In Memoriam Nurcholish Madjid

”Jadilah bambu. Jangan jadi pisang. Daunnya lebar membuat anaknya tidak kebagian sinar matahari. Bambu lain rela telanjang asal anaknya, rebung, pakaiannya lengkap.”

Metafora itu berulang kali dilontarkan cendekiawan Nurcholish Madjid (66) dalam berbagai kesempatan. Mengingatkan bangsa ini betapa pentingnya menunda kesenangan untuk hari esok yang lebih baik. Menahan diri dari kemewahan dan mementingkan pendidikan.

”Bila perlu orangtua melarat, tapi anaknya sekolah dengan baik,” pesannya.

Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid

Dalam buku pamungkasnya, Indonesia Kita, Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish, menuturkan bahwa pendidikan adalah investasi paling strategis dan produktif. Karena itu, sudah sewajarnya jika pendidikan diletakkan pada salah satu tingkat paling tinggi dalam skala prioritas pembangunan bangsa dan negara.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Umumnya, hasilnya baru terlihat dalam 20 tahun atau satu generasi. Oleh karena itu, diperlukan ketabahan untuk menunda berbagai harapan kesenangan, dan untuk secara bersama-sama memikul beban penundaan itu. Khususnya dalam semangat ”lebih baik sekarang mandi keringat saat pendidikan daripada mandi darah saat perjuangan.”

Menurut dia, secara umum, setiap masyarakat dan bangsa berpotensi memiliki dan mengajarkan kearifan menunda kesenangan sementara demi kebahagiaan masa depan yang lebih besar dan hakiki. Namun, hanya sedikit yang benar-benar berpegang pada kearifan itu.

Untuk dapat melakukan hal ini, menurut Cak Nur dengan mengutip ucapan Bung Karno, kita memerlukan ”samen bundeling van alle krachten van de natie”, yang artinya pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa.

Cak Nur tidak hanya berpesan, tetapi menyatakannya dalam kehidupan. Kedua anaknya, Nadia dan Ahmad Mikail, melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat hingga jenjang master. Kesederhanaan melekat kuat dalam keseharian kehidupannya.

29 Agustus 2005, empat tahun silam, Nurcholish Madjid menghadap Sang Khalik. Sikapnya yang lurus tidak terbawa arus, ajaran-ajaran bijak yang disuarakannya melintasi agama, usia, dan kelompok, menjadikannya tempat bertanya berbagai kalangan masyarakat. Sikap pendidiknya membuat siapa pun berdialog dengannya merasa pintar. Kini, itu tinggal kenangan. Tidak akan ada lagi ajaran bijaknya, juga kritik bernas yang disampaikan dengan santun.

Dia bukan hanya cendekiawan, tetapi pemberi inspirasi bagi bangsanya, dengan gagasan yang sering kali mendahului zamannya. Tahun 1970, ketika semangat masyarakat berpartai menggebu, putra sulung almarhum KH Abdul Madjid ini muncul dengan jargon ”Islam Yes, Partai Islam No”, untuk melepaskan Islam dari klaim satu kelompok tertentu, dan menjadi milik nasional. Namun, sedikit yang paham dengan gagasan ini, menganggap pria kelahiran Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939 itu mengembangkan sekularisme.

Tahun 1980-an, Cak Nur mendorong terjadinya check and balance dengan munculnya ide oposisi loyal. Guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini juga melontarkan wacana Pancasila sebagai ideologi terbuka, yang juga kembali menuai pro dan kontra.

Cak Nur tak pernah surut mengembangkan intelektualitasnya. Lewat Paramadina, dikembangkan komunitas intelektual dan merengkuh kelas menengah Muslim Indonesia untuk lebih intensif mengkaji Islam.

Dengan caranya, Cak Nur membuka jalan terwujudnya reformasi dengan menolak tawaran duduk di Komite Reformasi, yang akan dibentuk Presiden Soeharto untuk menghadapi tuntutan reformasi (1998). Penolakan itu meruntuhkan rencana Soeharto bertahan sebagai presiden.

Kegundahan terhadap kehidupan politik bangsa mendorong Cak Nur menyatakan siap mengikuti pemilihan presiden pada Pemilu 2004, dan lahirlah 10 program membangun kembali Indonesia. Banyak yang menyayangkannya karena akan ”mengotori” keberadaannya sebagai ”nurani” bangsa.

”Saya harus melakukannya. Ini pembelajaran bahwa proses (pemilu) dari awal harus bersih, transparan, dan bukan sekadar berebut kekuasaan,” tuturnya kepada Kompas ketika itu.

Cak Nur kala usai bertemu jajaran direksi Pasar Atum Surabaya sebelum melakukan kunjungan ke pasar tersebut. (dok. pribadi)

Cak Nur usai bertemu jajaran direksi Pasar Atum Surabaya pada tahun 2002 sebelum melakukan kunjungan ke pasar tersebut. (dok. pribadi)

Sebagai salah satu pengagumnya, saya beruntung pernah mendapat kesempatan untuk membantunya pada tahun 2003 lalu. Semua terjadi seusai Cak Nur mendeklarasikan niatnya mengikuti pemilihan presiden 2004. Untuk mendukung ikhtiarnya itu, rekan-rekannya lantas membentuk Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia (PMKI) di Jakarta. Pengurus PMKI lantas berniat membentuk kepengurusan daerah di Jawa Timur. Sebelum niat itu dilontarkan, PMKI Jakarta beberapa kali menggelar diskusi terbatas di Surabaya dengan menghadirkan Cak Nur. Diskusi ini selalu mengundang sejumlah kolega serta simpatisan Cak Nur di Jawa Timur.

Saat mendengar kabar itu, sungguh saya ingin ikut membantu perjuangan Cak Nur di Jawa Timur. Namun, saya sadar diri. Saya menduga kepengurusan PMKI Jawa Timur akan diisi rekan-rekan sebaya atau rekan-rekan senior yang pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan punya rekam jejak cemerlang. Cak Nur tercatat memimpin organisasi mahasiswa ekstra kampus tertua di Indonesia ini selama dua periode pada kurun 1966-1971.

Saya hanya bisa berdoa agar PMKI Jatim mampu bekerja maksimal untuk membumikan dan mengenalkan Cak Nur ke seluruh lapisan masyarakat. Namun, sebagai jurnalis, saya berjanji dalam hati untuk ikut membantu dengan meliput setiap agenda Cak Nur, khususnya di Surabaya. Setelah itu, rutinitas tugas sebagai jurnalis menyita kembali sebagian besar waktu saya.

Medio 2003, tak ada angin, tak ada hujan, seorang kolega senior di HMI menghubungi saya. Tanpa basa-basi, dia meminta saya bergabung di kepengurusan PMKI Jatim. Bak mendapat durian runtuh, saya tak berpikir dua kali untuk menerima tawaran itu. Kawan, kesempatan langka seperti ini tak datang tiap hari. Meskipun situasi ini mendatangkan konflik kepentingan bagi saya. Seperti yang sudah diketahui dalam kode etik jurnalistik, setiap wartawan harus independen. Artinya, memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. Menerima tawaran sebagai pengurus PMKI Jatim sama artinya bahwa saya tidak lagi independen. Karena itu, opsi yang tersedia adalah nonaktif sementara atau mengundurkan diri dari harian sore tempat saya mengabdi sejak semester kedua 2002 itu.

Cak Nur usai bertemu para calon pengurus PMKI Jatim pada tahun 2002 di rumah seorang sahabat Cak Nur di Surabaya. Saya (dua dari kiri), Bang Ma'ruf (empat dari kiri) dan Bang Umar (tiga dari kanan). Lainnya, saya lupa namanya. (dok. pribadi)

Cak Nur usai bertemu para calon pengurus PMKI Jatim pada tahun 2002 di rumah seorang sahabat Cak Nur di Surabaya. Saya (dua dari kiri), Bang Ma'ruf (empat dari kiri) dan Bang Umar (tiga dari kanan). Lainnya, saya lupa namanya. (dok. pribadi)

Setelah menimbang banyak hal, saya memilih yang terakhir. Sebelum mengajukan surat pengunduran diri, saya diundang mengikuti serangkaian rapat PMKI Jatim. Alhasil, saya ditunjuk menangani bidang kehumasan. November 2002, saya menghadap pemimpin redaksi untuk menyerahkan surat pengunduran diri itu. Saya diminta berpikir ulang. Tapi, tekad saya sudah bulat. Melihat keteguhan sikap saya, akhirnya pengunduran diri saya dikabulkan.

Pukul 00.00, 31 Desember 2008. Suara terompet, raungan gas motor yang memekakkan telinga memecah keheningan malam di pusat Kota Pahlawan. Warga kota tengah merayakan pergantian tahun. Inilah hari dimana saya telah resmi mundur sebagai jurnalis dan menghadapi tugas baru sebagai pengurus PMKI Jatim.

Hari-hari berikutnya, kami diminta PMKI Jakarta menyiapkan lokasi kegiatan Cak Nur. Melalui hasil survei lapangan dan kajian strategis, dipilih Lamongan dan Nganjuk. Jadwalnya Minggu malam dan Senin pagi, 1 dan 2 Februari. Di Nganjuk, Cak Nur akan berceramah usai melakukan pengajian bersama dengan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi. Pengajian dilangsungkan di halaman Dusun Bongah, Kelurahan Ploso, Nganjuk.

Esok harinya, barulah Cak Nur meluncur ke MI Assa’diyah, Desa Kemlagigede, Turi, Lamongan. Di sini, Cak Nur akan berdialog dengan warga soal upaya membangun ekonomi rakyat dan pendidikan yang bermutu. Selain itu, Cak Nur juga direncanakan meresmikan koperasi serba usaha lantas menebar tiga ribu benih ikan bandeng dan mujair secara simbolis di tambak petani. Untuk memudahkan kerja para jurnalis, saya kirimkan peta menuju lokasi kegiatan melalui mesin faksimili.

Sesuai janji, Minggu siang, saya dan tiga pengurus lain (Bang Ma’ruf, Deni dan Abraham) menjemput Cak Nur di Bandara Juanda. Pria murah senyum itu datang bersama istri, Omi Komariah, dan asistennya, Nizar. Sebuah MPV cokelat susu lansiran Korea, KIA Carnival lengkap dengan sopir telah siap sedia. Tentu untuk Cak Nur dan rombongannya. Kami tak tahu siapa yang menyiapkan mobil dan sopirnya itu. Yang jelas, plat nomornya B. Bisa jadi, pengurus PMKI Jakarta yang menyiapkan atau milik kolega Cak Nur yang bersimpati atas perjuangannya lantas meminjamkan mobilnya.

Kawan, sudah menjadi rahasia umum bagi kami jika perjuangan Cak Nur kala itu banyak disokong rekan-rekannya, atau mereka yang bersimpati. Cak Nur memang bukan hartawan. Saya dan seluruh pengurus di PMKI Jatim bekerja sukarela untuk beliau. Tanpa bayaran sepeser pun dan kami memang tak pernah memikirkannya. Toyota Kijang kapsul yang kami naiki untuk mendampingi lawatan Cak Nur juga demikian. Mobil ini adalah mobil sewaan yang telah disiapkan oleh seorang sahabat Cak Nur di Surabaya.

Sore hari, kami sampai di Nganjuk dan langsung check in di hotel. Istirahat sejenak. Selepas Isyak, rombongan kami berangkat. Sebelum ke lokasi, kami diminta panitia menuju sebuah lokasi di dekat Masjid Agung Nganjuk untuk berangkat bersama dengan KH Hasyim Muzadi. Selanjutnya, dua rombongan yang terbagi dalam enam atau tujuh mobil bertolak ke lokasi dengan kawalan mobil patroli polisi. Sirene mobil polisi meraung-raung keras menarik perhatian masyarakat di sepanjang jalan. Masyarakat memperhatikan iring-iringan mobil dan para penumpangnya. Saya merasa seperti pejabat tinggi yang tengah melakukan kunjungan resmi kenegaraan. Iseng, saya melambai-lambaikan tangan ke arah warga di pinggir jalan. Dasar orang udik.

Singkat cerita, agenda pengajian berjalan baik sesuai rencana. Kami kemudian menginap semalam. Selepas sarapan pagi, Cak Nur dan kami bergeser ke Lamongan. Kali ini, tanpa kawalan polisi. Sampai di mulut desa, kami disambut empat anggota Banser NU di atas dua motor bebek. Giliran mereka yang mengawal kami menuju lokasi kegiatan. Ratusan warga telah hadir. Ceramah yang dilanjutkan dialog berlangsung hangat. Sejumlah warga tak membuang kesempatan berdiskusi dengan Cak Nur. Alhasil, waktu dua jam tak terasa. Usai Cak Nur menebar benih bandeng dan mujair, kami kembali ke Surabaya.

Nah, sebelum bertolak ke luar Jawa – saya lupa Sulawesi atau Sumatera- untuk agenda berikutnya, Cak Nur mengajak kami semua untuk makan siang. Tepatnya di sebuah restoran dekat Bandara Juanda. Nizar memilih meja di bagian belakang yang belum terlalu ramai. Maksudnya agar diskusi kami lebih leluasa. Kami memutari meja persegi itu. Bu Omi dan Cak Nur mengambil posisi di tengah sementara Nizar dan Bang Ma’ruf mengapit di samping kiri dan kanan. Saya, Bram dan Deni di ujung meja sebelah kanan. Tersisa empat kursi kosong di sebelah kiri saya. Sembari menunggu datangnya pesanan makanan dan minuman, Cak Nur mengawali pembicaraan. Persisnya, dia menanyakan kekurangannya dalam dua kegiatan itu.

”Apa pendapat teman-teman dari kegiatan kita dua hari ini. Apa yang masih harus diperbaiki?”

Cak Nur berkata demikian sambil menyapu pandangan ke arah kami. Saya, Abraham, dan Deni beradu muka lalu menunduk. Bang Ma’ruf terpekur menunduk. Dua kepalan tangannya menopang dagunya. Raut mukanya kaku. Kami bertiga sendiri tak tahu akan berkomentar apa. Berkomentar asal saja di forum seperti ini hanya akan menghina diri sendiri. Lebih baik diam daripada sok tahu. Kami berpikir keras. Cak Nur masih memperhatikan buku daftar menu di dekatnya. Dia menanti jawaban kami.

Tiga menit berlalu, tiba-tiba kepala Bang Ma’ruf mendongak bak nabi tengah menerima wahyu Illahi. Sejurus kemudian pandangannya lurus menatap Cak Nur. Seringai mukanya berubah ceria. Sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja dan menegakkan punggung, Bang Ma’ruf menjawab pertanyaan Cak Nur dengan penuh keyakinan.

”Cak Nur harus memperbanyak komunikasi dengan masyarakat akar rumput seperti di Nganjuk dan Lamongan,” ucap Bang Ma’ruf mantap.

Sirna sudah batu besar yang menghimpit dada kami sedari tadi. Lega rasanya. Sekarang ganti Cak Nur yang memandang Bang Ma’ruf. Menyimak jawaban itu, Cak Nur manggut-manggut. Sepertinya dia sependapat. Belum sempat Cak Nur menyampaikan tanggapannya, Deni menegaskan kembali jawaban Bang Ma’ruf. Panjang lebar. Muaranya, Cak Nur harus bekerja lebih keras agar lebih dikenal oleh lapisan masyarakat paling bawah itu. Soalnya, jumlah pemilih dari kelompok ini adalah yang paling besar dan mereka ini belum banyak disapa oleh Cak Nur.

Ketika pesanan kami tiba, di sela-sela menikmati santapan masing-masing, Cak Nur menanggapi jawaban kami secara umum. Intinya, dia sependapat dan bertekad untuk menekan defisit popularitasnya di kelompok masyarakat tersebut. Usai makan siang, berakhir pula perjumpaan langka kami dengan Cak Nur.

Seperti yang diketahui bersama, Cak Nur kemudian mundur dari konvensi capres Partai Golkar karena tak punya “gizi“. Meski begitu, dalam Indonesia Kita, Cak Nur telah menjabarkan sepuluh butir platform program membangun kembali Indonesia. Ini menjadi sangat penting, karena seperti sering disampaikan Cak Nur, jauh di atas siapa dan dari golongan mana seorang pemimpin berasal, lebih penting dari itu adalah ide-ide yang dibawanya untuk perbaikan bangsa. Inilah yang selama ini coba ditawarkan Cak Nur. Cak Nur banyak disalahpahami, tetapi dia tidak pernah surut. (berbagai sumber, diolah)

6 responses to this post.

  1. Berat banget bahasanya… (bingung mode: on) ckck😀

  2. iya to. ya wis, postingan berikutnya sy buat agak ringan. makasih untuk masukannya.

  3. haddiirrrrrr….

    Meniti ramadhan mengurai khilaf…
    Mengharap tiada tersisa khilaf dan dosa…
    Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Syiyamana Wa Shiyamakum…
    Selamat Hari Raya Idul Fitri Sahabatku sayang…
    Mohon Maaf lahir dan batin….

    cu….

  4. Salam sejarah

    SELAMAT IDUL FITRI 1430 H
    Mohon maaf lahir dan bathin

    Ijin link mas, supaya bisa sering-sering datang… Terimakasih sebelumnya.

  5. salam kenal mas wardoyo. selamat idul fitri juga. link-nya sudah saya pasang. terima kasih sudah mampir.

  6. taqabbal ya karim. maafkan kesalahan dan kekhilafan saya bang faza. selamat berlebaran bersama keluarga.
    have a nice holiday….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: