Pohonku Sayang, Pohonku Malang

Badan Antariksa AS (NASA) tengah memprogramkan penghijauan di Planet Mars. Satu bukti bahwa bumi tidak mampu menyediakan udara segar bagi manusia. Surabaya termasuk salah satu wilayah di belahan Bumi ini yang tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan oksigen warganya. Jumlah pohon dan ruang terbuka hijaunya tidak memadai. Lalu, haruskah kita berbondong-bondong menanam pohon di Planet Mars?

Aneka reklame yang dipaku di pohon seenaknya. (Dok. Tunas Hijau)

Aneka reklame yang dipaku di pohon seenaknya. (Dok. Klub Tunas Hijau)

Oleh : M Subchan Sholeh

Tukang Talang Jumari 5357xxx, Cari Play Station Rusak-Normal 7049xxxx Dicky Rent A Car, Disewakan Ngagel Tmr II LT 160 Full/Renov. Ini bukan promosi biasa. Empat iklan ini tertera di papan seng dan triplek yang tertancap di sebuah pohon di Jl Ngagel Timur, Surabaya. Di wilayah ini, ada 10 pohon yang dipaku berbagai reklame. Ini belum di wilayah lain. Tengok hasil pendataan 14 anggota Klub Tunas Hijau (KTH) pada 15-22 Mei 2005 lalu di jalan-jalan utama di enam wilayah Surabaya. Pohon yang mereka hitung adalah pohon yang berdiameter 10 sentimeter. Pohon yang baru ditanam tidak dihitung. Penelusuran mereka mulai pagi hingga malam mencatat 9.503 pohon “teraniaya”.

Mulai yang ditebang seenaknya, dibakar, hingga dijadikan tempat memasang reklame liar. Mayoritas disalahgunakan untuk memasang iklan. Rinciannya, di Surabaya Barat terdapat 1.523 pohon dijadikan sebagai tempat memajang reklame, 457 pohon dibakar, dan 301 pohon ditebang.

Di Surabaya Pusat, 1.968 pohon dipakai untuk memasang iklan, 338 pohon dibakar, 466 pohon ditebang, dan 77 pohon digunakan untuk peneduh warung atau rumah. untuk hal lain. Untuk wilayah Surabaya Timur 1.315 pohon untuk tempat iklan, Surabaya Selatan 917 pohon untuk iklan, di Karang Pilang 1.389 pohon untuk iklan dan Surabaya Utara 752 pohon iklan.

Jumlah ini hanya di jalan raya dan jalur utama saja. Jalan-jalan di kampung belum kami hitung,” papar Aditya Firmansyah, aktivis KTH. Menurut hasil pengamatan kasar KTH, pohon yang digunakan sarana beriklan lebih dari 10 ribu pohon.

Berselang sebulan, aktivis KTH kembali beraksi dengan menggelar “Operasi Cabut Paku Pada Pohon” . Mereka gerah melihat ratusan batang pohon ditancapi papan reklame pasangan calon walikota (cawali)-calon wakil walikota (cawawali) dalam Pilkada Surabaya. Pada 24 Juni 2005 dinihari, tepat saat akhir masa kampanye, 20 aktivis KTH turun ke Jl Darmo depan BCA hingga depan Masjid Al Falah. Sejumlah peralatan seperti linggis, tang, dan kayu mereka bawa. Dalam aksi di dua sisi jalan utama itu, 200 papan reklame mereka copot dari pohon.

Operasi serupa kembali digelar KTH pada bulan Januari-Februari 2006. Selama kurun waktu itu, lima kali aktivis KTH melakukan operasi ini. Mereka bahkan sempat menemukan satu pohon yang ditancapi lebih dari 40 paku. Dalam tiap operasi, mereka rata-rata mengumpulkan satu bak paku. Rata-rata panjang paku mencapai 15 sentimeter.

Setidaknya, ada sekitar 200 pohon yang telah dioperasi.

Padahal masih ada 16 ribu pohon yang bernasib sama. Makanya, kami berharap masyarakat merespon aksi ini dengan beramai-ramai mencabut paku. Tidak hanya mengecat jalan atau menanam pohon,” ujar M Zamroni, Presiden KTH.

Zamroni mengatakan, kebiasaan masyarakat memasang paku di pohon dengan dalih memasang iklan sesungguhnya merugikan

”Jika sudah tertancap paku, maka bagian pohon yang tertancap itu menjadi berlubang dan sebagian selnya rusak karena karat paku. Kalau sudah begini, rayap dengan mudah menggerogoti hingga akhirnya pohon keropos,” urainya.

Situasi seperti ini membuat usia pohon kian pendek karena keropos dan akhirnya tumbang. Akibatnya, jumlah pohon di Surabaya makin sedikit.

Di tahun 2007, KTH berencana melakukan pendataan pada bulan Mei mendatang untuk mengetahui kondisi ternaru pepohonan di Surabaya.

Aksi perusakan terhadap pohon ini sebenarnya telah diketahui Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya Tri Rismaharini. Namun, ia tak berdaya menghadapi masifnya perusakan pohon di seluruh wilayah kota.

Saya nggak mungkin ngawasi semua pohon di Surabaya yang jumlahnya puluhan ribu. Tenaganya nggak ada. Tapi, bukan berarti kami cuek,” sergahnya.

Ia menegaskan, DKP rutin melakukan pencabutan paku di pohon tiap hari Selasa dan Jumat dengan mengerahkan 300 pegawai DKP. Bukan hanya itu, pihaknya juga kerapkali menggelar operasi dini hari untuk menangkap pelaku perusakan pohon. Risma, panggilan akrab Tri Rismaharini, mengklaim tak sedikit pelaku berhasil ditangkap dan disidang atas tindak pidana ringan di PN Surabaya. Ia mengungkapkan, efek tindakan tegas ini cukup terasa. Belakangan, aksi pemakuan pohon dan perusakan lainnya tidak banyak terjadi di pusat-pusat kota. Namun, bukan berarti pelakunya sudah insaf. Sebaliknya, Risma menyampaikan, pelaku mulai bergeser ke kawasan pinggiran kota yang jauh dari pengamatan petugas DKP.

“Hanya di Surabaya ini lho, perawatan pohon termasuk mencabut paku. Di luar negeri, perawatan pohon hanya seputar menyirami dan memupuk,” cetusnya.

Problem lain menurut Zamroni adalah terbatasnya ruang gerak pohon. Akar terdesak trotoar sedang batang pohon terhalang kabel listrik dan telepon sehingga tak dapat berkembang maksimal.

Untuk yang satu ini, Risma berpendapat, sudah saatnya kota ini mulai memikirkan menempatkan semua utilitas kota di bawah tanah. Misalnya, pipa air, gas, kabel listrik, dan telepon. Ini semua untuk memberi ruang gerak optimal bagi perkembangan pohon.

Namun, sampai kondisi ideal ini tercapai, ia memilih strategi lain. Caranya memilih tanaman dengan akar tunggang yang tidak merusak konstruksi trotoar. Ini khusus di pusat kota.

“Semua harus memahami bahwa pohon adalah kebutuhan vital tiap kota karena perannya sebagai penghasil oksigen. Jangan lagi menyiksa pohon kalau kita tidak ingin generasi mendatang jadi idiot gara-gara kekurangan oksigen,” tukasnya.

Pulau Panas

Pohon yang rindang dan lebat dapat membantu mendinginkan udara (Dok. homearcor.de)

Pohon yang rindang dan lebat dapat membantu mendinginkan udara (Dok. homearcor.de)

Daerah perkotaan sering mempunyai suhu lebih tinggi 1-60 derajat Celsius dibandingkan daerah pedesaan. Fenomena ini dikenal sebagai ”pulau panas perkotaan” atau Urban Heat Island (UHI). Laras Tursilowati MSi, peneliti Bidang Aplikasi Klimatologi dan Lingkungan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bandung menuturkan, fenomena ini pertama kali ditemukan seorang ahli meteorologi bernama Luke Howard pada tahun 1818.

Pada dasarnya, faktor-faktor penyebab pulau panas ini adalah akibat ulah manusia. Seperti pembuatan jalan, trotoar, tempat parkir dan gedung-gedung yang menutup permukaan tanah sampai 30 persen,” ujarnya dalam situs Lapan.

Di Surabaya, udara juga kian panas. Pada tahun 2001, Surabaya pernah mengalami kenaikan suhu tertinggi di dunia sebanyak satu derajat Celcius. Umumnya, hanya 0,3-0,5 derajat Celcius.

Kian padatnya populasi di kota berdampak pada pembangunan kota yang melaju dengan cepat. Pondasi beton dan jalan beraspal memiliki albedo kecil yang menyerap banyak radiasi matahari ke bumi. Sebaliknya, bahan dengan albedo tinggi akan lebih banyak memantulkan dan akan terasa dingin. Albedo adalah banyaknya cahaya yang dipantulkan permukaan bahan. Permukaan yang tertutup salju akan mempunyai albedo tinggi. Adapun albedo tanah antara rendah sampai tinggi sedang permukaan yang tertutup vegetasi dan lautan mempunyai albedo tinggi.

Permukaan yang gelap dengan albedo rendah seperti aspal akan memperbesar terjadinya fenomena pulau panas. Energi ini akan dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari, dan memanasi langit malam. Pemanasan tambahan dihasilkan dari energi mekanik, listrik dan kimia yang banyak diproduksi di kota. Bahan gelap akan menyerap panas dari matahari lebih banyak dibanding bahan berwarna terang. Jalan dan tempat parkir sering ditutup aspal hitam dan bahan gelap yang menyerap lebih banyak sinar matahari. Energi matahari akan diubah menjadi energi panas sehingga pelataran (pavement) menjadi panas serta memanaskan udara sekitar. Secara langsung, ini memperbesar efek pulau panas. Semakin ke pusat kota, suhu akan semakin tinggi, dan semakin ke pedesaan akan semakin rendah karena masih banyak pepohonan.

Bagi Laras, pulau panas akan memicu banyaknya perubahan dalam ekonomi komunitas dan iklim meteorologi. Antara lain, suhu tinggi, perubahan pola cuaca, polusi meningkat, kualitas udara berkurang, masalah kesehatan, dan pemanasan global. Pada akhirnya akan berdampak pada perubahan iklim. Ini semua, menurut dia merupakan ancaman serius bagi makhluk hidup. Apa sebabnya? Satu jawaban paling tepat adalah sedikitnya pepohonan, semak belukar, dan tanaman lain yang berfungsi menaungi bangunan, menahan radiasi matahari, serta mendinginkan udara dengan evapotranspirasi.

Penanaman pohon dan tanaman sesungguhnya dapat membantu mengurangi suhu yang tinggi, serta membuat kota lebih sejuk dan hijau. Evapotranspirasi terjadi ketika tanaman mengeluarkan uap air lewat pori-pori daun layaknya manusia mengeluarkan keringat. Uap air yang keluar ini akan mendinginkan udara. Pohon dengan ketinggian 9 meter dapat berevapotranspirasi sampai 150 liter air per hari. Angka ini ternyata bisa mengurangi panas yang dihasilkan pemanas listrik selama empat jam. Di samping itu, pohon juga berfungsi menyerap suara, menahan erosi, mengurangi kecepatan angin, menyaring polutan berbahaya, sekaligus menjadi habitat binatang. Ketika daratan tertutup tanaman atau tanah mengandung air, maka panas matahari akan terserap pada siang hari. Lantas, secara cepat panas itu terlepas kembali ke udara lewat evaporasi dan transpirasi tanaman. Lebih banyak gas oksigen yang dihasilkan tanaman di dalam kota akan menyejukkan udara sekitarnya.

Presiden Klub Tunas Hijau M Zamroni sependapat. Bagi dia, pohon memang menjadi satu-satunya andalan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dikatakan, idealnya setiap manusia membutuhkan pasokan oksigen dari empat pohon per hari.

“Surabaya dengan jumlah penduduk 3 juta seharusnya memiliki 12 juta pohon untuk mencukupi kebutuhan oksigen warganya,” ujar Zamroni.

Pakar Hukum Lingkungan Unair, Suparto Wijoyo, menyebutkan, bahwa Surabaya seharusnya memiliki RTH seluas 3.500 ha, baik yang dikelola pemkot maupun swasta. Sekitar 10% dari total luas Surabaya. Menurut Suparto, ini diatur dalam PP No. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota.

“Tapi, sayangnya kota ini lebih banyak membangun papan reklame. Ini semua karena koordinasi antar dinas belum terpadu. Dinas Kebersihan dan Pertamanan gencar menanam pohon, sementara Dinas Tata Kota juga aktif membangun papan-papan reklame,” gusarnya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya Tri Rismaharini memang mengakui jika jumlah pohon atau lebih luas pada jumlah ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya masih minim. Dari data DKP diketahui bahwa hingga akhir tahun 2006 hanya terdapat 269,29 hektar (ha) RTH. Sekitar 0,83 % dari total luas Surabaya.

“Ini hanya daftar RTH yang dikelola langsung DKP. Tidak termasuk yang dikelola dinas lain dan swasta,” kata Risma. Ini juga belum termasuk jumlah pohon yang ditanam warga sejak program satu jiwa satu pohon dicanangkan mulai tahun 2006 untuk setiap kelahiran dan perpindahan penduduk.

RTH yang dikelola DKP terdiri dari taman bermain seluas 10,86 ha, lapangan olahraga seluas 33,68 ha, taman dan jalur hijau seluas 65,80 ha serta permakaman seluas 156,53 ha.

Meski begitu, Risma menyebutkan, dalam Raperda RTRW Surabaya tahun 2006-2025, pemkot telah mengajukan peruntukan ruang terbuka hijau seluaas 15% dari total luas wilayah. Artinya, ada sekitar 4.895,7 ha wilayah harus dimanfaatkan untuk RTH. Pencapaiannya diupayakan bertahap hingga tahun 2013. Namun, pemkot telah mengupayakan peningkatan RTH dengan mengembalikan fungsi 12 SPBU di jalur hijau seluas 1,41 ha di tahun 2006. Untuk tahun 2007, DKP menargetkan menambah 8 ha RTH.

Ia mengaku, pencapaian bertahap ini berkaca pada sulitnya mencari lahan kosong di kota besar seperti Surabaya.

“Iya kalau kabupaten wilayahnya masih luas. Saya sekarang hanya mencoba mengoptimalkan yang bisa saya lakukan dengan segala keterbatasan yang saya hadapi,” lanjutnya. Bagi dia, ini lebih masuk akal dibanding meningkatkan jumlah pohon dan RTH secara drastis tapi tidak diimbangi dengan perawatan memadai. Risma sendiri mengaku berkejaran dengan waktu dalam menanam pohon. Ada pohon yang sudah tua sementara pohon penggantinya baru ditanam dan butuh waktu untuk tumbuh.

Suparto menilai positif upaya penambahan luasan RTH. Bagi dia, langkah ini akan jauh lebih efektif jika didukung revitalisasi kawasan yang diatur dalam RTRW. Usaha revitalisasi kawasan sangat diperlukan mengingat Surabaya kekurangan RTH. Suparto membayangkan nantinya akan muncul green building dimana dari tiap luas wilayah, 10 persen di dalamnya dialokasikan untuk RTH. Pada gilirannya, upaya ini akan mendorong terciptanya kota hijau (green city).

Ia juga berharap program satu jiwa satu pohon tetap diteruskan. Staf ahli Kementerian Lingkungan Hidup ini menilai program ini memiliki peran ganda yang saling mendukung. Yakni pelestarian lingkungan dengan penambahan jumlah pohon serta penekanan pertambahan jumlah penduduk.

Karena ada kewajiban menyumbang pohon, sekarang orang pasti mikir-mikir kalau ingin punya anak banyak,” tukasnya sambil tertawa. (*)

Malang nian nasib pohon ini. Tubuhnya ditancapi puluhan tutup botol. (Dok. Tunas Hijau)

Malang nian nasib pohon ini. Tubuhnya ditancapi puluhan tutup botol. (Dok. Klub Tunas Hijau)

Saatnya Bertindak Tegas

Upaya pemerintah maupun masyarakat dalam mempertahankan kondisi lingkungan perlu dilengkapi dengan alat pemaksa, berupa peraturan daerah (Perda). Dengan langkah hukum ini, upaya menangani lingkungan akan lebih serius. Ketegasan menegakkan aturan diyakini dapat menambah jumlah pohon dan luasan RTH di Surabaya. Sebaliknya, kelemahan menegakkan aturan akan makin meminggirkan keberadaan pepohonan dan RTH serta pada saat yang sama menjadikan Surabaya sebagai hutan beton. Jawabannya tergantung pada kemauan politik Pemkot Surabaya.

Bagi pakar Hukum Lingkungan Universitas Airlangga (Unair), Suparto Wijoyo, penegakan hukum lingkungan menjadi satu-satunya cara menghentikan masifnya perusakan pohon di Surabaya.

Sesungguhnya kota ini telah memiliki sederet aturan seputar konservasi lingkungan.

Sebut saja Perda Nomor 6 Tahun 2004 tentang Perlindungan, Pengendalian Serta Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa; Perda Nomor 7 Tahun 2002 tentang Pengelolaan RTH, serta Perda Nomor 8 Tahun 2006 tentang Reklame.

Perda 7/2002 menetapkan seluruh bangunan kantor, hotel, industri atau pabrik, pusat perdagangan, dan bangunan lainnya harus memiliki RTH.

Dalam pasal 6 disebutkan bahwa bangunan di atas tanah seluas 120 meter persegi (m2) hingga 240 m2 wajib ditanami minimal 1 pohon pelindung, perdu dan semak hias, serta penutup tanah berupa rumput atau tanaman lain. Adapun kapling tanah seluas 240 m2 harus ditanami tiga pohon pelindung berikut perdu, semak hias, dan rerumputan penutup tanah. Jika tidak, Pemkot Surabaya akan memberlakukan sanksi pidana kurungan maksimal enam bulan atau denda maksimal Rp 5 juta. Lalu, di pasal 6 Perda 6/2004 disebutkan bahwa setiap orang atau badan dilarang mengambil, merusak,

memusnahkan dan memperdagangkan tumbuhan tertentu yang dilindungi dan atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. Sanksi yang diterapkan sama dengan Perda 7/2002. Begitu juga dengan Perda 8/2006 yang melarang pemasangan reklame di pohon. Namun, sayangnya, penegakan perda dan sanksinya masih jauh panggang dari api.

“Garda terdepan dalam penegakan hukum lingkungan adalah pemkot. Pertanyaannya sekarang sudahkan mereka berorientasi konservasi dan menegakkan hukum lingkungan,” tegas Suparto.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya Tri Rismaharini menolak jika disebut lemah menegakkan aturan. Meski tak memiliki datanya, ia mengklaim, sudah banyak pelaku perusakan pohon yang ditangkap dan didenda.

Begitu juga dalam penegakan Perda RTH. Ia mengungkapkan, Walikota Surabaya Bambang DH sudah beberapa kali mengingatkan pemilik tempat usaha untuk mematuhi ketentuan penanaman pohon di tempat usaha masing-masing.

“Bahkan walikota mengancam akan mencabut IMB-nya, kalau mereka membandel,” ujar Risma, panggilan akrab Tri Rismaharini.

Tempat usaha yang tidak segera menanam pohon selalu diberi surat peringatan (SP) satu sampai dua oleh Dinas Tata Kota dan Permukiman. Biasanya, setelah mendapat SP pemilik tempat usaha ketakutan. Selanjutnya, mereka langsung menanam pohon di tempat usahanya.

“Selama ini upaya persuasif ini cukup efektif menindak pemilik tempat usaha yang malas-malasan menanam pohon di lingkungannya. Belum ada yang membandel sampai harus diberi SP 3,” ujarnya.

Dalam benak Risma, ada hal yang tak kalah penting dari penegakan hukum yakni membangun kesadaran masyarakat untuk memahami arti penting pohon bagi kota.

Ia mencontohkan para pelaku pemakuan pohon yang berhasil ditangkap saat beraksi pada malam hari.

“Kalau dia pasang malam sebenarnya itu menunjukkan kalau dia sudah tahu perbuatannya itu dilarang. Makanya, dia tidak pasang iklan di pohon siang hari karena pasti ketahuan dan ditangkap,” ujarnya

Sama halnya dengan keengganan pemilik tempat usaha menanam pohon sebelum diberi SP. Diakui Risma, upaya membangun kesadaran ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu lama dan ketekunan untuk menyebarluaskan informasi tentang vitalnya keberadaan pepohonan bagi kelangsungan kehidupan warga kota. (13 Januari 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: