Ketika Surabaya Diserbu SPBU

Bak cendawan di musim hujan. Pepatah ini tepat untuk menggambarkan pertumbuhan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Surabaya akhir-akhir ini. Tak sedikit yang letaknya berdekatan. Dampaknya langsung terasa, kemacetan arus lalu lintas dan sengitnya persaingan antar SPBU.

Oleh: M Subchan Sholeh

Tengok saja situasi di Jalan Sumatera sampai Jalan Sulawesi. Di ruas jalan sepanjang 1,5 Km ini sudah berdiri tiga SPBU. Di Jalan Sumatera ada SPBU nomor 54.601.90 milik Suwandi Ongkodjojo Soetijono. Bergeser ke utara sekitar 1,3 Km, anda dapat menjumpai lagi SPBU nomor 54.602.74 di pinggir Jalan Biliton milik Santoso. Berjalan lagi sekitar 300 meter, baru saja berdiri SPBU nomor 54.601.88 milik Handy Soelayman. Tepatnya di Jalan Sulawesi. Kawasan Biliton-Sulawesi sehari-harinya tergolong padat lalu lintas.

Dibukanya dua SPBU di kawasan itu kian meningkatkan kepadatan arus lalu lintas khususnya saat jam-jam sibuk. Apalagi kalau bukan dari lalu-lalangnya kendaraan bermotor yang hendak mengisi BBM. Situasi hampir mirip bisa dijumpai di Jalan Jemursari. Di sini bertengger tiga SPBU. Antara lain SPBU nomor 51.602.65 di Jalan Jemursari milik PT Pertamina UPms V, SPBU nomor 54.602.57 di Jalan Raya Jemursari 19 milik Eddy Koestanto Moehadji, dan SPBU nomor 54.602.62 di Jalan Raya Jemursari 329-331 milik PT Adhimanunggal Purnawardhi.

Beruntung, jalan di kawasan ini cukup lebar dengan lima lajur sehingga lalu-lalang kendaraan di SPBU tidak terlalu mengganggu arus lalu lintas. Walau tidak mencerminkan kondisi di seluruh Surabaya, gambaran di dua kawasan itu setidaknya telah memberi sinyal potensi masalah yang akan muncul.

Sebelum terlambat, Komisi C (Pembangunan) DPRD Surabaya berinisatif mengundang PT Pertamina Unit Pemasaran (UPms) V untuk mengkaji masalah ini pertengahan Februari 2007 lalu. Dalam rapat itu, General Manager (GM) PT Pertamina UPms V Surabaya Djoko Prasetyo menjelaskan, sesuai data per 16 Januari 2007 ada 84 SPBU di Surabaya. Tujuh lainnya sedang dalam proses pembangunan. Jumlah ini ternyata belum cukup. Ada 20 pengusaha atau perusahaan yang mengajukan pendirian SPBU di tahun ini. Pertamina masih mengkaji pengajuan tersebut. Bila 20 SPBU baru itu berdiri maka kota ini akan disesaki dengan 111 SPBU. Wilayah kerja PT Pertamina Upms V sendiri meliputi Jatim, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, tambah Djoko, aturan Pertamina soal jarak minimal antar SPBU sudah dihapus. Dalam aturan sebelumnya, Pertamina mengatur jarak minimal antar SPBU adalah 5 Km. “Sekarang, aturan itu sudah tidak ada lagi,” tukasnya.
Bahkan, dalam satu jalan dengan dua arah bisa saja dibangun dua SPBU yang saling berhadapan. Menurut Djoko, ini untuk memudahkan konsumen membeli BBM.
“Asal dua arah dan ada median jalan, lebih dari satu SPBU tidak apa-apa,” katanya.

Tentang tiga SPBU yang saling berdekatan di kawasan Jalan Sumatera sampai Jalan Sulawesi, Djoko menjawab, “Segmen pasarnya berbeda karena jaraknya berbeda pula.”
Menjawab pertanyaan DPRD soal kebutuhan riil SPBU di Surabaya, Djoko tidak bisa menjelaskan. Djoko hanya memberi contoh bahwa ada 3.600 unit SPBU di Indonesia yang memiliki penduduk 200 juta jiwa. Jumlah ini dinilai masih sedikit dibanding Thailand yang memiliki 18.000 SPBU padahal jumlah penduduknya lebih sedikit .

Agar kebutuhan riil akan SPBU diketahui, Sekretaris Komisi C Agus Sudarsono menyarankan Djoko untuk mendata jumlah SPBU sesuai wilayahnya. Seperti Surabaya Pusat, Selatan, Utara, Timur, dan Barat.
Agus mengingatkan Pertamina untuk memilih lokasi yang tepat untuk pendirian 20 SPBU baru di Surabaya sehingga tidak menimbulkan persoalan baru. Utamanya, kemacetan arus lalin. Politisi Partai Golkar itu meminta letak SPBU baru itu tidak berdekatan dengan SPBU yang sudah ada, di tengah kota atau di pinggir jalan dengan arus lalin padat. Menanggapi hal ini, Djoko mengaku siap berkoordinasi dengan pemkot.

Pengamat tata kota UK Petra, Benny Purbantanu menyarankan Pertamina dan pemkot untuk mendistribusikan pembangunan SPBU baru secara merata ke seluruh wilayah kota. Khususnya kawasan pinggiran kota.
“Ini untuk menghindari penumpukan SPBU di pusat kota yang dapat saling mematikan dan memperparah kemacetan,” ujar pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ini.

Selain itu, ujar dia, pemkot harus melihat kelayakan lokasi dan kondisi jalan untuk keluar-masuk SPBU sebelum memberikan IMB. Tujuannya, tidak terjadi penumpukan kegiatan di satu lokasi yang potensial mengganggu kelancaran arus lalu-lintas.
Ia mencontohkan SPBU di Jalan Embong Kemiri yang letaknya tidak tepat karena berhadap-hadapan dengan sebuah kompleks ruko. Ditambah kondisi jalan yang hanya dua lajur, kemacetan selalu terjadi hampir setiap saat akibat lalu-lalang kendaraan di ruko dan SPBU tersebut.

“Kondisi seperti ini tidak boleh terulang agar aktivitas masyarakat tidak terganggu dengan keberadaan SPBU,” tandasnya. (*)

Dikejar Target
Gencarnya Pertamina memberi izin pendirian SPBU bukan tanpa alasan. Ini adalah imbas UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas yang memberi keleluasaan operator migas asing untuk ikut mengelola bisnis migas di dalam negeri. Artinya, Pertamina bukan pemain tunggal dalam industri migas, baik di sektor hulu atau hilir. Dua sektor ini kini terbuka bagi operator asing yang memperoleh lisensi atau kontrak dengan pemerintah. Masuknya pemain asing itu memang menjadi ancaman serius bagi Pertamina.

Beberapa gerai SPBU asing telah memasuki pasar di Jakarta dan mulai mengincar sejumlah lokasi di Jatim. Apalagi dua raksasa perusahaan minyak dunia, yakni Shell dan Petronas, sebentar lagi akan masuk ke Jatim dengan membuka SPBU di Surabaya. Tak mau mati di negeri sendiri, Pertamina membuka penawaran pendirian SPBU melalui situsnya. Pertamina sengaja memberikan peluang kepada masyarakat yang mempunyai modal untuk mendirikan SPBU.

“Memperbanyak SPBU adalah salah satu upaya kami untuk bersaing dengan pemodal asing,” ujar Humas PT Pertamina Unit Pemasaran (UPms V), Saiful Bahri.
Di wilayah PT Pertamina Upms V, animo investor lokal terbilang besar. Bahkan, PT Pertamina UPms V terpaksa menyetop permohonan pendirian SPBU baru pada tahun 2007 karena jumlah pemohon yang masuk pada tahun 2006 sudah terlalu banyak. Sampai akhir 2006 lalu, daftar tunggu pemohon mencapai 4.800 proposal.

Pada tahun 2006, PT Pertamina UPms V memang ditarget membangun 100 SPBU baru di wilayahnya. General Manager (GM) PT Pertamina UPms V Surabaya Djoko Prasetyo menyebutkan, dari jumlah itu, 40 SPBU akan dibangun di wilayah Jatim dimana 20 SPBU di antaranya bakal didirikan di Surabaya. Seluruhnya akan dituntaskan tahun ini. Bagi Djoko, Surabaya sendiri termasuk pasar potensial karena pertambahan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor terus meningkat. (26 April 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: