Posts Tagged ‘PNFI’

Surga Baca di Kaki Lawu

 

TBM Lesta Wacana (pojok kanan) di Desa Gendol, Kecamatan Sine, Ngawi tertutup rimbunnya pepohonan. (dok. msubchan)

           Kisah negeri fantasi yang tersembunyi di balik lemari baju dalam dongeng fiksi The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe seperti terulang di Desa Gendol, Kecamatan Sine, Ngawi. Desa berjarak 200 Kilometer dari Surabaya itu terletak di kaki Gunung Lawu. Di balik rapatnya pintu bambu berlapis terpal putih yang memagari halaman, terhampar luas taman indah bak kebun raya. Taman terbentang ke samping kiri dan kanan seluas dua lapangan tenis.

            Kebun salak seluas lapangan bola voli menguasai bagian timur taman. Pohon buah terdapat di mana-mana. Buah durian, buah jambu air, buah pisang, dan buah nangka. Ada pula pohon jati, dan sono. Aneka tanaman dalam pot tanah liat dan plastik seperti sri rejeki, bugenvil, euphorbia, kaktus, kuping gajah, dan ekor ayam mengelilingi bakal kolam renang anak. Rimbunnya pepohonan nyaris menutupi rumah berwarna putih di pojok paling kanan. Rumah yang telah menjadi lentera desa dalam empat tahun terakhir.

            ”Sejak tahun 2009, penyandang buta aksara di kecamatan ini berhasil dituntaskan,” ucap Andika Tri Hirniamsyah bangga.

Selengkapnya

Pak Fadlun dan Keluarganya

Profilnya yang unik membuat saya kagum. Unik karena dia satu-satunya kepala unit teknis kami di bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bukan putra daerah. Dia asli Kebumen, kabupaten berjarak 180 Kilometer dari dari Semarang, ibukota Jawa Tengah.

Fadlun Sururiyadi nama lengkapnya. Kombinasi bahasa Arab dan Jawa itu kira-kira bermakna seseorang yang penuh rasa adil, selalu bahagia dan dinaungi kebijaksanaan. 

Penghujung 2008, pertama kali saya mengenalnya. Dia hadir dalam pertemuan rutin tahunan di Surabaya. Dalam kegiatan itu, seorang kawan, Yanti pernah salah tafsir kepadanya. Tepat saat Fadlun hendak check in. Begitu Pak Fadlun menuju meja check in, Yanti segera menyodorkan daftar hadir untuk wilayah Jatim kepadanya. Semua didasari raut wajah dan postur khas Jawa yang melekat pada diri Pak Fadlun. Melihat itu, Pak Fadlun tak marah. Dia cuma tersenyum simpul sambil memberitahu Yanti.

 “Saya bukan dari Jatim, mbak. Saya dari Rote, NTT,” ucapnya.

 Yanti kaget bukan kepalang. Mukanya merah padam. Yanti buru-buru minta maaf. Namun, Yanti masih penasaran. Beberapa kali dia melirik sembari mengamati inci demi inci Pak Fadlun, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Yanti tak salah. Perawakan Pak Fadlun memang beda macam langit dan bumi dengan tipikal warga NTT yang tinggi besar, dan berambut ikal. Sebaliknya, Pak Fadlun berpostur sedang, ramping, dan rambutnya lurus belah samping.

 Karakter khas tanah kelahirannya terpancar kuat dari raut wajah ovalnya. Pendiam, sabar, tenang, dan baik hati. Rahang yang kukuh membuatnya tampak berwibawa. Wibawa  yang membuatnya negitu dihormati anak buah dan rekan sejawat. Kharisma demikian tak dibangun dalam semalam.

 Sudah 12 tahun Fadlun menjejakkan kakinya di sini. Sejak menjadi staf fungsional atau pamong belajar (PB) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Rote Ndao pada tahun 1998 sampai akhirnya dipercaya memegang tampuk jabatan tertinggi sebagai Kepala SKB pada akhir 2006.  

Kantor SKB Rote Ndao (dok.msubchan)

Sudah setengah windu, Fadlun memimpin, mengelola dan mengendalikan unit terdepan milik Kementerian Pendidikan Nasional di pulau terpencil. Tanggungjawab utamanya menggelar pendidikan nonformal dan informal, jamak disingkat PNFI. Programnya terentang lebar. Dari menyiapkan generasi penerus bangsa lewat pendidikan anak usia dini (PAUD), memberi kesempatan kedua untuk mereka yang putus sekolah dengan pendidikan kesetaraan dalam bentuk Kejar Paket A sampai Paket C, pemberantasan penyandang buta aksara, hingga pelatihan keterampilan bagi kaum miskin dan pengangguran melalui pendidikan kecakapan hidup. Selengkapnya