Sang Pembebas

Citra satelit BPPNFI Regional IV Surabaya
Citra satelit BPPNFI Regional IV Surabaya

Senin, 9 Juni 2008. Jarum jam baru menunjuk pukul 07.30. Namun, kesibukan sudah tampak di kantor sebuah instansi pemerintahan. Tanpa dikomando, puluhan pegawai perempuan dan laki-laki bergegas menuju halaman kecil di depan pintu lobi. Mereka membentuk empat barisan memanjang. Apel pagi segera dimulai. Tak mau ketinggalan, aku ikut bergabung membentuk barisan. Maklum ini adalah hari pertamaku menjalani orientasi sebagai calon pegawai negeri sipil alias CPNS. Total sepuluh hari aku harus mengikuti masa orientasi di sini sebelum menjalani orientasi teknis lanjutan di Puncak, Bogor.

Ferhat Abbas (Dok. Andang I)
Ferhat Abbas (Dok. Andang I)

Aku tidak sendirian. Ada tiga rekan lain hasil rekrutmen tahun 2007 yang menjalani masa pendadaran serupa. Ferhat Abbas, Ongky Hartanto, dan Ika Shinta. Ferhat dan Ongky lulusan Ilmu Akuntansi sedang Ika alumnus Ilmu Statistik sementara saya dari Ilmu Sosial. Walau rumah kami saling berjauhan, kami berhasil hadir tepat waktu. Setelah barisan siap, apel dimulai. Tepat saat pemimpin upacara Drs Harun Al Rasyid MSi memasuki lokasi apel. Pria kalem nan berwibawa ini adalah Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (BPPNFI) Regional IV Surabaya.

Komandan upacara pun memimpin penghormatan kepada sang pemimpin upacara. Selanjutnya, giliran pemimpin upacara memberikan pengarahan. Selepas pengarahan, dipimpin seorang dirijen, kami menyanyikan dua lagu bersamaan. Mars BPPNFI dan lagu Syukur. Apel pagi juga digelar setiap Kamis. Bedanya, apel Kamis dipimpin kepala seksi atau kepala sub bagian tata usaha. Jumat pagi diplot untuk senam pagi bersama.

M Subchan S
M Subchan S (Dok. Andang I)

Itulah ritual rutin kami, dua pekan ini. Awalnya, kami agak canggung mengingat aktivitas tersebut sama sekali berbeda dari profesi kami sebelumnya di instansi swasta. Lama-kelamaan, rasa canggung itu mulai sirna seiring interaksi dengan para senior di lembaga teknis milik Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Depdiknas itu. Mereka bersikap sangat hangat dan terbuka. Banyak cerita yang disampaikan.

Ika Shinta
Ika Shinta (Dok. Andang I)

Mulai tugas-tugas utama lembaga sampai proses-proses pembinaan terhadap warga belajar. Alhasil, kami jadi paham soal pendidikan nonformal dan informal meski baru kulitnya saja. Masa orientasi awal ini membuka mata kami. Bahwa BPPNFI beserta seluruh jajarannya di Provinsi Jatim dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah sang pembebas. Lewat pendidikan kesetaraan, keaksaraan fungsional dan aneka pendidikan kecakapan hidup, mereka yang buta huruf, putus sekolah, serta tak terampil mereka bebaskan dari kebodohan dan keterbelakangan.

Kantor kami berada di kawasan Surabaya Timur. Persisnya di Jl. Gebang Putih No. 10, Sukolilo, Surabaya. Gedung Convention Hall milik Pemkot Surabaya ada di bagian barat kantor ini. Tetangga di bagian selatan kami adalah KUA Kecamatan Sukolilo. Letak kantor yang dekat dengan pesisir pantai membuat wilayah ini lebih panas dibanding wilayah lain.

Ongky Hartanto
Ongky Hartanto (Dok. Andang I)

Satu yang pasti, kantor berwarna hijau-putih ini sangat luas. Anda seperti sedang berada di dalam sebuah kampus. Simak saja kelengkapan fasilitasnya. Gedung utama dua lantai di bagian depan sebagai pengendali kerja balai. Enam gedung asrama. Tiga di antaranya asrama untuk tamu sangat penting atau VIP. Ada juga enam ruang pertemuan, kantin, gedung olahraga, laboratorium komputer, perpustakaan, dan akses internet nirkabel berkecepatan tinggi 24 jam berbasis satelit. Puluhan gedung iu tertata rapi berselang-seling dengan aneka taman dan pepohonan di atas lahan seluas satu hektar. Di dalam kompleks kantor inilah, seratus lebih pegawai menunaikan tugas suci mereka sebagai sang pembebas.


Namun, bukan kelengkapan fasilitas yang membuat kantor ini lebih menonjol. Lebih dari itu, aktivitas mulia mereka mendidik warga miskin nan terpinggirkan menjadi berdaya yang membuat kantor itu berbeda. Merekalah harapan terakhir warga marjinal. Kini, tugas mulia itu menjadi tugas kami pula. Kami pun bertekad memberikan yang terbaik. Untuk mereka yang tertinggal dan terpinggirkan. Bagi kami, ini adalah sikap yang paling realistis. (ans)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: