Tugu Pahlawan di Simpang Jaman

Tugu Pahlawan, objek wisata sejarah favorit para pelajar

Tugu Pahlawan, objek wisata sejarah favorit para pelajar

Empat relief di dinding halaman depan menyambut setiap pengunjung yang tiba di Monumen Tugu Pahlawan dan Museum 10 Nopember Surabaya. Satu relief menggambarkan peristiwa penyerahan kekuasaan dari tentara Sekutu kepada Belanda pada tahun 1946, dua relief menggambarkan pertempuran 10 Nopember 1945 dan satu relief menampilkan pembacaan proklamasi di Surabaya.

Masuk ke bagian dalam, patung Presiden Soekarno dan Wapres Mohamad Hatta berdiri tegak. Saat menuju museum, anda dapat menyaksikan tiga patung tokoh utama Surabaya dalam perjuangan melawan penjajah. Yakni Gubernur Suryo, Walikota Surabaya Doel Arnowo, dan tokoh pejuang Bung Tomo.

Selanjutnya, pengunjung diajak menuruni tangga untuk menyaksikan berbagai koleksi di museum bawah tanah. Di dekat pintu masuk terpasang plakat di dinding bertuliskan nama-nama pimpinan organisasi dan pejuang yang gugur dalam pertempuran bersejarah itu. Konon, 10 ribu pejuang Surabaya gugur dalam peristiwa itu. Masuk ke dalam museum, tersaji puluhan koleksi foto, lukisan, senjata, diorama elektronik, dan statis.

Monumen Tugu Pahlawan ini dibangun masyarakat Surabaya tepat pada 10 Nopember 1951. Pembangunan monumen di atas tanah seluas 2,5 Ha ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Soekarno. Monumen setinggi 40,5 meter ini tuntas dibangun setahun berikutnya. Monumen berbentuk paku terbalik ini dibangun untuk mengenang sejarah perjuangan para pahlawan kemerdekaan yang gugur dalam pertempuran 10 Nopember 1945. Di masa Belanda, di atas tanah itu dibangun gedung Raad Van Justitie. Setelah kalah perang dari Jepang, gedung itu dipakai sebagai markas Kempetai (Polisi Militer Jepang). Saat Jepang kalah dalam Perang Dunia II, markas Kempetai ini diserbu Sekutu sampai rata dengan tanah.

Bangunan museum yang ada sekarang telah melengkapi monumen Tugu Pahlawan sejak tahun 2000. Kini, ada lima area di kompeks monumen bersejarah ini. Antara lain area viaduk rel KA yang diisi relief-relief peristiwa 10 Nopember 45, museum, plasa di sekitar monumen, lapangan upacara dan fasilitas penunjang.

Pembangunan museum itu diawali pada 10 Nopember 1991. Tokoh pejuang Roeslan Abdulgani diberi kehormatan melakukan peletakan batu pertama pembangunan museum tersebut. Tapi, pembangunan museum baru dilakukan pada tahun 1998 setelah diawali lomba desain dan dimenangkan tim dari ITS Surabaya yang dipimpin Ir Sugeng Gunadi. Total dana yang dibutuhkan untuk membangun museum ini mencapai Rp 31,4 miliar. dana pembangunan ditalangi bersama oleh APBD Surabaya (Ro 15,2 miliar), APBD Jatim (Rp 11 miliar), Dewan Harian Daerah (DHD) Veteran 45 Jatim (Rp 5 miliar), dan sumbangan masyarakat (Rp 186 juta). Museum seluas 1.366 m2 itu selesai dibangun tahun 2000. Presiden Abdurrahman Wahid meresmikan penggunaannya pada 10 Nopember 2000.

Setelah perubahan itu, wajah Tugu Pahlawan memang tak bisa lagi dilihat secara utuh dan bebas karena dikelilingi pagar tembok untuk museum. Pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 2 ribu untuk melihat bangunan monumen itu secara utuh. Kondisi ini menimbulkan kegelisahan pada diri Ketua Komisi D (Kesejahteraan Rakyat) DPRD Surabaya Ahmad Jabir. Jabir menuturkan, pagar tembok itu telah menghalangi pandangan bebas masyarakat yang lalu lalang di kawasan tersebut terhadap Tugu Pahlawan. Ia khawatir kondisi ini akan menghilangkan makna dan kewibawaan bangunan bersejarah itu. Oleh karena itu, dia mendesak pemkot membongkar pagar tembok tersebut

“Pemkot harus segera membongkar tembok penutup itu mengingat pentingnya makna Tugu Pahlawan bagi masyarakat Surabaya,” katanya.

Jabir menegaskan, pembongkaran pagar harus dilakukan untuk mengembalikan ikon kota ini. Selain itu, masyarakat dapat menikmati sejarah perjuangan yang terdapat di bangunan tersebut. Bahkan, ujar dia, lahan di sekeliling Tugu Pahlawan bisa dimanfaatkan sebagai taman kota yang dilengkapi sarana hiburan keluarga dan olahraga.

“Tugu Pahlawan telah menjadi simbol kewibawaan sejarah perjuangan masyarakat Surabaya. Di mana kewibawaan Surabaya sekarang ketika Tugu Pahlawan ditutup dengan pagar keliling,” tanya politisi PKS ini

Ditemui terpisah, Kepala UPTD Monumen Tugu Pahlawan dan Museum 10 Nopember M Sutopo tidak setuju jika pagar tembok itu dibongkar. Alasannya, pagar tembok itu memiliki fungsi penting dalam menunjang wisata sejarah di tempat tersebut.

Antara lain, mengurangi getaran dari lalu-lalang berbagai jenis kendaraan di sekitarnya, mengurangi kebisingan serta menciptakan kenyamanan bagi pengunjung saat berwisata di lokasi itu.

“Bagaimana pengunjung bisa menggali nilai-nilai sejarah di tempat ini dengan baik kalau suasananya bising. Ini tentu merugikan karena mengganggu kenyamanan pengunjung,” katanya.

Sutopo menambahkan, para PKL dan pemulung berpotensi menyerbu lokasi itu jika pagar tembok dibongkar. Jika diminta memilih, Sutopo lebih setuju atas usulan penggratisan tiket masuk dibanding pembongkaran tembok. (*)

Favorit Para Pelajar

Monumen Tugu Pahlawan dan Museum 10 Nopember Surabaya adalah salah satu lokasi wisata andalan Surabaya. Turis domestik dan asing kerap menjadikan tempat ini sebagai salah satu lokasi yang wajib dikunjungi saat tiba di Kota Pahlawan ini. Tak heran, jika jumlah kunjungan terus meningkat. Tahun 2006, jumlah pengunjung mencapai 110.003 orang. Naik 50 persen lebih dibanding tahun 2005 yang didatangi 63.655 pengunjung.

Dilihat dari latar belakangnya, pengunjung pelajar masih mendominasi. Sekretariat UPTD Monumen Tugu Pahlawan dan Museum 10 Nopember Surabaya Herri Purwadi mengungkapkan, 90 persen pengunjung adalah pelajar. Baik dari tingkat TK sampai SMA. Mayoritas berasal dari Surabaya. Sisanya, datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, Jakarta, dan Medan. Mereka biasa datang berombongan. Antara 50 sampai 200 pelajar.

Khusus pengunjung rombongan, ujar Herri, pihaknya memberikan potongan harga. Untuk rombongan 30 orang, diberikan potongan harga 10 persen dari tiket seharga Rp 2 ribu. Rombongan di atas 100 orang diberikan potongan 15 persen.Untuk kalangan turis asing, pengunjung asal Belanda lebih mewarnai. “Umumnya, mereka ingin bernostalgia,” tambah Herri. Sisanya datang dari Jepang, India, dan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, dan Kamboja. Namun, mereka datang dalam rombongan kecil antara 10-20 orang.

Museum buka mulai Selasa sampai Minggu dengan jam buka beragam. Selasa-Kamis pukul 08.00-14.30, Jumat pukul 08.00-14.00 serta Sabtu-Minggu pukul 08.00-13.30. Di museum lantai dasar pengunjung disuguhi gugusan patung dari perunggu yang menggambarkan figur para pejuang yang tegak, bertahan dan gugur dalam mencapai kemerdekaan. Dapat disaksikan pula koleksi pidato Bung Tomo, replika bambu runcing, diorama elektronik, serta koleksi foto perjuangan arek Surabaya dan lukisan beberapa .

Herri menambahkan, diorama elektronik ini hanya diputar untuk pengunjung rombongan. Isinya film dokumenter pertempuran 10 Nopember 1945 yang dilengkapi dengan peta Surabaya tahun 1945 berbentuk maket. Untuk menggambarkan suasana pertempuran sesungguhnya, peta maket itu dilengkapi sistem pencahayaan dan detektor asap yang menunjukkan arah dan lokasi serangan.

Di lantai atas, pengunjung dapat menyaksikan delapan diorama statis yang menggambarkan sejumlah peristiwa penting saat itu. Antara lain insiden perobekan bendera di Hotel Yamato, dan penyerbuan markas Kempetai (polisi militer Jepang) di Jl Pahlawan yang sekarang menjadi lokasi berdirinya Tugu Pahlawan. Ada pula koleksi puluhan senjata yang dipakai Sekutu, Jepang dan pejuang Surabaya dalam pertempuran 10 Nopember 1945. Sebut saja pisau bayonet, pistol revolver, senapan mesin, sampai pelontar mortir.

Koleksi foto-foto perjuangan dari Des Alwi dan Doel Arnowo terpampang di dinding ruangan ini. Koleksi Bung Tomo juga dipamerkan di ruangan ini. Misalnya, catatan harian, gelas kenang-kenangan dari kongres Badan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) serta panji BPRI. Terakhir, radio milik Bung Tomo yang dihadiahkan pejuang-pejuang Tanah Abang, Jakarta yang selalu mendengarkan pidato-pidatonya. (20 Juni 2007)

6 responses to this post.

  1. Posted by anthonius on November 13, 2010 at 8:31 am

    saya sangat setuju jika tembok itu ada tapi bukan kayak yang sekarang (benteng), keberadaan tembok memang perlu ,tapi kita juga harus memikirkan fungsi dan tujuan monumen itu didirikan oleh sang pendahulu kita , makna heroik itu sirna saat melihat tembok tinggi itu menjadi kesan misterius dan membuat malas untuk bertandang kesitu. Biarlah setiap orang yang lewat itu dapat melihat betapa gagahnya monumen itu segagah semangat arek-arek suroboyo yang telah mengorbankan darah dan nyawanya demi sejengkal tanah ini .Dengan begitu setiap anak surabaya akan merasa bangga karena memilikinya .Coba renungkan kembali pasti lebihbisa diterima oleh semua orang surabaya, biarkan semua sarana yang lain ada kecuali tembok besar itu kombinasikan dengan taman yang nyaman seperti taman bungkul atau taman rekreasi pasti lebih menarik.

  2. saya sependapat dengan bung anthonius. prinsipnya, kalau ingin dipagari jangan dengan tembok yang masif seperti itu. cukuplah dengan pagar besi keliling komplek tugu pahlawan seperti di monas. agar bangunan tugu pahlawan dapat terlihat utuh dari segala arah sehingga bisa dinikmati oleh setiap warga yang melintas di sana. sepertinya memang harus ada program revitalisasi tugu pahlawan yang fokusnya pada perubahan bangunan tembok itu.

  3. Saya juga merasa Tugu Pahlawan tidak lagi dimiliki rakyat. Karena tembok yang sekarang itu. Padahal sudah banyak protes akan hal ini. tapi tetep saja tembok itu berdiri. Seharusnya sebelom membangun itu ya harus tanya ke rakyat. bagaimana enaknya. Karena Tugu Pahlawan itu juga berdiri dari darah rakyat, patungan uang rakyat. seharusnya merakyat.

  4. mas wiryadi, tidak ada kata lain kecuali setuju. harus ada perubahan bentuk pagar untuk menumbuhkan rasa memiliki warga indonesia -bukan hanya warga surabaya atau jawa timur- terhadap tugu pahlawan. it’s now or never!

  5. Posted by dinyo on April 11, 2011 at 9:05 pm

    kalo taman2 dibuat bagus2 tapi enggak ada yang make karena terhalang tembok, apa juga gunanya? orang jadi sungkan masuk krn takut gak boleh, saya aja aneh kalo iseng dateng kesana sendirian. sendirian di ruang publik,dianggap aneh? ini mesti bentuk kegagalan ruang publik.

  6. saya sepakat dengan bang dinyo. sekarang ini pemkot dan dprd sedang mengkaji upaya revitalisasi tugu pahlawan agar lebih membumi lagi. semoga hasilnya sesuai harapan kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: