Rawon, Pisang dan Pasir

Kamis. Dua pekan lalu. Surat singkat itu kembali mendatangiku. Keempat kalinya dalam sebulan terakhir. Isinya mengabarkan bahwa aku dan seorang rekan -sebut saja dia Pak Guntur- dititahkan melaksanakan tugas dinas di Lumajang dan Jember. Empat lokasi harus kami kunjungi. Tiga di Lumajang, sisanya di Jember. Dalam waktu dua hari, Senin dan Selasa, tugas harus tuntas.

Kala diskusi dengan Pak Guntur, kami bersepakat berangkat Minggu malam. Lantas menginap di Lumajang. Baru esok harinya, kami melaksanakan tugas hingga siang sebelum bertolak ke Jember. Tiba di Surabaya diperkirakan Senin malam. Aku pun menyiapkan segala keperluan untuk perjalanan dua hari. Di hari keberangkatan, semua rencana tadi berubah total.

Pagi harinya, Pak Guntur mengirim pesan singkat. Isinya, waktu keberangkatan dimajukan Minggu siang selepas duhur. Bukan hanya itu, agenda kunjungan ke dua kota itu diharapkannya bisa dilakukan hari itu juga meskipun hingga larut malam.

Mendapat kabar ini, yang kubayangkan kami tidak akan bermalam di Lumajang melainkan di Jember. Lalu, esok harinya baru bertolak kembali ke Surabaya. Namun, dugaan ini salah besar

Pesan singkat berikutnya kembali dikirim Pak Guntur. Pesan terbarunya ini mencengangkan. Setelah kegiatan selesai di Jember, dia berencana langsung kembali ke Surabaya saat itu juga. Dini hari sekalipun. Rupanya, hari Minggu ini akan menjadi sangat panjang dan melelahkan. Tidak apa-apa. Aku yakin ada yang menarik dalam perjalanan sehari-semalam ini. Setidaknya aku akan begadang semalaman.

Sesuai janji, kami bertemu di kawasan Ngagel selepas duhur. Mengingat waktu dan jarak tempuh yang panjang dalam tugas ini, aku menduga Pak Guntur akan membawa sopir. Setelah 15 menit berlalu, Toyota Kijang Innova hitam mendekat perlahan seperti singa mengendap-endap mengincar mangsa. Kaca jendela kiri depan turun perlahan. Aku mendekat.

“Maaf ya dik, agak telat,” sapa Pak Guntur dari dalam mobil premium itu.

“Tidak apa-apa Pak.”

Tangan kirinya masih menggenggam telepon seluler, sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana. Satu tangan lainnya memegang kemudi. Laki-laki itu berkacamata minus model segi empat dengan gagang warna perak. Gaya rambutnya belah samping, rautnya santun dan agak pendiam. Pria yang telah makan asam garam kehidupan setengah abad lebih ini mengenakan jas ungu tua, kemeja hijau melon berlengan panjang, dipadu celana hitam.

Ternyata Pak Guntur sendirian. Di kursi baris kedua hanya tas isi komputer jinjing beserta tumpukan berkas di kursi dan lantai mobil. Gawat. Dia tidak membawa sopir. Artinya, dia akan berada di balik kemudi, minimal dua belas jam. Menuju empat titik dengan jarak yang berjauhan. Bayangkan Kawan, dua belas jam memegang kemudi, menekan pedal gas, kopling, dan mengendalikan tongkat transmisi. Bukan main pegalnya tangan, kaki, sampai punggung. Itu tidak mungkin. Dia pasti kelelahan.

Ini membuatku mau tidak mau, suka tidak suka harus bersiap menggantikannya mengemudi sewaktu-waktu. Padahal, aku belum terbiasa mengemudi mobil dengan mesin bertenaga besar seperti ini. Pernah sekali, tapi itu di dalam kota saja.

Kutepis pikiran itu jauh-jauh. Nanti, aku akan berupaya membujuknya agar menginap dulu di Jember untuk istirahat sejenak.

rawon nguling3

Mobil segera dipacu menuju Lumajang. Setelah dua jam melaju, kami beristirahat dan mengisi perut di Probolinggo. Sengaja kami rehat di rumah makan rawon Nguling karena sudah terkenal kelezatannya. Letaknya persis di pinggir jalan perbatasan Pasuruan-Probolinggo. Areal parkirnya terisi separo. Lihatlah santap siang kami. Dua piring rawon, segelas es susu soda, dan segelas es sinom.

rawon nguling
Penulis lupa memotret rawon ini ketika utuh. Jadi, dua sendok sudah masuk mulut, baru ingat untuk memotret. Berantakan deh rawonnya.

Dari tampilannya, rawon ini beda dengan rawon setan di Surabaya. Perbedaan menonjol langsung terlihat pada warna kuah. Jika kuah rawon setan hitam pekat karena memakai banyak kluwek, kuah rawon Nguling cenderung cokelat keemasan. Enam potongan dadu daging sapi menyertai. Lalu, taburan tauge di permukaan dan sambal di pojok piring. Untuk side dish, sama saja dengan rawon lainnya. Ada empal goreng, paru goreng, tempe goreng, dan perkedel kentang. Pak Guntur memilih tempe goreng, aku melibas paru goreng yang empuk nan gurih.


Side dish rawon Nguling
Side dish rawon Nguling

Usai makan siang, kami melanjutkan perjalanan.
Sore, kami masuk Lumajang. Menuju lokasi pertama, kami melintasi sejumlah jembatan. Terutama di wilayah Kecamatan Tempeh. Anehnya, di bawah jembatan itu yang terlihat hanya pasir. Dimana-mana pasir. Rupanya ini adalah saluran-saluran lahar atau besuk Gunung Semeru. Pada musim kemarau seperti sekarang, saat sungai-sungai saluran lahar mengering, intensitas penambangan meningkat. Pantas, sedari tadi hilir mudik ratusan truk pengangkut pasir tak ada habisnya. Pasir Semeru memang dikenal bernilai tinggi di pasar bahan bangunan di sekitar Lumajang, Surabaya, dan kota-kota di Madura.

pasir1
Lautan pasir di besuk Gunung Semeru di wilayah Tempeh, Lumajang. Ada aliran air kecil di sela-sela pasir.

Mutunya jelas terjamin karena pasir Semeru masih berupa pasir batu yang tidak tercampur dengan tanah. Sebagai campuran beton, pasir Semeru yang halus menghasilkan beton dengan kerapatan tinggi. Di Madura, satu truk besar pasir Semeru dibandrol 1,3 juta- 1,5 juta rupiah. Di Surabaya, harganya bisa mencapai 800 ribu rupiah per truk ukuran lima sampai enam ton.

Selesai di sini, kami menuju dua lokasi lainnya. Kami menuntaskan tugas di Lumajang pukul delapan malam lebih. Segera saja mobil dipacu ke Jember. Sebelum bertolak, maskot khas Lumajang, dua tandan pisang agung yang melengkung bagai celurit telah tersimpan di bagasi. Kuning warnanya, raksasa ukuran buahnya, tiga kali pisang biasa. Tiada tara manisnya. Gantungan hidup sebagian besar masyarakat Lumajang ini banyak diolah menjadi keripik dan sale.

pisang
Dua pisang agung sudah lepas dari tandannya. Penulis lupa untuk langsung memotretnya ketika masih utuh.

Jalur Lumajang-Jember lebar, mulus dan sepi malam itu. Klik, klik, klik. Tombol lampu jauh itu berkali-kali ditekan Pak Guntur. Gara-garanya, puluhan kilometer jalanan gelap tanpa penerangan. Meski begitu, laju mobil stabil, seratus kilometer per jam. Tak terasa, kami telah masuk Jember sejam kemudian.

Selesai bertugas di Jember, jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Di dalam mobil, kucoba membujuk Pak Guntur untuk menginap dulu di hotel karena sudah larut malam. Lagipula, dia sudah menyetir sepuluh jam. Kaki, punggung, dan tangan sudah pasti pegal bukan buatan. Belum lagi rasa kantuk. Aku saja beberapa kali tertidur selama perjalanan. Bukan hanya itu, Kawan. Kami juga belum makan malam. Perutku mulai keroncongan.

Pak Guntur adalah Pak Guntur. Pendiriannya seteguh batu karang. Dia meyakinkanku jika dirinya masih bertenaga untuk mengemudi hingga Surabaya.

”Kalau capek, ya nanti cari tempat istirahat di jalan,” ucapnya ringan sambil membetulkan letak kacamatanya.

Aku tak kuasa menolaknya. Tugas baru menantiku. Membuat Pak Guntur tetap terjaga. Aku tak bisa tidur seenaknya lalu membiarkan Pak Guntur menyetir sendirian. Paling tidak, aku harus menemaninya ngobrol. Kawan, tak terbilang sudah kasus kecelakaan lalu lintas akibat pengemudi yang mengantuk. Korbannya, jika tidak tewas mengenaskan, maka luka berat mendera sekujur tubuhnya.

Sekalipun mobil ini lengkap dengan piranti keamanan standar. Di depan, ada sabuk pengaman tiga titik serta dua kantung udara. Di setir, kantung udara untuk pengendara dan di dashboard buat penumpang. Ketika terjadi benturan keras, kantung ini akan menggelembung seperti balon yang dipompa. Fungsinya, menahan ayunan tubuh yang tak terkendali lalu mengempis setelah keadaan aman.

Tengok pula sistem pengeremannya yang dilengkapi dengan antilock brake system. Alat ini memungkinkan mobil tetap dapat dikemudikan kendati pedal rem diinjak penuh. Mobil pun dapat menghindari rintangan atau bahaya yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Namun, rasa cemas dan gugup terus bergelayut. Dalam kondisi seperti itu, aku teringat buku kumpulan doa. Beberapa doa di dalam buku itu kuingat betul. Doa keluar rumah kubaca berkali-kali dalam hati. Saking kalutnya, tanpa sadar doa lain ikut kulantunkan meski tak ada hubungannya. Mulai doa jelang belajar, doa masuk kamar mandi, doa untuk orangtua sampai doa sebelum tidur.

Perkiraanku, perjalanan malam akan lebih cepat karena kepadatan arus lalu lintas menurun drastis. Lagi-lagi prediksiku meleset. Lalu-lintas malam tak ubahnya siang hari saja. Bus-bus malam antar kota dan antar propinsi, mobil-mobil travel, truk-truk ekspedisi beragam ukuran berlomba keluar dari sarangnya. Di jalanan, mereka beradu cepat, susul-menyusul bagai di lintasan balap.

Tak mengapa, Pak Guntur telah berpengalaman menghadapi situasi ini. Air mukanya tenang, matanya memandang ke depan, penuh konsentrasi, kemudi digenggam erat, sabuk pengaman dikencangkan. Sejurus kemudian, tangan dan kakinya bergerak lincah memainkan pedal gas, kopling, dan tongkat transmisi seperti dirijen mengarahkan orkestra. Berkali-kali mobil keluarga pemimpin pasar ini meliuk-liuk menyalip, kembali ke jalurnya, menyalip lagi.

Terasa benar semburan mesin berkekuatan seratus tiga puluh empat tenaga kuda ini. Sedikit saja sentuhan pada pedal gas, mobil ini melaju dengan cepat. Kecepatan seratus kilometer per jam dicapai dengan mudah. Tanpa sentakan berarti. Karena suara mesinnya tetap halus, aku tak sadar kalau mobil telah melaju dengan kecepatan tinggi.

Di satu kesempatan, Pak Guntur menyalip dua truk gandeng besar dan satu mobil sekaligus. Aku bagai bersama Michael Schumacher di sirkuit jalanan Monte Carlo.

Pada jalanan lengang, Pak Guntur tak pernah membuang kesempatan. Ditekannya gas dalam-dalam. Mobil melaju cepat, aku terdorong ke belakang. Kupegang erat-erat sabuk pengamanku. Sejenak kuintip pengukur kecepatan mobil. Jarum putih itu menunjuk angka seratus sepuluh kilometer per jam. Bukan main lajunya.

Satu jam berlalu, dua bola mataku mulai memberontak tuannya. Kupaksa membuka, malah terpejam. Aku tak kuat lagi menahannya. Tapi ini tak lama. Tak sampai lima menit, aku terjaga kembali. Pak Guntur tersenyum melihatku. Aku makin malu. Daya tahan tubuhku tak setangguh Pak Guntur yang terpaut dua dekade dariku.

”Nanti kita makan malam di Probolinggo saja. Di warung rawon tadi.”

Aku hanya mengangguk lemah. Satu jam kemudian, kami memasuki Probolinggo. Mendekati lokasi warung tujuan, Pak Guntur mengurangi laju mobilnya. Malam makin pekat, menemukan warung itu bagai mencari jarum di tumpukan jerami.

Rumah-rumah penduduk sudah terkunci rapat. Satu per satu warung telah kami lintasi, semuanya tutup. Di depan, bangunan dua lantai masih menyala terang.

”Pasti ini!” teriak Pak Guntur.

Setelah didekati, bangunan itu memang rumah makan. Tapi, bukan itu rumah makan tujuan kami.

“Sebentar lagi mungkin Pak.”

Aku mencoba menghiburnya. Benar saja. Tak seberapa jauh, rumah makan yang kami cari dari tadi berhasil kami temukan. Namun, wajahnya berubah laksana kuburan. Areal parkirnya sepi, lampu-lampunya padam, jendela dan pintu tertutup rapat. Papan plastik kuning persegi bertali terpasang di pegangan pintu masuk. Lima huruf merah di papan itu menjelaskan semuanya. TUTUP. Pak Guntur kecewa berat. Mukanya kuyu, rambutnya diremas-remas meski tidak gatal.

“Kalau begitu kita makan di Bangil saja. Ada sate kambing enak di sana.”

Kota bordir ini tak terlalu jauh. Waktu tempuhnya berkisar dua jam. Ya sudahlah. Cuma aku bingung dengan apa lagi membohongi perutku yang keroncongan. Aku melupakan satu hal dalam perjalanan ini. Roti kabin. Coba kalau tadi roti bujur sangkar nan gemuk andalan tentara itu kubawa, tentu pemberontakan dalam perutku bisa sedikit diredam. Yang ada tinggal minuman isotonik buatan Jepang. Isinya pun tinggal separo. Kutenggak saja minuman itu sampai tandas. Namun, ini tak banyak membantu. Tiba di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, badanku limbung ketika di toilet. Dengan sisa-sisa tenaga, aku bertahan dengan mencengkeram kuat-kuat dinding toilet agar tak jatuh. Di wastafel keramik, kubasuh muka dengan air sebanyak-banyaknya agar tetap sadar.

Akhirnya sampai juga kami di Bangil. Persis pukul setengah dua malam. Kota kecil di wilayah Kabupaten Pasuruan ini terbilang strategis. Posisinya di jalur alternatif menuju Banyuwangi dan Bali membuat kota ini tak pernah sepi. Warung sate yang kami tuju masih buka karena memang beroperasi dua puluh empat jam. Aroma daging kambing muda terpanggang arang segera membangkitkan selera.

Lima menit berlalu, sepuluh tusuk sate telah siap di atas meja. Potongan dagingnya besar-besar. Irisan bawang merah dan sambal tersaji di pojok piring. Empuk nian dagingnya. Dipadu nasi putih hangat, dalam tempo singkat, lidi-lidi sate itu telah bersih mengkilap. Bukan apa-apa, sate kambing memang harus segera disantap ketika masih panas. Bila dibiarkan dingin, dagingnya akan kering dan keras. Ah, itu hanya alasan pembenar saja. Sesungguhnya, kami memang sudah lapar berat.

Perut terisi, badan kembali segar, kami siap melaju lagi. Masih dengan gaya mengemudi selincah pembalap, kami akhirnya tiba di Surabaya. Pak Guntur yang baik mengantarku hingga depan gang rumahku. Setelah berpamitan, kulirik jam tangan. Jarum panjang menunjuk angka dua belas, jarum pendek persis di angka tiga. Hari telah berganti Senin. Telah kutempuh perjalanan darat lima belas jam tanpa henti. Remuk redam seluruh tubuhku. Saatnya tidur sepulas-pulasnya.

5 responses to this post.

  1. Posted by Hardono on Agustus 25, 2009 at 2:22 am

    Wah ayahnya Aan ni heboh kali. ya bisnis, kuliner dan komoditas. Ngemeng2. serius nih. berapa harga pasir hitam semeru – franco surabaya – nih ada order untuk perataan surface – sand blast pangkalan dan gimana volumenya. thanks. 08882737869.

  2. mas hardono bisa aja. soal harga pasir semeru, saya bener-bener tidak tahu mas. saya saja baca dari koran soal harga pasaran pasir semeru. coba mas hardono cari informasi itu di situs lumajang-online.com. mungkin ada infonya disitu.

  3. Posted by mexslysyn on Februari 20, 2010 at 1:41 am

    kayaknya menarik untuk di kunjungi nih, nanti aja kalo uangku udah banyak, oh ya bagi temen2 semua yang pingin dapat penghasilan tambahan di internet kunjungi
    http://wonosari.tk
    biarkan dollar mengalir kerekening anda

  4. coba berkunjung kesana sekali saja, anda nanti pasti ketagihan. terima kasih untuk informasi link-nya.

  5. Posted by deny hasan on Agustus 2, 2010 at 10:51 am

    kalau butuh harga pasirr call me 03347724828

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: