Indonesia Saja

NTT
NTT

Dua pekan lalu, saya baru saja menunaikan tugas dinas. Kali ini bukan di Jawa Timur. Lebih jauh lagi. Melewati dua provinsi sekaligus, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Kabupaten Ngada persisnya. Daerah di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menjadi lokasi tugas saya yang ketujuh dalam tiga bulan terakhir. Tentu saya tidak sendiri. Seorang rekan senior ditugaskan bersama saya.

Kami diperintahkan melakukan pemantauan di unit teknis kami di Ngada. Alamatnya di Jalan Kilometer 1 Aimere-Bajawa. Bajawa adalah ibukota Ngada. Melihat kata Bajawa, maka saya langsung menduga bahwa kantornya tidak jauh dari Bajawa. Prediksi saya seperti menemui kebenaran ketika saya cek posisi Bajawa di peta satelit. Lokasinya tak jauh dari Bandara Soa, Bajawa. Tapi, iseng-iseng saya cek juga posisi Aimere di peta satelit. Persis di pinggir Laut Sawu. Saya sempat khawatir. Jangan-jangan lokasi sebenarnya justru di Aimere ini. Ah, mungkin saya salah lihat. Saya coba menghibur diri.

Selasa pagi, kami bertolak dari Surabaya menuju Kupang dengan Airbus 320. Usai mengudara dua jam, kami tiba di ibukota Provinsi NTT itu. Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan satu jam naik Fokker 50 menuju Bandara Soa. Ada yang seru dalam perjalanan dengan pesawat kecil berpenggerak baling-baling itu. Nanti akan saya ceritakan dalam tulisan berikutnya.

Sampai di Bandara Soa, kekhawatiran saya akhirnya terbukti. Tempat unit teknis kami rupanya memang di Aimere. Bukan di Bajawa. Begitu keterangan sopir taksi plat hitam yang kami tanya. Dari Soa, waktu tempuhnya dua jam. Ongkosnya, seratus ribu per orang. Bukan jenis sedan yang dipakai sebagai taksi di sini. Mobil keluarga sekelas Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, dan Suzuki APV yang banyak dipilih. Namun, posisi kursinya dibiarkan seperti sediakala. Namanya memang taksi namun cara operasinya sama dengan angkutan umum. Tetap mengambil penumpang lain selama masih ada kursi kosong. Kami naik taksi jenis Avanza. Pendingin udara dimatikan Martin, sopir taksi kami. Kaca jendela diturunkan. Dia sengaja membiarkan hawa sejuk kota terdingin di Ngada ini menyapa kami.

Jl. Sukarno Hatta, jalan utama di Kota Bajawa.
Jl. Sukarno Hatta, jalan utama di Kota Bajawa.

Rute Soa-Bajawa ditempuh selama setengah jam. Jalan negara rute ini mulus dan sepi, namun sempit. Bila berpapasan dengan truk, taksi yang kami tumpangi harus minggir hingga keluar jalan aspal. Konturnya menanjak landai, sesekali menurun serta beberapa kali berkelok.

Berbanding terbalik dengan rute Bajawa-Aimere. Karena dipeluk banyak bukit, jalurnya meliuk-liuk dan naik-turun curam. Bolehlah jika saya menyebutnya jalur seribu tikungan. Hafal dengan kondisi jalan, Martin tak ragu melaju dengan kecepatan tinggi. Alhasil, perut saya seperti diamuk puting beliung karena belum terbiasa. Saya masih beruntung. Seorang penumpang anak di kursi baris belakang muntah. Martin yang antisipatif sudah memberi ibunya tiga kantong plastik sejak mengangkutnya tadi. Di beberapa bagian, jalan rusak berat dan tengah diperbaiki.

Rute Bajawa-Aimere yang menantang.
Rute Bajawa-Aimere yang menantang.

Jelang Magrib, kami tiba di Aimere. Tepatnya, Desa Aimere Timur. Dibonceng dua motor, kami kemudian diantar ke sebuah penginapan. Sederhana sekali penginapan Pak Ayin ini. Delapan jumlah kamarnya. Bentuk dan luas kamarnya identik dengan kamar kos. Kami menempati kamar nomor delapan. Ini kamar paling besar. Di dalamnya, ada satu ranjang besar untuk dua orang, satu ranjang kecil dan kamar mandi. Di kamar lain, hanya satu ranjang besar dan kamar mandi.

Penginapan Pak Ayin, Desa Aimere Timur
Penginapan Pak Ayin, Desa Aimere Timur
Kamar paling kanan adalah tempat menginap kami selama di Aimere
Kamar paling kanan adalah tempat menginap kami selama di Aimere

Selepas Isya, kami keluar dengan motor pinjaman. Sekadar lihat-lihat kondisi kecamatan di ujung Ngada ini. Tak perlu takut. Tadi staf lokal kami sudah mengabarkan perihal situasi di sini.
”Aimere ini terlalu aman. Mau keluar jam berapa saja, tetap aman.”
Keluar dari desa ke jalan raya, gelap gulita. Tak ada lampu penerang jalan. Namun, ada yang terang benderang di selatan. Toko kelontong besar dan bengkel motor di sampingnya masih menyala. Di seberangnya ada pasar yang ramainya tiap Jumat. Hanya segelintir pedagang yang masih buka. Cuma cahaya lilin yang menerangi lapak-lapak mereka. Rupanya malam itu kawasan ini sedang mendapat giliran pemadaman listrik.

Kawan, kapasitas pembangkit listrik diesel milik jawatan listrik negara di area ini masih terbatas. Itupun tak hanya melayani kawasan Aimere. Tetangga mereka, Kabupaten Manggarai juga harus dibagi. Maka listrik hanya menyala dua belas jam sehari di sini. Pukul enam pagi sampai pukul enam sore. Atau sebaliknya, tergantung jadwalnya. Genset pribadi yang membuat toko dan bengkel tadi masih terang. Termasuk penginapan dan kantor teknis kami.

Usai membeli dua botol air mineral, kami hendak melihat situasi di utara desa ini. Baru saja melaju, pandangan mata kami terpaku pada warung biru di kanan jalan. Warung itu umumnya hanya ada di Pulau Jawa. Di luar Jawa pun, warung itu hanya ada di pulau yang memang banyak dituju perantau asal Jawa. Untuk memastikan, kami putar balik. Tiba di depan warung, rasa penasaran kami terjawab sudah. Identitasnya tercetak jelas di papan triplek persegi. ”BAKSO SOLO AIMERE.”

Warung bakso dan nasi goreng milik Panut
Warung bakso dan nasi goreng milik Panut

Menakjubkan, nun di kota kecamatan terpencil di pelosok NTT, yang listriknya harus berbagi, kami menemukan orang Jawa. Tapi, saya masih belum percaya jika penjualnya dari Jawa. Untuk mengujinya, saya memesan dengan bahasa Jawa.

Tumbas bakso mas, kalih (Beli bakso bang, dua).”
Remaja penjual bakso itu terperangah. Seperti melihat alien, dia memandangi saya dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebelum akhirnya menjawab.

”Inggih mas. Ngangge tigan nopo mboten?” (Baik bang. Pakai telur atau tidak?).
Saya tak kalah kagetnya menyimak jawabannya. Kami tersenyum bersama.
”Saking pundi mas? (Asalnya dari mana bang?),” tanya saya.
”Solo.”

Remaja kurus dan berambut ikal itu adalah adik pemilik warung bakso ini. Dia membantu Panut, kakaknya. Senyumnya tak kunjung padam. Sejurus kemudian, Panut dan istrinya keluar dari dapur lalu bergabung dengan kami. Perawakan Panut tinggi, agak gemuk dengan potongan rambut cepak. Ia mengenakan kaos hitam lusuh dan celana hitam selutut. Istrinya hitam manis. Rambutnya lurus sebahu. Asal Jawa juga.

Panut berkisah berapi-api. Dialek Solo ayah satu anak itu masih kental. Dia telah berjualan sup bola daging itu sejak lima tahun silam. Hasilnya tak mengecewakan. Panut mampu menyewa bangunan untuk warung baksonya. Termasuk membeli sebuah genset diesel. Di halaman warung yang merangkap sebagai rumah itu, sebuah sepeda motor bebek Honda keluaran 2006 milik Panut terparkir. Tiga bulan lalu, dia baru mudik sebulan bersama keluarga.

Sepekan sekali, dia menggiling daging sapi menjadi bola-bola bakso. Bahan baku utama bakso ini menurut dia mudah diperoleh. Lain halnya dengan sayur-mayur pelengkap bakso semacam seledri dan daun bawang atau daun sawi dan ketimun untuk nasi goreng. Susah didapat. Jika ada, waktunya tak tentu. Membelinya pun harus di Bajawa. Harganya melangit. Makanya, dia tak bisa sembarangan mengobral sayur-mayur di warungnya. Agar pasak tak lebih besar dari tiang. Tiba-tiba dada saya sesak. Haru dan kagum campur jadi satu. Menyaksikan kegigihan Panut bersaudara mencari sesuap nasi di pelosok negeri ini. Sesekali saya mencoba menguatkan dengan menceritakan kejadian-kejadian lucu.

Warung sempat gelap kala listrik mendadak mati. Lilin dinyalakan dulu sambil menunggu genset dihidupkan.
Warung sempat gelap kala listrik mendadak mati. Lilin dinyalakan dulu sambil menunggu genset dihidupkan.

Warung Panut ramai sekali malam itu. Pria, wanita, tua, muda, anak-anak, hilir mudik di warung mungilnya. Bakso racikan Panut nyaris serupa dengan bakso di Jawa. Mi putih, mi kuning, bola daging seukuran bola bekel, daun seledri, bawang goreng dipadu kuah kaldu sapi. Yang membedakan adalah kepiawaian Panut mengambil hati pelanggannya. Panut paham betul falsafah pelanggan adalah raja.

Bakso Solo ala Aimere buatan Panut
Bakso Solo ala Aimere buatan Panut

Permintaan pelanggan untuk menambahkan telur ayam rebus dalam bakso buatannya dipenuhi. Termasuk tidak dimasukkannya gorengan, siomay, dan tahu rebus dalam baksonya. Saking asyiknya mengobrol, saya alpa mengabadikan Panut sekeluarga. Jam sembilan malam, kami berpamitan. Tangan Panut hangat dan kuat sekali menjabat tangan saya seperti takkan bertemu lagi.

Rabu pagi, kami bersiap untuk sarapan. Ada sebuah warung masakan Padang yang sempat sekilas kami lihat kala baru tiba. Kami bersepakat untuk menyambangi warung sederhana itu. Bukan apa-apa. Kami penasaran. Perasaan yang sama ketika kami menemukan warung bakso Panut. Sang ibu, pemilik warung Padang itu, rupanya sudah lebih lama bercokol di sini. Sekitar sebelas tahun. Sebut saja namanya Deswita
”Namanya cari makan mas,” kata Deswita.

Rumah makan Samudra milik Deswita. Posisinya strategis, di pinggir jalan penghubung antar kabupaten.
Rumah makan Samudra milik Deswita. Posisinya strategis, di pinggir jalan penghubung antar kabupaten.
Deswita tengah melayani pelanggan.
Deswita tengah melayani pelanggan.

Saya tak sempat berbincang lama dengan Deswita. Panggilan tugas sudah menanti. Selain itu, Deswita harus melayani pelanggan yang mulai berdatangan. Deswita dan Panut adalah orang-orang gigih yang saya temui di pelosok NTT. Mereka adalah orang-orang bermental baja dengan hidup penuh perjuangan untuk mandiri di luar kampung halaman. Beberapa suku di Indonesia lama dikenal dengan jiwa perantau yang mendarah daging. Di antaranya Jawa, Madura, Bugis, dan Padang. Namun, tentu saja merantau bukan hanya hak suku tertentu. Lagipula Indonesia diciptakan Tuhan untuk semua yang hidup dan tinggal di nusantara. Jadi, mereka yang telah tercatat sebagai warga negara Indonesia sah-sah saja mencari nafkah di seantero negeri ini. Perjumpaan dengan Deswita dan Panut membuat saya teringat pada lagu Indonesia Saja karya grup musik Dewa.

Aku bukan orang Jawa,
Aku juga bukan Sunda,
Aku bukan orang Aceh,
Aku juga bukan Ambon,
Aku bukan Cina,
Aku juga bukan Arab,
Aku hanya merasa, aku orang Indonesia saja.
Aku hanya merasa, aku orang Indonesia saja.
Aku hanya merasa, aku orang Indonesia saja.

13 responses to this post.

  1. Posted by im on Juli 31, 2009 at 4:55 am

    ruarr biasa…. semangat!!!

  2. terima kasih mbak im. tetap semangat juga di negeri sakura mbak.

  3. Posted by cholid on Agustus 26, 2009 at 1:12 pm

    Salam kenal

    masya Allah mas. saya juga pernah ke Aimere 2 kali. yang pertama dari ende naik bus, istri saya muntah-muntah. Kunjungan ke 2 saya datang sendiri, dari surabaya sama dengan sampeyan cuma saya turun di Ene. kali ke dua ini saya naik sepeda motor dari Ende ke Aimere bolak balik. ternyata jauh sekali. waktu tempuh saya sekali jalan kurang lebih 6 sampe 7 jam. wow perjalanan yang sangat mendebarkan ya mas kalo kesana itu. kiri jurang kanan tebing.
    o ya pak, apa sampe sekarang masih di daerah itu ?
    btw ikan lautnya uenak tenan lo pak.

    maksih, wassalam

  4. salam kenal juga mas cholid.
    saya cuma ditugaskan dua hari di aimere, ngada itu mas. tapi, riilnya cuma sehari semalam aja karena trans nusa dari ngada untuk balik ke kupang trus lanjut ke sby di-cancel krn rusak dan saya diminta geser ke ende untuk terbang ke kupang dari sana. oya, sy sempat dibonceng motor juga pas dari aimere ke bajawa sama staf disana. ini gara-gara travel dr aimere ke bajawa abis. wuihh, seru tenan. sejam meliuk-liuk naik motor. sampeyan bener, kiri jurang, kanan tebing.
    repotnya, kabar pembatalan itu baru disampaikan pas saya udah sampe bajawa sore hari. baru abis isyak, saya dapet mobil travel ke ende. kontur jalannya memang nggak naik-turun tapi tetep meliuk-liuk. bener, jauh banget. tiga jam. sampe di ende, karena kecapekan, sy langsung tidur. saya gak bisa bayangin capeknya punggung mas cholid naik motor empat belas jam pergi-pulang ende-aimere. masakan ikan lautnya emang enak mas. sayang, saya belum sempat nyoba makanan khas aimere, ikan kuah asam. jadi penasaran sampe sekarang. terima kasih sudah mampir mas cholid.

  5. Posted by cholid on Agustus 27, 2009 at 5:30 pm

    ok mas, next time bagi crita lagi ya,, coz aq jg suka dgn petualangan.

    tak simpen blog sampean mas

  6. insya allah mas cholid. maturnuwun.

  7. Bagus mas tulisannya..aq cukup terharu atas cerita Mas Subchan diatas..yach, tentang perjumpaan Mas Subchan dengan sesamanya yang berasal dr tanah Jawa. Walau jauh kita merantau, tinggal n mnetap disuatu daerah yang terasing skalipun, kita tetap anak2 Nusantara..biar beda suku, bahasa..torang samua basaudara. Aku salut ma Mas Subchan yang sudah mendeskripsikan tulisan diatas, tentang sekelumit kehidupan dr daerahku dikota debu Aimere. Tapi jangan kapok yach Mas untuk datang lagi keAimere..Ok Salam bwt Mas subchan (Herry)

  8. salam kenal bang herry. anda betul bang. sesama warga republik ini adalah sodara betapapun beragamnya bahasa, suku, dan budayanya masing-masing. wah, saya nggak pernah kapok ke aimere bang. soalnya, perjalanannya seru. kalo ditugaskan lagi ke sana, pasti langsung meluncur. sapa tau ntar ketemu bang herry di sana hehehe….

  9. Posted by Filbert Banabera on November 13, 2009 at 7:15 pm

    ternyata dengan waktu yg sempit, sekelumit pengalaman…. tetap memberikan warna yg istimewa.
    sukses mas (Filbert)

  10. terima kasih mas filbert. sukses selalu untuk anda.

  11. Posted by intan liwe on April 25, 2012 at 3:32 am

    wah.. .senang bs bc tlisan ttg aimere. Kpn lg mampir aimre pak? Nanti sy buatkan ikan kuah asam spesial bt pak. Rmh sy dpan grja dkat dg pengnapan pak ayin it

  12. wah, tau gitu saya mampir ke rumah intan waktu ke aimere dyulu. nanti kalo ke aimere lagi, saya pasti mampir ke rumah intan.

  13. Posted by D.Wahyudi Putra Ngada on Juli 22, 2012 at 4:16 am

    Wah… hebatnya Aimereku. Kutinggalkan Aimere Desember 1988 yang lalu. Dari lereng Inerie sekarang aku tinggal di lereng Merapi, tepatnya Boyolali. Makasih infonya tentang Aimere. Salam kenal buat mas Subchan. Nanti kalau tugas Aimere lagi salam buat Pak Ayin dan adiknya Pak Atek. Aku dulu tinggal dengan Om Markus Tena Ruto di samping Puskesmas. Salam juga buat cucu Om Titus banabera (Filbert)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: