Wajah Profitopolis Kota Surabaya

Oleh M Subchan Sholeh

Usia 714 tahun ternyata belum membuat Surabaya memantapkan langkah untuk menyelesaikan masalah secara dewasa. Hingga kini belum ada satu pun masalah yang terselesaikan. Mulai dari masalah urbanisasi, pedagang kaki lima, kemiskinan, lingkungan hidup, sampai sempitnya ruang terbuka hijau. Persoalan makin pelik ketika Surabaya memosisikan diri sebagai kota metropolitan.

Ini dipertegas dengan visi “Mewujudkan Kota Surabaya Metropolitan Madani 2010”. Tak ayal lagi, sebagian besar kebijakan pemerintah kota ditujukan mengejar target menjadi metropolis. Pembangunan lebih ditekankan pada sektor perekonomian dengan mengabaikan dampak sosialnya.

Berbagai fakta menguatkan kecenderungan ini. Setidaknya, ada sembilan pusat belanja baru yang berdiri dalam kurun 2001-2006. Di antaranya BG Junction, Royal Plaza, Supermal Pakuwon Indah, dan Golden City Mall. Tahun 2007 hingga beberapa tahun mendatang ada delapan lagi yang menyusul. Sebut saja di antaranya, City of Tomorrow, Grand City Surabaya, Surabaya Town Square, dan Pasar Atum Mall. Ditambah sembilan pusat belanja yang telah berdiri pada kurun 1970- 2000, total 26 pusat belanja eksis di Kota Pahlawan ini.

Jangan lupa juga maraknya pertumbuhan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) akhir-akhir ini. Bahkan, tak sedikit yang letaknya berdekatan. Data Pertamina menunjukkan ada 84 SPBU di Surabaya. Tujuh SPBU lainnya sedang dalam proses pembangunan dan masih ada 20 pengusaha yang mengajukan pendirian SPBU tahun ini. Surabaya termasuk pasar potensial karena pertambahan penduduk dan kendaraan bermotor terus meningkat. Lagi-lagi pemkot tidak tanggap melihat fenomena ini, dengan mengatur lokasi SPBU agar tidak menimbulkan persoalan baru, terutama kemacetan lalu lintas.

Kenyataan ini telah menampakkan jati diri pembangunan Surabaya yang berwatak profitopolis. Yakni, kota yang berwawasan komersial dengan begitu perkasanya pihak swasta. Di saat yang sama, kebutuhan untuk membahagiakan dan menyejahterakan berbagai lapisan masyarakat diabaikan. Perkembangan kota semata-mata diabdikan demi kepentingan pemilik modal. Penderitaan warga makin berat dengan kian dominannya pejabat pemerintah dalam perkembangan kota atau lazim disebut marxopolis. Kolaborasi kedua kekuatan ini telah membuat warga kota hanya menjadi penonton.

Tengok saja protes warga atas berbagai penyimpangan dalam penerbitan berbagai izin untuk pembangunan mal atau superblok di Surabaya yang tak pernah digubris pejabat pemkot. Contoh terakhir, protes warga Kelurahan Ketabang atas penyimpangan penyusunan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) proyek superblok GCS yang tidak digubris pemkot. Sebelumnya, warga juga memprotes penyimpangan proyek ITC Surabaya, Royal Plaza, Maspion Square, BG Junction, dan lainnya.

Rendahnya perhatian pemkot terhadap nasib warga dapat disimak dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemkot Surabaya Tahun 2006 yang dipublikasikan di situs Pemkot Surabaya. Misalnya, buruknya kualitas lingkungan hidup. Mulai kondisi air, udara, dan sedikitnya industri yang memasang instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Hasil pantauan terhadap indeks standar pencemar udara (ISPU) menunjukkan kondisi udara baik hanya 26 hari. Sisanya, 334 hari tergolong sedang dan 5 hari tidak sehat. Udara sedang sejatinya tidak bisa dikategorikan layak hirup seperti yang digembar-gemborkan pemkot. Warga kota hanya membutuhkan udara sehat untuk menunjang aktivitas keseharian.

Ini diperparah dengan makin sempitnya ruang terbuka hijau (RTH). Hingga akhir 2006 Surabaya hanya memiliki 269,13 hektar RTH atau sekitar 0,8 persen dari luas kota. Padahal, idealnya Surabaya memiliki 20 persen atau sekitar 6.527,5 meter persegi RTH.

Kualitas air tak kalah buruknya. Dari 331 sampel air sumur yang diambil pemkot, 231 sampel di antaranya belum memenuhi baku mutu karena rembesan limbah domes-tik, limbah industri, dan pembuatan sumur di lokasi yang tidak tepat. Ini diperburuk dengan rendahnya jumlah industri yang memasang IPAL. Artinya, pemkot telah mengabaikan tugasnya dan membiarkan industri membuang air limbahnya tanpa kendali.

Penanganan PKL juga belum membuahkan hasil. Dari sekitar 15.603 PKL, baru 32,62 persen atau 5.969 PKL yang berhasil dibina dengan direlokasi. Pengentasan keluarga miskin pun masih tertatih-tatih. Dari 111.897 keluarga miskin, masih ada 30.707 keluarga (27,4 persen) yang belum mendapat jatah beras rakyat miskin. Selain itu, 53 persen atau 59.622 keluarga miskin belum tercakup dalam program pemberdayaan ekonomi.

Apa pun masalah yang dihadapi seharusnya tidak melunturkan semangat untuk terus maju. Surabaya harus kembali pada hakikat kota sebagai sebuah karya seni sosial. Setiap kota terbentuk secara organik dengan penampilan yang berbeda-beda. Hasil ciptaan masyarakat, pemerintah, dan swasta. Ketiganya bergerak dengan prinsip kemitraan profesional. Warga kota sebenarnya sangat mendambakan humanopolis atau kota yang manusiawi, menyejahterakan, dan membahagiakan seluruh lapisan masyarakat.

Tak ada salahnya Surabaya belajar dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dan disesali masyarakat kota-kota besar di negara maju. Seperti dituturkan Guru Besar Universitas Diponegoro Eko Budiharjo, Chicago telah dikecam sebagai Sickago atau kota yang sakit. Frankfurt pun diberi nama Krankfurt, juga kota yang sakit. Indianapolis dilecehkan menjadi India-no-place.

Bila kesalahan itu dibiarkan berulang, tak pelak Surabaya yang bercita-cita menjadi city of tomorrow hanya akan menjadi city of sorrow alias kota kesedihan.

Selamat Ulang Tahun Surabayaku.

M Subchan Sholeh, peneliti pada Center for Public Policy Studies (CPPS) Surabaya

FORUM KOMPAS JATIM, 30 Mei 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: