Rote Ndao

Syahdan, dahulu sebuah kapal tentara Portugis terjerat badai di Laut Sawu. Kapal itu karam, tetapi penumpangnya berhasilmenyelamatkan diri ke sebuah pulau. Di pulau tak bernama itu, rombongan tentara asing ini berpapasan dengan penduduk lokal, seorang petani. Dalam bahasa Portugis, seorang tentara bertanya dimana ia sekarang. Jarang melihat orang kulit putih, sang petani kaget bukan main. Dia tak mengerti pula bahasanya. Dengan tergagap-gagap, petani menjawab hanya dengan menyebut namanya. “Rote..,Rote….” Jadilah pulau itu diberi nama Rote.

Perhatikan tiga anak Rote di belakang saya. Kulitnya kuning dan berambut lurus tebal.

Ini hanya salah satu legenda asal-usul Pulau Rote yang diceritakan turun-temurun. Namun, versi ini paling diyakini. Alasan utamanya adalah warisan genetik Portugis yang bisa dijumpai sampai hari ini di sana. Warisan ini paling banyak menurun pada kaum hawa. Mereka terlahir ke bumi dengan kulit putih bersih, dan rambut lurus nan lebat. Konon, anugerah ini menahbiskan mereka sebagai yang tercantik di seluruh dataran Timor.

Selengkapnya

Iklan

Selat Pencabut Nyawa

Sebelum bertolak ke Rote, sempat saya telusuri informasi tentang Selat Pukuafu di dunia maya. Tak ada kabar baik dari sana kecuali ketakutan dan bertumbangannya nyawa. Penghujung Januari empat tahun silam, riwayat kapal motor Citra Mandiri Bahari berakhir. Dihempas ombak ganas, seratus enam puluh penumpang dan muatannya tumpah ke laut. Empat puluh satu orang pulang tinggal nama. Sembilan orang tak diketahui rimbanya. Selebihnya berhasil diselamatkan tim penolong.

Medio Januari tiga tahun berikutnya, selat di Timur Pulau Rote itu kembali makan korban. Kabur dari hotel prodeo, delapan belas imigran gelap asal Afghanistan, Pakistan dan Myanmar meregang nyawa. Perahu nelayan sewaan yang dipakai kabur ke negeri kanguru, pecah berantakan dihantam gelombang besar. Mereka bagai lepas dari mulut harimau masuk mulut buaya. Tiga dijemput ajal, enam hilang. Nasib baik masih memayungi delapan imigran lainnya. Lima berhasil renang ke daratan dengan susah payah. Tiga sisanya ditolong nelayan setempat.

19 Desember 2009. Gara-gara telat meramal cuaca dan gelombang, dua kapal penumpang, Ile Mandiri dan Uma Kalada terjebak arus gelombang tiga meter di Pukuafu. Demi keselamatan, nahkoda memutar balik kemudi kembali ke Kupang.

Selengkapnya

Rote, Kami Datang !

Dari Sabang sampai Merauke

Dari Miangas sampai Pulau Rote…

Anda pasti tahu potongan jingle iklan SBY yang disadur dari iklan Indomie saat kampanye Pemilu Presiden 2009 lalu. Anda juga pasti tahu kalau empat daerah itu merupakan batas terluar bumi nusantara. Pulau Sabang di Barat, Merauke di Timur. Lalu, di Utara teronggok Pulau Miangas dan Pulau Rote di Selatan.

Tentu menarik jika mendapat kesempatan menginjakkan kaki di empat batas wilayah republik ini. Sensasi perjalanan, menyelami kehidupan lokal, menikmati keindahan alam, atau mencicipi kuliner khas. Pengalaman semacam itu bak intan berlian.

Pulau Rote (dok.www.rotendaokab.go.id)

Pada suatu sore, tak ada angin, tak ada hujan, datang perintah untuk bertugas ke Pulau Rote. Durian runtuh kawan. Tak perlu berpikir dua kali untuk menerima tugas menantang ini. Tugas saya sebagai penyusun laporan untuk bimbingan teknis yang dilakukan dua rekan senior saya, Pak Jarno dan Pak Edi.

Selengkapnya

Serasa Juara

Siapakah calon pemenang Kompetiblog 2010 ?

Pengumuman pemenang Kompetiblog Studi di Belanda 2010 tinggal menghitung hari. Dalam beberapa hari kedepan kami akan informasikan siapakah yang berhak mendapatkan hadiah utama berupa kesempatan Summer Course di Utrecht, termasuk juara ke-2 dan ke-3.

Sebetulnya nama pemenang telah kami kantongi, akan tetapi sebagai bocoran kami ingin mengucapkan selamat dulu kepada 29 nama yang tulisan dalam blognya masuk dalam 30 tulisan terbaik pilihan juri . Pertanyaan berikutnya adalah, kira-kira siapakah diantara nama-nama berikut yang berhak mengikuti Summer Course di Utrecht?

Ke-29 nama berdasarkan urutan abjad adalah:

1. Ahmad Arif Nurrahman

2. Ahmad Zainul Ihsan Arif

3. Andika Hendra Mustaqim

4. Anindya Mutiara Dianingrum

5. Arief Setiawan

6. B.Triarani Susy Utami

7. Benazio Rizki Putra

8. Diah Dzihrina

9. Dian Wahyu

10. Eka Trisno Samosir

11. Fanny Fajarianti

12. Ferdias Ramadoni

13. Ifta Choiriyyah

14. Istiqamah Hafid

15. Jie Wahyono Kusumo

16. Marissa Saraswati

17. Mochammad Aditya Mukti

18. Mohamad Subchan Sholeh

19. Nur Ali Muchtar

20. Patricia Wahyu Haumahu

21. Pembayun Sekaringtyas

22. Rahmah Rahma

23. Rina Oktaviyanthi

24. Sari Rachmatika

25. Suci Lestarini Nurhayati

26. Tri Mulyani

27. Trinanti Sulamit

28. Yangki Suara

29. Yosua Kristianto

Tunggu pengumumannya di blog kompetiblog, website Neso Indonesia dan blog Studi di Belanda.

Ini dia pengumuman yang membuat hati saya berdebar-debar tak karuan seperti seorang kekasih menanti jawaban pujaan hati atas deklarasi cintanya. Selengkapnya

Tangkap Angin, Salurkan Air




Sahabat Alam Bernama Belanda (Bagian Kedua-Habis)

Tak ada yang istimewa dari kaleng biskuit itu. Bentuknya biasa saja, persegi. Namun, gambar yang tercetak di bagian depan kaleng akan membuat anda langsung tahu asal kaleng itu. Tampak seorang gadis dengan pakaian tradisional khas sembari menenteng keranjang rotan mungil di tangan kirinya. Di kiri-kanannya hamparan bunga tulip berjajar rapi di samping permadani rumput, sedang di belakangnya menjulang bangunan kincir angin. Sampai di sini, anda pasti tahu darimana asal kaleng biskuit tadi. Ya, Belanda. Selengkapnya

Laut Dibendung, Tanggul Dibangun

Sahabat Alam Bernama Belanda (Bagian Pertama)

Belanda merupakan negara dengan hampir separo area wilayahnya berada di bawah permukaan air laut. Nama Netherlands pun sejatinya berasal dari kata Belanda “nieder” yang berarti rendah dan “land” yang berarti tanah. Persoalan geografis ini membuat pusing rakyat Belanda. Mereka pun melakukan adaptasi dengan kondisi alam yang kurang bersahabat itu.

Prioritas utama yang harus dilakukan adalah mencegah tumpahnya air laut ke daratan. Oleh karena itu, Belanda segera membuat pematang raksasa berbentuk bukit pasir yang membentang di wilayah utara Belanda. Di dalam pematang itu lantas ditanami berbagai jenis rumput, belukar dan pohon yang dimaksudkan sebagai perekat. Setelah sekian lama, tanah pasir yang ini pun menjadi daratan. Namun, masih ada sisa kumpulan air dalam danau-danau kecil, berbentuk telaga. Sisa air ini kemudian dikeringkan dengan jalan memompa airnya keluar. Hasilnya, luas daratan makin bertambah (Kompasiana, 25 Maret 2010).

Upaya berikutnya adalah membangun pelindung berupa ratusan tanggul besar dan kecil yang dilengkapi kincir yang membentang di pinggir laut dan sungai yang tanahnya rendah. Tanggul membentang dari Belgia hingga Provinsi Frisland dan Groningen di Utara Belanda. Ketinggian tanggul disesuaikan dengan tinggi rendahnya letak tanah di pinggir sungai atau kanal masing-masing. Belanda juga membangun dam di antara dua daratan yang dinilai rawan dan berbahaya. Sebagian dana untuk mengapungkan daratan Belanda itu disedot dari sumber daya alam nusantara yang dibawa VOC pada abad ke-17 sampai ke-19. Selengkapnya

Ayo, Taati Etika Berinternet !

“Tidak boleh menggunakan komputer untuk melukai orang lain”, itulah isi

(dok. UMM)

nomor satu dari “10 Etika Komputer” dari Computer Ethics Institute, Amerika Serikat. Etika ini banyak diadopsi untuk merumuskan etika berinternet secara umum. Begitu paragraf pembuka tulisan Amir Sodikin, jurnalis Kompas, pada edisi Jumat, 19 Maret 2010.
Dalam alinea berikutnya, dijelaskan betapa saat ini rambu-rambu internet banyak dilanggar, entah sadar atau tidak. Padahal, ini adalah awal dari terjadinya tindak kejahatan. Dari kelas teri seperti olok-olok, sampai pada kelas kakap, misalnya, pemerkosaan, melarikan anak gadis, atau pencurian data kartu kredit.
Kasus penghinaan di Bogor, menggiring seorang cewek divonis bersalah oleh pengadilan dengan hukuman dua bulan 15 hari. Di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, gara-gara dianggap menghina guru, empat siswa SMA dikeluarkan dari sekolah. Nah, Bang Amir telah merangkum sepuluh etika berselancar di dunia maya berikut ini. Selengkapnya