Pada Sebuah Pasar

Bagai dua sisi mata uang, begitulah Sungai Barito dan Banjarmasin. Belum ke Banjarmasin kalau belum mengarungi Barito. Barito adalah denyut nadi kota seribu sungai itu. Banyak aktivitas warga dilakukan di sungai terutama perdagangan bahan pokok.

Aktivitas perdagangan tradisional dan alami ini melahirkan pasar terapung di Desa Kuin, Sungai Barito dan di Desa Lok Baintan, Sungai Martapura. Dijuluki pasar terapung karena seluruh transaksi jual beli dilakukan di atas jukung atau sampan kecil tanpa mesin.

Pesona pasar terapung begitu kuat menancap di hati. Maka ketika saya menginjakkan kaki di Banjarmasin beberapa waktu lalu, keinginan ke Kuin makin menggebu. Bayangannya terasa di pelupuk mata tatkala Zaini, staf lokal kami, menyatakan kesanggupannya mengantar saya ke sana. Esok hari selepas subuh, saya sudah bersiap di penginapan menanti Zaini. Baru sekejap duduk di teras penginapan, Zaini pun tiba. Segera saja kami meluncur ke Kuin. Jam operasi pasar terapung Kuin memang terbatas. Setelah fajar menyingsing hingga matahari setinggi galah.

Pagi-pagi buta menuju pasar terapung Kuin. (dok. m subchan)

Tiba di Desa Kuin, kami bergegas menuju tepi sungai. Zaini lantas mengarahkan saya menuju perahu motor beratap yang telah disewanya. Karena atapnya rendah dan tanpa kursi maka saya duduk bersila di dalam perahu. Deru mesin perahu memecah keheningan pagi. Cakrawala masih gelap saat kami berangkat. Jarak pandang ke depan menjadi sangat terbatas karena perahu ini tak punya lampu penerang. Padahal, jukung dan perahu bermotor lain mulai bermunculan dari berbagai arah meramaikan lalu lintas sungai.

Tukang kemudi perahu siaga mengamati arus lalu lintas sungai. (dok. m subchan)

Seumur hidup dibesarkan di daratan membuat saya cemas akan kemungkinan terjadi tabrakan antar perahu. Situasi ini tak membuat panik tukang perahu. Raut wajahnya tenang, penuh percaya diri sambil tetap siaga mengamati pergerakan perahu lain. Buah pengalaman mengarungi sungai bertahun-tahun di tengah pagi buta. Melihat ketenangannya, kecemasan saya berangsur-angsur lenyap.

Jukung penjual pisang. (dok. m subchan)

Transaksi dimulai. (dok. m subchan)

Sekitar 20 menit perjalanan , kami tiba di lokasi. Pasar terapung yang terletak di persimpangan Sungai Barito dan Sungai Kuin ini mulai menggeliat. Jukung kecil hingga besar berdatangan dari berbagai penjuru meramaikan lalu lintas Sungai Kuin. Termasuk pula perahu-perahu wisatawan lainnya. Demi melihat lebih dekat muatan jukung para pedagang, saya beranjak ke buritan. Aneka hasil bumi memenuhi jukung untuk diperdagangkan. Pisang ulin, jeruk, kelapa, janur, hingga tikar pandan. Jukung-jukung saling mendekat dan merapat. Transaksi mulai berlangsung. Antara pedagang-pembeli, antar sesama pedagang sampai antara pedagang dan wisatawan.

Merapatkan jukung, menawarkan barang dagangan. (dok. m subchan)


Perahu wisatawan (kiri) di pasar terapung. (dok. m subchan)

Bayangan penuh sesaknya pasar terapung oleh hilir mudik ratusan jukung dan riuh rendah transaksi jual beli tak saya jumpai disini. Jumlah pedagang bersampan bisa dihitung dengan jari. Masih lebih banyak perahu sewaan wisatawan seperti yang saya naiki. Sepinya pedagang bersampan di pasar terapung memang tengah menjadi isu aktual di Banjarmasin. Solusi sedang dicari oleh para pihak disana. Sempat terbit rasa kecewa melihat kenyataan ini tapi itu tak lama karena tiba-tiba saja sebuah jukung menarik perhatian saya.

Etalase aneka kue basah dan nasi kuning. (dok. m subchan)

Pemilik warung menyiapkan minuman pesanan pembeli. (dok. m subchan)

Saya minta tukang perahu mendekati jukung itu. Wow, rupanya jukung itu adalah warung terapung. Ruang utama di bagian tengah telah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi etalase aneka kue basah. Ada kue lumpur, kroket, bingka, donat, cucur, pukis, serta puluhan nasi kuning bungkus daun pisang. Di belakangnya terdapat dapur yang berisi jejeran gelas berbagai ukuran, kompor serta ceret besar. Di bagian ini pula pemilik warung bekerja melayani pesanan pengunjung.

Nah, ada yang unik dari warung terapung ini. Bentuknya panjang dan runcing di salah satu ujungnya. Coba anda tebak. Kalau bambu runcing jawaban anda, maaf anda masih salah. Penasaran? Baiklah, saya berikan jawabannya. Ia adalah galah “ajaib”. Galah sepanjang satu meter ini memiliki pengait berupa besi runcing yang ditancapkan di ujungnya. Fungsinya untuk mengambil kue-kue yang anda inginkan.

Cara kerjanya begini. Saat hendak mengambil kue, pegang galah dan hadapkan ujung galah berpengait ke bawah lalu tusukkan pengaitnya ke kue pilihan anda. Setelah itu, putar galah menghadap ke atas dan tarik galah perlahan-lahan ke posisi anda. Metode ini berlaku pula ketika anda memilih nasi kuning bungkus. Di rumah, galah berpengait ini biasa saya pakai untuk mengambil jemuran. Anda bisa saja menirunya asal bukan untuk mengambil jemuran tetangga. Dari galah pasar terapung, saya sukses melahap kroket dan pukis jumbo yang membuat perut cukup terisi. Ditambah segelas teh hangat, nikmat rasanya.

Pilih kuenya, tancapkan pengaitnya, tarik galahnya. (dok. m subchan)

Ayo, dipilih-dipilih… (dok. m subchan)

Mentari mulai menanjak setinggi galah. Teriknya mulai menghangatkan kulit. Saya bersiap untuk menyudahi perjalanan. Perahu segera berputar arah. Baru saja melaju dua ratus meter, perhatian saya terbetot pada sebuah warung terapung lainnya. Dari kejauhan, sekilas terlihat berbeda dari warung terapung sebelumnya. Warnanya kuning lemon dengan papan nama persegi di atas atap. Satu perahu menambatkan tali ke warung itu. Di dalamnya, ada dua pengunjung yang sedang menanti sesuatu. Didorong rasa penasaran, saya minta tukang perahu merapat ke warung itu.

warung makan apung. (dok. m subchan)

Warung ini memang lain. Namanya “Tatamba Lapar”. Warung pereda lapar, begitulah kira-kira maknanya. Karena fungsinya sebagai pereda lapar maka tak ada makanan ringan disini. Hanya sedia makanan berat. Daftar menunya, sop, soto, rawon, dan kari masak habang. Masak habang artinya masak dalam kuah merah seperti bumbu bali atau bumbu balado.

Daftar menu. (dok. m subchan)

Soto ayam khas Banjar tak mungkin saya lewatkan. Belum lengkap ke Banjarmasin tanpa mencicipinya. Lebih pas lagi bila dinikmati langsung di dalam warung terapung. Setelah tali perahu saya ditambatkan ke lambung dan buritan warung, saya beranjak ke bagian dalam warung. Ini demi mencicipi soto sembari menikmati sensasi goyangan lembut ombak Barito.

Dapur warung Tatamba Lapar. (dok. m subchan)

Soto pesanan diantarkan dari tangan ke tangan. (dok. m subchan)


Makan di tempat. (dok. m subchan)

Setelah memesan, dalam sekejap sepiring soto terhidang di atas meja. Asap mengepul dari kuah kuning kental panas. Saya menelan ludah sejenak sambil menghirup harumnya aroma kaldu ayam yang menggugah selera. Nasi putih tenggelam di dalamnya namun potongan-potongan kecil perkedel kentang menyembul di pinggir. Topping-nya bertaburan irisan tipis telur ayam, suwiran daging ayam kampung, dan bihun putih. Jangan lupa sambal, jeruk nipis, dan kecap manis.

This is it! Soto banjar is ready to eat. (dok m subchan)


Slurrrppp…wuih, wuih, wuih. Kuahnya begitu segar dan gurih. Saya tandaskan soto itu dengan kalap. Energi terisi kembali. Pasar terapung bukan satu-satunya pesona Barito. Penghuni kedalaman Barito menjanjikan kelezatan tiada tara yang sulit ditolak indra pengecap. (bagian satu)

5 responses to this post.

  1. Posted by A Rahman on September 16, 2012 at 1:10 pm

    As salam.
    Mohon di share photo²nya. Thanks.

  2. Look’s really delicious ,in fact this food reminds me of the place where i used to be a mystery shopper.

  3. pasar yang keren dan unik sekali

  4. pasar yang lengkap sekali

  5. pasar yang unik dan beda dari yang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: