Tan Malaka : Sang Pahlawan yang Dilupakan

Ibrahim Datuk Tan Malaka

Ibrahim Datuk Tan Malaka

Postur tubuhnya rata-rata orang Indonesia dengan tinggi 165 sentimeter. Badannya tegap, sehat, kuat, dan muka tampak segar. Mata agak kecil tapi sorotnya tajam. Dilihat dari kerut-kerut di dahinya, karakter wajahnya kukuh dan kuat. Pakaiannya sederhana. Kemeja, celana kain panjang, dilengkapi kaos kaki panjang.

Ia Tan Malaka atau lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia lewat buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Indonesia) pada 1925. Jauh lebih dulu daripada Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pledoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag tahun 1928, dan Bung Karno yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).

Naar de Republiek terbit dalam pelarian Tan di Kanton, Tiongkok pada April 1925. Tak diketahui pasti berapa eksemplar brosur ini dicetak. Namun, beberapa lembar berhasil masuk ke Indonesia. Tan kembali mencetak tulisan panjang itu ketika berada di Filipina pada Desember 1925. Cetakan kedua inilah yang kemudian menyebar luas lewat jaringan Perhimpunan Pelajar Indonesia.

Buku kecil yang selalu dibawa Bung Karno ini terdiri dari tiga bab. Isinya, ulasan soal Republik Indonesia rancangan Tan berdasar situasi politik dunia, dan kondisi Indonesia saat itu. Hasan Nasbi A, penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka, menjelaskan, Tan tegas bahwa eks Hindia Belanda harus menjadi Republik Indonesia. Namun, Republik Indonesia dalam gagasan Tan tidak menganut trias politika ala Montesquie. Republik versi Tan adalah sebuah negara efisien yang dikelola oleh sebuah organisasi tunggal. Dalam tubuh organisasi itulah dibagi kewenangan sebagai pelaksana, pengawas, dan badan peradilan. Bangunan organisasinya dari tingkat terendah sampai level nasional. Agar organisasi tak menjadi tirani kekuasaan, pejabatnya hanya berkuasa dalam waktu dua tahun.

Lain lagi dengan Massa Actie (Massa Aksi) yang ditulis Tan pada 1926 di negara pelarian lainnya, Singapura. Di buku ini, Tan membongkar kultur takhayul yang mendarah daging di bangsa ini, memperkenalkan aneka macam penjajahan, menunjukkan arti revolusi, dan memaparkan bagaimana kekuatan rakyat bisa dimanfaatkan.

Inilah cetak biru bagi revolusi massa; desakan kuat dari bawah untuk mendorong perubahan. Ia kenalkan pula kepada sesama rakyat negeri terjajah akan pentingnya negara persatuan di bawah bendera Federasi Republik Indonesia; gabungan Indonesia Selatan yakni Indonesia yang dikuasai Hindia Belanda, Indonesia Utara alias Filipina yang dijajah Amerika, dan Semenanjung Malaka yang dikuasai Inggris.

Buku ini banyak menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Bung Karno membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Bahkan, kalimat ”Indonesia tanah tumpah darahku…” di lagu Indonesia Raya dimasukkan oleh WR Supratman karena terilhami bagian akhir dari Massa Actie . ”Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah.”

Peran besar Tan lainnya adalah keberhasilannya menggerakkan para pemuda menggelar rapat raksasa di Lapangan Ikada (Lapangan Monas), Jakarta pada 19 September 1945. Ini adalah rapat pertama yang menunjukkan besarnya dukungan massa terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan sebatas catatan di atas kertas. Seusai rapat itu, perlawanan kepada Jepang makin gencar.

Sosiolog Ignas Kleden menuturkan setengah dari usia Tan dihabiskannya di luar negeri. Enam tahun belajar di Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik hampir separo dunia. Dimulai di Amsterdam dan Rotterdam diteruskan ke Berlin lantas Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, sebelum menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung pada tahun 1922-1942 dengan masa pelarian paling lama di Tiongkok. Pada masa itu, Tan memakai 13 alamat rahasia dan tujuh nama samaran. Ia menjadi buruan polisi rahasia karena kegigihannya menyebarluaskan gerakan anti penjajahan Dia sempat tertangkap saat di Manila dan Hong Kong. Di Indonesia, dia dipenjarakan tiga kali oleh Belanda di Bandung, Semarang, dan Jakarta.

Lahir di Pandan Gadang, Payakumbuh, Sumatera Barat, pada 2 Juni 1897, Tan beruntung menjadi anak seorang pegawai pertanian Hindia Belanda. Menurut Guru Besar Komunikasi UI Zulhasril Nasir, Tan yang rajin bersembahyang dan hafal Alquran itu berkesempatan mengecap pendidikan di Sekolah Rajo, Bukittinggi. Karena kecerdasannya yang luar biasa, Tan difasilitasi gurunya G.H. Horensma untuk meneruskan studinya ke sekolah guru di Harleem, utara Belanda pada umur 17 tahun. Di Negeri Kincir Angin itu, watak Tan membaca, belajar, dan menderita terbentuk.

Tragisnya, hidup Tan berakhir di ujung senapan tentara republik yang didirikannya. Harry Poeze, sejarawan Belanda peneliti Tan Malaka mengungkapkan, Tan ditangkap dan ditembak mati tentara Indonesia di Selopanggung, lereng Gunung Wilis, Kediri pada 21 Februari 1949. Tan ditembak atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalion Sikatan, Divisi IV Jawa Timur karena dituduh melawan Soekarno-Hatta. Padahal, Tan beralih ke Kediri seusai agresi kedua Belanda, 19 Desember 1948, karena tidak kondusif lagi berjuang di Jakarta. Soalnya, Soekarno-Hatta telah ditawan Belanda. Di Kota Tahu itu, Tan menyebarkan pamflet ajakan perang gerilya kepada masyarakat untuk melawan Belanda. Dia juga memproklamasikan diri sebagai pemimpin revolusi Indonesia karena sebagai tawanan, Soekarno-Hatta tak lagi memegang kekuasaan. Tan punya alasan kuat soal klaimnya itu, testamen (surat wasiat) yang diteken Soekarno pada Oktober 1945.

Poeze menduga eksekusi itu datang dari perintah Kolonel Soengkono, pimpinan tentara Divisi Jawa Timur yang tidak jelas. Dia sempat mengirimkan radiogram ke daerah-daerah yang berisi pernyataan bahwa aktivitas gerakan Tan berbahaya. Dalam perintah itu juga disebut Tan dan kelompoknya harus dihentikan dan jika ada perlawanan, bisa dipakai hukum militer.

Soekotjo ditengarai menafsirkan hukum militer itu sebagai tembak mati. Tragedi kematian Tan membuat Hatta memberhentikan Soengkono dan Soerachmad, bawahannya. Adapun Soekarno mengangkat Tan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963 yang diterbitkan 28 Maret 1963.

Berpuluh tahun nama Tan absen dari buku-buku sejarah. Namanya dikenal samar-samar. Ketika negeri ini telah berumur 63 tahun, tulisan ini mencoba melawan lupa yang lahir dari aneka keputusan politik itu, dan mencoba mengungkap sekilas riwayat kemahiran seorang revolusioner. Sebagaimana kita mengingat bapak-bapak bangsa yang lain: Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Mohammad Natsir dan lainnya. Merdeka! (mss, berbagai sumber / Agustus 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: