Surat untuk Wakil Rakyat

Kepada yang terhormat

Bung Charles Honoris

di Surabaya

Dengan hormat,

Bung Charles, perkenankanlah saya menyampaikan surat dengan judul ”Kredit Mikro Perempuan, Kunci Pengentasan Kemiskinan”. Ini adalah pemikiran sederhana saya seputar upaya mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Seperti diketahui bersama, tak terbilang sudah aneka program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Umumnya, berbentuk bagi-bagi uang. Misalnya, Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan Program Keluarga Harapan (PKH). BLT memberikan uang tunai Rp 300 ribu untuk tiap warga miskin untuk tiga bulan. Adapun PKH memberikan bantuan antara Rp 600 ribu sampai Rp 1,2 juta per warga miskin. Walau efektivitasnya terus diragukan, pemerintah tetap dengan pilihannya memberi ikan ketimbang kail.

Buku Surat untuk Wakil Rakyat
Buku Surat untuk Wakil Rakyat

Bung Charles yang saya banggakan, ini semua terjadi karena pemerintah selalu bersikap laksana burung yang mengamati persoalan kemiskinan dari atas. Ketika ini yang dilakukan, maka pemerintah cenderung menjadi arogan. Pemerintah tidak sadar bahwa segala sesuatunya menjadi buram jika dipandang dari jarak yang sangat jauh. Gambaran yang diperoleh pun sangat umum dan tidak rinci. Pendekatan semacam ini sudah terbukti gagal menekan angka kemiskinan.

Bung Charles yang baik, menurut saya, pemerintah harus mulai mengubah cara pandangnya dalam melihat persoalan kemiskinan. Strategi yang saya usulkan adalah belajar dari pengalaman ahli kredit mikro untuk kaum miskin, Profesor Muhammad Yunus, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong, Bangladesh. Yunus yang meraih Nobel Perdamaian PBB tahun 2006 ini menyelesaikan persoalan kemiskinan dengan memakai metode “pandangan mata cacing” dan kredit mikro.

Bung Charles yang saya cintai, kira-kira begini cerita singkat cara Yunus menuntaskan kemiskinan. Yunus memulai dengan mempelajari kemiskinan dari jarak dekat untuk menghasilkan pemahaman yang lebih tajam. Pendekatan ini diterapkannya saat menanggulangi kemiskinan di desa dekat kampusnya, Desa Jobra. Yunus dengan perjuangan yang sangat gigih harus mewawancarai para perempuan calon peminjam dalam wawancara yang dibantu seorang mahasiswinya. Soalnya, tatap muka langsung antara perempuan dengan pria bukan muhrim dilarang oleh ketentuan purdah di sana.

Pendekatan Yunus ini membuahkan hasil yang gemilang. Dengan tetap memegang teguh metodologi ilmiah, dia berhasil mengidentifikasi akar permasalahan kemiskinan dengan benar. Yunus paham bahwa dampak terberat kemiskinan di Jobra dialami perempuan. Di Bangladesh, perempuan miskin menempati kedudukan sosial paling rawan. Bila terjadi kelaparan, ibu adalah anggota keluarga pertama yang harus mengalami.

Di sisi lain, Yunus menemukan bila perempuan miskin terbukti lebih cepat menyesuaikan diri dan lebih baik dalam proses membangun kemandirian dibanding laki-laki. Perempuan miskin memandang jauh ke depan dan bekerja keras untuk membebaskan diri dan keluarganya dari kemiskinan. Ketika mendapat penghasilan, prioritas pertama perempuan adalah menyiapkan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak dan rumah tangganya. Sebaliknya, laki-laki cenderung memprioritaskan segala sesuatu untuk dirinya.

Yunus akhirnya menemukan jawabannya. Kredit mikro untuk perempuan miskin. Menurut Yunus, meningkatkan kesejahteraan perempuan miskin berarti menyelematkan satu generasi. Dari 7 juta nasabah Bank Grameen (bank pedesaan) yang didirikan Yunus pada 1983, 97 persen di antaranya adalah perempuan.

Cara pandang Yunus ini juga menghasilkan pemahaman masalah yang otentik yakni dari sudut pandang subyek yang mengalami masalah. Yunus menemukan bahwa orang miskin tidak butuh pelatihan ketrampilan melainkan dana mendesak dan fleksibel. Ini adalah antitesis dari ahli-ahli pembangunan Barat yang selalu berpendapat bahwa orang menjadi miskin karena tidak terampil.

Lewat pemahaman yang baik ini, Yunus berani memberi kepercayaan yang luar biasa kepada kaum miskin. Saat memulai program kredit mikro di tahun 1972 untuk 42 perempuan miskin yang bekerja sebagai pembuat bangku bambu, penganyam tikar, penarik becak dan lainnya, dia kucurkan pinjaman sebesar 27 dolar AS saja. Ajaibnya, seluruh pinjaman itu dilunasi. Ketika hendak melembagakan program di Desa Jobra, Yunus ditolak manajer bank yang keberatan memberi pinjaman untuk kaum miskin karena tidak adanya agunan. Bank tidak mau ambil resiko. Penolakan ini dibantah dengan argumentasi cerdas Yunus.

Mereka sangat punya alasan untuk membayar pinjaman anda, yakni untuk mendapatkan pinjaman lagi dan bisa melanjutkan hidup esok harinya! Itu jaminan terbaik yang bisa anda dapatkan: NYAWA MEREKA!

Bung Charles yang saya hormati, inilah inti dari Bank Grameen ala Yunus; kepercayaan pada kaum miskin. Hasilnya pun terlihat nyata. Sampai tahun 2006, Grameen telah mengucurkan kredit sebesar 6 miliar dolar AS dengan tingkat pengembalian 99 persen. Nasabahnya melonjak hampir 7 juta orang miskin di 73.000 desa di Bangladesh. Dari survei internal Grameen, 58 persen peminjam mereka telah terangkat dari garis kemiskinan.

Program kredit Grameen dengan cepat menggurita ke berbagai bidang. Seperti kredit bebas agunan untuk mata pencaharian, perumahan, sekolah, dan usaha mikro untuk keluarga miskin. Grameen menawarkan pula setumpuk program tabungan yang atraktif, dana pensiun dan asuransi untuk para anggotanya. Grameen juga memperkenalkan kredit perumahan pada tahun 1984 dan telah berhasil membangun 640.000 rumah. Grameen juga telah memberi 30.000 beasiswa setiap tahun kepada anak-anak peminjam, 13.000 di antaranya menerima kredit di jenjang universitas untuk menjadi dokter, insinyur, dosen dan lainnya. Bahkan, Grameen telah mendirikan perusahaan ponsel, Grameen Phone yang tak kalah suksesnya dengan 10 juta pelanggan di Bangladesh.

Bung Charles, poin penting ketiga dari Yunus adalah dia tidak muluk-muluk dan melakukan dalam skala besar. Ide kredit mikronya diujicoba dulu dalam skala kecil di Jobra. Meski berhasil di Jobra, tidak serta merta digeneralisir kalau idenya itu manjur untuk setiap konteks. Ia mencoba lagi di Desa Tangail, dekat Dhaka, ibukota Bangladesh yang kondisinya berbeda. Setelah berhasil, Yunus baru menyebarkannya di seluruh Bangladesh secara bertahap.

Berikutnya, disebarkannya ke negara-negara yang perekonomiannya mirip dengan Bangladesh sampai ke negara-negara kaya dengan kondisi masyarakat yang sangat berbeda. Kini, lebih dari 250 lembaga di 100 negara di lima benua menjalankan program kredit mikro yang didasarkan pada metode Grameen. Di antaranya, Malaysia, Filipina, India, Nepal, Vietnam, China, Amerika Latin, Afrika Selatan, serta Arkansas, AS semasa dipimpin gubernur Bill Clinton.

Hal lain yang berhasil diraih lewat pendekatan ini adalah bahwa penyelesaian kemiskinan ala Yunus bersifat struktural. Ia berhasil mencangkokkan gagasan Grameen ke cabang-cabang bank di seluruh Bangladesh. Di saat yang sama, ia melakukan lobi-lobi politik untuk meloloskan UU Grameen Bank yang memungkinkan adanya bank dengan struktur kepemilikan dan cara beroperasi yang sama sekali berbeda dengan bank konvensional di Bangladesh, bahkan di seluruh dunia. Lewat keberhasilan lobinya, para nasabah Grameen yang buta huruf dan tak beralas kaki itu bisa menjadi pemagang saham dan komisaris Grameen. Kepemilikan saham mereka sekarang telah mencapai 93 persen. Strategi seperti ini yang membuat pengurangan kemiskinan bukan lagi mimpi.

Bung Charles yang baik, kredit mikro sejatinya bukan barang baru bagi Indonesia. Lebih dari 20 tahun, Indonesia memiliki kementerian/departemen yang mengurusi koperasi, dan UMKM. Lembaga itu dibentuk untuk mengawasi pemenuhan kewajiban bank menyisihkan 20 persen dari total kreditnya untuk UMKM serta kewajiban BUMN menyisihkan labanya untuk pembinaan UMKM. Sayang, kewajiban itu masih jauh panggang dari api. Bank lebih suka menyalurkan kreditnya untuk kredit konsumsi dan mengutamakan pengusaha besar ketimbang UMKM. Alhasil, UMKM terus terpuruk.

Menurut saya, Indonesia belum terlambat untuk berubah. Adopsi metode Grameen bisa menjadi solusi efektif. Tentu dengan mengikuti metode “mata cacing” Yunus lewat pemahaman kebudayaan, struktur sosial, dan agama masyarakat yang akan diintervensi dengan konsep ini. Pelajari juga persoalan birokrasi, korupsi, dan praktik-praktik yang merendahkan derajat orang miskin. Setelah itu, baru menuju langkah berikutnya.

Yaitu, menggandeng universitas-universitas untuk bekerja sama. Dalam membawa realitas kemiskinan menjadi bagian dari satuan acara perkuliahan (SAP) di luar kelas dengan SKS besar. Agar mahasiswa dapat belajar dari orang miskin. Belajar dari realitas dan membangun ilmu yang mampu memahami dan mengatasi masalah yang dihadapi. Apalagi hampir semua universitas di Indonesia dikelilingi desa-desa atau permukiman yang penuh orang miskin, sampah, banjir, kekeringan, kelaparan, PKL dan masalah sosial lainnya.

Selanjutnya, pemerintah juga wajib menggandeng bank-bank miliknya untuk mulai membuka kredit mikro tanpa agunan untuk kaum miskin, utamanya perempuan. Bank harus mulai percaya bahwa kaum miskin lebih taat menyicil pinjamannya ketimbang peminjam kelas kakap yang lebih banyak ngemplang dan memanipulasi agunan.

Bung Charles, saya doakan anda agar berhasil duduk di Senayan. Bila doa saya dikabulkan Tuhan, permintaan saya cuma satu kepada anda. Tolong perjuangkan solusi sederhana saya ini. Usulkan RUU Bank Pedesaan berbasis metode Grameen, lalu kawal pembahasannya hingga ditetapkan menjadi UU. Setelah itu, mohon pantau terus pelaksanaannya di lapangan. Yakinkan kolega anda di DPR dan mitra anda di pemerintahan bahwa kaum miskin bisa disejahterakan jika dipercaya dan diberi dana mendesak serta fleksibel. Dengan cara ini, saya percaya kemiskinan bisa diakhiri.

Kelak, tempat satu-satunya untuk melihat kemiskinan adalah di museum-museum kemiskinan. Ketika anak-anak sekolah berkunjung ke museum kemiskinan, mereka akan ngeri melihat kesengsaraan dan kehinadinaan yang harus dilalui sebagian umat manusia.

Bung Charles, bagian akhir pidato Yunus saat menerima Nobel Perdamaian 2006 di bawah ini bisa menjadi bahan renungan kita untuk mulai bertindak memuseumkan kemiskinan.

Orang miskin itu orang bonsai. Tak ada yang salah dengan bibitnya. Sederhana saja, masyarakat tak pernah memberi mereka lahan untuk bertumbuh kembang. Yang diperlukan untuk membuat masyarakat miskin keluar dari kemiskinan adalah menciptakan lingkungan yang memberdayakan mereka. Begitu kaum miskin bisa melejitkan energi dan kreativitas mereka, kemiskinan akan lenyap dengan cepat.

Mari kita bergandeng tangan untuk memberi setiap makhluk manusia kesempatan yang adil untuk melejitkan energi dan kreativitas mereka.”

Kiranya, cuma ini yang bisa saya sampaikan kepada anda. Semoga bermanfaat dalam perjuangan anda menuju Senayan. Doa saya senantiasa mengiringi setiap langkah anda. Sukses selalu.

Surabaya, 16 Februari 2009

Hormat saya

M. Subchan Sholeh

Saya menerima penyerahan sertifikat dan hadiah dari Charles Honoris bersama para pemenang lainnya, termasuk novelis sastra Jawa kenamaan, Suparta Brata (tiga dari kanan), dan novelis Zoya Herawati (dua dari kanan saya). (Dok. Iwan Heriyanto)
Saya menerima penyerahan sertifikat dan hadiah dari Charles Honoris bersama para pemenang lainnya, termasuk novelis sastra Jawa kenamaan, Suparta Brata (tiga dari kiri, berkacamata), dan cerpenis Zoya Herawati (dua dari kiri). (Dok. Iwan Heriyanto)

*) Tulisan ini dibuat untuk berpartisipasi dalam lomba esai bertajuk ”Surat untuk Wakil Rakyat” yang diselenggarakan Charles Honoris, calon anggota DPR di daerah pemilihan Jatim 1 (Surabaya – Sidoarjo) asal PAN. Syukur alhamdulillah, tulisan ini beserta 25 tulisan lain terpilih sebagai tulisan terbaik untuk kemudian dijadikan buku dengan judul ”Surat untuk Wakil Rakyat”. Di buku itu, judul tulisan ini diubah menjadi ”Modal Usaha Untuk Rakyat”.

2 responses to this post.

  1. […] Surat untuk Wakil Rakyat « AyahAan's BlogStrategi yang saya usulkan adalah belajar dari pengalaman ahli kredit mikro untuk kaum miskin, Profesor Muhammad Yunus, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong, Bangladesh. Yunus yang meraih Nobel Perdamaian PBB tahun 2006 ini … […]

  2. Posted by Sugih Norio on April 8, 2014 at 9:49 am

    Anak cukong Samadikun Hartono yang buron, divonis empat tahun penjara oleh Mahkamah Agung pada 28 Mei 2003 karena terbukti menyelewengkan dana BLBI sebesar Rp 169 miliar.Waktu debat di salah satu TV swasta dgn polig cukup besar.Kemana babah lu orang sembunyi?
    Beginikah Partai yg katanya nasionalis, membela rakyat kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: