Sholeh

Bus gandeng tiga, alat transportasi massal andalan Kota Curitiba, Brasil

Bus gandeng tiga, alat transportasi massal andalan Kota Curitiba, Brasil

Tak terasa, sudah dua tahun duet Wali Kota Bambang DH dan Wakil Wali Kota Arif Afandi memimpin Kota Pahlawan ini. Keduanya dilantik sebagai pasangan wali kota-wawali terpilih pada 31 Agustus 2005 lalu. Tentu banyak hal yang patut dicermati dari sepak terjang keduanya sejauh ini. Hal yang segera terlihat adalah pesatnya pendirian bangunan komersial di seantero kota. Penulis mencatat ada 11 mal baru di kota ini. Empat mal lainnya masih dalam penyelesaian akhir dan tak lama lagi akan beroperasi. Ditambah 9 mal lama, berarti ada 24 mal eksis di Surabaya. Ini belum termasuk ratusan ruko berbagai ukuran yang tersebar di seluruh kota.

Selengkapnya

Oase Baru Kota Pahlawan

Taman Persahabatan di Jalan Sulawesi. (Dok. Dinas Kebersihan & Pertamanan)

Taman Persahabatan di Jalan Sulawesi. (Dok. Dinas Kebersihan & Pertamanan)

Sudah Rp 286 juta dikeluarkan dari kocek Pemkot Surabaya untuk menyulap eks SPBU menjadi taman. Wajah kota pun kian hijau dan sejuk dengan munculnya oase-oase baru di tengah suhu panas Kota Pahlawan.

Oleh: M Subchan Sholeh

Sang surya baru saja kembali ke peraduannya, Selasa (5/9) petang itu. Namun, kesibukan baru terasa di taman asri itu. Pedagang makanan, minuman, dan mainan memadati sisi kiri-kanan taman yang diapit dua jalan, Jalan Sulawesi dan Jalan Bawean. Beberapa remaja, orangtua beserta anak-anaknya pun mendatangi taman itu. Parkir motor mulai dipadati pengunjung. Mereka hendak melepas kepenatan usai menjalani rutinitas harian. Beragam aktivitas dilakukan. Ada yang sekadar duduk-duduk sambil bercengkerama, jalan-jalan sampai mencoba beragam mainan anak-anak.

Selengkapnya

Menanti Reformulasi dan Konsistensi Penegakan Aturan

Papan reklame yang bertumpukan di salah satu jalan di Surabaya (Dok. Jawa Pos)

Papan reklame yang bertumpukan di salah satu jalan di Surabaya (Dok. Jawa Pos)

Menggagas Penataan Reklame di Surabaya (1)

Puluhan regulasi telah diterbitkan pemkot untuk menata reklame. Sayang, regulasi itu ibarat macan ompong. Hanya mengaum tapi tak mampu “menggigit” biro reklame pelanggar aturan. Belum lagi adanya inkonsistensi penegakan aturan. Ke depan, pemkot perlu mereformulasi aturan yang telah ada dan konsisten menegakkannya.

Oleh: M Subchan Sholeh

Pemkot rupanya sudah gerah dengan maraknya berbagai jenis reklame ilegal. April 2005, Penjabat (Pj) Wali Kota Chusnul Arifien Damuri mengeluarkan SK Wali Kota tentang revitalisasi penataan reklame. Isi SK itu jelas, reklame tak berijin, atau ijinnya kadaluarsa bisa dibongkar tanpa persetujuan pemilik reklame. Diatur juga pelatihan untuk memberi pemahaman isi SK itu bagi petugas dalam Tim Reklame. Agar mereka dapat menerapkan SK itu dengan baik di lapangan. Tim reklame terdiri dari Dinas Pendapatan (Dispenda), Dinas Bangunan, Dispol PP, Dinas Tata Kota, Dinas Pertamanan serta Dinas Bina Marga dan Utilitas. Tim ini dibawah koordinasi langsung Asisten II Mukhlas Udin. Dispol PP sebagai garda terdepan penertiban reklame langsung unjuk gigi. Hingga medio Agustus, sudah 50 persen kawasan dari 96 kawasan yang ditargetkan sudah bersih dari reklame ilegal.

Selengkapnya