Teroris Brongkos

FJB Surabaya

FJB Surabaya

Sabtu pagi. Usai pulang dari berenang, televisi masih juga menyajikan siaran langsung penggerebekan sarang teroris di Temanggung, Jawa Tengah. Rupanya, sang teroris menolak menyerah. Namun, ia tak juga melawan. Berondongan tembakan dan bom hanya dari satu pihak, polisi. Kisah nyata yang mirip dengan film-film laga Hollywood ini tak boleh saya lewatkan. Kabarnya, di dalam rumah itu bercokol pentolan teroris yang selama ini dicari. Remote control televisi lekat di genggaman karena ada dua stasiun televisi yang menayangkannya. Sekira pukul sepuluh, drama tujuh belas jam itu berakhir. Masih belum jelas identitas jasad teroris yang terbunuh di dalam rumah tersebut.

Selepas menonton aksi satuan polisi anti teror itu, saya dan istri bersiap pergi. Kami hendak menyaksikan Festival Jajanan Bango, hajatan tahunan produk kecap keluaran Unilever, sejak lima tahun lalu. Empat tahun terakhir, kami tak pernah absen. Bukan apa-apa. Ini kesempatan langka dimana saya bisa mencicipi aneka masakan dari beragam daerah dalam satu waktu. Sekali mengayuh sendok, dua-tiga makanan terlahap. Tahun lalu, saya beruntung sempat menikmati sedapnya tengkleng kambing Bu Edi dari Solo.

Kembali ke topik, lokasi perhelatan tahun ini sama seperti tahun kemarin. Di sebuah stadion sepakbola di kawasan barak militer. Setelah Duhur, kami bertolak. Tiba di stadion, panas menyergap. Mentari persis di atas ubun-ubun. Puluhan stan penjual makanan telah berjajar rapi di atas lapangan rumput. Sayang, lintasan atletik dari pasir yang mengitari lapangan tidak dibasahi. Debu enak saja beterbangan. Penyelenggara rupanya tak belajar juga dari pengalaman. Maksudnya, mau memperhatikan aspirasi pengidap alergi debu seperti saya. Sudahlah. Tak perlu mengeluh karena telah tiba saatnya berwisata kuliner.

fjb2.jpg

Semarak di tengah terik mentari

Dari brosur yang dibagikan, tercatat 66 penjual makanan dan minuman yang hadir. Mereka dipilih berdasarkan keunggulan resep warisan, bahan baku pilihan, cara memasak otentik, dan penyajian tradisional. Termasuk empat Duta Bango yakni Kupat Tahu Gempol Yang Jempol (Bandung), Rujak Cingur Sedati Ibu Nur Aini (Surabaya), Brongkos Ibu Suprih (Yogyakarta), dan Tahu Bakso Ibu Pudji, Ungaran (Semarang). Mereka bertebaran di kiri dan kanan lapangan. Aroma masakan dari penggorengan dan tempat pembakaran menusuk-nusuk hidung.

Jajaran makanan khas Jawa Timur menyapa lebih dulu. Lontong kupang, lontong balap, tahu campur, tahu tek, lantas aneka penyetan. Saya sempat tergoda, lalu hendak menuju salah satu stan itu. Tiba-tiba istri menarik keras lengan saya.

”Kalau masakan Jawa Timur, sudah sering. Cari yang belum pernah.”

Diserbu pembeli
Diserbu pembeli

Untung diingatkan. Setelah mengamati, pandangan kami terpaku pada satu stan. ”Sate Bebek Tiktok Sidoarjo.” Sudah ada empat pembeli yang antri. Istri saya segera mengisi posisi antrian berikutnya. Saya tinggalkan dulu dia karena brongkos Ibu Suprih terus membayang.

Stan Ibu Suprih
Ibu Suprih melayani pembeli

Saya segera memburu stannya. Ternyata ia berada di dekat panggung. Saya memesan sepiring brongkos lengkap. Brongkos adalah rawon Jogja. Itu kata Ibu Suprih, penjualnya asal Sleman. Tak salah memang. Bumbu utamanya serupa dengan rawon Jawa Timur, kluwek. Juga ada potongan dadu daging sapi. Bedanya, kuah brongkos dicampur juga dengan santan dan ditaburi puluhan cabe rawit merah utuh. Isi brongkos juga lain dengan rawon. Ada kacang merah (kacang tolo dalam bahasa Jawa), dan tahu. Selain itu, kuah brongkos hanya dituang secukupnya. Tidak banjir seperti rawon Jawa Timur.

Sepanci brongkos
Sepanci brongkos
Sepiring brongkos lengkap
Sepiring brongkos lengkap

Ini belum semua. Jika suka, nasi brongkos anda bisa ditambah lauk pendamping. Misalnya, telur ayam rebus bacem, daging ayam, dan sambel goreng krecek. Saya pilih telur dan krecek. Gurih, dan pedas sungguh dominan. Tidak berasa manis laiknya kuliner dari Jawa Tengah dan Jogja. Habis sudah brongkos di piring.

Sate tiktok dipanggang
Sate tiktok dipanggang

Tiba waktunya bergeser ke stan sate bebek tadi. Pesanan kami baru saja selesai. Potongan dagingnya kecil, seperti sate kelinci. Teksturnya agak liat namun tetap empuk. Rasanya serupa dengan daging ayam kampung. Bau amis bebek lenyap. Rupanya, sebelum dibakar, bebek dipotong dan direndam dalam rempah-rempah khusus. Ini juga agar bebek tidak berlemak. Selanjutnya, bebek diungkep dengan bumbu kuning. Baru kemudian dibakar dan disajikan dengan saus kacang.

Sate tiktok siap disantap
Sate tiktok siap disantap

Sate bebek ini sesungguhnya makanan asal Kecamatan Tambak, Banyumas. Pelintas rute Purwokerto-Yogyakarta dengan mudah menemukan warung-warung sate bebek yang terdapat di Jl. Raya Cilacap – Yogyakarta itu. Di Sidoarjo, warung ini adalah yang pertama. Mereka juga menyajikan tongseng dan gulai bebek. Tiktok sendiri merupakan unggas hasil persilangan antara bebek (itik) betina dan entok jantan. Tiktok dikenal karena dagingnya lebih banyak, kandungan lemak lebih rendah, dan tekstur daging empuk. Tak heran, rasanya lebih gurih dibanding daging bebek petelur.

Baru dua jenis masakan, perut terasa penuh. Akibat terlalu banyak minum. Alhasil, saya hanya bisa mencicipi dua sendok nasi uduk Monalisa, Jakarta pesanan istri di stan berikutnya. Namun, saya sempat melihat sejumlah stan dengan makanan unik.

Ceker olahan Mbak Nik Sidoarjo
Ceker olahan Mbak Nik Sidoarjo

Salah satunya adalah warung Mbak Nik, Sidoarjo. Spesialisasinya adalah aneka masakan ceker ayam. Satu kesamaannya, cekernya berasa lembut dan sedap. Mbak Nik hanya memakai ceker ayam potong sebagai bahan baku. Menu yang wajib dicoba adalah ceker lapindo. Ceker bumbu merah ini terkenal karena empuk dan sangat pedas.

Hari makin sore. Sudah tiba waktu Asar. Waktunya pulang. Saya heran, banyak sekali tas plastik isi jajan pasar dan makanan yang ditenteng istri. Untuk oleh-oleh, katanya. Inilah hari Sabtu yang mendebarkan nan menggairahkan. Teroris dijemput maut, saya menjemput brongkos.

3 responses to this post.

  1. Posted by Budhibudhi on Mei 11, 2011 at 10:32 pm

    Wew tulisannya yahud gan, yuk ikutan lomba karya tulis yang diadain Bango.
    Info http://on.fb.me/KontesBlogger

  2. bagi rekan-rekan yang ingin merasakan tahu baxo ibu pudji bisa order ke saya,
    pengiriman akan menggunakan TIKI, dengan paket ONS.
    bisa juga cek lapak ane di kaskus gan.
    kemarin ane habis kirim ke dpok, jakarta barat, surabaya.
    bis akontak saya. 081805965149 atau di bb, PIN 2A716559

  3. Posted by amalia setyanigrum on November 10, 2013 at 3:40 am

    coba BRONGKOS SAPI Dronjongan,diFISHMARKET dijln tegalturi,giwangan.umbulharjo,Yogyakarta…..rasakan sensasi pedasnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: