Rote, Kami Datang !

Dari Sabang sampai Merauke

Dari Miangas sampai Pulau Rote…

Anda pasti tahu potongan jingle iklan SBY yang disadur dari iklan Indomie saat kampanye Pemilu Presiden 2009 lalu. Anda juga pasti tahu kalau empat daerah itu merupakan batas terluar bumi nusantara. Pulau Sabang di Barat, Merauke di Timur. Lalu, di Utara teronggok Pulau Miangas dan Pulau Rote di Selatan.

Tentu menarik jika mendapat kesempatan menginjakkan kaki di empat batas wilayah republik ini. Sensasi perjalanan, menyelami kehidupan lokal, menikmati keindahan alam, atau mencicipi kuliner khas. Pengalaman semacam itu bak intan berlian.

Pulau Rote (dok.www.rotendaokab.go.id)

Pada suatu sore, tak ada angin, tak ada hujan, datang perintah untuk bertugas ke Pulau Rote. Durian runtuh kawan. Tak perlu berpikir dua kali untuk menerima tugas menantang ini. Tugas saya sebagai penyusun laporan untuk bimbingan teknis yang dilakukan dua rekan senior saya, Pak Jarno dan Pak Edi.

Kunjungan ke pulau yang berdekatan dengan negeri kanguru ini kami awali dari Bandara Juanda, Rabu sore, 16 Juni. Satu jam sebelum keberangkatan, kami telah tiba di bandara internasional itu. Di meja check-in, antrian penumpang bergerak lambat seperti siput. Kami di urutan keenam. Mencoba mencari tahu, Pak Edi maju ke samping meja check-in. Sejurus kemudian ia kembali. ”Komputernya macet,” kata Pak Edi. Pergerakan antrian hanya satu penumpang tiap sepuluh menit. Petugas check in membiarkan saja antrian penumpang yang mulai mengular.

Setelah tinggal tiga orang di depan kami, barulah kebuntuan itu terurai. Petugas check in jurusan Jakarta menyilahkan penumpang jurusan Kupang maju ke mejanya. Kami bergeser ke samping kanan. Melihat lambatnya antrian, kami sudah duga kalau jam keberangkatan pasti mundur dari jadwal. Di ruang tunggu, dugaan kami menemui kebenaran. Dari pengeras suara, petugas maskapai menyampaikan kabar buruk. Penerbangan ditunda dua jam menjadi pukul enam petang. Beginilah perilaku sebagian besar maskapai lokal. Jarang tepat waktu. Kecuali maskapai lokal pelat merah satu-satunya itu.

Jam enam lebih dua puluh menit, kami lepas landas dengan Boeing 737-400. Dua jam berikutnya, burung besi itu mendarat dengan selamat di Bandara El Tari. Waktu setempat menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh menit. Mias, penjemput kami dari Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (PPNFI) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi NTT telah menunggu sejak satu jam lalu. Dengan mobil SUV lansiran Jerman, Mias melesat membawa kami menuju warung makanan Padang untuk santap malam. Pak Edi melahap gulai otak. Gulai ikan laut dan ayam mendarat di piring Pak Jarno. Saya mengambil gulai ikan sebelum akhirnya tergoda menyantap gulai otak. Mias memilih kari daging sapi. Lapar membuat piring kami licin. Setiba di mes PPNFI NTT, saya dan Pak Jarno bergegas ke peraduan. Pak Edi masih menyempatkan diri menonton babak pertama laga Piala Dunia antara kesebelasan Matador melawan skuad The Nati, Swiss.

Kamis pagi jam tujuh, Mias tiba di depan mes. Dia mengajak seorang kawannya yang biasa membelikan tiket kapal cepat di Pelabuhan Tenau. Kata Mias, tiket harus cepat dibeli agar tidak kehabisan karena sekarang sudah musim liburan anak sekolah. Menurut Mias, kapal cepat jam sembilan pagi ke Rote selalu penuh kalau musim liburan. Kami pesan tiga tiket VIP. Seorang harganya Rp 145 ribu. Kata Mias, tiket akan diberikan kawannya itu di pelabuhan. Jam delapan, kami meluncur ke Tenau. Untuk sarapan di kapal, kami sempatkan beli nasi kuning bungkus.

Dek kelas ekonomi kapal Express Bahari

Tiba setengah jam sebelum jadwal, kapal cepat Express Bahari hiruk pikuk. Penumpang bergantian naik. Sambil membawa berbagai jenis barang di

Makanan ringan dari Bahari Express

tangan, pundak, dan di kepala. Dek ekonomi di atas dan bawah nyaris penuh. Dek VIP di bagian tengah terisi separo dari total 36 kursi. Kami duduk di baris kelima bagian kanan. AC dingin. Kursi seperti di pesawat. Kami dapat roti krim dan segelas air mineral.

Dek VIP kapal Express Bahari

Perut mulai berontak. Segera kami buka nasi kuning bungkus lauk telur, dan oseng daging. Tandas dalam sekejap. Jangkar diangkat, baling-baling menderu, kapal putih susu itu mulai bergerak. Pemindai video digital

Pelampung disimpan di lemari kaca di samping atas dek.

langsung diputar, lagu pop Barat lama tertayang di layar televisi mengiringi penumpang. Saya baca doa. Soalnya, pelayaran ini akan melalui Selat Pukuafu. Selat yang dikenal ganas. Di selat inilah 115 penumpang KM Citra Bahari tewas tenggelam pada Mei 2006. Sekira satu jam berlayar, kapal tiba-tiba oleng ke kanan dan kiri. Inilah saatnya. (bagian pertama)

5 responses to this post.

  1. keren””” kapan” gue ikut bos

  2. Posted by sedjatee on Juni 23, 2010 at 5:29 pm

    naik feri yang Kang
    gambarnya keren
    ferinya masih bersih ye, hehehe..
    salam sukses..

    sedj

  3. ayo, kapan ?

  4. terima kasih bang sedjatee. ferinya memang bersih banget. perlu dicoba sekali-kali bang. hehehe….

  5. eh jdi kangen Rote lagi lihat kapal ini. kapal bersih tidak? ehheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: