Srikandi Penentang Korupsi

Dalam dunia pewayangan, Srikandi dikenal sebagai wayang perempuan yang punya jiwa dan tekad membela rakyat dan negara, bukan sekadar cantik. Di Jawa Timur, Srikandi itu bernama Naniek Yuniati. Tanpa ragu, ia bongkar korupsi di birokrasi. Rintangan yang menghadang tak menyurutkan langkahnya untuk terus berjuang menentang korupsi.

Naniek YuniatiNaniek Yuniati
Oleh: M Subchan Sholeh

“Sampai saya dibungkus kain putih (meninggal), saya tetap melawan korupsi.” Kalimat menggetarkan hati itu tanpa ragu-ragu diucapkan Ir Naniek Yuniati SH. Ia bukan aktivis LSM anti korupsi. Ia hanyalah PNS biasa di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Propinsi Jatim.
Walau masih tetap menerima gaji, sudah 1,5 tahun ini dia tidak berkantor di DKP karena statusnya digantung. Jabatan tidak ada, apalagi ruang kerja.
“Saya tiap hari ngantor di rumah. Sudah puluhan kali saya menghadap sekdaprop (Sekdaprop Jatim Soekarwo). Bahkan, dia ngomong pada September 2007 akan menetapkan status saya tapi cuma janji-janji. Kalau dia moralitasnya bagus ya mestinya status saya jelas,” katanya saat ditemui di rumahnya di kampung padat penduduk, Jl. Kalibokor Kencana.

Untuk menuju rumah Naniek yang terletak beberapa puluh meter dari mulut gang, sepeda motor harus dituntun. Maklum, lebar jalan kampung ini cuma sepanjang rentangan tangan orang dewasa. Rumah bercat putih yang dihuni keluarga Naniek seolah tenggelam oleh tanaman dalam puluhan pot plastik di atas pagar tembok. Lantai rumah ini selalu bergetar-getar ringan jika ada kereta melintas di atas rel yang melintang di depan rumahnya.

Memakai daster batik warna krem dan rambut yang diikat, Naniek tengah menceritakan episode paling dramatis dalam kehidupannya saat ini. Bukan kemauannya untuk tidak bekerja selama 1,5 tahun terakhir ini. Keinginannya bekerja sesuai aturan sebagai abdi negara dan masyarakat ternyata tak semudah membalik telapak tangan.

Semua berawal pada 8 Mei 2006. Naniek membuat selebaran berisi ajakan untuk menjauhi, mencegah dan memberantas korupsi. Selebaran itu dibagi-bagikan secara sembunyi-sembunyi kepada teman-temannya di DKP dan instansi lain. Alasannya sederhana. ”Soalnya, undang-undang dan kitab suci semua agama mengajarkan untuk tidak mencuri.”
“Bukan saya merasa paling jujur tapi paling tidak kita belajar ke arah sana. Kapan lagi kalau nggak sekarang, wong umur ada batasnya,” sergahnya

Naniek yang merintis karier sebagai tenaga honorer di DKP sejak tahun 1993 ini mengaku tak punya motif macam-macam di balik kampanye anti korupsinya. Alumnus Fakultas Perikanan Unitomo Surabaya ini merasa sudah gerah menyaksikan korupsi setiap hari.
“Saya gerah dan saya sangat takut kepada Allah,” tukas Naniek di tengah ruang tamu rumahnya yang dipenuhi aneka keramik China berbagai ukuran.
Korupsi harian yang dimaksud Naniek bervariasi bentuknya. Umumnya, kegiatan fiktif dan perjalanan dinas fiktif. Ironisnya, korupsi ini sudah berlangsung puluhan tahun dan diperkirakan merugikan keuangan negara ratusan miliar rupiah.

“Seminar dilakukan di kantor dilaporkan di hotel. Uang perjalanan dinas cair, orangnya nggak pergi. Malah dibuat bancakan,” tutur Naniek yang diangkat sebagai PNS pada tahun 2000 itu.
Meski kampanyenya terhitung langka, rekan-rekannya sebetulnya berpikiran sama dengan dirinya.
“Tapi, mereka takut dengan atasannya masing-masing,” cetusnya.
Kriing. Bunyi dering telepon CDMA Naniek menghentikan perbincangan seru kami siang itu. Naniek beranjak dari kursi menuju telepon CDMA-nya yang tergeletak di atas meja. Rupanya, Ir Hukmia Arlanggiwati MMA, pegawai di Bappeprov Jatim, rekan seperjuangannya dalam kampanye anti korupsi yang meneleponnya.

Keduanya sedang mengatur janji untuk bertemu guna membahas tindak lanjut mereka setelah nama keduanya dimasukkan sejumlah LSM sebagai caleg perempuan potensial. Setelah berbincang sekitar lima menit, Naniek melanjutkan perbincangannya yang terpotong.
Cerita kembali bergulir. Selebaran yang dibagi-bagikan Naniek menuai masalah. Bukannya pujian, malah pengasingan yang diterima perempuan berumur 44 tahun ini. Atasannya menerbitkan SK yang memutasi dirinya ke Badan Pengelola Pangkalan Pendaratan Ikan (BPPPI) di Lekok, Pasuruan. Jabatan sebagai Staf Tata Laksana Hukum Sub Dinas Penyusunan Program DKP harus dilepas. Bagi atasannya, Naniek ibarat duri dalam daging yang harus dicabut agar tidak meresahkan DKP.

Merasa dizalimi, Naniek menggugat menggugat keputusan itu ke PTUN. Sebelum disidangkan, DKP mengajak Naniek kompromi. Naniek diminta mencabut gugatannya dengan janji pencabutan SK mutasinya. Tanpa prasangka buruk, Naniek menyetujui tawaran itu. Akhirnya, SK mutasi Aniek dicabut. Namun, Naniek tak dikembalikan ke posisinya semula. Alih-alih dikembalikan, diam-diam nama Naniek dicoret dari jabatan lamanya dan tidak diakui di BPPPI Lekok.

“Tahu-tahu nama saya dimasukkan di Subdin Sarana dan Prasarana DKP. Ini kan nggak profesional, tanpa sepengetahuan yang bersangkutan,” gusarnya
Kesal telah dibohongi, ia memberanikan diri melaporkan korupsi di tubuh DKP ke Polda Jatim pada 24 Mei 2006. Dia berpendapat, hanya PNS yang mampu mengungkap korupsi di birokrasi. Pihak luar tidak akan pernah mampu membongkar korupsi di birokrasi.

Naniek melaporkan potongan sebesar 10 persen pada setiap pencairan dana pada Sub Dinas Penyusunan Progam DKP, sejak tahun 1999-2005. Bagi dia, ini jelas pungutan liar karena tidak jelas landasan hukum dan peruntukannya.
“Waktu saya tanya, dijawab yang 10 persen untuk kepala dinas dan sisanya untuk semua pegawai subdin,” ungkapnya
“Terus terang saya sekarang sudah tidak kuat lagi karena saya dimarahi kalau tidak mau terima pembagian uang proyek seperti itu,” ujar Naniek sambil menunjukkan kliping berita soal dirinya di sejumlah koran lokal saat kasus itu mencuat.

Penggelembungan anggaran (mark up) dalam perjalanan dinas fiktif ke Jakarta, 20 Juli 2005 juga dilaporkannya. Soalnya, mereka yang terdaftar dalam absensi perjalanan dinas tidak ikut kegiatan itu.
Dua pekan setelah melapor, Naniek diperiksa penyidik Polda Jatim sebagai saksi pelapor sampai tiga kali. Beberapa rekan dan atasannya di DKP sempat diperiksa.
Lagi-lagi, Naniek diajak kompromi oleh DKP. Ibu dua anak ini diminta mencabut laporan itu. Imbalannya, dia dibebaskan untuk bekerja di instansi manapun di lingkungan pemprop.

Perempuan berbintang Gemini ini memilih mengajukan permohonan sebagai staf Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim. Pertimbangannya, KPU pasti perlu tenaga tambahan untuk pelaksanaan pemilihan gubernur tahun 2008. Untuk kedua kalinya, Naniek harus menelan kekecewaan. SK penempatannya tak kunjung dibuat sampai sekarang. Dia curiga ini disengaja untuk menghambat penempatannya di KPU.
“Saya ditolak di KPU karena saya dianggap akan jadi duri dalam daging mereka. Wong anggaran pilgub kok 800 miliar. Buat apa itu. Saya khawatir nanti TPS yang mestinya habis 500 ribu dibilang habis 2 juta,” imbuhnya.
Setelah itu, dia diminta memilih lagi. Kali ini, ia menjatuhkan pilihan pada Bawasprop. Kembali Naniek dikecewakan karena tak ada tanggapan hingga kini.

“Ini juga mau saya gugat. Masak saya sudah disuruh milih tapi nggak jelas-jelas sampai sekarang” kata perempuan yang baru saja merengkuh gelar sarjana hukum di Universitas Jenggala Sidoarjo awal September 2007 lalu.
Di tengah paparan serius Naniek, suara pengamen jalanan yang sumbangnya minta ampun di rumah sebelah menelan vokal Naniek. Perempuan kelahiran Surabaya, 6 Juni 1963 silam ini pun terpaksa menaikkan volume suaranya agar penjelasannya bisa didengar.
Naniek berbicara tak henti-henti penuh minat soal akutnya korupsi di birokrasi dan perjuangannya melawan kebobrokan menahun itu. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Siapapun di dekatnya pasti merasa ditantang mengambil ancang-ancang untuk melawan korupsi saat itu juga dengan cara apapun.

Tipikal orang asli Surabaya yang spontan, penuh energi, lugas dan tanpa kompromi. Dianugerahi postur tinggi besar, dan struktur rahang yang kokoh, ia laksana superhero perempuan dalam komik yang siap memberantas kejahatan.
Topik perbincangan beralih pada dalih korupsi di birokrasi karena kecilnya gaji PNS. Naniek membantah keras alibi ini. Bagi dia, gaji PNS sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup seorang PNS dan keluarganya. Dengan bekerja jujur, PNS bisa mendapat rezeki yang halal untuk keluarga, sambil memberi sumbangsih untuk kantor dan negara.

“Kalau ada yang bilang nggak cukup itu karena sifat serakah manusia, pemimpin mengajak korupsi, gaya hidup pemimpin yang mewah, dan tidak ada penegakan hukum,” tandasnya.
Begitulah Naniek. Saking semangatnya, ia baru tersadar belum menyuguhkan minuman untuk tamunya. Padahal, obrolan sudah lewat satu jam lebih. Yang tampak kemudian, ia tergopoh-gopoh memanggil-manggil anaknya untuk menyuguhkan minuman.

“Firdha…Firdha ambilkan minuman untuk tamu ibu nak”, seru Naniek.
Sepuluh menit sudah berlalu sejak Naniek memanggil anak sulungnya. Rupanya, Firdha yang tengah merintis karier sebagai model itu tak kunjung membawakan pesanan ibunya. Tanpa basa-basi, Naniek bergegas ke dalam dapur dan mengambil sendiri dua teh botol dingin.
“Firdha itu pemalu, nggak berani keluar. Ayo, diminum,” ucapnya ramah.
Keberanian dan integritas Naniek tak dibentuk kemarin sore. Bak buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sikap tegas Naniek terhadap korupsi ini merupakan turunan dari almarhum ayahnya, Kopral Suparman, prajurit KKO (sekarang Marinir) TNI AL. Sang ayah yang sempat tergabung dalam pasukan TNI yang berhasil merebut Irian Barat dari Belanda itu dikenangnya sebagai pribadi yang bersahaja dan mendidik kejujuran.

“Kalau nggak kuat beli, jangan utang. Kalau tidak punya, jangan pinjam. Ya dikelola apa adanya. Kalau kamu benar, ya maju terus. Tidak usah takut. Nasehat itu yang paling saya ingat dari bapak,” tutur istri Nandy Dhofir Bachtiar ini.
Beratnya penderitaan dalam mengungkap kebenaran tak pernah dirasakan Naniek. Sebaliknya, kelegaan hati yang dirasakan setelah mampu melaksanakan amanat agama dan undang-undang.

Sadarkan Istri PNS
Perjuangan Naniek mengungkap korupsi di DKP ini hanya awalan. Dia masih punya banyak agenda strategis untuk melawan korupsi sistemik di birokrasi. Agenda terdekat yang akan digarap adalah memberi penyadaran kepada istri PNS untuk selalu mengingatkan suami agar tidak korupsi.

“Salat itu tiang agama, perempuan itu tiang negara. Kalau perempuan yang bersuami PNS tidak vokal maka negara akan roboh,” celetuknya.
Ia menghimbau agar istri-istri PNS selalu bertanya jika suaminya memberikan uang gaji lebih besar dari biasanya.
“Kalau itu uang korupsi, suruh kembalikan,” ujar penggemar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Strategi ini dipilih Naniek karena lebih realistis dan mudah dilakukan. Ia melihat sendiri bagaimana konsumtifnya gaya hidup istri-istri atasannya di DKP. Padahal, gaji suami mereka cuma Rp 3 juta sebulan.
“Kalau istri PNS lebih peduli dengan kejanggalan penghasilan suaminya, paling tidak negara ini agak bersih dari korupsi, “ tegas ibu dari Firdha Yunizar Ramadhani, dan Fariz Dwi Mauliddiar.

Untuk jangka panjang, dia memiliki obsesi untuk mendirikan Partai Perempuan Anti Korupsi (PPAK). Diakui Naniek, upaya mewujudkan hal ini tidak mudah. Namun, ini bukan hal yang mustahil selama Tuhan merestui dan keluarganya mendukung. Dukungan penuh keluarga itulah yang membuat Naniek mampu mengatasi berbagai rintangan. Bahkan, anak-anaknya mulai mewarisi sikap kritis Naniek. Salah satu anaknya pernah menyindir temannya yang berayah PNS namun memiliki banyak mobil.
“Ayah temannya disebut koruptor. Kata anak saya, ‘PNS bayarannya sedikit kok bisa punya mobil banyak, pasti korupsi.’ Rupanya temannya ini langsung tanya ayahnya dan ayahnya ngaku kalau pernah korupsi. Habis itu, ayah temannya nggak korupsi lagi,” tuturnya sambil tersenyum bangga. (*)

Berbuah Berkah
Berlaku jujur dan lurus memang tidak mudah. Bagaikan menyeberangi sungai penuh buaya dengan titian sebatang bambu. Nanik paham Naniek Yuniatibetul akan hal itu. Anak-anaknya sempat sengsara ketika dia mulai mengungkap penyimpangan di DKP. Selama empat bulan, anak-anaknya menunggak pembayaran SPP. Tak ada cara lain bagi Naniek kecuali mengadu kepada Tuhan
“Saya selalu minta sama Allah. Ya Allah, dunia dan akhirat ini milikmu. Saya tidak punya niatan duniawi kecuali melaksanakan amanatmu. Kalau memang Engkau punyaku, berikan kemudahan hidup padaku,” paparnya.

Tuhan memang Maha Adil. Pintu rezeki untuk Naniek dibuka dari pintu yang tak terduga. Semenjak kasusnya mencuat, rumah Naniek dipadati orang-orang yang hendak berkonsultasi soal masalah hukum yang dihadapinya. “Mereka datang sendiri tanpa saya memasang iklan. Saya juga belum punya surat beracara. Ditopang dari situ dan akhirnya bisa diatasi,” katanya keheranan.
“Ada orang yang dipenjara. Setelah saya pelajari dakwaannya dan saya beri arahan, ternyata alhamdulillah bisa bebas. Datang lagi orang yang konsultasi masalah tanah, bisa gol,” sambungnya

Ia meyakini ini semua adalah kehendak Allah. Dari rezeki tak terduga itu ditambah rezeki suaminya yang wiraswastawan, anak-anak Naniek bisa ikut les Bahasa Inggris. Dia juga bisa membagi-bagi nasi bungkus setiap pekan untuk tukang becak dan gelandangan di sejumlah kawasan
“Saya yakin dengan uang sengsara ini, anak saya bisa mengangkat derajat saya.”
Naniek pun tak ambil pusing walau masih tinggal di rumah orangtuanya.
“PNS yang asli itu tidak punya rumah. Kalau punya itu nyicil. Kalau PNS rumahnya 3 sampai 4, itu pasti korupsi,” tandasnya
Kontak vertikalnya dengan Sang Pencipta di malam hari membuat Naniek makin yakin akan perlindungan-Nya.
“Saya yakin Allah tidak akan membiarkan umatnya yang menyuarakan kebenaran. Allah akan melindungi,” tegas Naniek.

Kecuali kepada Allah, Naniek mengaku tidak takut kepada siapapun dan apapun. “Saya nggak akan takut kepada pemimpin, teror dan ancaman-ancaman apapun,” ucapnya mantap.
Meski begitu, ia selalu berdoa meminta agar pemimpin-pemimpin Jatim dan Indonesia diingatkan akan kejahatan terhadap bangsanya sendiri. Harapannya, agar mereka segera bertobat dan minta ampun kepada Tuhan.
“Supaya tidak serakah lagi terhadap uang negara,” pungkasnya. (22 Januari 2008)

*) Atas izin Allah, tulisan yang diikutsertakan dalam Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 lolos sebagai finalis bidang hukum kategori humaniora.

6 responses to this post.

  1. mantab………..

    mas dicari bu nanik

  2. mantap juga buat dwi. ada apa nih bu nanik cari saya, jadi penasaran.

  3. Posted by slh satu pns pemprov jatim on Januari 15, 2012 at 8:13 pm

    anti korupsi……… bagus. tapi jika kita baca berita di atas; 1,5 tahun tidak ngantor apa bukan korupsi juga (gaji buta). apa gajinya tdk diambil??? jika ingin bersih jangan jadi pns, anda berhenti saja. atau jaga diri hanya menerima gaji dan sumber yang halal saja. Btw takutnya kena sendiri; “maling teriak maling”. semoga tidak
    (Hanya dia dan Alloh yang tahu)

  4. pak nn, tanpa bermaksud memihak bu nanik, apa yang menimpa bu nanik adalah konsekuensi dari pilihan sikapnya untuk bersuara atas penyimpangan yang terjadi di instansinya. kalau situasi serupa menimpa anda, apakah anda masih merasa nyaman dan betah bekerja di kantor ? bu nanik tidak bersegera mengundurkan diri ketika itu karena kasusnya masih dalam proses penyidikan polisi. idealnya memang begitu pak nn, hanya menerima dari sumber yang sudah jelas halal. wallahualam bishawab.

  5. Posted by Dwi on Oktober 14, 2013 at 3:26 am

    mas boleh minta email mas subchan?

  6. boleh, saya tunggu di msubhan2003@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: