Perjuangkan Kesetaraan, Dituduh Penghasut Perempuan

Sekolah Mandala milik Yuliana Susilo, ibunda Soe Tjen Marching

Soe Tjen Marching, Arek Suroboyo Berprestasi (2-Habis)

Persamaan hak pria-wanita di Indonesia. Itulah obsesi terbesar Soe Tjen Marching. Ia hendak merintisnya dengan mengajarkan kesetaraan pria-wanita sejak dini melalui sekolah. Ia mengawalinya di Sekolah Mandala yang menaungi sebuah TK dan SD yang dikelola sang ibu.

Oleh : M Subchan Sholeh

Cinderella, Snow White, lalu Beauty and The Beast. Siapa yang tak tahu dongeng anak-anak dari Barat yang melegenda ini. Bahkan, filmnya telah dibuat dalam berbagai versi. Dua yang disebut pertama bercerita lika-liku seorang putri cantik menemukan tambatan hatinya yang gagah dan tampan. Dongeng terakhir paling sensasional karena mengisahkan percintaan seorang putri cantik dengan serigala buruk rupa. Sampai sekarang, tiga dongeng anak-anak ini tak kehilangan penggemarnya dari berbagai usia.

Lain halnya untuk Soe Tjen Marching. Bagi dia, ketiga dongeng ini menyesatkan. Ia kesal dengan gambaran dalam tiga dongeng itu bahwa perempuan cantik selalu bahagia karena diperebutkan pria.

Lha, kalau perempuan jelek kok jadi nenek sihir, ibu tiri, atau saudara tiri. Kok apes benar jadi perempuan jelek. Ini yang harus kita pertanyakan. Kenapa hanya yang cantik saja yang bahagia? Bagaimana kalau dibalik, perempuan jelek jadi tokoh baik dan yang cantik jadi tokoh jahat,” tukasnya.

Ia menghimbau orangtua agar melihat secara kritis cerita-cerita anak seperti ini agar anak tidak mendapat pemahaman keliru. Belum lagi soal akhir tiga dongeng yang bertepatan saat tokoh perempuannya menikah.

“Kok bisa habis menikah, bahagia, terus selesai ceritanya. Padahal, dalam pernikahan itu banyak masalahnya. Banyak juga perempuan yang tidak menikah tapi tetap bahagia,” gusarnya.

Oleh karena itu, ia terus berupaya memperjuangkan persamaan hak pria-wanita dengan menekankan rasa hormat sejak dini. Sebagai penasehat Sekolah Mandala, ia telah merancang kurikulum berbasis kesetaraan untuk TK dan SD di Sekolah Mandala kedua yang baru didirikan ibunya di Ploso Timur XA, Surabaya. “Karena masih baru gampang membentuknya. Kalau di Sekolah Mandala lama di Putro Agung agak susah mengubah secara drastis,” katanya.

Ia telah menginstruksikan guru-guru untuk tidak membedakan perlakuan murid laki-laki dan wanita. Seperti melarang guru menegur murid perempuan yang berbicara kasar dengan alasan dia perempuan.

“Kalau memang dilarang, semua saja yang dilarang. Baik murid laki-laki atau perempuan,” tegasnya.

Termasuk pengenalan peralatan rumah tangga di home corner sekolah yang berlaku untuk murid laki-laki dan perempuan. Selain itu, ia juga meminta agar orangtua murid membangun hubungan seimbang. Agar anak-anak dapat belajar kesetaraan pria-wanita dari hubungan orangtua yang saling menghargai. Ia mencontohkan pembagian beban tugas rumah tangga untuk suami-istri. Menurut dia, beban ini harus dibagi berdua. Agar beban tidak hanya menumpuk di pundak istri.

“Dengan melihat hubungan sejajar ayah dan ibunya, seorang anak perempuan akan terdorong lebih percaya diri karena melihat ibunya lebih dihargai ayahnya dan anak laki-laki terdidik tidak menindas perempuan. Itu sebabnya, kesetaraan gender harus diajarkan sejak dini di sekolah maupun di rumah,” jelasnya sambil meneguk segelas air putih di depannya.

Sejauh ini, lanjut dia, relasi suami-istri di Indonesia dalam mengelola rumah tangga masih timpang. Istri yang bekerja masih dibebani tugas mengurus rumah sedang suami hanya bertugas mencari nafkah. Ia menuturkan, banyak wanita yang ditekan suaminya meski dalam hati kecilnya sesungguhnya menolak. Sayangnya, mereka tak tahu bagaimana cara menolak sehingga lebih memilih diam agar tidak bertengkar dengan suami.

“Pernah saya ceramah, ada yang bilang saya penghasut perempuan untuk memusuhi laki-laki. Justru nggak, saya tegaskan bahwa saya sama sekali tidak ingin menghasut, provokasi atau apapun namanya. Apa untungnya saya melakukan itu,” sergahnya.

Sambil membetulkan posisi duduknya, ia menyatakan bahwa dirinya berbuat begini karena memikirkan nasib perempuan Indonesia. Ia meyakinkan jika hubungan suami-istri yang timpang ibarat api dalam sekam yang bisa membara sewaktu-waktu. Sebaliknya, hubungan seimbang akan melahirkan kebaikan dua pihak.

“Apa tidak senang suami kalau lebih dicintai istrinya, kalau lebih baik, seimbang dan saling mendukung,” ujarnya. Ia lantas mencontohkan hubungan seimbang dirinya dengan sang suami karena ide-ide dan aktivitasnya sebagai feminis sangat dihargai.

“Suami malah bangga saya feminis dan saya kira kalau saya nggak feminis, dia nggak akan nikah dengan saya. Saya juga begitu, kalau dia nggak menghargai saya sebagai feminis, saya juga nggak akan nikah dengan dia ha…ha…ha,” cetusnya.

Bahkan, pernikahannya tanpa didahului proses lamaran sang suami, Angus Nicholls. Soe Tjen mengaku, dirinya dan Angus hanya berdiskusi soal kelanjutan hubungan kasih mereka selepas studi doktoral.

“Ya ngomong-ngomong saja, bagaimana ini enaknya dan saya lebih suka begitu. Jadi keputusannya berdua. Bukan hanya keputusan dia untuk menikahi saya,” ungkapnya.

Walau telah menjadi feminis, tak banyak yang tahu bahwa masa kecil Soe Tjen dilalui dengan didikan ayahnya (alm) Sugiarto Gunawan yang patriarkis. Dalam ingatannya, ayahnya lebih menganggap penting anak laki-laki dibanding anak wanita. Di sisi lain, ujar dia, sang ayah juga memiliki sedikit sikap egaliter. Ayahnya sangat mendorong putri-putrinya belajar setinggi mungkin dan ikut bekerja membantu suami.

Di sisi lain, Soe Tjen juga manusia biasa. Walau lama tinggal dan bekerja di negeri orang, rasa kangen terhadap Surabaya tetap muncul. Ia selalu berusaha pulang kampung minimal setahun sekali. Namun, usai menikah tahun 2002, ia baru kembali lagi ke Surabaya pada bulan Desember 2006. Ini karena ia sempat terserang kanker tiroid dan harus menjalani serangkaian pengobatan. Selain untuk membagi pengalaman soal kesetaraan, ia juga kangen dengan teman-temannya. Apalagi makanan khas Surabaya, semanggi.

“Sekarang susah carinya. Saking pinginnya, saya coba cegat di luar rumah tapi nggak ada yang lewat. Akhirnya, saya titip teman,” tuturnya. Ia heran dengan menghilangnya penjual semanggi dibanding penjual jajanan Barat semacam hamburger, dan hotdog. “Padahal, itu (hamburger dan hotdog) makanan nggak sehat. Beda dengan semanggi, murah dan menyehatkan,” tandas perempuan yang juga penggemar nasi campur dan sate ayam ini. (22 Januari 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: