Balita Juga Tahu…

Sang surya baru saja kembali ke peraduannya. Azan magrib berkumandang. Di ruang keluarga, saya duduk bersila di atas kasur lipat. Lembar demi lembar koran pagi baru mulai saya baca. Di depan saya, Nadia tengkurap. Dia tak sendiri. Bola-bola plastik warna-warni sebesar bola pingpong menemaninya. Bola-bola malang itu tak bulat lagi bentuknya. Jari-jemari bayi belum genap tiga tahun itu telah membuatnya penyok di sana-sini.

nadia baru
Nadia

Bosan dengan bola plastik, perhatian Nadia beralih. Mata bulat polosnya menatap tajam ke arah saya. Penuh konsentrasi. Pipinya yang tembem mengencang. Lesung pipitnya tenggelam. Semula, saya kira dia sedang tertarik dengan gambar iklan di koran. Biasanya memang begitu. Jika sudah demikian, dia akan langsung menerjang dan merampas koran itu tanpa kompromi. Tak peduli siapapun yang sedang memegang koran. Saya salah sangka. Sama sekali tak diusiknya koran itu. Anehnya, sorotannya tak bergeser sedikitpun dari koran yang masih saya baca. Tapi, saya tak ambil pusing. Saya teruskan saja membaca. Namun, sekonyong-konyong, Nadia berteriak keras.

“Ayah pakai baju apa itu Yah.”

Saya terkejut. Sedari tadi, rupanya Nadia memperhatikan kaos saya. Kaos itu sebetulnya cuma oblong katun biasa. Berlengan panjang hitam dan warna dasar putih. Oblong yang jamak dipakai untuk boarding dan surfing. Bahannya lembut, tidak terlalu tebal, dan nyaman dipakai.

Di bagian dada, terpasang gambar sketsa tiga wajah dalam bingkai perisai berwarna. Berurutan dari kiri ke kanan. Bingkai kiri warna merah tomat, bingkai tengah biru laut, kuning lemon melabur bingkai kanan. Anda pasti kenal dengan tiga wajah ini. Di bawahnya terpancang sebuah kalimat provokatif, ”jangan coblos semuanya…”

Kembali ke pertanyaan Nadia tadi. Saya tak langsung menjawabnya. Sengaja memang. Nadia malah saya pancing dengan pertanyaan berikutnya.

”Baju apa ini Dik?”.

Saya yakin jawaban Nadia pasti tak terkait dengan hajatan politik lima tahunan itu. Tak masuk dalam pikirannya, perkara pelik semacam itu. Maka saya sudah siap-siap untuk tertawa. Nadia lantas berbisik tegas.

”Presiden.”

Kaget, heran, dan bangga campur jadi satu. Betapa tidak, delapan huruf itu terucap dengan intonasi jelas. Bagaimana Nadia tahu soal agenda pemilihan pemimpin nomor satu di republik ini. Padahal, tak ada yang memberitahunya. Tapi, kata almarhum Asmuni, ini bukan hil yang mustahal.

Para ahli anak telah lama menyebutkan jika tiga tahun pertama kehidupan anak adalah masa emas. Masa dimana daya serap informasi anak laiknya spon bertatap muka dengan air. Interaksi harian dengan lingkungan sekitar ditambah paparan televisi sekira enam jam sehari telah lebih dari cukup bagi Nadia. Cukup baginya untuk mengingat apa yang tengah terjadi belakangan ini.

Saya kemudian tak meremehkannya lagi. Soal berikutnya saya sampaikan.

“Siapa presidennya ?”.

Menyimak masifnya iklan para calon penghuni Istana Negara itu, utamanya di layar kaca, saya membayangkan Nadia akan mengingat salah satunya. Lalu, menyebutkan namanya dengan jelas dan tegas seperti sebelumnya. Mega, SBY, atau JK.

Masih dengan wajah polosnya, Nadia tak butuh waktu lama berpikir. Spontan saja dia menjawab.

“Gogon,” ucapnya sambil tertawa lebar. Lesung pipitnya muncul. Ringan saja nama pelawak Srimulat itu meluncur dari bibir mungilnya. Tanpa beban. Jawabannya jelas mengacau. Nadia telah kembali ke aslinya. Tanpa ampun, saya rengkuh badannya untuk selanjutnya saya gelitiki habis-habisan. Nadia tertawa-tawa sekaligus berteriak mohon ampun. Akhir drama satu babak.

oblong

Oblong itu sejatinya hasil kreasi kawan lama saya. Sebut saja namanya Nugie. Hampir sewindu dia mengabdi di harian terbesar nan berpengaruh yang berbasis di Jakarta itu. Namun, baru kemarin sore alumni sekolah filsafat ini membuka bisnis sampingan. Jualan oblong edisi pemilu. Oblong yang memprovokasi Nadia adalah salah satu karyanya. Nugie yang sekarang meliput di lingkungan istana presiden dan wapres ini punya penjelasannya. Oblong itu tercipta berkat inspirasi dari lagu anak-anak, memori masa kecil di era Orde Baru digabung dengan fakta tiga tokoh yang maju menjadi calon presiden di tahun 2009 ini.

Nugie menilai, telah terjadi pergeseran dalam pemilu presiden kali ini. Tiga warna yang mewarnai pentas politik saat ini hanya merah, biru, dan kuning. Tidak lagi ada hijau seperti di masa Orde Baru. Inspirasi masa lalu itu kemudian bertalian dengan ingatan akan banyaknya golput karena berbagai alasan dalam pemilu legislatif lalu.

Maka oblong ini didesain dan dicetak Nugie sekaligus ditujukan membantu kerja KPU untuk sosialisasi.

”Sekilas memang mengajak golput. Akan tetapi, jika tenang berpikir dan mencerna, ajakan mulialah yang terkandung di tulisan di dada.”

Begitu Nugie memaparkan di situsnya.

”1,2,3 jangan coblos semuanya…”

Nugie meneruskan, jika dicoblos semuanya, suara jadi tidak sah dan dikategorikan sebagai golput juga. Lagipula, pemilu kali ini memang tidak disarankan untuk mencoblos bukan ?

Karena itu, contreng saja. Balita saja tahu. Bagaimana dengan anda ? Sudahkah anda mencontreng ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: