Kuliah Sebulan, Langsung Praktik Suntik

Tergiur janji bekerja di luar negeri setelah lulus, ratusan mahasiswa mendaftar ke Stikes. Tapi, impian itu terancam kandas gara-gara legalitas pendirian Stikes tak jelas. Para mahasiswa kini menuntut Stikes mengembalikan uang mereka yang ditarik saat pendaftaran.

Oleh: M Subchan Sholeh

Menemukan dua kampus Stikes cukup gampang. Lokasinya mudah dijangkau karena berada di pinggir Jalan Medokan Semampir Indah. Di kawasan ini, Stikes menyewa dua gedung untuk menjalankan aktivitasnya. Di Jalan Medokan Semampir Indah 95, Stikes menyewa Gedung SLB C Kumara untuk penyandang tuna grahita sebagai Kampus A.

“Sudah nggak disini lagi mas, kontraknya sudah habis,” kata Dedi, penjaga SLB yang ditemui Selasa (20/3) sore. Sambil terus menyabit rumput di halaman, Dedi menyebutkan sewa gedung itu oleh Stikes itu telah habis tiga bulan lalu.

Meski begitu, susunan keramik bertuliskan “STIKES” ukuran 5 x 2 meter masih terpasang. Spanduk warna kuning berisi informasi lokasi pendaftaran juga masih terpasang di pagar besi yang sudah karatan. Tertulis dalam spanduk, lokasi pendaftaran dipindah ke Kampus B Stikes yang berjarak 300 meter dari Kampus A. Tepatnya di Jalan Medokan Semampir Indah 90. Di sini, Stikes menyewa gedung dua lantai milik Akademi Teknologi Industri Tekstil Surabaya (ATITS) yang lama tak dipakai karena sepi peminat.

Di Kampus B inilah, seluruh kegiatan Stikes dilakukan. Kawasan Medokan Semampir Indah ini memang dikenal sebagai lokasi pendidikan. Suasana yang tenang dan lokasi yang jauh dari pusat kota memang membuat kegiatan belajar-mengajar di kawasan ini sangat kondusif. Ada sejumlah lembaga pendidikan di kawasan ini. Misalnya SMAN 30, SMPN 20, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Urip Sumoharjo (STIEUS), dan Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM).

Sayangnya, wilayah ini selalu banjir saat musim hujan. Tak jarang, ketinggian air sampai selutut. Akibatnya, SMAN 30 dan SMPN 20 kerap meliburkan kegiatan belajar-mengajar jika banjir sudah setinggi itu. Gara-gara sering kebanjiran, aspal di jalan selebar empat meter itu terlihat mengelupas di sana-sini.

Sore itu, aktivitas perkuliahan di Kampus B Stikes sudah selesai. Tidak terlihat mahasiswa dan dosen yang masih beraktivitas di kampus berpagar besi coklat itu. Rumput di depan pagar dibiarkan tumbuh tak beraturan. Di lantai dua gedung terlihat ratusan kursi dan meja kayu bertumpukan tak teratur. Di halaman, tampak Joko, penjaga gedung, sedang sibuk menyapu. “Sudah kosong mas. Buat janji dulu saja kalau mau ketemu rektor,” ujar Joko sambil mengelap keringat di dahinya.

Sebagai bawahan biasa, Joko mengaku tak tahu menahu soal status Stikes yang dipertanyakan mahasiswanya. Sekolah yang belum genap setahun berdiri ini tengah dirundung masalah. Legalitas pendiriannya dipertanyakan para mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam Gerakan Peduli Stikes (GPS). Menurut Ketua GPS Maria Venyta,

Stikes dibuka pada bulan Agustus tahun 2006 dengan tawaran dua program studi yakni S-1 Keperawatan dan D-3 Kebidanan. Promosinya lewat iklan di media cetak dan menyebar brosur. Uniknya, Stikes juga menyebar brosur ke kepala-kepala desa khususnya di wilayah Madura. Bahkan, satu dari tiga tempat pendaftaran dibuka di Madura. Tepatnya di Sekretariat Wilayah Madura dengan alamat Jl. Raya Unijoyo 5, Kamal, Bangkalan. Beberapa mahasiswa terjaring dengan metode ini.

Di antaranya Agus Salim (24) dari Desa Prancak Pasongsongan, Sumenep, dan MB (25), asal Desa Banyu Pelleh, Pamekasan. Dua tempat pendaftaran lainnya ditempatkan di Kampus A dan Kampus B. Syarat administratif pendaftaran sama dengan perguruan tinggi swasta (PTS) lain. Tiap pendaftar wajib membayar uang pendaftaran Rp 150 ribu dan uang tes kesehatan Rp 100 ribu. Materi ujian masuk hanya tes kesehatan, dan wawancara. Dalam pembukaan pendaftaran pada Agustus 2006 (semester satu) dan Januari 2007 (semester dua), tercatat 100 mahasiswa/mahasiswi yang mendaftar.

Sebanyak 97 di antaranya dari empat kabupaten di Madura yaitu Sumenep, Bangkalan, Pamekasan, dan Sampang. Sisanya dari Surabaya, Lumajang, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Agus Salim, Sekretaris GPS menambahkan, umumnya mahasiswa tertarik promosi di brosur yang menyebutkan Stikes bekerjasama dengan West Coast Nursing Inc di AS dan Japanese Employment, Jepang untuk menyalurkan lulusannya.

Apalagi, di brosur itu disebutkan beragam lokasi praktek mahasiswa. Seperti di Akademi Kebidanan di Jatim, RS pemerintah, RS swasta, Dinkes Surabaya, dan Dinkes Jatim. Agus dan Maria menuturkan, para mahasiswa ditarik SPP Rp 1,8 juta per semester. Bisa juga dibayar per bulan senilai Rp 300 ribu. Selain itu, uang gedung Rp 6 juta dan uang sumbangan sukarela yang besarnya bervariasi antara Rp 4 juta sampai Rp 10 juta.

Agus dan Maria mengaku telah menyetor Rp 10 juta. Bahkan, ada yang telah menyetor Rp 17 juta. Agus mengungkapkan, kejanggalan mulai terasa saat melihat buruknya fasilitas pendidikan, dan kualitas sepuluh pengajar yang dinilai tidak kompeten. Tidak sebanding dengan pungutan yang ditarik Stikes. “Kurikulumnya nggak jelas, laboratoriumnya tidak sesuai, dan perpustakaannya minim buku,” gusar Maria.

Maria lantas mencontohkan kurikulum yang tidak jelas itu. Baru mendapat kuliah teori selama sebulan, mahasiswa langsung praktik menyuntik. Praktik ini dilakukan sesama mahasiswa. Jarum suntik yang sudah disiapkan diisi dengan air lantas disuntikkan secara bergantian antar mahasiswa.

“Habis praktik (suntik) itu, pantat saya langsung benjol-benjol. Mungkin karena kuliah teorinya belum matang,” kata Agus. Ada lagi yang unik dari sekolah ini. Agus mengungkapkan, saat mahasiswa angkatan pertama diterima, Rektor Stikes Drs Ahmad Harianto MSi menyampaikan metode rekrutmen mahasiswa baru untuk semester berikutnya yang bisa dilakukan mahasiswa, dosen atau karyawan. Yang berhasil akan diberi imbalan. Mirip metode rekrutmen anggota dalam bisnis MLM.

Maria menjelaskan, rektor menjanjikan mahasiswa yang berhasil menggaet satu mahasiswa baru dengan imbalan uang Rp 500 ribu.

“Kalau dapat dua mahasiswa, SPP satu semester gratis,” ujarnya.

Untuk dosen, tambah dia, imbalannya berbeda. Seorang dosen yang bisa menggaet 10 mahasiswa baru akan diberi sepeda motor. Jika bisa mendapat 50 mahasiswa, dosen akan diberi mobil Daihatsu Xenia. Tapi, janji tinggal janji.

Seorang karyawan Stikes yang konon berhasil menggaet 50 mahasiswa tak mendapatkan bonus mobil itu. Menurut Agus dan Maria, keraguan akan status sekolah ini kian terasa tatkala rektor tak pernah menunjukkan dua izin yang diklaim telah dikantongi. Kini mereka hanya menuntut uang jutaan rupiah yang telah ditarik Stikes dikembalikan. “Kalau tidak, kami siap melapor ke polisi dengan bukti-bukti yang kami miliki,” tegas Agus. (21 Maret 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: