Putus Sekolah Bukan Kiamat

Proses belajar mengajar siswa Kejar Paket di Surabaya (Dok. BPPNFI Reg. 4 Sby)
Proses belajar mengajar siswa Kejar Paket di Surabaya (Dok. BPPNFI Reg. 4 Sby)

Oleh: M Subchan Sholeh*

Gemerlapnya Surabaya sebagai kota metropolitan dengan aneka fasilitas ternyata tak berbanding lurus dengan meratanya akses pendidikan. Indikasinya, jumlah anak putus sekolah di Kota Pahlawan masih cukup tinggi. Ironisnya, ini terjadi di hampir seluruh jenjang pendidikan. Angka terbanyak usia putus sekolah berada di kisaran usia 7-12 tahun atau usia siswa SD. Surabaya Utara menempati posisi tertinggi dengan jumlah 3.429 anak. Peringkat berikutnya Surabaya Timur (1.958 anak), Surabaya Pusat (1.829 anak), Surabaya Selatan (1.569 anak) dan Surabaya Barat (894 anak).
Jumlah anak putus sekolah terbanyak berikutnya berada di kisaran usia 16-18 tahun atau tingkat SMA. Paling besar masih di Surabaya utara dengan jumlah 499 anak disusul Surabaya Pusat (277), Surabaya Timur (218), Surabaya Selatan (166) dan Surabaya Barat (118). Jumlah anak putus sekolah paling sedikit berada di kisaran usia 13-15 tahun atau jenjang SMP. Di Surabaya Utara ada 468 anak, Surabaya Pusat (237), Surabaya Timur (204), Surabaya Selatan (182), dan Surabaya Barat (104).

Melihat kondisi ini, Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono menginstruksikan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya memprioritaskan pengentasan anak putus sekolah tersebut. Dispendik pun meminta unit pelaksana teknis dinas (UPTD) mereka di kecamatan untuk jemput bola dan pengurus RT/RW untuk menangani anak putus sekolah. Soalnya, mereka yang mengetahui persis jumlah anak putus sekolah di wilayah masing-masing. Dispendik juga akan menjaring anak-anak jalanan yang putus sekolah untuk mengembalikan mereka ke bangku pendidikan.

Demi penuntasan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) sembilan tahun, pemkot memilih menyekolahkan kembali anak putus sekolah di jenjang SD dan SMP. Ini terlihat dari alokasi anggaran dispendik sebesar Rp 37,6 miliar untuk program ini. Sebanyak Rp 33,8 miliar untuk pengentasan anak putus sekolah jenjang SMP sedangkan sisanya untuk jenjang SD. Saat ini, tengah mendata untuk selanjutnya memasukkan mereka ke sekolah-sekolah negeri sementara yang telah bekerja akan diikutkan program Kelompok Belajar (Kejar) Paket A (7-12 tahun) dan B (13-15 tahun). (Metropolis, 21/7/2008).

Langkah aktif Dispendik ini patut mendapat apresiasi. Sebab, masih banyak anak usia sekolah atau di atas usia sekolah yang tidak mengenyam pendidikan formal atau putus di tengah jalan karena berbagai hal. Mulai kesulitan ekonomi, ketiadaan waktu, hambatan geografis, sosial dan budaya. Sejak tahun 1990-an, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah menyediakan pendidikan alternatif untuk mereka yang kurang beruntung tersebut. Namanya pendidikan kesetaraan. Pendidikan kesetaraan ini ditujukan untuk menunjang penuntasan Wajar Dikdas sembilan tahun serta memperluas akses pendidikan menengah yang menekankan pada ketrampilan fungsional dan kepribadian profesional.

Pendidikan kesetaraan menjadi salah satu program pada jalur pendidikan nonformal yang menggelar pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C. Di lapangan, program ini seringkali mengkombinasikan antara pendidikan aksara dengan pembekalan ketrampilan. Untuk Paket A, pesertanya dibekali keterampilan dasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan Paket B ditujukan memberi bekal ketrampilan untuk memenuhi tuntutan dunia kerja. Adapun keterampilan untuk berwiraswasta diberikan untuk peserta program Paket C. Pendidikan kesetaraan ini bisa diselenggarakan oleh semua satuan pendidikan nonformal. Seperti lembaga pelatihan, kursus, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), majelis taklim, dan lainnya.

Proses pengajaran pada pendidikan kesetaraan mensyaratkan keaktifan peserta didik atau biasa disebut warga belajar. Di sini, pengajar yang disebut tutor lebih banyak berperan sebagai pembimbing dan motivator warga belajar daripada guru yang mengajar. Tutor didorong untuk memacu keaktifan warga belajar dalam memahami materi ajar yang tersaji dalam bentuk modul. Untuk memudahkan warga belajar menyerap modul, pembelajaran pada pendidikan kesetaraan dilakukan melalui empat pendekatan. Pendekatan pertama, induktif. Artinya, warga belajar diajak membangun pengetahuan melalui kejadian nyata atau menekankan pada experiential learning (belajar dengan mengalami sendiri). Pendekatan kedua, konstruktif. Pendekatan ini mengakui bahwa semua orang dapat membangun pandangannya sendiri terhadap dunia lewat pengalaman individual dalam menghadapi serta menyelesaikan masalah dalam situasi yang tidak tentu atau ambigu. Pendekatan ketiga adalah tematik. Dari sisi ini, warga belajar didorong untuk mengorganisasikan pengalaman-pengalaman, mendorong terjadinya belajar di luar ruang kelas, mengaktifkan pengalaman belajar, dan menumbuhkan kerjasama antar perserta didik. Pendekatan keempat ialah berbasis lingkungan dan kecakapan hidup. Ini untuk meningkatkan relevansi materi ajar, dan kemanfaatannya bagi warga belajar berdasar potensi dan kebutuhan lokal. Lewat proses demikian maka warga belajar diharapkan mampu menguasai materi ajar untuk selanjutnya mengikuti UNPK dan lulus dengan nilai memuaskan.

Dalam dua tahun terakhir, pendidikan kesetaraan naik daun. Ini seiring kebijakan Depdiknas yang memberi kesempatan siswa SD hingga SMA sederajat yang tidak lulus Unas untuk mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) yang digelar dua kali dalam setahun. Dengan mengikuti UNPK Paket A, B, dan C, para siswa dari pendidikan formal tersebut dapat memiliki ijazah setara sekolah formal SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA yang bisa digunakan untuk mendaftar di sekolah formal dan perguruan tinggi, serta mencari pekerjaan.

Di Jawa Timur, banyak siswa sekolah formal yang memanfaatkan kesempatan ini untuk melanjutkan pendidikannya. Pendidikan kesetaraan pun tak lagi dianggap sebagai pendidikan kelas dua. Status lulusan pendidikan kesetaraan memang telah dijamin sama dengan lulusan pendidikan formal. Surat Edaran (SE) Mendiknas No. 107/MPN/MS/2006 tentang Program Kesetaraan menjadi garansinya.

Dalam SE ini disebutkan bahwa setiap orang yang lulus ujian kesetaraan Paket A, Paket B, atau Paket C memiliki hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang ijazah SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA untuk dapat mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu, SE ini menerangkan bahwa status kelulusan program pendidikan kesetaraan Paket C memiliki hak eligibilitas yang setara dengan pendidikan formal dalam memasuki lapangan kerja. Mendiknas meminta setiap lembaga mematuhi ketentuan ini agar tidak diindikasikan melanggar hak asasi manusia.
Garansi dari Mendiknas ini terbukti manjur.

Di Jawa Timur, cukup banyak lulusan pendidikan kesetaraan Paket C yang mulus melanjutkan studinya ke perguruan tinggi negeri maupun swasta. Bahkan, di Surabaya ada seorang lulusan Paket C yang diterima bekerja dan memegang jabatan penting sekelas manajer operasional di sebuah minimarket. Fenomena serupa juga terjadi di daerah-daerah lain.

Bisa dibayangkan seperti apa nasib mereka yang tak mampu mengakses pendidikan formal jika tidak ada pendidikan kesetaraan. Mereka akan terpuruk selamanya dalam kebodohan dan keterbelakangan. Pendidikan kesetaraan telah menjadi lentera dalam kegelapan bagi mereka. Jadi, putus sekolah bukan kiamat. Ia tidak boleh disikapi dengan berpangku tangan dan pasrah pada nasib. Semangat belajar harus tetap membara sebab solusinya telah tersedia melalui pendidikan kesetaraan.

*Penulis adalah staf Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BPPNFI) Regional IV Surabaya

Opini Metropolis Jawa Pos, 5 Agt 2008

2 responses to this post.

  1. […] See original here: Putus Sekolah Bukan Kiamat « AyahAan's Blog […]

  2. Posted by ADE LAILATUL SAPUTRA on Desember 12, 2012 at 9:43 pm

    tempatnya dimana …. ??? ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: