Bola Salju dari Ngabab

Malam Sabtu, akhir November tahun lalu. Saya sedang bermain dengan putri saya, Nadia, di bagian belakang rumah. Entah kenapa, ada dorongan untuk mengecek telepon seluler saya. Tadi, telepon genggam lansiran Swedia itu saya geletakkan di atas meja rias. Sejenak saya tinggalkan Nadia lalu meluncur ke kamar. Firasat saya benar. Ada panggilan tak terjawab. Tiga kali malah. Gawat. Itu nomor telepon atasan saya, Bu Ina. Tak hanya itu. Bu Ina juga mengirimkan sebuah pesan singkat. ”Mas, tolong telpon saya. Ada yang penting.”

Khawatir ada sesuatu yang genting, saya langsung telepon Bu Ina. Kali ini, dugaan saya meleset. Rupanya cuma tugas dinas biasa. Namun bukan untuk pemantauan atau verifikasi lapangan. Kawan, saya diperintahkan melakukan aktivitas lama. Liputan. Memang, ini bukan tugas liputan pertama untuk majalah lembaga. Sudah beberapa kali saya ditugaskan meliput aneka kegiatan lembaga atau mitra kami, di dalam maupun luar kota. Hanya tugas kali ini, bagi saya, cukup menarik. Saya diminta meliput pembukaan pelaksanaan desa vokasi, binaan lembaga kami, Sabtu pagi. Namanya Desa Ngabab. Letaknya di lereng kaki Pegunungan Pujon, Kabupaten Malang.

Pukul lima pagi, kami bertolak dari kantor. Saya tidak sendiri. Ada Pak Nova, Abu Nabil, dan Bu Vena, wakil dari Kementerian Pendidikan Nasional. Hawa dingin menyergap, sisa hujan semalam. Lepas dari kantor, kami menuju alun-alun Sidoarjo untuk menjemput Bu Ina. Jalanan sudah ramai. Namun, dalam tempo dua setengah jam, kami telah masuk Malang.

Mobil segera dipacu ke arah Kota Batu. Memasuki Pujon, saya buka sedikit jendela mobil. Udara dingin dan segar khas pegunungan menyapu lembut wajah dan leher. Jalan berkelok-kelok naik-turun mengikuti kontur pegunungan. Di kiri tebing, kanan jurang. Rimbunan pepohonan menjulang tinggi nan rapi di lembah-lembah jurang. Berpadu manis dengan gundukan bukit-bukit hijau. Pemandangan itu membuai kami hingga tak terasa telah tiba di lokasi. Tanjakan curam di pintu masuk desa menyambut. Namun, Abu Nabil yang mengemudikan mobil mampu mengatasinya. Jalan terus menanjak meski lebih landai.

Balai Pertemuan Desa Ngabab

Ngabab di pagi hari

Pagi di Ngabab

Tepat jam setengah sembilan, kami tiba di Balai Desa Ngabab. Mendung tipis di langit menyapa. Kapas-kapan awan biru lembut turun memeluk kaki pegunungan Pujon. Sang surya malu-malu menampakkan sinarnya. Hawa dingin kian menyergap. Dalam cuaca seperti ini, umumnya orang enggan beraktivitas di luar rumah. Lebih nyaman menarik selimut rapat-rapat dan kembali ke alam mimpi. Tidak demikian halnya dengan 31 warga Desa Ngabab. Mereka bersama Amin Afandi, sang kepala desa, telah berada di balai pertemuan desa sejak pukul delapan pagi. Mereka tidak sedang menggelar rapat desa. Lebih dari itu, mereka bersiap mengikuti diklat dua hari. Kegiatan yang dihelat Pokdi Kursus dan Kelembagaan BPPNFI Regional IV ini bertajuk ”Diklat Model Percontohan Desa Vokasi Berbasis Lingkungan”.

Pelopor dan kader biogas Desa Ngabab bersama pimpinan BPPNFI Reg. IV, aparat desa, kecamatan, dan narasumber diklat.

Sampai di sini, saya belum paham benar maksud dan tujuan acara ini. Saya pun bertanya kepada Pak Nova, yang juga anggota tim Desa Vokasi BPPNFI. Menurut dia, Ngabab dipilih karena desa ini menjadi lokasi model Pokdi Kursus dan Kelembagaan BPPNFI sejak tahun 2007. Kala itu, warga dibimbing untuk memanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas. Warga lantas dilatih membuat digester atau wadah pembusukan kotoran sapi skala rumah tangga tertutup. Bentuknya mirip sumur dengan kubah kerucut.

Lewat kerjasama yang baik, berhasil dibangun sepuluh digester. Pembangunan satu unit digester menelan biaya sekitar Rp 3 juta. Lantas, di tahun 2008 dibangun lima digester, tiga di antaranya swadana warga. Dengan demikian, telah 15 rumah tangga yang telah memanfaatkan biogas untuk kebutuhan memasak. Di tahun 2009, akan dibangun 10 digester lagi.

Cara kerja digester begini. Setiap unit digester memerlukan tahi sapi – minimal dua ekor sapi – dicampur air. Campuran itu kemudian diendapkan untuk menghasilkan gas. Selanjutnya, gas dialirkan pada reaktor. Gas bersih yang sudah siap lalu dialirkan lewat selang plastik menuju kompor gas.

Kata Pak Nova, di tahun ini difokuskan untuk membimbing warga dalam memproduksi pupuk organik dari limbah biogas. Oleh karena itu, dalam diklat ini warga dibekali materi terkait manajemen dan pemasaran produk. “Baru di diklat yang kedua nanti, warga akan diberi materi teknis tentang pemisahan outlet untuk pembuatan pupuk organik,” ujar alumnus Agronomi UGM Yogyakarta itu.

Pantas saja bila sebagian besar materi diklat berkisar pada pengelolaan manajemen organisasi. Dari manajemen usaha, keuangan, hingga pemasaran. Pembentukan mental usaha dan dasar kewirausahaan terkait produksi pupuk organik juga dipaparkan. Materi itu disampaikan oleh lembaga kursus dan pelatihan Magistra Utama, Malang serta produsen pupuk organik, CV Global Proporindo, Gresik.

Alasan lain memilih Ngabab, menurut Pak Nova adalah karena posisinya sebagai salah satu produsen susu sapi di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Sekitar 85 persen warganya adalah peternak sapi perah. Dengan 2.500 sapi perah, setiap hari peternak di desa ini mampu menghasilkan 8.000 liter susu segar.

Dari situs Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan (Ditbinsuskel), Ditjen Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas, saya gali informasi soal desa vokasi ini. Desa vokasi sebetulnya adalah wujud program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) dalam lingkup pedesaan. Tujuannya, mengembangkan sumberdaya manusia dan lingkungan berlandaskan nilai-nilai budaya serta pemanfaatan potensi lokal. Melalui desa vokasi ini, masyarakat diharapkan dapat belajar dan berlatih menguasai keterampilan. Selanjutnya, dari bekal keterampilan itu dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau menciptakan lapangan kerja sesuai sumberdaya di wilayahnya sehingga taraf hidup masyarakat semakin meningkat.

Secara teknis, desa vokasi diharapkan menjadi kawasan pendidikan keterampilan vokasional yang menyelenggarakan berbagai jenis pendidikan keterampilan yang integratif. Baik dalam proses produksi dan pemasaran produk, jasa atau karya maupun sebagai laboratorium sosial yang menjadi tempat uji coba.

Pujon sendiri telah dikenal sebagai sentra susu sapi di Jawa Timur. Dari total populasi 25 ribu sapi perah, dihasilkan 100 ton susu sapi setiap hari. Nilainya setara dengan Rp 300 juta. Lazimnya desa yang penduduknya menggantungkan nafkahnya dari sektor peternakan, kotoran ternak yang menggunung menjadi pemandangan jamak. Repotnya, kotoran ini akan terbawa oleh air masuk ke dalam tanah atau sungai. Padahal, kotoran sapi itu mengandung racun dan bakteri ecoli yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

Sayangnya, masyarakat belum banyak tergerak memanfaatkan besarnya potensi biogas yang berasal dari endapan kotoran sapi itu. Padahal, pengembangan biogas di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1970-an. Selain membuahkan energi alternatif, limbah biogas yang telah hilang gasnya (slurry) juga menghasilkan pupuk organik. Baik dalam bentuk cair atau padat yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu di dalamnya tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia.

Sebelum diklat dimulai, saya sempatkan berbincang dengan dua peserta, Suliaman dan Mulyadi. Keduanya termasuk kelompok perintis biogas di Ngabab. Keduanya telah membangun digester pada tahun 2007. Sejak saat itu pula, keduanya mengaku tak lagi membeli minyak tanah untuk kebutuhan memasak harian. Seluruhnya terganti oleh biogas.

“Anggaran untuk membeli minyak tanah bisa dioper untuk kebutuhan lainnya,” ujar Mulyadi yang memiliki dua sapi perah.

Mulyadi menunjukkan kompor berbahan bakar biogas

Mulyadi membuktikannya dengan membawa kami ke rumahnya, yang hanya lima menit dari balai desa. Pertama, dia menunjukkan lokasi kandang sapi, letak digester yang telah ditutup semen, lalu saluran pembuangan kotoran sapi. Berikutnya pria berambut cepak itu menggiring kami ke dapur. Dia menuju kompor gas dan segera memutar kenop kompor ke kiri. Wuss…api biru langit menyala-nyala terang dan kuat. Sulit membedakannya dengan nyala api dari gas elpiji. Bu Vena memotret beberapa kali sembari menanyakan teknis pengolahan biogas.

Sujarno, Ketua Pokdi Kursus BPPNFI menunjuk ampas sisa biogas milik Suliaman yang sedang dikeringkan untuk dijadikan pupuk. Abu Nabil (kanan), berdiri di atas digester Suliaman.

Suliaman lebih baik lagi. Pemilik lima sapi perah itu telah memanfaatkan pupuk organik padat dan cair dari limbah biogas untuk ladangnya. Keuntungan ganda didapat pria 51 tahun ini dari ladangnya yang mencapai satu hektar. Produksi jagung manis dan wortelnya berlipat dua. Ditambah lagi, dia tak perlu lagi beli pupuk. Pupuk organik plus biogas yang dihasilkan secara terus-menerus setiap hari, telah memberikan dampak nyata dalam kehidupan keduanya.

Kalau saja rencana teman-teman Pokdi Kursus BPPNFI di tahun 2009 itu terwujud, maka akan ada 25 rumah tangga yang memakai biogas. Bila terus disebarluaskan secara konsisten lewat skema bantuan bergulir dari pemerintahan desa, kecamatan atau malah kabupaten, saya yakin gerakan ini akan menggelinding bak bola salju ke seluruh Desa Ngabab. Bahkan, tak menutup kemungkinan virus biogas ini ditularkan ke desa-desa tetangga di seluruh Kecamatan Pujon.

Kelak, sejarah akan mencatat peran warga Desa Ngabab dalam upaya menekan dampak pemanasan global dengan energi ramah lingkungan. Mengapa biogas memiliki peran penting dalam menghentikan pemanasan global? Begini kira-kira cerita sederhananya. Seperti diketahui, pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan karbon dioksida (CO2) – kontributor terjadinya efek rumah kaca – yang bermuara pada pemanasan global. Nah, biogas memberikan perlawanan terhadap efek rumah kaca lewat tiga cara. Pertama, biogas berperan mengganti bahan bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan. Kedua, gas metana (CH4) yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk adalah gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Proses biogas akan membakar metana lantas mengubahnya menjadi CO2 sehingga mengurangi jumlah metana di udara. Ketiga, CO2 hasil proses biogas tadi akan diserap oleh pepohonan di sekitarnya dan dikembalikan ke udara dalam bentuk oksigen guna melawan efek rumah kaca. Kawan, saudara kita di Ngabab telah beraksi untuk menyelamatkan planet bumi. Satu-satunya rumah kita yang kini dalam bahaya karena krisis cuaca. Akibat ulah kita sendiri.

Kini tiba saatnya bagi kita semua untuk mengikuti jejak warga Ngabab dan warga dunia lainnya yang terus berupaya keras mengatasi masalah ini bersama-sama. Kata Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika yang kini menjadi aktivis lingkungan, krisis cuaca ini bisa diatasi. Sesuaikan dengan kemampuan anda masing-masing.

Berikut beberapa cara yang diawarkan Al Gore dalam film dokumenternya yang fenomenal, An Inconvenient Truth.

1. Beli peralatan hemat energi

2. Kurangi pemakaian energi

3. Daur ulang

4. Jika anda bisa, belilah mobil hibrida

5. Jika anda bisa, jalan atau naik sepeda

6. Jika anda bisa, naik kereta dan kendaraan umum

7. Beritahu orangtua anda untuk tak menghancurkan dunia yang akan anda tinggali

8. Jika anda adalah orangtua, bergabunglah dengan anak-anakmu untuk menyelamatkan dunia yang akan mereka tinggali

9. Pakailah sumber energi yang bisa diperbarui

10. Tanya PLN, apakah mereka menawarkan energi ramah lingkungan. Jika mereka tidak punya, tanyakan kenapa

11. Pilih pemimpin yang berusaha mengatasi krisis

12. Tanamlah pohon yang banyak

13. Bicaralah pada komunitasmu

14. Telepon acara radio dan tulis surat ke surat kabar

15. Tekan Amerika untuk melarang emisi CO2

16. Ambil bagian dalam perjuangan sedunia untuk menghentikan pemanasan global

17. Kurangi ketergantungan pada minyak luar negeri

18. Bantu petani menanam tanaman penghasil bahan bakar biologis

19. Jika kau percaya pada doa, berdoalah bahwa orang-orang akan menemukan kekuatan untuk melakukan perubahan. Seperti pepatah kuno afrika, ”Saat berdoa, gerakkan kakimu.”

20. Pelajari sebanyak mungkin mengenai krisis cuaca lalu terapkan pengetahuan yang kau miliki

Generasi masa depan kita mungkin akan berpikir, “Apa yang telah dilakukan orangtua kita?.”

“Kenapa mereka tidak tersadar saat memiliki kesempatan?.”

Tapi, rupanya kita harus mendengar pertanyaan dari mereka saat ini. Pertanyaannya sekarang, ”Anda siap mengubah gaya hidup anda?.” (*)

7 responses to this post.

  1. pertanyaan terakhir belum tentu semua orang akan langsung mengatakan iya, hehe
    btw, nama desanya lucu pak , ngabab=memberi abab, hehe, bukan yah? maaf just kidding

  2. memang pertanyaan yang berat, tapi kita semua harus melakukannya karena Bumi sedang kritis. soal nama desa, memang lucu mas. maknanya persis seperti tulisan anda. sayangnya, saya lupa tanya asal-usul nama “Ngabab”. ntar deh, kalau ada kesempatan ke sana lagi, saya tanyakan.

  3. Posted by sedjatee on Januari 31, 2010 at 11:11 pm

    akhirnya nulis juga, walau aku gak mudheng tulisannya… salam sukses…

    sedj

  4. hahaha…sepurane mas jati. ini soalnya nulisnya buru-buru, jadi ngeditnya kurang maksimal. masukan penting buat saya untuk tulisan berikutnya. sukses selalu bang jati.

  5. […] baru datang dari desa vokasi kami, Desa Ngabab. Desa subur di lereng Pegunungan Pujon, Kabupaten Malang itu memasuki babak baru dalam pengolahan […]

  6. makasih dah datang ke desa kami,ngabab artix nafas itu kata buyut saya yg asli kelahiran ngabab

  7. Posted by Anita on Desember 2, 2014 at 11:14 pm

    Terimakasih telah mengunjungi Desa kami🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: