SOS Buta Aksara Jatim

Warga buta aksara di sebuah desa di Madura tengah mengikuti pendidikan keaksaraan fungsional (Dok. BPPNFFI Reg 4 Sby)

Warga buta aksara di sebuah desa di Kenjeran, Surabaya tengah mengikuti pendidikan keaksaraan fungsional (Dok. BPPNFI Reg 4 Sby)

Oleh: M Subchan Sholeh*

Tak terasa, dunia kembali memperingati Hari Aksara Internasional (HAI) pada 8 September lalu. HAI ditetapkan sebagai agenda dunia mulai 8 September 1965 melalui Sidang Unesco. Di tahun 2008, peringatan HAI menginjak tahun ke-43. Di Indonesia, peringatan itu dipusatkan di Denpasar, Bali.

Sampai tahun 2008, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mencatat jumlah penduduk buta aksara tinggal 10,1 juta orang. Angka ini menurun drastis 1,7 juta orang dibanding pada 2007 yang tercatat 11,8 juta orang. Pada akhir 2009, Depdiknas menargetkan jumlah penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas tinggal 7,7 juta orang.

Dari data Depdiknas, hingga 2007, jumlah buta aksara paling banyak terdapat di Provinsi Jawa Timur (Jatim), yakni 3,3 juta orang, kemudian Jawa Tengah sebanyak 2,25 juta orang. Adapun jumlah buta huruf paling sedikit terdapat di Sulawesi Utara, yakni sebanyak 15.589 orang, disusul DKI Jakarta sebanyak 69.822 orang.

Fakta ini tentu memprihatinkan. Soalnya, untuk kesekian kalinya, Jatim kembali menempati peringkat teratas dalam hal tuna aksara. Tak pelak, kondisi ini menempatkan Jatim dalam gawat darurat keaksaraan. Sebab, buta aksara lekat dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan serta ketidakberdayaan suatu masyarakat.

Persoalan buta aksara di Jatim makin pelik tatkala melihat komposisi penyandang buta aksara. Data BPS tahun 2006 menyebutkan sebagian besar penyandang buta aksara di Jatim adalah mereka yang berusia di atas 65 tahun. Jumlahnya mencapai sekitar 75 % dari total penyandang buta aksara. Mereka paling banyak berada di Kabupaten Malang, Probolinggo, Jember, Sumenep, Sampang, dan Pamekasan.

Tantangan terbesar mengentaskan penduduk buta aksara pada kategori usia ini adalah domisili mereka yang banyak berada di daerah terpencil, berasal dari keluarga miskin, dan rendahnya motivasi belajar. Depdiknas memahami betul kondisi ini dengan membuat beragam program khusus untuk melayani mereka. Ini juga demi mewujudkan Inpres No. 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara. Inpres ini berisi perintah presiden kepada menteri terkait, gubernur sampai bupati/walikota untuk menurunkan jumlah penduduk buta aksara hingga tinggal 5 % di tahun 2009.

Program khusus Depdiknas itu antara lain, memakai bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pembelajaran pendidikan keaksaraan, serta membuat berbagai metode pengajaran untuk beragam kelompok penduduk buta aksara seperti di kawasan pesisir, hutan, transmigrasi, kepulauan dan lainnya. Program lain yang tak kalah penting adalah penerapan pendidikan keaksaraan fungsional yang berbasis pada kebutuhan hidup mereka. Keaksaraan fungsional adalah pemberantasan buta aksara melalui pelatihan keahlian. Seperti, pelatihan memasak, menjahit, kerajinan tempe, buah, dan sejenisnya. Dengan model ini, pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diberikan secara langsung tapi disisipkan dalam pelatihan.

Aneka program pemberantasan buta aksara ini telah dan terus dilaksanakan oleh Depdiknas melalui unit pelaksana teknis (UPT) seperti Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (BPPNFI) di tingkat regional atau provinsi serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di tingkat kabupaten/kota. Bahu-membahu dengan Dinas Pendidikan di level provinsi sampai kabupaten/kota, perguruan tinggi, serta organisasi kemasyarakatan semacam NU, Muhammadiyah, dan PKK.

Meski begitu, hasilnya belum terlalu menggembirakan. Pasalnya, dalam kurun 2003-2007, jumlah penduduk buta aksara di Jatim hanya turun sekitar 3 %. Dari 16,8 % di tahun 2003 menjadi 13,9 % di tahun 2007. Persoalan utamanya adalah belum satunya gerak antara pusat dan daerah dalam menyikapi persoalan ini. Presiden memang telah serius namun tidak semua pemimpin daerah bersikap serupa.

Di Jatim, baru Bupati Bondowoso yang terlihat serius memberantas buta huruf. Lewat kekuasaan yang dimiliki, bupati memerintahkan seluruh camat dan kepala desa untuk memberantas buta huruf sambil memberikan sejumlah dana. Camat dan kepala desa yang gagal akan diberi sanksi. Hasilnya pun terlihat efektif. Bondowoso sekarang bukan lagi kantong buta aksara.

Bupati/walikota yang masih memiliki penduduk buta aksara seharusnya memiliki sikap serupa. Masalah buta aksara harus dipandang sebagai persoalan genting yang menjadi tolok ukur maju-mundurnya pembangunan manusia di suatu daerah. Ia tak kalah gawatnya dengan persoalan korupsi yang sistemik di negeri ini. Pemberantasan buta aksara memang bukan pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Namun, ini juga bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.

Tengoklah cerita sukses Kuba. Kurang dari setahun setelah memegang tampuk kekuasaan pada 1959, pemimpin Kuba, Fidel Castro langsung melakukan gerakan pemberantasan buta aksara. Castro merekrut 120.000 guru yang bekerja secara sukarela. Sebagian besar di antaranya merupakan pelajar SMA. Para guru sukarela itu disebar ke seluruh negeri untuk mengajar penduduk membaca, menulis dan berhitung. Castro paham betul bahwa masa depan bangsanya ditentukan oleh kualitas SDM yang terdidik baik.

Tahun 2004, UNDP mencatat tingkat melek aksara penduduk usia 15 tahun ke atas di Kuba mencapai 99,8 persen. Dunia mengakui efektivitas kebijakan Castro dalam memberantas buta aksara. Tak heran, metode Castro ini menginspirasi banyak negara di kawasan Amerika Latin, Asia dan Afrika untuk menerapkan hal serupa dalam memberantas buta aksara. Castro berhasil menekan angka buta aksara lewat kepemimpinan yang kuat dan political will yang jelas. Prinsip ini layak diterapkan oleh para pemimpin daerah yang masih memiliki penduduk buta aksara. Semua ini demi mewujudkan Jatim sebagai provinsi bebas buta aksara.

*Penulis adalah Staf Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BPPNFI) Regional IV Surabaya

4 responses to this post.

  1. Posted by im on Juni 12, 2009 at 12:00 pm

    Siiip Pak A’an, moga juga bisa ikut terjun langsung dalam usaha mengurangi jumlah penduduk yg buta aksara di Indonesia (atau sudah ya??)

    Maaf, sekalian komen utk fotonya nih, kayaknya infonya salah, hehe, itu bukan di Madura tapi di daerah Kenjeran Surabaya, dalam rangka pembuatan dokmentasi elektronik pengembangan model KF melalui bahasa ibu.
    Jadi komen soale ada aq di situ ^_^

  2. arigato gozaimas mbak im. teks potonya segera dibetulkan soalnya ada poto panjenengan disitu hehehe…. pas ngambil poto ini, nggak ada yang tau lokasinya, saya asal nebak aja, eh keliru. untuk itu, saya mohon maap ya bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian.

  3. Posted by ningmahayu on Juni 29, 2011 at 9:30 pm

    halo mas,kebetulan saya sedang menggalakan progran pemberantasan buta huruf khususnya untuk anak perempuan, bisa minta emailnya mas?biar kalo saya kebetulan mau mengadakan project di jawa timur bisa tanya2. itu juga kalo masnya berkenan =), terima kasih mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: