Ketika Ikan Ditelan Limbah

Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Di Kali Surabaya, selama sewindu terakhir, sudah 50 kali ribuan ikan mati karena limbah industri. Meski begitu, sikap Pemprop Jatim tetap sama. Cuek dan acuh tak acuh. Tak heran, peristiwa yang sama terus berulang

Ikan yang mati karena limbah industri di Kali Surabaya

Ikan-ikan mati akibat limbah industri yang dibuang sembarangan di Kali Surabaya

Oleh: M Subchan S

Kududuk di tepi pantai, banyak minyak, sampah, dan kotoran

Aku nyebur menerjang ombak, bikin lengket badan dan rambut

Lepas kail tepi sungai, airnya coklat dan berbusa

Tak ada ikan yang nyangkut, malah bikin gatal kulit dan bau

Lautku, nggak biru, nggak biru lagi, sungaiku, nggak jernih, nggak jernih lagi

Alamku nggak bagus nggak bagus lagi, alamku nggak perawan nggak perawan lagi….

Lirik lagu Nggak Perawan milik grup musik Slank ini mencoba memotret kerusakan alam di negeri ini akibat ulah manusia. Tak terkecuali di Jawa Timur. Lebih khusus lagi, Kali Surabaya.

Betapa tidak, dalam kurun tahun 1999 sampai 2007 terjadi 50 kali kasus ikan mati massal. Seluruhnya akibat buangan limbah industri yang tidak diolah. Peristiwa terakhir terjadi pada 29-31 Nopember 2007. Akibat buruknya kualitas air kali saat itu, empat hari penduduk Surabaya tidak mendapat pasokan air bersih dari PDAM Surabaya.

“Yang mengesalkan kami, tidak pernah ada perhatian serius dari pemprop dari puluhan kasus itu,” tukas Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecological Observation and Wetlands Conservation/Ecoton), Prigi Arisandi.

Sebagai bentuk keprihatinan, 20 aktivis Ecoton, Uplink, LBH Surabaya dan warga stren kali menggelar aksi memperingati 100 hari tragedi ikan mati massal di depan gedung DPRD Propinsi Jatim, Senin (11/2) lalu. Mereka membawa replika tulang belulang ikan, dan beberapa poster berisi protes terhadap Gubernur Jatim Imam Utomo yang dinilai membiarkan terjadinya pencemaran di Kali Surabaya sehingga banyak ikan mati. Salah satu poster bertuliskan “Bekupon Omahe Doro, Dipimpin Imam Utomo, Kali Suroboyo Tambah Gak Pokro”.

Prigi menambahkan, sudah menjadi kewenangan pemprop untuk mengelola kualitas air dan mengendalikan pencemaran pada sungai lintas kota/kabupaten. Ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air. Di sini ada enam wewenang pemprop. Seperti menetapkan daya tampung beban pencemaran, inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar, memantau kualitas air pada sumber air, memantau faktor lain yang menyebabkan perubahan mutu air, menetapkan persyaratan air limbah untuk aplikasi pada tanah, dan persyaratan pembuangan air limbah ke air atau sumber air.

Selain itu, kewenangan pemprop diatur pula dalam PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antar Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Dalam lampiran 290-292 disebutkan bahwa pemprop berwenang mengelola kualitas air skala provinsi, mengkoordinasikan pemantauan kualitas air pada sumber air skala provinsi, penetapan pengendalian pencemaran air pada sumber air skala provinsi dan pengawasan pelaksanaan pengendalian pencemaran air skala provinsi.

“Dari uraian PP 38 Tahun 2007 ini sudah sangat jelas kalau Kali Surabaya yang melintasi Kabupaten Mojokerto, Gresik, Sidoarjo dan Kota Surabaya adalah kewenangan Pemprop Jatim. Jadi, kalau terjadi penurunan kualitas air yang berdampak pada matinya ikan di Kali Surabaya, maka pemprop yang harus bertanggungjawab,” papar alumnus Unair ini.

Tak hanya aktivis lingkungan saja yang geram dengan sikap diam pemprop ini. Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim Ir Edy Wahyudi juga kecewa dengan kondisi ini. Untuk itu, dia berencana memanggil Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Propinsi Jatim untuk mempertanyakan kinerja mereka dalam memantau dan mengendalikan pencemaran di kali sepanjang 41 Km dari dam Mlirip, Mojokerto hingga Jagir, Surabaya ini.

Selain itu, Perum Jasa Tirta I selaku pemantau kualitas air Kali Surabaya, juga akan dipanggil. Bagi Edy, kondisi terakhir Kali Surabaya dan lemahnya kerja pemprop menjadi masukan berharga pihaknya dalam proses pembahasan Raperda tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, dalam raperda itu telah dimasukkan sejumlah pasal yang mengatur kewajiban pemerintah kabupaten/pemerintah kota untuk menindak industri yang terbukti melakukan pencemaran di wilayah masing-masing.

“Raperda ini juga memberi wewenang pemprov untuk menindak pelaku pencemaran yang limbahnya melintasi beberapa kabupaten atau kota,” tandasnya.

Tradisi Hilang

Buruknya kualitas kali berpengaruh pula pada hilangnya tradisi masyarakat di bantaran kali untuk menangkap ikan atau biota air tawar lainnya.

Munasyim Syafii, warga Bambe, Driyorejo, Gresik menuturkan, 24 tahun lalu, air kali yang menjadi urat nadi kebutuhan air warga Surabaya dan Gresik masih bisa mendukung kehidupan beragam penghuni kali didalamnya. Kondisi alam masih stabil, dan rantai makanan berjalan sesuai fungsinya. Di samping itu, sungai sebagai sebuah ekosistem masih memiliki kemampuan memulihkan dirinya bila terjadi gangguan. Saat itu, masih ada18 jenis ikan diantaranya benthik, bader merah, belut, brenjilan, lele sepat, tageh, wader pari, wader gatul, rengkik dan jendil.

Aktivitas anak-anak bermain dan mandi di kali mudah dijumpai. Begitu pula aktivitas masyarakat bantaran kali yang mencari ikan dengan senar, jaring tebar, jaring apung, dan wuwu, untuk tambahan penghasilan atau tambahan lauk.

“Kijeng, remis (kerang air tawar), bulus, rengkik dan bader masih gampang dicari. Sekarang, semua tinggal kenangan,” tukasnya dengan mata menerawang.

Melihat parahnya pencemaran di Kali Surabaya, ada baiknya jika merenungi sebuah pepatah Indian kuno di bawah ini untuk refleksi diri.

“…ketika pohon terakhir telah ditebang, ketika ikan terakhir telah ditangkap, dan ketika sungai terakhir telah tercemar, manusia akan sadar bahwa mereka tidak dapat memakan uang…” (*)

Jenis Ikan Tinggal Separo

Aditya Wardana (19) mengernyitkan dahinya saat mengamati sejumlah biota air tawar yang ditangkapnya di perairan Kali Surabaya di kawasan Krian, Sidoarjo. Jumlahnya mencapai 14 buah atau dua kali lipat dari yang ditangkapnya di depan Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) Karangpilang, Surabaya.

Dalam Jelalah Kali Surabaya, beberapa waktu lalu, Aditya bersama sekitar 19 temannya dari jurusan Teknik Lingkungan UPN Veteran Surabaya menemukan capung, tungau air, larva nyamuk, anak ikan cucut udang, anak udang, dan kepiting laba-laba.

“Adanya anak capung sebagai tanda perairan ini masih sehat. Karena capung membutuhkan oksigen banyak di air,” jelas Amiruddin Muttaqin, Koordinator Kampanye Penyelamatan Kali Surabaya, pemandu jelajah kali di atas perahu.

Amiruddin melanjutkan, banyaknya biota air yang ditemukan di Krian dibanding Surabaya karena air kali lebih jernih, sedikit sampah dan tanamannya lebih banyak.

Dalam perjalanan kembali ke Gunung Sari, Surabaya, Amir -panggilan Amiruddin- banyak bercerita soal menurunnya populasi dan jenis ikan di Kali Surabaya.

Di awal tahun 1980-an, ujar dia, tercatat sebanyak 18 jenis ikan penghuni Kali Surabaya. Setelah lebih dari dua dasawarsa, jenis ikan di kali sepanjang 41 kilometer ini merosot drastis tinggal tujuh jenis. Antara lain, ikan bader, keting, sili, nila, gabus, mujair, dan papar. Namun, yang sering dijumpai hanya bader dan keting. Populasi mereka kalah dengan ikan pembersih kaca (sucker mouth) dan cacing darah. Bahkan, populasi cacing darah makin meningkat dari hulu ke hilir pada tahun 1990-an.

“Meningkatnya populasi cacing darah menjadi indikator sederhana bahwa ekosistem sungai sudah berubah akibat beban pencemaran di dasar sungai yang tinggi,” lanjut Amir.

Menurut Anggota Dewan Lingkungan Hidup Jatim Prigi Arisandi, perubahan ekosistem Kali Surabaya terjadi sejak 1990-an. Pemicunya, ratusan industri yang bertumbuhan di bantaran kali medio 1980-an sampai 1990-an. Dari industri kertas, penyedap rasa, minyak goreng, deterjen, dan lainnya. Industri yang tidak berwawasan lingkungan ini mengubah kondisi perairan kali.

“Mereka mengambil air jernih di kali untuk menunjang proses produksi. Lantas, mereka mengembalikannya dengan air kotor yang mengandung racun,” keluh Prigi. Pasalnya, sebagian besar industri tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Kalaupun memiliki IPAL, industri malas mengoperasikannya karena mahalnya biaya pengoperasian IPAL.

Sembari mengutip data Perum Jasa Tirta I, Prigi mengungkapkan,sebanyak 70 persen beban pencemaran di Kali Surabaya berasal dari industri. Tercatat sebanyak 23.500 meter kubik limbah cair tak terolah melenggang bebas setiap hari. Dasar sungai yang sebelumnya pasir dan kerikil pun berubah penuh lumpur dan limbah organik. Ekosistem dan rantai makanan di sungai praktis berubah. Beragam jenis ikan endemik terusir karena makanan yang dibutuhkan sudah tidak ada akibat buruknya kualitas air.

Gempuran limbah industri tanpa henti seperti ini bukan tak mungkin akan membuat penghuni terakhir Kali Surabaya makin susut. (*)

Minim Informasi

Kondisi ikan yang sekarat dan mengambang di permukaan kali Surabaya selalu menarik perhaitan warga di sekitarnya. Tanpa dikomando, pria-wanita, tua-muda bergegas terjun ke kali untuk menangkap ikan dengan peralatan seadanya.

Ada yang langsung terjun dengan membawa jala berbagai ukuran, ada juga yang menaiki perahu kecil atau ban-ban bekas untuk mengambil ikan-ikan yang mengambang tanpa daya. Setelah terkumpul banyak, ada yang menjualnya di pinggir-pinggir jalan. Namun, ada pula yang memilih untuk mengkonsumsinya.

“Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa mencegah,” kata Hermawan Some, aktivis Urban Poor Linkage (Uplink), pendamping warga stren kali di wilayah Surabaya.

Repotnya, ikan-ikan itu mati karena tercemar limbah industri dan belum tentu aman untuk dikonsumsi.

Parahnya, tidak pernah ada informasi apapun dari instansi terkait di pemprop tentang hal ini setiap terjadi ikan mati massal. Mulai tahun 2000 sampai sekarang

Padahal, masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar kali Surabaya berhak atas informasi lingkungan.

Andreas Kristanto Divisi Kampanye Lingkungan Ecoton mengatakan, hak masyarakat itu telah diatur dalam sejumlah peraturan perundang-undangan.

Ia mengutip isi pasal 5 ayat 2 Undang-Undang (UU) No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup

Pasal 30 ayat 2 Peraturan Pemerintah (PP) No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air juga mengatur hal serupa. Pasal ini menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan informasi mengenai status mutu air dan pengelolaan kualitas air serta pengendalian pencemaran air.

Menurut Andreas, ada empat hal penting yang harus selalu diinformasikan pemprop kepada masyarakat ketika terjadi kasus demikian.

Antara lain, kelayakan ikan mati untuk dikonsumsi manusia, kelayakan air kali untuk digunakan warga sekitar, sumber pencemaran penyebab ikan mati dan upaya pengendalian dampak pencemaran. (14 April 2008)

3 responses to this post.

  1. Posted by sutrisno sianturi on September 9, 2009 at 4:34 pm

    Memang besarnya investasi yang terus menggiurkan di bagian badan sungai, telah membuat gelap mata pemerintahan kita. Bagaimana tidak, perhatian untuk pemberdayaan sungai-sungai sangat minim. Padahal eksploitasi di sana diusahakan semaksimal mungkin. Aneh memang, pemerintahan sekarang tidak becus dalam pemberlakuan IPAL bagi perusahaan-perusahaan di sekitar sungai, sehingga peluang tercemarnya sungai semakin besar. So perautan-peraturan pemerintah yang telah digelontorkan itu terkesan hanya sebagai pemanis dari propoganda pemerintahan saja.
    So kita sendirilah(dalam artian penduduk di sekitar sungai) yang seharusnya bertindak memperbaiki ekosistem sungai itu.

    NB: minta informasilebih legkap tentang pencemaran sungai(klo ada ttg ikan lengket), yang mo berbagi informasi silahkan kirim ke sutrisno.sianturi@gmail.com
    Thanx b4.

  2. Posted by sutrisno sianturi on September 9, 2009 at 4:46 pm

    Btw Bang M Subchan S ne kuliahnya di biologi kian y…. kok tau banyak informasi tentang lingkungan…..

  3. kebetulan saya lulusan sosiologi mas sutrisno. itu sodara iparnya biologi, karena sama-sama berakhiran “gi”. just kidding mas. interaksi saya semasa jadi jurnalis dengan bang prigi arisandi, direktur ecoton yang membuat saya banyak tau soal kali dan tetek bengeknya.
    itulah kondisinya mas. sungai-sungai kita berpotensi untuk lebih cepat wafat kalo pemerintah masih terus berselingkuh dengan industri hitam yang membuang sembarangan limbahnya dengan dalih klise pertumbuhan ekonomi.
    nah, kalo mas sutrisno pengen info lengkap soal pencemaran sungai dan sebagainya kontak aja bang prigi disini ato ke nomor ponselnya 08175033042. semoga bisa membantu. salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: