Posts Tagged ‘pilpres’

Balita Juga Tahu…

Sang surya baru saja kembali ke peraduannya. Azan magrib berkumandang. Di ruang keluarga, saya duduk bersila di atas kasur lipat. Lembar demi lembar koran pagi baru mulai saya baca. Di depan saya, Nadia tengkurap. Dia tak sendiri. Bola-bola plastik warna-warni sebesar bola pingpong menemaninya. Bola-bola malang itu tak bulat lagi bentuknya. Jari-jemari bayi belum genap tiga tahun itu telah membuatnya penyok di sana-sini.

nadia baru
Nadia

Bosan dengan bola plastik, perhatian Nadia beralih. Mata bulat polosnya menatap tajam ke arah saya. Penuh konsentrasi. Pipinya yang tembem mengencang. Lesung pipitnya tenggelam. Semula, saya kira dia sedang tertarik dengan gambar iklan di koran. Biasanya memang begitu. Jika sudah demikian, dia akan langsung menerjang dan merampas koran itu tanpa kompromi. Tak peduli siapapun yang sedang memegang koran. Saya salah sangka. Sama sekali tak diusiknya koran itu. Anehnya, sorotannya tak bergeser sedikitpun dari koran yang masih saya baca. Tapi, saya tak ambil pusing. Saya teruskan saja membaca. Namun, sekonyong-konyong, Nadia berteriak keras.

Selengkapnya

Iklan

‘Gizi’ Perlu Tapi Bukan Segalanya

Butuh usaha ekstra untuk mewawancarai Jenderal (Purn) Wiranto. Seusai menyampaikan visi dan misi sebagai bakal calon presiden dalam Konvensi Partai Golkar di Hotel Shangri-La Surabaya awal pekan lalu, ia keberatan saat hendak diwawancarai dalam perjalanan menuju Bandara Juanda. Ia meminta diwawancarai setiba di bandara. Agak terlambat mengikuti kawalan rombongan Wiranto, Surabaya Post harus sedikit ngebut untuk menyusulnya. Tiba di bandara hanya sedikit waktu bagi wartawan Surabaya Post untuk bertemu mantan Pangkostrad ini di ruang tunggu VIP pada 9 September 2003.

Setelah menunggu Wiranto berganti pakaian, wawancara dimulai. Eksepresinya yang serius mewarnai suasana wawancara. Hanya sesekali ia tertawa kecil ketika ditanya hobinya menyanyi. Wawancara yang baru berlangsung 15 menit itu harus berakhir karena ia harus segera kembali ke Jakarta. Bersama lima pendampingnya, Wiranto bergegas menaiki tangga pesawat pinjaman temannya dengan nomor pesawat PK-RGI. Tepat pukul 16.22 pesawat jenis King Air B-200 bermesin baling-baling turbo (turbo propeller) dengan kapasitas delapan orang lantas bergerak meninggalkan landasan pacu membelah angkasa membawa sang calon Presiden kembali ke Jakarta.

Wiranto (Dok. Indonesia Media)
Wiranto (Dok. Indonesia Media)

Di antara purnawirawan lain, anda bersama Susilo Bambang Yudhoyono termasuk yang memiliki suara bagus. Tapi, anda lebih memilih menjadi calon presiden daripada penyanyi..

Eh, seseorang dalam memilih jalan hidupnya selain ditentukan oleh kehendak sendiri tetapi juga tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat. Saya merasa tatkala kita menghadapi negeri semacam ini, masih banyak masalah, negeri yang belum bersatu untuk bisa kembali bangkit sebagai negara, yang bisa sejajar dengan negara lain, kita butuh suatu pengabdian atau sumbangsih dari berbagai anak bangsa untuk bisa bersatu padu membangun negerinya.

Nah saya, memang saya penyanyi tapi saya kalau jadi penyanyi, pertama saya akan mengambil lahan orang lain yang sudah menjadi penyanyi, dan kedua tidak maksimal pengabdian saya. Paling-paling hanya menghibur orang lain, tapi menyusahkan yang lain karena lahannya saya ambil. Ya lebih baik saya.masuk dalam kancah politik dimana saya bisa lebih banyak memberikan apa yang saya miliki, memberikan kontribusi dalam pembangunan nasional.

Selengkapnya