Surga Baca di Kaki Lawu

 

TBM Lesta Wacana (pojok kanan) di Desa Gendol, Kecamatan Sine, Ngawi tertutup rimbunnya pepohonan. (dok. msubchan)

           Kisah negeri fantasi yang tersembunyi di balik lemari baju dalam dongeng fiksi The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe seperti terulang di Desa Gendol, Kecamatan Sine, Ngawi. Desa berjarak 200 Kilometer dari Surabaya itu terletak di kaki Gunung Lawu. Di balik rapatnya pintu bambu berlapis terpal putih yang memagari halaman, terhampar luas taman indah bak kebun raya. Taman terbentang ke samping kiri dan kanan seluas dua lapangan tenis.

            Kebun salak seluas lapangan bola voli menguasai bagian timur taman. Pohon buah terdapat di mana-mana. Buah durian, buah jambu air, buah pisang, dan buah nangka. Ada pula pohon jati, dan sono. Aneka tanaman dalam pot tanah liat dan plastik seperti sri rejeki, bugenvil, euphorbia, kaktus, kuping gajah, dan ekor ayam mengelilingi bakal kolam renang anak. Rimbunnya pepohonan nyaris menutupi rumah berwarna putih di pojok paling kanan. Rumah yang telah menjadi lentera desa dalam empat tahun terakhir.

            ”Sejak tahun 2009, penyandang buta aksara di kecamatan ini berhasil dituntaskan,” ucap Andika Tri Hirniamsyah bangga.

            Andika, 35 tahun, adalah ketua sekaligus penggerak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lesta Wacana di Desa Gendol. Pada tahun 2009 lalu, TBM ini meraih juara harapan dua lomba TBM Kreatif dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PNFI, atas jasa mereka meningkatkan panen padi hingga 20 persen. Berkat informasi mengenai pemberantasan hama tikus dengan predator alami berupa burung hantu abu-abu (Tyto alba).

            ”Semua ada di buku. Saya tinggal menyampaikan saja. Sejak itu, para petani makin sering datang ke TBM,” ujar Andika.

 

Andika Tri H (kiri) bersalaman dengan ibu negara, Kristiani Herawati Yudhoyono, seusai mengikuti upacara HUT RI di Istana Negara Jakarta pada 2008. (dok. repro TBM Lesta Wacana)

            Tahun 2008, prestasi Andika lebih mentereng. Dia menggapai juara pertama pengelola TBM dalam Jambore 1.000 Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK PNF) di Semarang, Jawa Tengah. Pencapaian yang mengantarkannya bersanding bersama presiden dalam upacara peringatan hari kemerdekaan pada 17 Agustus 2008 di Istana Negara, Jakarta.

            Upaya Andika menjadi penting di tengah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yang kalah jauh dengan Jepang dan Singapura. Masyarakat belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama memperoleh informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi atau mendengarkan radio untuk mendapatkan informasi. Selain untuk membangkitkan minat baca masyarakat, Andika berharap kesejahteraan hidup masyarakat ikut terkerek naik melalui pengetahuan praktis yang diperoleh dari TBM.

 

Dua pengunjung TBM Lesta Wacana di ruang membaca favorit, di pinggir lembah. (dok. msubchan)

            ”Saya coba pilihkan buku dengan topik-topik menarik yang bermanfaat langsung pada mata pencaharian masyarakat terutama di sektor pertanian,” tandas sarjana Sastra Inggris lulusan Untag Surabaya ini.

            Melalui strategi ini, Andika berharap semakin banyak warga dewasa yang meluangkan waktu membaca di TBM. Tidak hanya didominasi anak-anak usia sekolah. Untuk mewujukan tekad itu, dia merancang mimpi besar membangun wisata baca terpadu di atas tanah seluas 1,5 hektar milik ayahnya, Suhirno (67). Tempat wisata yang meliputi arena outbound, panjat tebing, bumi perkemahan, panggung hiburan, kolam renang anak, dan penginapan.

            Ide membangun fasilitas pendukung TBM sedemikian lengkap tak pernah ada dalam benak bungsu dari tiga bersaudara ini. Semua bermula dari aktivitas Andika yang membuka les Bahasa Inggris dan komputer untuk anak-anak pada 2006. Untuk melengkapi, Andika menempatkan satu rak berisi aneka buku. Anak-anak peserta les menjadi makin betah.        

            Syahdan, dalam keheningan dini hari, sang ayah Suhirno menunaikan salat malam. Selepas ibadah sunah itu, Suhirno merasa mendapat ilham. ”Inspirasi itu saya wujudkan dengan mendirikan TBM ini tepat di bulan September 2007,” kenang Mbah Hirno, panggilan Suhirno.

Ruang utama TBM Lesta Wacana. (dok. msubchan)

            Di awal berdirinya, TBM ini memajang 639 eksemplar buku dalam satu rak susun tiga. Sebagian besar buku pelajaran SD-SMP dan Kejar Paket, serta sejumlah buku agama dan komik. TBM buka tujuh hari seminggu, 10 jam sehari. Mulai pukul tujuh pagi sampai pukul lima sore. Buku dikelompokkan berdasar topik masing-masing. Di atas lantai tanah ditempatkan satu meja panjang diapit dua bangku panjang.

            Pada saat itu, jumlah pengunjung TBM masih bisa dihitung dengan jari.  Jenis pengunjungnya didominasi anak usia sekolah, baik formal maupun nonformal. Hari demi hari berlalu, sampai satu tahun lamanya, kunjungan ke TBM kian meningkat. Teknik pengelolaan mulai dibenahi Andika. Katalogisasi buku ditulis dalam buku khusus oleh Menik Sri Sudarmini (65), ibu Andika. Dibuat pula buku daftar pengunjung TBM, buku tamu TBM, dan buku peminjaman koleksi TBM.

            Halaman luas TBM tak luput dari sentuhan pembenahan Menik dan Suhirno. Beragam pepohonan dan tanaman tumbuh subur seperti memayungi TBM. Semua itu dilakukan sendiri oleh mereka. Untuk membantu menutupi biaya operasional, TBM memungut biaya masuk Rp 1.000 per orang kepada mereka yang sekadar berjalan-jalan di sekeliling taman tanpa ke TBM. Namun, bagi yang berkunjung ke TBM, tidak dipungut biaya masuk.

            Seiring prestasi yang ditorehkan, popularitas TBM Lesta Wacana melambung tinggi. Animo kunjungan ke TBM makin meningkat. Pembenahan lanjutan kembali dilakukan. Mengganti rak-rak buku yang rusak, melapisi lantai dengan keramik, membeli arena mandi bola dan seperangkat alat musik, dan menambah koleksi buku. Menginjak tahun keempat, jumlah kunjungan mencapai 15-20 orang tiap hari. Jumlah buku melesat sepuluh kali lipat lebih menjadi 11 ribu eksemplar, setara dengan delapan ribu judul buku. Aktivitas di TBM menjadi semakin lengkap. Bosan membaca buku, pengunjung bisa bermain alat musik atau mengajak anak mereka ke arena mandi bola.

            ”Kalau kolam renang anak bisa segera selesai, saya yakin tambah ramai lagi,” ucap Suhirno sambil menunjuk kolam seukuran lapangan bulu tangkis di depannya. Kolam itu telah digalinya sendiri hingga sedalam setengah meter. Ia  menunggu uluran tangan dermawan untuk membantu menuntaskan kolam renang sederhana itu.

      Bola sekarang ada di kaki Andika. Guliran langkah berikutnya akan menjadi penentu terwujudnya mimpi membangun komplek wisata baca terpadu. (mss/bagian pertama)      

Masa depan TBM Lesta Wacana (dok. msubchan)

11 responses to this post.

  1. Posted by Abed Saragih on Januari 15, 2012 at 7:01 am

    Wahh,,,Terima kasih untuk informasinya🙂

    Keep Blogging🙂

    http://www.disave.blogspot.com

    Salam Persahabatan.

  2. terima kasih untuk kunjungannya bang abed. salam kenal.

  3. Posted by murtiasih on April 1, 2012 at 11:42 pm

    bannganya jadi putra bangsa yang berguna……

  4. Wah,, saya baru tahu kalau di Sine ada TBM.
    Mas Subchan asli orang sine kah? Bergelut di dunia jurnalistik juga ya?
    Salam kenal ya,,,

  5. Posted by agung on April 2, 2012 at 7:15 pm

    aku baru tahu kalau di sine ada begitu,semoga usahanya bertambah lancar ya,Amin..

  6. kayak di kampung saya tuh gan…….

  7. oya, boleh dong saya diantar mampir ke kampung agan kapan-kapan🙂

  8. amin.

  9. juoooos tenan

  10. mantap deh infonya

  11. menambah wawasan artikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: