Radio Gelora Surabaya : Hidup Segan, Mati Tak Mau

Pimpinan harian RGS, Amin Istighfarin menerapkan manajemen kekeluargaan dalam mengelola RGS.

Amin Istighfarin, pimpinan harian RGS menerapkan manajemen kekeluargaan dalam mengelola RGS. (Dok. SP)

Tak banyak radio yang fokus pada siaran olahraga saja. Dari yang sedikit itu, tersebutlah Radio Gelora Surabaya (RGS). Sebulan lagi, radio yang bermarkas di sayap kanan Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya itu merayakan 39 tahun eksistensinya. Radio dengan motto “Jaya di Udara Abadi di Hati” itu tengah berjuang untuk bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

Oleh : M Subchan S

Papan nama kayu persegi panjang itu bertengger kokoh di atas daun pintu. Sawang tampak berpilin di sana-sini. Pada beberapa bagian, cat biru muda telah terkelupas. Kendati demikian, tulisan dua baris di atas papan kayu itu masih terbaca jelas. “RGS. Radio Gelora Surabaya.” Di daun pintu terpasang pengumuman dari kertas ukuran A4. “Perhatian. Kantor ini selalu tertutup. Jika ada keperluan, buka saja pintu ini dan naik ke lantai dua, ada petugasnya. Terima kasih atas perhatiannya.”

Sepi dan lengang. Suasana yang jamak di RGS. Masuk ke ruang tamu, anda seolah diajak menyusuri lorong waktu kembali ke masa lalu. Di ruang tamu, satu set sofa model lama coklat tua dengan sandaran tangan yang sudah mengelupas dan busa yang mencuat menyapa. Ada juga sebuah meja tamu beralas taplak merah muda dan berhiaskan sebuah vas bunga di atasnya.

Di sudut ruangan, sebuah meja kerja model kuno teronggok bisu. Di atasnya tergeletak mesin tik yang sudah lama tak disentuh manusia. Dua kursi lipat merah tampak dijepitkan di samping kiri meja. Di belakang meja, berdiri lemari besi tiga tingkat yang sudah berkarat di sana-sini.

Masuk ke dalam lagi, terdapat ruang lain yang lebih kecil. Di sinilah, RGS dikendalikan. Di ruang kerja sederhana ini, dua meja kerja, seperangkat komputer, dan lemari kayu tiga pintu, berdesakan berebut ruang. Di balik lemari kayu, terdapat ruang mesin pemancar. Di dinding terpampang sejumlah plakat penghargaan dan ucapan terima kasih dari berbagai pihak atas peran aktif RGS sebagai mitra kerja. Di antaranya dari Walikota Surabaya (alm) Purnomo Kasidi, dan promotor musik, Log Zhelebour. Bukti kejayaan masa lalu RGS pada kurun 1970 sampai 1985-an.

“Dulu memasang iklan di RGS mahal. Tapi, tetap banyak yang tertarik. Kami malah sempat menolak iklan segala,” kenang Pimpinan Harian RGS, Amin Istighfarin.

Total karyawannya saat itu mencapai 30 orang, 10 di antaranya penyiar. Durasi siaran mencapai 19 jam. Mulai jam 05.00 sampai 24.00. Artis-artis terkenal di masa itu selalu menyempatkan diri berkunjung ke RGS. Mereka seolah belum menginjakkan kaki di Surabaya bila belum mampir ke RGS. Baik untuk promosi album maupun jumpa penggemar. Sebut saja Nia Daniaty, Ahmad Albar, Camelia Malik, Ully Sigar Rusady, Elvie Sukaesih dan lainnya. Masa itu, siaran sepakbola menjadi menu utama RGS. RGS memprioritaskan siaran langsung seluruh pertandingan kandang Persebaya maupun tandang di kawasan Jawa Timur (Jatim). Padahal, RGS tak mendapat imbalan sepeser pun dari Persebaya.

Boleh jadi, hanya Persebaya satu-satunya klub sepakbola di Indonesia yang “memiliki” radio sendiri walau tanpa ikatan resmi. Di samping sepakbola, RGS juga menyiarkan cabang olahraga lainnya. Siaran pendidikan, seni dan budaya juga disisipkan.

Laiknya kawah candradimuka, RGS telah menghasilkan sejumlah “alumni” yang sukses setelah ditempa sebagai penyiar. Sebut saja pelawak, Djadi, Priyo, dan Lutfi yang sekarang sukses dengan grup mereka, Galajapo. Lalu, Cak Pendik, mantan juara Lomba Kidung dan Jula-Juli RGS yang kini menjadi pembawa acara “Campursari” di TVRI Stasiun Jawa Timur. Selain mereka, tak terhitung mantan penyiar RGS yang sukses berkarir di tempat barunya.

RGS lahir pada 16 Mei 1969. Bersamaan dengan perhelatan PON VII di Surabaya. Semula, radio ini mengudara dengan nama Radio Pengurus Besar (PB) PON VII karena tugasnya sebagai corong informasi PB PON VII. Studionya bertempat di Balai Pemuda. Selepas PON VII, berakhir pula radio ini. Namun, Drg R Indiarto sebagai penggagas dan pengelola radio ini bertekad untuk meneruskan kiprah radio tersebut. Namanya lantas diubah menjadi RGS.

“Kata Gelora itu bertujuan untuk untuk menggelorakan olahraga di masyarakat,” kata Indiarto

Studionya pun ikut dipindahkan ke Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya pada tahun 1971. Pemkot Surabaya memberikan bangunan dua lantai sebagai studio termasuk fasilitas listrik gratis. Untuk membiayai operasional, RGS menggali sendiri dari sponsor.

Jantung siaran RGS ada di lantai dua. Ada tiga studio siaran di sini. Satu studio besar untuk siaran langsung ada di sisi kanan dan dua studio sedang untuk siaran harian di sisi kiri. Di ruang tunggu terdapat tiga meja kayu panjang yang ditata membentuk huruf L di pojok ruang. Ratusan kaset lama berjajar rapi di atasnya meski diselubungi debu tebal. Sejak berdiri 39 tahun silam, tak ada yang berubah pada bangunan dan perabotan RGS.

Ada pula satu studio siaran langsung. Yang satu ini letaknya di dalam kompleks stadion. Tepatnya di belakang kursi VIP paling atas. Studio yang menghadap langsung ke lapangan ini hanya dipakai untuk menyiarkan laga Persebaya di masa kompetisi atau pra kompetisi. Jangan bayangkan ruang siaran langsung RGS seperti ruang siaran di stadion-stadion negara Eropa yang bersih, dingin, dan modern. Ruang siaran langsung RGS lebih mirip gudang tak terawat. Tegel keramik putih dan dinding tembok bercat putih sudah lama berubah warna kecoklatan akibat tertutup noda. Sambungan kabel untuk mikropon menjuntai di dinding. Tak tampak peralatan siaran langsung di dalamnya. Alat siaran langsung berupa mixer dan mikropon disimpan di lantai satu RGS. Alat itu hanya dibawa ketika hendak siaran saja.

“Kalau ditinggal di dalam bisa hilang,” cetus Amin.

Maklum, pengamanan di stadion kebanggan warga Surabaya ini sehari-harinya sangat longgar. Di ruang siaran langsung, 3-4 penyiar biasanya bergantian melaporkan langsung jalannya laga Green Force ke telinga pendengar.

Setelah tiga dekade lebih berlalu, RGS sekarang ibarat hidup segan mati tak mau. Mereka harus menghadapi kenyataan tak lagi hidup di masa lalu. Dana dari sponsor hanya mampu menutup separo kebutuhan operasional yang mencapai Rp 10 juta sebulan. Sisanya terpaksa ditalangi Amin dan Supangat, dua penyiar senior RGS. Padahal, kebutuhan operasional RGS hanya untuk biaya pulsa dan honor penyiar yang sudah susut tinggal 10 orang.

“Sekarang susah mencari sponsor. Persaingan antar radio sudah sangat ketat. Tinggal semangat dan idealisme saja yang membuat RGS masih tetap eksis sampai sekarang,” ucap Amin yang telah mengabdi 27 tahun di RGS ini.

Namun, Amin pantang menyerah. Dia menolak mengemis bantuan kepada siapapun. Atau banting setir mengubah segmentasi siaran mengikuti tren. Baginya, lebih baik pontang-panting menggaet sponsor ketimbang bergantung pada belas kasih dermawan.

Ketegaran Amin didukung penuh Indiarto. Bagi dia, RGS harus tetap konsisten dengan misinya sebagai radio olahraga. Tak boleh melenceng sedikitpun.

“Apapun caranya, RGS harus terus eksis untuk menggelorakan olahraga,” tegas Indiarto

Hingga kini, RGS memang tetap fokus pada misinya. Walau jam siaran tinggal 17 jam, separo di antaranya masih dipakai untuk siaran olahraga. Mulai pukul 07.30-16.00. Isinya berkisar berita sepakbola, berita olahraga non sepakbola sampai profil atlet, pelatih, dan tokoh olahraga. RGS juga masih rutin mengirim 3-4 penyiarnya untuk melaporkan langsung laga tandang Persebaya di Jatim. Tahun 2000, kala PON XV digelar di Jatim, RGS masih dipercaya PB PON sebagai media informasi resmi.

Melihat besarnya jasa RGS dalam memajukan dunia olahraga, sepertinya tak layak mereka hidup terlunta-lunta begini. Tapi, RGS adalah RGS. Amin malah merasa sudah cukup dan berterima kasih pada pemkot yang memberi RGS tempat di Stadion Gelora 10 Nopember.

Jelang hari jadinya, permintaan pendengar setia RGS pun tak muluk-muluk. Suwito Sayur, salah satu pendengar setia RGS hanya mengajukan permintaan sederhana.

“Saya harap pengelola RGS lebih dekat lagi dengan pendengar dan acara-acaranya lebih baik lagi,” ujarnya. (*)

Ruang untuk siaran langsung RGS kala Persebaya bertanding

Ruang untuk siaran langsung RGS kala Persebaya bertanding. (Dok. SP)

Solidnya Para Pendengar

Radio dan pendengar ibarat dua sisi mata uang. Saling membutuhkan dan tak terpisahkan. Sejak bekerja pada gelombang AM 94 pada tahun 1971, pendengar RGS tersebar di seluruh pelosok tanah air. Bahkan, sampai luar negeri. Sebut saja Malaysia, Thailand, Belanda, dan Australia.

Ketika aturan pembatasan frekuensi diberlakukan pemerintah pada tahun 1975, jangkauan siaran RGS terbatas. Kini, dengan menara pemancar setinggi 25 meter berkekuatan 500 watt, RGS menjangkau Pulau Madura sampai Jember. Kendati jangkauan siarannya hanya di Jawa Timur, RGS punya ratusan pendengar setia.

“Kira-kira pendengarnya mencapai 500 orang di seluruh Jawa Timur. Itu hanya yang aktif. Ditambah yang pasif, bisa lebih banyak lagi,” ungkap Suwito Sayur, salah satu pendengar setia RGS selama 10 tahun terakhir ini.

Suwito menambahkan, mayoritas pendengar RGS berasal dari kalangan menengah-bawah. Umumnya, berumur 40 tahun ke atas dari. Namun, ada juga pendengar muda berusia 20 tahun. Latar belakang sosial ekonomi yang berbeda tidak membuat para pendengar RGS terkotak-kotak. Semuanya melebur menjadi satu karena memiliki kegemaran yang sama.

“Kami semua penggemar acara-acara olahraga yang disiarkan di RGS,” tandas pedagang sayur yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia HUT ke-39 RGS tahun 2008 ini.

Khususnya siaran langsung sepakbola. Bagi Suwito, ada perbedaan mendasar antara menyaksikan sepakbola langsung dengan mendengarkan di RGS. Vokal penyiar yang menggebu-gebu diakuinya menghadirkan sensasi ketegangan tiada akhir.

“Meskipun nonton langsung, saya tetap bawa radio untuk mendengarkan siaran RGS. Rasanya kurang lengkap saja kalau nggak dengar siaran langsungnya RGS,” tandasnya.

Untuk mempererat hubungan persaudaraan, mereka kerap menggelar pertemuan antar pendengar. Hubungan mereka sudah seperti keluarga sendiri. Tak heran jika mereka saling membantu jika ada yang kesusahan.

“Kalau ada yang ketahuan sakit, pendengar lainnya pasti langsung berbondong-bondong berkumpul di RGS dan ramai-ramai besuk. Begitu juga kalau ada pendengar yang hajatan, dia mengundang pendengar lainnya lewat RGS,” pungkasnya.

Penyanyi Nia Daniaty kala berkunjung ke RGS di tahun 1980-an (Dok. RGS)

Penyanyi Nia Daniaty kala berkunjung ke RGS di tahun 1980-an (Dok. RGS)

Manajemen Kekeluargaan

Mengelola kru radio di frekuensi AM yang mulai ditinggalkan masyarakat memerlukan kiat tersendiri. Amin Istighfarin yang ditunjuk sebagai pimpinan harian sejak 1998 sadar betul soal hal ini. Dia tahu tak mungkin menerapkan manajemen modern di RGS.

Pengelolaan ala manajemen modern yang hirarkis, disiplin, dan ketat tak bisa diterapkan di RGS. Bisa-bisa para kru kabur semua. Alhasil, yang berkembang adalah manajemen kekeluargaan yang sangat fleksibel. Hubungan atasan-bawahan di RGS lebih mirip hubungan antara ayah dan anak. Hangat dan harmonis.

Simak saja pengalaman Marlichah Siti Cholidah, salah satu penyiar RGS. Bergabung sejak tahun 2004, dia mendapat jatah siaran di pagi dan sore hari. Belum genap setahun bekerja, ia menikah. Tiga bulan jelang melahirkan sang buah hati, dia mengajukan cuti. Tak tanggung-tanggung, Icha, panggilan Marlichah, minta cuti tiga tahun. Jumlah cuti yang sepertinya tak pernah ada di perusahaan manapun di Indonesia.

“Saya ingin membesarkan anak dulu sampai umurnya tiga tahun,” ujarnya sambil tersipu.

Amin tak bisa berbuat apa-apa kecuali meluluskan permintaaan anak buahnya. Setelah itu, Amin langsung mencari penggantinya.

Tahun 2007, Icha memutuskan kembali ke RGS. Amin pun menerimanya lagi dengan tangan terbuka.

“Pak Amin ini paling sabar,” ucapnya sambil tersenyum.

Amin yang berada di sampingnya sedari tadi hanya tertawa melihat celoteh anak buahnya. Maklum, hal ini tak mungkin dijumpai di perusahaan biasa. Di RGS, keluar-masuk penyiar sudah jadi makanan sehari-hari. Satu keluar, satu masuk sebagai pengganti. Begitu seterusnya.

Penetapan jadwal siaran juga diatur berdasar kesepakatan antar penyiar. Penyiar yang memiliki aktivitas rutin di pagi hari kebagian waktu siaran siang, sore atau malam hari. Mereka yang beraktivitas rutin di siang hari, dijatah siaran pagi hari. Sama halnya dengan pengaturan hari siaran. Mereka bebas memilih hari siaran sesuai keinginannya. Mulai Senin sampai Minggu. Tapi, tidak ada hari libur untuk mereka.

Kalau mau off (libur) karena ada keperluan tinggal rolling (bertukar) dengan penyiar lain yang bisa mengganti,” tukas Icha.

Bahkan, penyiar RGS tak dilarang memiliki pekerjaan lain. Manajemen kekeluargaan nan fleksibel inilah yang membuat penyiar-penyiar RGS betah. Walaupun imbalannya di bawah UMR, mereka tetap setia mengabdi. Sesuatu yang tak mudah dijumpai di stasiun radio lain. (18 April 2008)

48 responses to this post.

  1. Posted by tambaksari on Juni 18, 2009 at 5:09 am

    salam kenal pak,
    ulasan bapak bagus sekali..

    saya mau minta ijin untuk mengkopi tulisan bapak ke blog yang saya buatkan untuk bapak saya…. saya nanti cantumkan sumbernya ke blog ini..

    kebetulan bapak saya juga orang RGS.

    terima kasih…

  2. salam kenal juga pak. selama untuk kepentingan edukasi dan sejenisnya, saya persilahkan siapa saja untuk mengambil sebagian atau keseluruhan isi tulisan dalam blog ini. tentu dengan tidak lupa mencantumkan asal tulisan tersebut. sampaikan salam saya untuk bapak anda. terima kasih.

  3. Alhamdulillah masih ada yang simpati dan empati atas nasib Radio Gelora Surabaya,
    mohon doa restu semua kalangan dan tentunya dukungan dari semua pihak, karena mulai saat ini saya bergabung di Managemen Radio Gelora Surabaya.
    Dibesarkan dari didikan dan pengkaderan ayahanda saya Ketut Wawanda, dan pengalaman yang saya miliki dalam pengelolaan beberapa radio. Saya bertekad untuk ikut menjadi keluarga besar Radio Gelora Surabaya.
    Saya akan membuka pintu selebar – lebarnya jika ingin kenal lebih dekat dengan saya.

    Sukses kita tidak terlepas dukungan banyak orang dan Ridho Allah SWt…

  4. tetap semangat mas fiqi. Insya Allah bisa. yakin usaha sampai.

  5. Thanx atas support yang diberikan.
    Sebenarnya saya sangat ingin sekali membenahi management RGS, namun suatu niatan baik selalu saja banyak halangannya.
    Namun saya yakin Allah maha Mengetahui segala apa yang terjadi dimuka bumi ini.
    Cepat atau lambat semua akan berjalan dengan sendiri.
    Kritik & saran mengenai Radio Gelora Surabaya yang sekarang, bisa dialamatkan ke email saya : PangeranSubloon@gmail.com

    Succesfully for U ……

  6. mas fiqi, terus saja bekerja sebaik-baiknya dengan kemampuan semaksimal mungkin. Insya Allah, hasilnya bagus. Sukses selalu ya.

  7. Posted by Hari Sc on September 25, 2009 at 8:20 am

    Membaca artikel ini sungguh menyentuh sekali. Langsung terputar indah cerita nostalgia hidup saya bersama RGS. Apalagi ketika penulis mengambarkan kondisi diskotik RGS, saya sungguh terharu. Karena pada bagian itulah saya ditugaskan oleh manajemen sebagai “Redaktur Siaran Musik & Rekaman” sebelum pada akhirnya saya pindah haluan ke bidang pekerjaan baru. Kerabat RGS pada waktu tahun 70an itu antara lain : Yonny FA (Blues Long March), Reza Wullur (RGS World Service), Noeng HN (Redaktur Siaran Berita & Reportage), DM Sutanto, alm (Hitam Manis), Supangat (yang masih awet ikut mengelola RGS sampai dengan sekarang), Sukardjito (Dunia Mahasiswa dan Siaran Kroncong), ada lagi Pudji Hernowo, YS Purwanto (alm), Tonny FA, Kabul Solomon, Tongkie dan para penyiar putri yang pada waktu itu sungguh memaniskan RGS ke seantero NKRI melalui 94,6M. Pertemuan saya dengan istri juga di jembatani oleh RGS melalui acara yang saya asuh, yaitu Album Kenangan.
    Masa-masa di RGS memang manis dan indah untuk dikenang kembali.

  8. Posted by tio rgs; Tio Rachmahadi Syahputra on Oktober 14, 2009 at 12:15 pm

    Yah, alhamdulillah akhirnya ada juga blog yg megulas soal RGS, karena setau saya ketika search di google ketik : Radio Gelora Surabaya, yg tertampang hnya 1 web dan isinya cuman soal surat ijin apaaa gitu g jelas (dr web dinas apa gtuu..)
    hahaha, lanjutin ini liputan 1 tahun lbih yg lalu kan, haha kalo bisa liput lg RGS, gimana keadaan / keangkeran RGS di 2009 iniii…..X(

  9. Posted by tio rgs; Tio Rachmahadi Syahputra on Oktober 14, 2009 at 12:16 pm

    sya penyiar yg baru resend… skitar 1 bulanan yg lalu

  10. mas tio tau aja. Insya Allah, cepat atau lambat saya akan mampir lagi ke RGS. kalo yang angker-angker, mas tio aja deh yang ngurusi hehehe…..

  11. Posted by tio rgs; Tio Rachmahadi Syahputra on Oktober 21, 2009 at 10:49 am

    mas kasi tau saya klo mau kesana, biar sya kna liput juga, masuk d blognya mas, mas klo bs kirim email ke saya ya, tiorgs@yahoo.co.id, klo bisa sya minta nmr hpnya masnya yah, ditunggu lho, RGS…RADIO GELORA SURABAYA RADIONE MASYARAKAT OLAHRAGA SURABAYA….. huuuuaaaa mammmpusssss, serangkaian kalimat missteryyy, hahahah🙂

  12. insya allah mas tio

  13. whuuuaaahhmm!! baru bangun dari tidur panjang, beginilah rasanya… semangat untuk mencari dan mencari ilmu di manapun kita berada, dan semoga Alloh pun memberikan rasa kelegaan….

  14. amin. tetap semangat risti.

  15. Posted by Hasmadji on Januari 27, 2010 at 1:48 am

    Terkejut dan trenyuh rasa hati begitu menyimak artikel ini. Betapa tidak ! RGS yang begitu jaya di era 70 an nasibnya kini sungguh memprihatinkan. Fakta memang demikian, tetapi saya salut dengan pengelola ( Pak Amin dkk.) yang masih tetap gigih berjuang mempertahankan misi siaran. Semoga perjuangannya tak kan sia-sia. Sekedar nostalgia, ketika usia remaja dulu ( th 70 an ) saya cukup sering menangkap siaran RGS di desa Pulutan Kec. Ngombol ( desa kecil di bagian selatan Kab. Purworejo – Jateng ). Kecuali siaran olah raga, acara lain yang menarik ada diantaranya pembacaan syair dan sahabat udara pada malam hari. Dari situ kemudian terjalin persahabatan antar pendengar RGS bahkan sampai kepada “sahabat pena” , maklum kala itu belum kenal SMS apalagi Facebook. Inilah sekedar catatan kecil mengenai RGS yang saya kenal, selanjutnya saya berharap semoga RGS bangkit kembali seperti dulu. Salam RGS…!
    Terima kasih.

  16. Posted by dokterbangsa on Februari 5, 2010 at 9:10 pm

    Tulisan yang mampu mengundang simpati dan menggerakkan hati pembacanya. Sip sip.🙂

  17. terima kasih dokter wina

  18. Posted by ernasoelistyowigati on Februari 14, 2010 at 10:01 pm

    karena lingkungan saya berdekatan dengan RGS,ya pasti saya cinta banget sama ini stasun radio dari saya TK sampai ngantar anak saya TK,hanya kenapa tidak ada pembaharuan yg signifikan untuk ini stasiun supaya semua kalangan suka dari anak2 sampai yg jadul seperti saya,tapi saya salut banget sama Anda Mas semangat terus ya Masa……

  19. terima kasih bu erna. saya yakin RGS bisa jaya seperti dulu bila ada investor yang terpanggil hatinya untuk serius memodali dan membenahi RGS. soalnya, loyalitas pemirsanya masih terjaga. mudah-mudahan nanti ada orang-orang yang terketuk hatinya untuk membantu RGS. semoga.

  20. Posted by reza torez on Februari 20, 2010 at 9:33 pm

    Ada rasa kangen saat melintas di depan studio RGS,apalagi setelah membaca artikel ini,,
    bangga pernah menjadi bagian di radio ini,sekitar tahun 2007 – 2008 saya pernah menjadi bagian dari radio ini,waktu itu saya menjadi penyiar AMOR ( atmosfir olah raga ),waktu mengasuh acara ini banyak pendengar yang memberikan hal hal positif,tidak sedikit pula pendengar yang ingin tahu tentang perkembangan Persebaya Surabaya,karna dalam acara ini saya lebih mengutamakan berita tentang Persebaya jd banyak pencinta Persebaya yang masuk via telp maupun via sms memberikan komentarnya tentang persebaya,sumber berita selain dari media koran juga saya ambil dari liputan langsung ke markas Persebaya di mess Persebaya karanggayam,waktu iotu saya sendiri yang terjun meliput berita Persebaya.
    saya sempat kluar karena saya dapat pekerjaan baru di Malang, waktu itu rasa kangen pada RGS sempat menghantui,banyak kenangan manis di sana,banyak juga kenangan menyeramkan di sana,waktu siaran malam saat menggantikan rekan penyiar yg berhalangan banyak kejadian yang menyeramkan,tiba tiba lampu mati tapi mixer,radio control,dan lainya masih nyala dan saya masih menyapa pendengar,kemudian tiba tiba muncul sosok wanita berpakaian putih rambut panjang berdiri tepat di depan kaca siaran,tapi selama tidak mengganggu semua tidak jadi masalah karna niat saya waktu itu menghibur pendengar…
    rasa kangen itu semakin besar,sekitar akhir tahun 2009 kebetulan kerja saya pindah di surabaya dan saya mampir ke studio penuh kenangan RGS,kebetulan ada sang pimpinan hariaan bpk amin istighfarin,dan kebetulan ada penyiar olahraga yang keluar saya dan bpk amin sepakat waktu itu saya yang mengisi acara tersebut meskipun gak bisa fokus 100% ke RGS di karenakan saya juga bekerja di tempat lain..
    sayangnya kebersamaan itu cuma bertahan 3minggu saja dikarenakan saya yang pengantin baru harus pindah ke jogja bersama istri untuk kerja di sana..
    banyak kenangan manis yang tidak terlupakan di RGS.. tgl 15 Februari saya bekerja di salah satu radio FM di jogja sebagai penyiar dan reporter,saya bisa jadi begini semua karna bpk.Amin Istighfarin, beliaulah yang membimbing saya dari yang gak bisa siaran dan reportase hingga sampai bisa bekerja di salahsatu radio di jogja.TRIMA KASIH Bp. AMIN ISTIGHFARIN
    trima kasih juga kepada Mas M Subchan yang telah membuat artikel tentang RGS dan bisa memawa imajinasi saya tentang RGS di masa laLU.

    REZA MUTTAQIEN HUDA / REZA TOREZ
    email : rezamuttaqienhuda@ymail.com
    FB : rezamuttaqienhuda@ymail.com

  21. Posted by reza torez on Februari 20, 2010 at 9:49 pm

    Kalo boleh tau Mas subchan sholeh ini siapa,,,? Hubunganya apa dengan RGS..? Kalo boleh minta data dirinya..! thx lho..
    tapi terlepas dari itu semua saya patut dan pantas mengucapkan terima kasih atas perhatian anda terhadap Radio Gelora Surabaya

  22. Posted by REZA TOREZ on Februari 20, 2010 at 10:01 pm

    ups sorry revisi fb : reza_torez@ymail.com

  23. reza yang baik, soal siapa saya bisa anda baca di menu ‘tentang blog’. dari reza bisa tahu asal-usul munculnya tulisan RGS ini. soal permintaan data diri, saya tidak keberatan selama maksud dan tujuannya jelas. nah, kalau reza tidak keberatan, mohon disampaikan maksud dan tujuannya ke msubhan2003@yahoo.com. terima kasih juga untuk cerita kenangan reza yang sungguh menarik.

  24. Saya dulu sewaktu SMP (1975 -1979), selalu mengrimkan kartu pos u/ minta lagu, dan pernah ke RGS bersama kawan-2 SMP saat itu. Jadi saya sangat trenyuh ketika membaca blog ini. Saya doakan semoga selalu jaya di udara. Dan maaf saat ini saya sekarang jarang (tidak) mendengarkan RGS lagi, karena sekali lagi maaf saya sudah tidak memiliki perangkat penerima AM lagi, jika pun punya (maaf) saya pasti pilih FM karena suaranya yang jernih, maaf. semoga RGS selalu ada dan selalu mengudara di Surabaya. Amien.

  25. terima kasih buat doanya mas eko.

  26. Posted by cia on April 11, 2010 at 7:41 pm

    hello…
    pak, setahun yang lalu radio ini mencari penyiar, nah, apa sekarang juga masih ada peluang untuk menjadi penyiar baru di RGS?
    2 bulan yang lalu, saya berhenti siaran dari sebuah radio komunitas yang ada di surabaya dengan alasan pribadi yg tdk mungkin saya ceritakan disini., kalau ada kesempatan, dapatkah saya bergabung dengan RGS sebagai penyiar?

  27. hello cia….
    soal peluang menjadi penyiar baru di RGS, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini karena saya tidak tahu persis. bagaimana kalau cia berkunjung langsung ke studio RGS lalu menanyakan kepada pengelola RGS. siapa tahu sekarang ada lowongan untuk posisi penyiar. tak ada salahnya mencoba. oke !

  28. Posted by andu on Mei 5, 2010 at 12:48 pm

    maju terrusss RGS…kirim salam buat penyiar nya….mba RIZKA

  29. andu, kirim salam aja pake nitip. hayo, ada apa nih ?

  30. Posted by rizcha on Juli 22, 2010 at 10:14 pm

    haha .. saya rizcha😀
    waalaikumsalam mas andu🙂
    pengen rasanya semua penyiar RGS berkumpul dstudio

  31. Posted by Dianita on Agustus 13, 2010 at 9:24 am

    Wahhh ni RGS jaman dulu yach ?? haaaaayyy saya dulu suka bgt dngerin rgs nih. Dlu waktu SMP hehe skr udah lama gak dngerin lagi. Dulu saya suka bangt dengerin siaran yg acara request yang siang itu. haha klo g salah dlu yg siaran namanya kak tio ya ?. iichhh biar AM n agak gresek2 Hehe tp Gak tau knp seeneeng dngerin nya. Lagu2 indonesia gt. Gila yg siaran yg nmanya kak tio wkt itu kirain radio FM kaya radio anak muda , siarannya keren bgt ternyata AM. hehe. Hampir tiap pulang pulang sekolah dulu Ikutan request. kirim sms haha nmrnya ganti2 lagi. Dan karna seringnya aku denger Rgs ampe2 dulu sempet ngefans bgt ama kak tio itu. haha. suka bgt ama siarannya. dulu kirain dia itu dari suara dan gaya bicaranya anak kuliahan ato udah gede. eh terrrnyata umur kita sama. haha. dan pernah sempet dateng ke rgs ketemu kak tio. hawww ternyata iya masih kecil hehe dan orang putih sipit. haha salam ya buat kak Tio. ini Nita masih inget gak kak ?? tp orangnya baik bgt sempet diajak siaran juga. Tp skr udah lama sih ga denger Rgs, kak Tio apa kabaaarr ? hehe. Skr udah kelas 3 aku kak di smansa. kangen. RGS ternyata top bgt ya jman dulu. Keren

  32. dianita, segera saja buat reuni. biar tambah seru.

  33. Posted by Dianita on Agustus 30, 2010 at 9:04 am

    titip salam ya mas buat kak tio ? kak tio apa kabar ?

  34. Posted by rizcha.RGS on September 1, 2010 at 7:29 am

    sedihnya uda gak bsa siaran d RGS lagi . kadang masii kangen bgt moment ngoceh ddpan mic😦
    tapi aku mau gak mau kudu melangkah sedikit lebih maju🙂
    thanks bwt RGS yg pnah jadi wadah bwt aku belajar . thanks bwt p.amin yg ngerti gmn posisi aku skg .
    klo boleh milih .. aku mau kerja sambil siaran juga ..

  35. Posted by rizcha.RGS on September 1, 2010 at 7:31 am

    betewe . lupa ..
    ak sempet diperintah bkin blog bwt RGS . emg blm bagus sii .. tapi bolehlaa di tengok ‘ ragesu.tk ‘😀

  36. RGS…………kamu ini gak pernah segan, dan juga gak pernah mau mati, ini sebuah anugrah buat kamu yang tetap ada dihati saya dan kami semua yang memuja kamu. Hai RGS terus terang, saya sangat bangga dan sangat terharu karena kamu masih tetap dihati. Gelombang kamu itu melambai-lambai dan menggapai kita semua yang rindu.
    Tentu saja saya pasti teringat saat bersejarah di RGS mengasuh acara World Service yang mendapat tanggap dan balasan surat serta pita rekam dari Swedia, Helsinki, Adeleida,Melbourne, Amsterdam,Switzerland,Osaka, Sapporo, Vietnam dan saya sudah lupa negara-negara mana yang mendengarkan siaran kamu serantero dunia meski cuma dengan frq pendek dan antenna bambu leter”L”. Kalau sekarang tentu orang akan bilang menyedihkan karena sekarang sudah pakai itu FM stereo yang mahal-mahal. Saya juga sangat menghargai mereka yang sampai sekarang ini tetap melanjutkan yang kamu miliki
    dengan keadaan kamu yang sekarang ini. Sayapun bangga ada seorang teman yang sampai sekarang tetap eksis didunia siaran sejak pertama kali berdirinya radio amatir Nusantara Bahari. Dia Herbanu penyiar yang digilai para pendengarnya.Banyak yang jatuh hati kerena alunan suaranya yang sangat menawan.Tidak ada duanya.
    Juga Johny FA yang sekarang sudah pensiun dari SCTV Jakarta. Hari Sc Jakarta dan saya baru tau kalau Mas Tutut (JS Purwanto) sudah mendahului kita. Terima kasih teman-teman sekarang yang tetap menggelorakan RGS. Tuhan memberkati. Amin.

  37. RGS…………kamu ini gak pernah segan, dan juga gak pernah mau mati, ini sebuah anugrah buat kamu yang tetap ada dihati saya dan kami semua yang memuja kamu. Hai RGS terus terang, saya sangat bangga dan sangat terharu karena kamu masih tetap dihati. Gelombang kamu itu melambai-lambai dan menggapai kita semua yang rindu.
    Tentu saja saya pasti teringat saat bersejarah di RGS mengasuh acara World Service yang mendapat tanggap dan balasan surat serta pita rekam dari Swedia, Helsinki, Adeleida,Melbourne, Amsterdam,Switzerland,Osaka, Sapporo, Vietnam dan saya sudah lupa negara-negara mana yang mendengarkan siaran kamu serantero dunia meski cuma dengan frq pendek dan antenna bambu leter”L”. Kalau sekarang tentu orang akan bilang menyedihkan karena sekarang sudah pakai itu FM stereo yang mahal-mahal. Saya juga sangat menghargai mereka yang sampai sekarang ini tetap melanjutkan yang kamu miliki
    dengan keadaan kamu yang sekarang ini. Sayapun bangga ada seorang teman yang sampai sekarang tetap eksis didunia siaran sejak pertama kali berdirinya radio amatir Nusantara Bahari. Dia Herbanu penyiar yang digilai para pendengarnya.Banyak yang jatuh hati kerena alunan suaranya yang sangat menawan.Tidak ada duanya.
    Juga Johny FA pengasuh musik dan sangat tau seluk beluk musik apalagi blues,jazz, glam rock – dia jagonya sekarang sudah pensiun dari SCTV Jakarta. Hari Sc Jakarta dan saya baru tau kalau Mas Tutut (JS Purwanto) sudah mendahului kita. Terima kasih teman-teman sekarang yang tetap menggelorakan RGS. Tuhan memberkati. Amin.

  38. wah, terima kasih informasinya reza. ternyata sejarah RGS panjang juga. saya cuma bisa berharap RGS tetap mengudara sampai akhir jaman.

  39. Posted by nona on Juli 15, 2011 at 11:27 pm

    kyaknya tu radio salam management

  40. Posted by nona on Juli 15, 2011 at 11:44 pm

    kyaknya tu radio salah management

  41. hehehehe,,,,,,
    Kalo inget RGS inget dulu waktu saya masih jadi BONEK kecil. ^_^

    Saat masih SD,RGS lah yang meghubungkan saya dengan Persebaya,harap maklum ibu n bapak saya blm mengijinkan saya untuk Mbonek ke G10N scra live. ^_^

    Jadi otomatis ya saya hanya bs mendengar sepak terjang pemain Bajol ijo lewat siaran langsung Persebaya di RGS. hingga sampai saat ini pun,ketika sya g sempet mbonek langsung ke G10N,RGS lah sarana yang mengasikan untuk mengetahui pertandingan Persebaya.

    SEMOGA RGS TETAP BISA BRTAHAN DAN MENJADI RADIONYA PERSEBYA SELAMANYA. S1HYAL WANI UNTUK RGS. ^_^

  42. Posted by Fredy Leonard on Maret 4, 2012 at 4:12 am

    Dengan hormat, kalau boleh saya mau cari informasi/alamat atau telp.no. sdr Rumadi, yg dulu penyiar di RGS. Dulu tinggalnya di jl.srikaya no8 Surabaya. Sebelumnya banyak terima kasih. Salam Fredy.

  43. sayang sekali, saya tidak punya datanya. ada baiknya kalau fredy langsung mampir ke rgs untuk tanya informasi soal mas rumadi.

  44. Wah RGS penuh memori buat saya.. dulu kecil saat TK saya nyanyi disana, sekarang hari ini pun Anak saya nyanyi bersama teman” TK nya.. Sukses selalu RGS

  45. Posted by Rizky Amalia Amin on Mei 16, 2014 at 8:50 pm

    Bapak Amin Istighfarin itu bapak saya🙂

    Jujur banget ini..

  46. Posted by Rizky Amalia Amin on Mei 16, 2014 at 9:10 pm

    Memang ayah saya itu orang nya baik,peduli pada sesama pokoknya is the best buat saya🙂

  47. Posted by erick tan on Februari 17, 2015 at 12:11 am

    Mencari kenangan lama cak dapat juga.bicara soal kenangan saya sebagai bonek sangat terwakili dg RGS walau ortu pernah tinggal di gang masjid dpn pasar kapas krampung, terkadang kami menonton pertandingan melalui tv dan nenek yg setia dg radio memilih mendengarkan sendiri dg radio…kami di depan berjubel di ruang tamu di hadapan tv. Memori yg sulit di lupakan memang sensasi radio tidak bisa di bandingkan karena menganndalkan pendengaran imanjinasi ke mana mana….ha ha haa sambil bikin pagupon terkadang martil juga ikut marah kala penyiar berteriak saat striker andalan mulai berada di area lawan dan gagal cetak gol…..sayang sekali……bla bla bla…tanks buat artikel nya…kini bonek hadus dipaksa mati oleh para mafia…srmangat juang itu yg sebenarnya mereka bunuh…sedang kami srbenarnya punya rencana menemui cak suoangat dkk utk membicarakan hal ini tapi terburu bu risma lebih condong ke PERSEBAYA DU milok rakyat kaltim .betapa seluruh nya tersakiti dg keputusan itu…mohon penulis memediasi kan kami sekelompok bonek yg ingin reformasi mental dan membawa sekali lagi kebesaran tim kebanggaan kita….083845301922 kami ingin bertemu cak supangat dan seluruh yang bisa kami mintai rembukan saya rasa RGS adalah tempat labuhan kami terakhir..salam kekeluargaan sentausa selalu

  48. Posted by aditya wirmandi on Juli 23, 2016 at 2:18 am

    assalamualaikum , nama saya aditya wirmandi mahasiswa ilmu sejarah unair ingin menulis tentang radio gelora surabaya, kalau boleh saya mau cari info untuk data penulisan saya dmana ya pak? atau barangkali ada nomer tlp yang bisa dihubunngi.. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: