Kota Tua

Dari kiri Ferhat, Shinta, aku, dan Edwin di depan Museum Sejarah Jakarta
Dari kiri Ferhat, Shinta, aku, dan Edwin di depan Museum Sejarah Jakarta

Demi membunuh kepenatan, rekreasi ke tempat wisata menjadi pilihan utama penduduk negeri ini. Tak pelak, jika musim liburan tiba, tempat-tempat wisata selalu padat pengunjung. Alhasil, maksud hati untuk bersantai jadi tak kesampaian karena penuhnya lokasi wisata. Bukannya rekreasi, yang ada malah kesal karena pandangan terhalang hilir-mudik ratusan orang.

Sejak dulu, aku tidak pernah mau jika diajak berlibur ke tempat-tempat wisata biasa seperti itu. Hanya untuk alasan khusus, saya baru bersedia. Misalnya, karena yang mengajak orangtua atau keluarga. Aku lebih suka berkelana ke tempat-tempat wisata khusus.

Pada akhir bulan Mei lalu, aku dihadapkan pada situasi pelik untuk memilih lokasi rekreasi yang pas di Jakarta. Bukan karena tidak ada lokasi rekreasi menarik di ibukota itu. Sebaliknya, banyak sekali. Tinggal pilih saja. Pangkal soalnya adalah aku belum menemukan lokasi yang cocok dengan selera saya. Ini bukan perkara sepele. Aku berniat melepas penat dari rutinitas diklat selama sepekan dengan sesuatu yang spesial.

Selepas makan malam di hari Kamis, aku dan beberapa teman berkumpul di koridor lantai dua asrama diklat. Ada yang asyik bercanda, sedang lainnya sibuk berselancar di dunia maya dengan komputer jinjing masing-masing. Fasilitas internet nirkabel gratis di sini benar-benar memanjakan. Bahkan, ada juga yang memboyong meja keluar kamar agar makin cepat aksesnya karena dekat dengan titik-titik hotspot. Kepada beberapa teman, iseng-iseng kutanyakan rencana mereka di hari Minggu.

“Aku mau ke Glodok bareng teman-teman,” ujar Aditya yang baru tiga bulan melepas masa bujang itu. Glodok lama dikenal sebagai pusat perbelanjaan elektronik terlengkap. Barang elektronik model apa saja bisa dicari di sini. Dari setrika sampai televisi sebesar daun jendela. Weldan lain lagi.

“Kalau aku mau ke Mangga Dua. Di sana model bajunya lebih banyak, harganya juga lebih murah dibanding Surabaya,” ucap lajang asal Kota Apel ini.

Pria dengan gaya rambut mohawk ini rupanya sudah mempersiapkan betul rencana pelesirnya. Bukan hanya rencana, koceknya jelas siap sedia memborong. Aku tak berselera. Kalau cuma belanja, di Surabaya juga bisa. Puluhan mal di kota ini siap memuaskan hasrat belanja siapapun. Beda lagi dengan Badrus dan Edi. Agenda dua dosen muda di sebuah institut teknologi negeri ini sama. Mereka hendak bereuni dengan teman-teman semasa kuliah di sebuah mal di bilangan Semanggi.

“Acaranya malam Minggu. Mungkin saya balik ke sini Minggu siang,” ucap Badrus

Sasaran berikutnya adalah tiga sobatku sekantor, Shinta, Ongky dan Ferhat. Gawat. Ferhat dan Ongky menggeleng. Shinta setali tiga uang. Situasi ini membuatku makin tertekan. Aku tak mau membuang percuma waktu libur hanya nongkrong menonton TV seharian di asrama diklat atau berguling-guling di ranjang dengan Karl May. Aku harus berlibur, entah ke mana. Aku mengaduk-aduk rambut. Nyaris putus asa, kuputuskan turun ke lobi asrama di lantai satu.

Di tangga, aku berpapasan dengan Edwin, dosen muda yang baru empat hari ini saya kenal. Pertanyaan sama kuajukan kepada pria blasteran Solo-Tionghoa ini. Jawabannya sungguh mengejutkan sekaligus menarik.

”Bagaimana kalau wisata ke kota tua Jakarta,” ujarnya dengan mata berbinar-binar.

Eureka! Ini dia yang kucari sedari tadi.

Tanpa buang waktu, langsung saja Edwin kuinterogerasi laiknya polisi memeriksa penjahat. Ilmu semasa menjadi jurnalis kuterapkan. Lima W dan satu H. What, where, when, why, who dan how.

Edwin lantas mengajakku ke kamar Edi.

“Ed, pinjam laptopnya sebentar ya.”

“Pakai saja,” sahut Edi yang tengah tengkurap di atas kasur sembari memainkan Blackberry hitamnya.

Situs pencari terkenal Google disasar Edwin. Setelah memasukkan kata kunci, terjawablah sudah semua pertanyaanku tadi. What artinya wisata kota tua. Where maknanya di wilayah Jakarta Utara. Wilayah dengan banyak bangunan tua nan bersejarah. Untuk when sudah jelas. 27 April 2009, pukul tujuh, usai sarapan. Why, tentu saja karena wisata di kawasan itu jelas memberi nuansa berlibur yang berbeda. Kalau who, untuk sementara baru aku dan Edwin. Kami akan coba mengajak teman lain. How, dengan ojek sepeda bertarif 25 ribu perak untuk rute biasa atau 50 ribu perak untuk rute jauh.

Semuanya sudah kian jelas. Sekarang tinggal menghimpun peserta. Target pertamaku tentu saja Shinta, Ferhat, dan Ongky. Pada mereka, kujelaskan soal intisari wisata kota tua laiknya door to door salesman.

Shinta dan Ferhat mengangguk setuju walau agak berat. Maklum, keduanya memang tidak punya pilihan lain. Ongky hanya tersenyum namun tak jelas maknanya, setuju atau sebaliknya.

Kusampaikan pada Edwin, peserta perjalanan ini minimal lima orang. Aku sengaja tak bercerita pada teman yang lain karena belum tentu mereka tertarik.

”Kalaupun akhirnya hanya kita berdua, tetap harus berangkat.” Begitu ucapanku menyemangati Edwin.

Pada saat sesi rehat di kelas, Iddo, rekan asal Celebes tiba-tiba bertanya rencanaku mengisi hari libur.

”Mau kemana Minggu nanti.”

Kepada dokter muda yang wajahnya mirip Once, vokalis Dewa itu, kuceritakan apa adanya. Termasuk resiko terpanggang matahari. Wajahnya berseri-seri menunjukkan minat.

”Wah, asyik tuh. Saya ikut ya.”

”Boleh.”

Satu lagi peserta wisata bertambah. Edwin makin di atas angin mendengar kabar ini. Idenya disambut hangat. Malam Minggu, aku dan Edwin mengatur strategi perjalanan. Kami hitung waktu tempuh, dan alat transportasi yang hendak digunakan. Strateginya harus pas karena kami akan menempuh perjalanan antar provinsi. Dari Jawa Barat ke DKI Jakarta. Hasilnya, Minggu pagi jam tujuh tepat, kami harus berangkat. Agar tak terlalu siang ketika tiba di tujuan sehingga kami tidak terlalu kepanasan. Ini juga agar kami bisa kembali ke asrama sebelum matahari kembali ke peraduannya. Caranya, naik angkot dua kali menuju Stasiun Depok. Selanjutnya, naik kereta rel listrik (KRL) ekonomi berpendingin udara tujuan Stasiun Jakarta Kota.

Minggu pagi, Sawangan terang benderang. Peserta ekspedisi kota tua siap-siap lepas landas. Aku, Shinta, Ferhat, lalu Edwin. Kawan, akhirnya tinggal kami berempat. Ongky mundur. Demam masih betah hinggap di tubuh kurusnya itu. Iddo? Batang hidungnya tak kelihatan sejak sarapan. Rupanya, semalam ia meluncur ke rumah kosnya di Jakarta. Tanpa kabar kepada kami. Tak apalah, mungkin dia lupa. Kami tetap semangat meski jumlah peserta berkurang satu.

Lihatlah tampilan kami. Jilbab merah muda dipadu kaos lengan panjang merah marun dan celana training abu-abu membalut tubuh Shinta. Dia seperti hendak ikut senam pagi. Tengok pula Ferhat. Pria kalem yang baru saja menunaikan rukun Islam kelima ini mengenakan polo shirt abu-abu bergaris. Celananya, kargo hijau gelap dengan kantong-kantong serbaguna di samping lutut. Sandal gunung hitam melindungi kakinya. Edwin memilih poloshirt bergaris hitam-biru plus celana kain hitam. Ia juga memakai sandal gunung hitam. Lain lagi denganku. Oblong hitam hadiah bertaut dengan celana selutut biru gelap.

Warna hitam sebetulnya tak cocok dipakai di negara tropis karena menyerap panas. Tapi biarlah, biarlah norak begitu. Tak lupa kusandang ransel hitam serta sandal gunung merah-hitam. Isi ranselku, dua botol air minum, selembar sarung, jaket, kamera digital, sebungkus roti kabin dan obat-obatan pribadi. Untuk menangkal sengatan sang surya, topi hijau telah siap sedia.

Setengah delapan pagi, kami berangkat. Sesuai aturan, kami meninggalkan kartu tanda peserta dan surat ijin sebelum meninggalkan asrama di pos satpam. Sejam kemudian, setelah berganti angkot dua kali, kami tiba di Stasiun Depok.

Edwin langsung menuju loket pembelian tiket.

”KRL AC ke kota, empat,” kata Edwin.

”KRL AC masuknya telat, jam sembilan. Ada sedikit gangguan,” kata petugas penjual tiket dalam booth persegi berjeruji.

”Kalau KRL ekonomi? ” sambung Edwin.

”Sebentar lagi datang.”

Edwin membalikkan badan, meminta pertimbangan kami.

”Kalau nunggu yang AC, masih setengah jam lagi. Itu juga belum pasti karena rusak. Kalau yang ekonomi, langsung berangkat dan kita bisa cepat sampai di lokasi.”

Ferhat menyahut. ”Ya sudah. Naik ekonomi saja.”

Walau agak berat, aku mengangguk. Edwin segera menyerahkan selembar uang lima ribu dan seribu rupiah untuk ditukar dengan empat karcis. Kami segera menyeberangi rel.

Kegelisahan luar biasa melandaku. Bukan apa-apa, KRL ekonomi sudah lama dikenal rawan kejahatan. Copet, jambret, tukang gendam lazim beraksi di atas KRL yang penuh sesak. Lengah sedikit, dompet, telepon genggam, jam tangan, bisa berpindah tangan.

Pekan lalu, kala kami baru tiba dan naik KRL AC tujuan Depok, seorang bapak bercerita soal ganasnya penjahat jalanan di KRL ekonomi. Waktu itu, ceritanya, sebuah KRL berhenti di sebuah stasiun. Ratusan penumpang berebut masuk. Karena penuh sesak, seorang ibu mendapat tempat di pinggir pintu. Saat kereta mulai melaju perlahan, tiba-tiba seorang pencoleng menarik kalung si ibu. Dalam sekali tarikan, kalung emas si ibu melayang.

Cerita itu masih menghantuiku. Edwin rupanya memahami kegelisahanku. Sambil menunggu kedatangan kereta, Edwin mengatur strategi.

“Shinta di belakang, Ferhat di kiri, aku di kanan dan kamu di depan,” ucap Edwin sambil menunjuk hidungku.

Lagaknya seperti komandan pasukan perang yang akan bertempur. Perintahnya kepadaku belum selesai.

“Ranselmu pindahkan ke depan.”

“Siap bos.”

Tak lama, kereta komuter murah meriah itu tiba. Puluhan penumpang berhampuran menyerbu masuk. Kami memilih gerbong paling depan. Karena penuh, posisi kami tidak sesuai perintah Edwin. Shinta, Ferhat berdiri di belakang, menempel di dinding gerbong, tepat di belakang ruang manisis sementara Edwin dan aku di depan mereka. Pandangan mataku tertuju ke segala arah, tak pernah lepas mengawasi semua gerak-gerik penumpang di kereta.

Sekitar 15 menit kereta melaju, jumlah penumpang mulai sedikit. Sebagian telah turun di sejumlah stasiun. Ada satu tempat kosong di kursi sebelah kananku. Shinta langsung menempatinya. Sepanjang perjalanan, beragam pengamen bermunculan. Mulai pengamen solo sampai grup. Termasuk para pedagang asongan.

Kereta ini berhenti di tiap stasiun. Tak ada yang spesial dari itu kecuali ketika kereta berhenti di Stasiun Gondangdia, dekat Gambir. Seorang tua naik ke atas kereta sambil menenteng karung goni putih. Tak jelas isinya. Kemeja putih lengan panjangnya sudah lama bercerai dengan deterjen dan air. Kusam, lecek, dan berlubang dimana-mana. Warna cokelat di celananya juga sudah lama lenyap.

Dia langsung berjongkok persis di samping Edwin. Ketika kereta mulai melaju, dia pun mengoceh. Dia menawarkan isi dagangannya di dalam karung yang ternyata adalah buah asem. Dia juga bercerita susahnya mencari buah asem sekarang ini. Beda dengan jaman dulu. Paparannya selalu diakhiri dengan tawa. Aku dan Edwin saling berpandangan. Gerak tubuh dan mimik wajahnya membuatku dan Edwin ingin sekali tertawa. Demi menjaga perasaan sang bapak, aku menahan diri untuk tidak tertawa. Perutku jadi kaku. Awalnya, tak ada yang menggubris celotehannya. Namun, seorang ibu berkerudung yang terlihat iba mengajaknya bicara.

“Dapat dimana asemnya Pak?”, kata si ibu sambil membungkukkan badannya sambil meraih segenggam asem dari dalam karung.

Wajah sang bapak berubah cerah karena ada yang menanggapinya. Dia lantas bercerita susahnya mengambil buah asem terutama di pucuk-pucuk dahan. Saking sulitnya, dia mengaku pernah terjatuh dan tersangkut di batang pohon asem.

“Untung nggak jatuh. Kalau jatuh, bisa mati saya “ katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Edwin menoleh kepadaku. Dia meletakkan telunjuk tangan kanan di dahinya membentuk garis miring sembari melirik pedagang asem itu. Sinting. Itulah makna isyarat Edwin. Bapak itu lantas turun di dua stasiun berikutnya sambil terus berceloteh sendiri.

Tak terasa, sejam sudah berlalu. Kereta akhirnya tiba di Stasiun Jakarta Kota. Sesuai petunjuk, kami bergegas menuju ke depan kantor Bank Mandiri. Jaraknya sepelemparan batu saja dari stasiun ini. Di sanalah salah satu lokasi mangkal ojek sepeda yang biasa melayani turis lokal dan asing berwisata ke kota tua Jakarta. Melihat kedatangan kami, para pengojek sepeda seperti sudah tahu rencana kami. Mereka telah bersiap menyambut. Pada Pak Slamet, seorang pengojek sepeda, Edwin langsung bernegosiasi.

”Berapa pak, wisata kota tua untuk empat orang?”

” 30 ribu per orang.”

”Ah, biasanya kan 25 ribu pak. 25 ribu ya pak ?”

Sadar kalau kami sudah tahu tarifnya, Pak Slamet mengalah.

”Baiklah.”

Edwin dan Pak Slamet
Edwin dan Pak Slamet

Pak Slamet yang murah senyum ini kemudian memanggil tiga koleganya. Pak Lukman, Pak Heri dan Pak Joko. Kami bergegas menuju pengojek masing-masing. Shinta dengan Pak Lukman, Edwin dan Pak Slamet, Ferhat dibonceng Pak Joko, lalu aku berduet bareng Pak Heri.

Melihat bobot Edwin yang nyaris satu kuintal, Pak Slamet kuingatkan.

”Kalau nggak kuat, biar Edwin saja yang nggenjot Pak.”

”Oke pak, nanti kita gantian,” ujar Edwin sembari tertawa lebar.

Pedal dikayuh, petualangan dimulai. Setelah 15 menit melaju, kami tiba di perhentian pertama di Toko Merah. DSC01384 Begitulah julukan gedung berwarna merah di Jalan Kalibesar Barat 11 itu. Dari sejumlah literatur diketahui jika nama Toko Merah muncul pertama kali saat gedung ini digunakan sebagai toko oleh warga Tionghoa pada tahun 1851. Di gedung itu pula, ratusan tahun silam, pernah tinggal gubernur-gubernur jenderal VOC.

Yang jelas, gedung berusia tiga abad ini masih awet muda. Dari luar terlihat masih kokoh, cukup segar untuk usianya. Adalah Gustaaf Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC periode 1745-1750 yang membangun gedung itu pada sekitar tahun 1730. Informasi ini terpampang jelas pada prasasti persegi yang terpasang di bagian depan gedung. Tak hanya menjadi rumah tinggal, gedung berwarna merah kecokelatan ini juga pernah menjadi akademi maritim dan penginapan.

DSC01389Lokasi berikutnya, Jembatan Kota Intan. Saking senangnya, turun dari boncengan Edwin langsung berlari lantas melompati pagar jembatan dan berlagak hendak menceburkan diri.

Berlokasi dekat Hotel Batavia, jembatan kayu yang dibangun Belanda tahun 1628 itu menghubungkan sisi timur dan barat Kota Intan di Jalan Kali Besar Barat. Diberi nama demikian karena di kawasan tersebut terdapat kastil Batavia bernama “Diamond”.

Jembatan ini dilengkapi semacam pengungkit untuk menaikkan sisi bawah jembatan. Penjaga dengan sigap akan menarik tali pengungkit jika ada kapal yang akan melewati jembatan menuju kota. Tapi, sejak tidak ada lagi kapal yang lewat, pengungkit itu tidak lagi berfungsi karena sudah aus. Meski begitu, kami sempat nekat mencoba menggerak-gerakkan dan menarik-narik pengungkit itu. DSC01390

Panas mentari mulai menyengat tatkala kami meluncur ke obyek berikutnya, Museum Bahari. Kami menyusuri jalanan aspal yang berlubang-lubang mengepulkan debu. Bangunan kokoh dari tembok tebal itu ternyata tersembunyi di dalam gang. Namun, kami menginjakkan kaki dulu di Menara Syahbandar. Letaknya cuma selangkah saja dari Museum Bahari. Menara ini menempati salah satu bastion (sudut benteng). Menara ini dibangun pada tahun 1839 untuk mengawasi keluar-masuk kapal dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Ia juga berfungsi sebagai kantor pabean atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan.

Jangkar raksasa di menara syahbandar
Jangkar raksasa di menara syahbandar

Di Museum Bahari, dapat disaksikan berbagai benda peninggalan Belanda dalam bentuk replika. Sebut saja foto, lukisan serta berbagai model perahu tradisional, perahu asli, alat navigasi, kepelabuhan serta benda lainnya yang berhubungan dengan kebaharian Indonesia. Museum ini mencoba menggambarkan tradisi melaut nenek moyang bangsa Indonesia dan pentingnya laut bagi Indonesia.

Sepanjang jalan, di depan museum, terdapat kios-kios yang menjual aneka kerang dan kerajinan dari laut. Aku dan Edwin sempat iseng berpose menjadi ojek sepeda dengan membonceng ojek sesungguhnya.

Cukup sudah, sekarang waktunya pindah ke pelabuhan Sunda Kelapa. Tiba di pelabuhan tua itu, jajaran kapal pinisi memenuhi dermaga. Bentuknya khas, meruncing di salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal. Puluhan buruh sibuk naik-turun kapal membongkar muat barang. Suhu panas terus menjerang kami. Stamina mulai susut karena cairan tubuh yang hilang. Kami pantang mundur.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Pelabuhan Sunda Kelapa

Tinggal dua lokasi lagi, Museum Wayang dan Museum Sejarah Jakarta. Dua botol air mineral menjadi penawar dahaga kami.

Tiba di Museum Sejarah Jakarta, kami istirahat. Kami menyerbu penjual minuman dingin. Sembari memulihkan diri, aku meluruskan kaki dan menghela nafas. Kawasan Taman Fatahillah, di depan museum, ramai sekali siang itu. Dari anggota klub fotografi yang asyik merekam gambar dari berbagai sudut sampai sepasang calon pengantin yang sibuk menyiapkan potret undangan pernikahan mereka.

Museum yang dulunya merupakan Stadhuis (Balai Kota) Batavia itu banyak menyimpan pesona. Dari fisik bangunannya, kokoh bagaikan karang. Bayangkan saja, hujan dan panas selama tiga abad tak mampu menggoyahkan bangunan tersebut. Kayu-kayunya belum lapuk, apalagi dinding betonnya. Pintu depan masih menampakkan keangkuhannya. Terbuat dari kayu jati tebal sekitar 10 sentimeter, dan tinggi lebih dari tiga meter. Dicat berwarna hijau menyala, pintu itu tampak kuat dan berwibawa.

Di bagian dalam, anggun tetapi sederhana. Anak tangga menuju lantai dua berkesan mewah dengan polesan cat merah dan hiasan singa berukir di bagian bawahnya. Di lantai satu tersimpan aneka koleksi. Mulai batu-batuan zaman neolitikum dan peninggalan Kerajaan Purnawarman, hingga uang perak dan timbangan barang zaman Portugis. Ada pula lukisan karya maestro Indonesia, Raden Saleh.

Shinta di depan lukisan Raden Saleh
Shinta di depan lukisan Raden Saleh

Di lantai dua, ragam mebel zaman Belanda menyapa. Ada kursi jati berumur ratusan tahun, meja pertemuan, lemari arsip raksasa, tempat tidur raksasa, kursi santai dan cermin kuno. Gedung ini juga memiliki lima penjara bawah tanah buat para perampok, maling, dan militer yang disersi di masa itu. Aku dan Edwin mencoba juga masuk ke salah satu penjara itu.

Menuruni tiga anak tangga, tiba di depan pintu penjara. Menyeramkan sekali. Sambil berjalan membungkuk terlihat jelas ruang tahanan setengah lingkaran, gelap, pengap dan tanpa ventilasi udara. Seluruh dindingnya terbuat dari tembok beton dan hanya di bagian depan terdapat jendela kecil dengan jeruji besi yang sangat kekar. Tinggi penjara ini tidak cukup untuk berdiri. Hanya bisa jongkok atau duduk bersila. Panjangnya delapan meter dengan lebar tiga meter. Jumlah tahanannya tidak tanggung-tanggung, bisa sampai 80 orang.

Edwin baru saja dikeluarkan dari penjara bawah tanah
Edwin baru saja dikeluarkan dari penjara bawah tanah

Lewat penjara ini bisa terbayang kekejaman Belanda dulu. Yang lebih kejam lagi menurut catatan sejarah adalah yang terjadi di tahun 1740. Tepatnya seusai pemberontakan warga China di Batavia. Sekitar 500 orang China disekap dalam ruangan sempit itu. Kabarnya, setiap hari para tahanan yang kurus kering itu cuma diberi nasi encer dan air tawar. Selanjutnya satu per satu orang China itu dikeluarkan dan dihukum mati dengan digantung di alun-alun depan gedung tersebut.

Bergeser ke halaman belakang museum, kami berjumpa dengan sesosok patung perunggu pria dewasa berpostur atletis dalam pose berlari. Wajahnya menengadah, telunjuk tangan kanannya menuding langit. Tangan kirinya membawa tongkat bersayap berlilitkan dua ekor ular . Sayap lainnya menempel di mata kaki sebelah kiri.

Kawan, rupanya inilah patung Dewa Hermes. Dalam mitologi Yunani, Hermes adalah anak Dewa Zeus. Dia bukan dewa sembarangan. Wilayah kekuasaannya luas. Ia adalah dewa kerumunan orang, perdagangan, penemuan baru, atlet sekaligus pelindung para pejalan kaki. Maka, mereka yang memakan trotoar untuk maksud komersial, atau pengebut yang menghambat penyeberang jalan, bersiap-siaplah berhadapan dengan Hermes.

DSC01434
Edwin dan Shinta bersama Hermes

Semula, patung ini terpasang di sisi selatan jembatan Harmoni sejak awal abad 20. Sayangnya, tangan-tangan jahil merusak bagian kaki dan alas patung itu di tahun 1999. Agar tidak dijahili lagi, Pemprov DKI membuat duplikatnya untuk dipasang kembali di Jembatan Harmoni. Patung aslinya setelah diperbaiki dipajang di museum ini.

Di bawah patung itu, ulah Edwin tak terkendali. Dua kali dia minta dipotret dengan pose tak senonoh. Edwin lupa kalau posenya itu bisa dijerat Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi.

Puas mengubek-ubek museum, kami bersiap kembali ke Depok. Kami pun berpamitan kepada empat pengojek sepeda yang telah melayani kami sepenuh hati. Salah satunya tergolong spesial. Dia adalah Pak Slamet. Rekannya, Pak Heri, sempat bercerita padaku bahwa Pak Slamet pernah diundang mengisi reality show ”Seandainya Aku Menjadi” di sebuah televisi swasta.

Kawan, perjalanan ini akan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan. Ia telah mencandui diriku untuk mengulanginya kembali di lain tempat dan waktu. Seperti Andrea Hirata, aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.

Shinta, Pak Lukman, Pak Heri, aku, Pak Slamet, Edwin, Ferhat. Pak Joko tidak tampak karena dia enggan difoto.
Shinta, Pak Lukman, Pak Heri, aku, Pak Slamet, Edwin, Ferhat. Pak Joko tidak tampak karena dia enggan difoto.

2 responses to this post.

  1. Posted by Shinta on Juni 23, 2009 at 6:13 am

    Andai waktu lbr prajab lbh pjg…bs ambil rute jauh tuh…ckckck…. Puas…. he =)
    btw…di sby jg ad wisata kota tua tp pake bis ya…

  2. Ayo, kapan wisata kota tua di Surabaya ? atur aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: