Taste The Wine !

wine

Anggur merah, padanan pas untuk makanan dari daging merah (Dok. 88db.com)

Kebiasaan menikmati wine atau minum anggur di Surabaya makin marak. Indikatornya bisa dilihat dari, bermunculannya tempat minum anggur di kafe, dan restoran dibanding sebelumnya yang hanya di hotel-hotel berbintang. Termasuk tumbuhnya perkumpulan peminum anggur dan toko-toko anggur (wine shop).

Oleh : M Subchan S

Rudy Sujanto terlihat serius menggoyang-goyangkan gelasnya beberapa kali. Setelah itu, dihirupnya aroma dalam gelas itu. Sejurus kemudian, anggur merah asal Afrika Selatan (Afsel) itu dikecap-kecap sebelum akhirnya meluncur ke kerongkongannya.

“Lebih kuat aromanya, lebih berani dari (anggur) Prancis. Pasti karena cara pembuatannya berbeda dari cara pembuatan anggur dominan,” ujarnya saat menghadiri acara promosi anggur dari negeri Nelson Mandela tersebut beberapa waktu lalu di Hotel Sheraton.

Saat itu, penikmat anggur di Surabaya mendapat kesempatan mencicipi anggur produksi Propinsi Cape Barat, Afsel dalam suatu jamuan makan malam (wine dinner). Mencicipi dan mengenali rasa anggur atau wine tasting adalah aktivitas utama penikmat anggur.

Di Surabaya, aktivitas ini biasa dilakoni mereka yang tergabung dalam Surabaya Wine Society (SWS). Secara berkala, mereka menggelar kegiatan ini. Baik itu anggur merah (red wine) maupun anggur putih (white wine). Yang pertama punya kadar alkohol 13-15 persen sedang yang terakhir berkisar 8-12 persen. Rasa minuman anggur ini dipengaruhi oleh kondisi alam dari negara produsen, dan lama penyimpanan.

Ada beberapa alasan mereka memilih wine. Dari rasa anggur, Spanyol dinilai lebih pedas dan tajam ketimbang wine asal AS atau Australia yang dikenal dry. Ada juga wine Chili yang katanya lebih sparkling dari Prancis. Soal harga, sekarang makin banyak wine murah dengan kualitas baik. Bahkan, ada anggur edisi terbatas yang harganya hanya Rp 200 ribu sebotol.

Misalnya, koleksi anggur merah merk Parcela 7 dari Chili milik Rudy. Anggur keluaran tahun 2004 ini hanya diproduksi 56.268 botol untuk seluruh dunia. Keistimewaannya terletak pada buah anggurnya karena dipetik dengan tangan. Jadi, tergolong anggur pilihan dibanding anggur yang dipetik dengan mesin.

“Anggur Chili sekarang paling top karena kualitasnya baik tapi harganya wajar. Beda dengan anggur Australia yang lebih mahal walau kualitasnya hampir sama,” tukasnya.

Hal serupa disampaikan Marketing Communications Manager The Taman Dayu Club, Syandra Kwan (33) serta art dealer Emmitan Gallery Fine Art, Hendro Tan (65). Keduanya memilih anggur dengan harga tak terlalu mahal. Syandra lebih memilih anggur seharga Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan tiga botol wine asal AS, Spanyol atau Chili. Anggur merah yang dibeli Hendro berkisar Rp 400 ribu sampai Rp 1 juta. Seluruhnya dari Negeri Kangguru.

Namun, anggur favorit mereka berbeda. Bila Rudy dan Hendro lebih menyukai red wine, Syandra memilih white wine. “Aroma red wine lebih menarik. Banyak wine terkenal itu justru dari red wine,” jelas Rudy.

Bagi Syandra, aroma white wine yang manis dan ringan lebih cocok untuk dirinya. Demi kegemarannya, Rudy mengoleksi 20 botol anggur yang didominasi anggur merah. Ada dua koleksi anggur merah Rudy dengan reputasi ternama. Seluruhnya buatan Bordeaux, Prancis. Yakni, Chateau Figeac buatan tahun 2003 seharga Rp 1,13 juta dari pemberian teman dan Chateau Beychevelle produksi tahun 2002 seharga Rp 600 ribu. Yang terakhir ini dibeli dari koceknya sendiri. Kedua anggur ini masih belum dibuka Rudy.

“Dua anggur itu rasanya baru sempurna setelah disimpan lima tahun,” ujarnya.

Namun, ada juga koleksi anggur merah Rudy yang hanya berharga Rp 85 ribu. Bagi dia, harga bukan ukuran. Harga anggur koleksi Rudy sangat beragam. Dari puluhan ribu sampai termahal Rp 600 ribu. Rudi selalu menyediakan stok sekitar 20 botol untuk dikoleksi. Sebaliknya dengan Syandra dan Hendro. Keduanya hanya membeli secukupnya untuk kebutuhan sebulan. Syandra sekitar tiga botol sementara Hendro 20 botol.

Minum anggur memang bukan tradisi Indonesia. Ini jelas berasal dari Barat. Kebiasaan menikmati wine dibawa orang-orang yang pernah tinggal atau mengenyam pendidikan di negara-negara dengan tradisi ini. Baik itu di kawasan Eropa, AS, maupun Australia.

Ini juga yang dialami Syandra. Pergaulan semasa kuliah di AS 12 tahun lalu membawanya menjadi penggemar wine. “Awalnya iseng, ternyata keterusan,” tuturnya.

Lain lagi alasan Rudy yang mulai mencicipi wine sejak tahun 2000. Ia mengaku ingin melengkapi kenikmatan makan seutuhnya.

“Awalnya saya hanya penasaran, lalu belajar banyak untuk bisa menikmati wine,” ungkap direktur operasional sebuah perusahaan software ini.

Berbeda lagi dengan Hendro. Ia khawatir melihat perutnya yang membuncit karena kegemarannya minum bir. Ia lantas beralih ke anggur setelah merasakan nikmatnya mencicipi minuman prestise itu dalam sebuah kegiatan di Singapura.

“Ternyata enak, tidak perlu minum banyak, sudah fly,” ujarnya sambil tertawa.

Belajar wine

Mereka semuanya mengenal wine dari nol. Mereka tak segan membaca buku soal wine, browsing di internet, atau bertanya pada penggemar wine yang lebih paham. Syandra memilih berselancar di internet sedang Rudy dan Hendro mengasah pemahamannya soal anggur dengan bergabung ke SWS.

“Dari internet, saya banyak tahu soal wine termasuk beberapa anggur koleksi yang harganya mahal,” tukasnya.

Jika ada waktu luang, Syandra sesekali menghadiri undangan wine dinner atau wine tasting. Ia sebetulnya tertarik bergabung dengan SWS karena bisa mencicipi berbagai jenis anggur. Namun, ia belum tahu syarat-syaratnya.

Rudy sendiri bergabung ke SWS pada tahun 2005 sedangkan Hendro baru enam bulan terakhir. Di klub yang didirikan Graeme T. Steel pada 25 Maret 2000 di Hotel Novotel Surabaya itu, Rudy sekarang menjabat sebagai anggota komite. Selain Rudy, angota komite lainnya adalah Purwadi dan dua ekspatriat asal Australia yakni Collin Wilmott dan Helen Morscheel.

Mereka bertugas merancang tema dan menyediakan anggur sesuai tema untuk dicicipi bersama dalam wine dinner. Acara ini biasa diikuti 30-70 orang. Misalnya, pada kegiatan SWS di restoran Ambrosia, 10 Februari 2007. Temanya “Red is for Romance”. Agar sesuai tema, Rudy lantas mencari dan membeli anggur merah berbagai rasa dari berbagai negara untuk dicicipi bersama.

Dalam setahun, kegiatan ini biasa digelar empat kali. Khusus anggota SWS hanya ditarik Rp 350 ribu sementara non anggota dipungut Rp 400 ribu.

Di samping itu, beberapa anggota SWS juga kerap menggelar wine dinner dalam skala kecil. Bisa seminggu sekali atau dua pekan sekali. Untuk bergabung di klub ini seumur hidup, pasangan suami-istri ditarik Rp 400 ribu. Bila masih lajang, cukup bayar Rp 250 ribu.

Rudy menuturkan, anggota SWS kini sekitar 50 orang dimana 90 persen di antaranya adalah ekspatriat. Menurun drastis dibanding saat SWS berdiri yang mencapai 200 orang.

“Banyak ekspatriat yang tugasnya sudah selesai kembali ke negaranya sementara warga Indonesia yang menjadi anggota baru sedikit ,” tukas Rudy.

Latar belakang mereka beragam dengan usia rata-rata 30-40 tahun. Mulai pengajar sekolah internasional, manajer perusahaan-perusahaan asing, sampai diplomat. Sebut saja Konsul Jenderal AS Claire A Pierangello. Dari warga lokal didominasi pengusaha. Salah satunya Komisaris PT Maspion.Group Alim Prakasa.

Dengan bergabung dalam klub, mereka bukan semata-mata menggelar acara makan-makan yang diakhiri minum anggur bersama, melainkan juga pengenalan mengenai wine. Tentu saja, menyukai wine artinya melakukan proses pengenalan rasa untuk semakin mengenal beragam jenis wine. Menikmati wine memang terasa seperti menikmati sebuah karya seni. (*)

Sebatas Penikmat Anggur

Mayoritas penggemar anggur di Surabaya masih tergolong penikmat atau wine drinker. Belum sampai pada kategori kolektor atau wine collector.

Sedikit sekali yang termasuk kolektor wine. Di Surabaya paling Cuma satu-dua orang,” ujar Rudy Sujanto.

Ini wajar mengingat anggur koleksi harganya mahal. Bisa sampai Rp 90 juta atau setara dengan harga delapan sepeda motor baru.

Setidaknya ini terlihat dari penuturan Syandra Kwan dan Hendro Tan.

Keduanya hanya membeli anggur secukupnya untuk kebutuhan sebulan. Harganya pun berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta.

Soal jenis anggur favorit, menurut Rudy, ada dua kecenderungan umum. Perempuan lebih suka anggur putih karena baunya wangi dan terasa lembut di kerongkongan.

Aromanya tidak seberat red wine,” kata Syandra.

Sebaliknya, kaum pria lebih menggemari anggur merah karena aromanya lebih tajam dan menggugah selera.

Dalam amatan Rudy, penikmat anggur di Surabaya paling senang dengan wine keluaran negara-negara produsen baru atau new world. Semisal Australia, Chili, Afsel, dan Selandia Baru.

Anggur buatan new world paling digemari karena rasanya lebih berani. Itu hasil dari proses pembuatan anggur yang berbeda. Saya sekarang juga lagi suka anggur new world,” ungkapnya.

Lain halnya dengan wine keluaran negara produsen klasik seperti Prancis yang rasanya lebih lembut, halus, dan elegan.

“Sekarang trennya menuju ke new world. Chili paling disuka karena harganya tidak mahal tapi kualitasnya baik,” tandasnya. Syandra adalah salah satu penyuka anggur Chili. Rudy menuturkan, produsen dari new world ini terus berupaya menyaingi dominasi Eropa di industri ini lewat promosi gencar merek-merek mereka. (*)

Minum anggur memiliki ritual sendiri yang sama sekali berbeda dengan minuman beralkohol lainnya (Dok. wineabout.com)

Minum anggur memiliki ritual sendiri yang sama sekali berbeda dengan minuman beralkohol lainnya (Dok. wineabout.com)

Perhatikan Ritual

Ritual minum anggur berbeda dengan minum minuman beralkohol lainnya. Anggota Komite SWS Rudy Sujanto mengatakan, ada sejumlah aturan yang harus ditaati agar bisa merasakan aroma anggur. Antara lain tidak boleh merokok, tidak tersedia bunga di atas meja jamuan, dan tidak menyemprotkan parfum yang terlalu menyengat indera penciuman.

Cara menyajikan minuman anggur pun tidak boleh sembarangan. Rudy menambahkan, para pelayan harus membuka tutup botol dan terlebih dahulu mempersilakan tamunya untuk mencium aroma yang keluar. “Bukan dibuka di dapur terus dibawa ke meja,” lanjutnya.

Sebelum menuangkan anggur, ujar dia, gelas yang akan dipakai juga harus diperhatikan. Untuk anggur merah memakai gelas Inggris berdiameter besar. Maksudnya, agar aroma anggur dapat keluar seluruhnya dengan sempurna. Untuk anggur putih, gelas Inggris ukuran kecil yang digunakan. Agar anggur segera diminum sebelum dinginnya hilang. Lain lagi untuk anggur sparkling yang berbuih. Biasanya dipakai gelas Inggris tinggi langsing dengan tujuan agar anggur tidak meluber dan buihnya awet.

Rudy juga menguraikan cara mengkonsumsi tiap jenis anggur. Anggur merah lebih baik dikonsumsi dalam suhu ruangan, anggur putih dingin, dan anggur sparkling dingin sekali.

Makanya untuk anggur putih dan sparkling harus disediakan keranjang es di meja jamuan,” ungkapnya.

Setelah anggur tertuang ke dalam gelas, menurut Rudy, pegang batang gelas. Bukan tubuh gelar karena panas tubuh akan merasuk ke dalam anggur dan mengubah rasanya. Teman minum anggur juga harus diperhatikan.

Ia membenarkan adanya aturan klasik soal penyajian makanan dengan minuman anggur yang cocok. Patokan itu adalah red wine with red meat and white wine with white meat. Rasa tanin yang kuat pada rasa anggur merah lebih cocok dengan daging merah semacam daging sapi, domba, dan sejenisnya. Adapun rasa ringan anggur putih lebih sesuai dengan daging ikan, dan ayam. Meski begitu, ada beberapa perkecualian. Rudy mencontohkan daging ayam yang dimasak dengan anggur merah justru lebih pas dengan anggur merah. Contoh lain adalah daging bebek. Persepsi umum menganggap daging unggas ini tergolong daging putih yang lebih cocok dengan anggur putih.

“Sebetulnya daging bebek itu termasuk daging merah dan cocoknya dengan red wine,” tandasnya serius.

Sayangnya, kata Rudy, sejumlah kafe dan restoran di Surabaya yang menjual wine belum memahami ritual ini sehingga layanannya mengecewakan. Ada yang tidak memiliki koleksi lengkap gelas wine dan ada pula pelayan yang tidak paham cara membuka botol wine yang benar.

“Yang agak lumayan pelayanan di hotel-hotel berbintang karena mereka sudah paham,” pungkasnya. (30 Juni 2007)

10 responses to this post.

  1. Posted by nicky saputra on November 23, 2009 at 9:00 am

    dear bang sholeh,

    punya info tentang jenis MALAGA WINE, brand nya GOLDEN SWAN, produksi Maxtion and Son Company. Di label nya tertera tahun 1642. Jika punya infonya, boleh donk kita share.🙂

    Trims attensinya.

    email saya nickysaputra@gmail.com
    FB nicknobuz@yahoo.com

  2. bang nicky, kebetulan saya nggak bisa jawab pertanyaan anda. tapi, jangan kuatir. saya ada kontak narasumber untuk tulisan ini dan sudah saya kirim ke email anda. dicek ya bang.

  3. Numpang nanya dong…apa Surabaya Wine Society ini masih aktif sampai sekarang? Saya tertarik untuk belajar tentang wine lebih jauh…kalau bisa bagi info contact person dari SWS ya…

    Terimakasih

  4. masih dian. coba aja cek situs mereka http://www.surabaya-wine-society.com. selamat belajar

  5. Saya merupakan bagian marketing dari penjualan wine di Surabaya..
    Apa Surabaya Wine Society ini masih aktif sampai sekarang?

  6. setahu saya masih aktif pak thomas. silahkan tengok situsnya di http://www.subws.com atau berkomunikasi lewat email mereka di surabayawinesoc@telkom.net. selamat mencoba.

  7. Thank you so much for spending some time in order to create “Taste The Wine !

    | AyahAan’s Blog”. Thank you again -Shannon

  8. Which was equally intriguing as well as insightful! Thank
    you for sharing your views with us.

  9. Posted by prapto on Desember 23, 2013 at 3:10 am

    Minta tolong, adakah club 2 malam dan cafe disurabaya yg menyediakan wine, kalau ada tolong diberi tau tempatnya ya bro ?

  10. Posted by fikry fadhan on April 25, 2016 at 10:26 pm

    maaf mau tanyak saya ingin tanyak apa di surabaya ada konutas pecinta wine?kebetulan saya ,mau mengadakan event wine tasting di surabaya.mohon infonya bisa email ke saya fikry.fadhan01@gmail.com
    tnks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: