Jejak China Muslim di Nusantara

Timur Tengah, India, dan China. Dari tiga wilayah ini, Islam disebarkan di Indonesia. Sayang, belum banyak karya tulis yang mengupas secara detail peran penting komunitas China muslim dalam penyebaran Islam di Indonesia. Hanya peninggalan purbakala Islam di Indonesia yang dipengaruhi budaya China yang menjadi bukti kehadiran mereka.

Oleh: M Subchan S
Ditinjau dari aspek politik-budaya, Indonesia adalah sebuah negeri berpenduduk mayoritas muslim dengan anatomi yang pelik. Selain memiliki beragam suku, negeri ini juga terdiri dari bermacam agama dan aliran kepercayaan.

Demikian disampaikan Prof Dr Ayu Sutarto MA dari Universitas Jember dalam seminar internasional Budaya Islam Nusantara-Tiongkok di kantor PWNU Jatim, Selasa (27/5).

Hadir pula pembicara lain yakni Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Islam China Amu’er Zhang Guanglin, dan Wakil Presiden Institut Islam China Esa Gao Zhanfu. Menilik dari jumlah agama yang berkembang, lanjut Sutarto, sering muncul kesan jika negeri ini merupakan bangunan politik yang menampung berbagai agama di dunia.

Dia mencontohkan sejarah kebudayaan Indonesia yang sangat menarik. Ketika agama Budha masuk, Candi Borobudur mewarnai peradaban yang dibangunnya. Hindu masuk, Prambanan menjadi ikon keimanan umat Hindu. Islam masuk, masjid dan musala dibangun sebagai wahana pemeluknya untuk membangun jaringan dakwah. Belanda masuk, gereja didirikan.

Terkait penyebaran Islam yang akhirnya dipeluk sebagian besar masyarakat Indonesia, menurut Ketua Tanfidiyah PW NU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah, itu karena dilakukan dengan mengedepankan proses dialog, perdagangan, pertukaran seni dan budaya serta keluhuran moral.
“Saya tidak ingin terjebak soal teori tentang asal-usul penyebar Islam di Indonesia. Paling tidak, di antara para sejarawan terdapat tiga teori tentang hal ini. Dibawa oleh pendatang dari Yunan, China, langsung dari Mekkah dan Gujarat, India,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Namun, tambah Hasan, hal yang jelas adalah pendatang dari tiga wilayah berbeda ini memiliki andil besar dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. Tak mengherankan bila budaya para pendatang muslim dari Timur Tengah, China dan India menjadi bagian tak terpisahkan dari cara hidup penduduk Indonesia.

“Yang jelas Islam berkembang lebih dulu di China dibanding di Indonesia,” ujar pengasuh ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo itu.
Sutarto berpendapat hampir sama. Selama ini, ujar dia, sejarah masuknya Islam ke Indonesia masih didominasi dua kesimpulan yang masih bisa diperdebatkan. Pertama, Islam dibawa para pedagang dari Arab atau Timur Tengah. Kedua, Islam datang dari India.

Dia mengungkapkan, para sejarawan umumnya melupakan komunitas China muslim yang juga ikut andil dalam perkembangan Islam di Indonesia, utamanya di Jawa. Sejauh ini, imbuh dia, belum ada satu karya ilmiah yang membahas secara rinci sumbangan China muslim terhadap syiar Islam di Indonesia.

Ini beda dengan kajian soal sejarah politik China muslim. Seperti dipaparkan Hasan, penelitian tentang sejarah politik China muslim sudah banyak. Misalnya tulisan De Graaf, Pigeaud, Riclefs, Poortman, Tom Pires, Parlindungan, Djajadiningrat, dan Slamet Mulyana. Sumber-sumber lain juga bisa ditemukan di buku Babat Tanah Jawi dan Babat Melayu.
Minimnya karya ilmiah soal penyebaran Islam oleh China muslim membuat sejarawan sulit memperkirakan awal perkembangan China muslim di Indonesia. Meski begitu, banyak bukti sejarah berupa benda-benda arkeologis dan antropologis yang berhubungan dengan kebudayaan China.

“Melihat bukti-bukti sejarah itu menunjukkan jika kontak budaya antara China dengan Indonesia sudah berlangsung berabad-abad,” tukas Sutarto.
Dia menyebutkan ukiran padas di masjid kuno Mantingan, Jepara; menara masjid di Pecinan Banten; kontruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik; arsitektur keraton dan Taman Sunyaragi di Cirebon, konstruksi masjid Demak terutama soko tatal pada salah satu tiang penyangga masjid serta lambang kura-kura.

Bukti lain, kata dia, adalah dua masjid megah di Jakarta. Yaitu masjid Kali Angke yang dikaitkan dengan Gouw Tjay dan masjid Kebun Jeruk yang didirikan oleh Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai. Cerita lisan Dampu Awang yang tersebar di masyarakat pesisir utara Jawa juga menunjukkan pengaruh itu.
Soal soko tatal pada tiang masjid Demak, menurut Hasan, terinspirasi oleh model susunan pada konstruksi jung atau kapal-kapal besar China zaman dulu yang dibuat dari patahan-patahan kayu. Model ini memiliki tingkat kelenturan yang baik sehingga sangat kuat menghadapi terpaan angin dan ombak.

Sutarto menerangkan, beberapa pemerhati kebudayaan berpendapat bahwa kehadiran muslim China bukan hanya berasal dari imingran muslim asal China. Tapi juga dari hubungan internal etnik China, antara China muslim dan non muslim. Semula, kedatangan etnis China ke Indonesia bertujuan untuk unjuk eksistensi dan kepentingan ekonomi. Bukan untuk menyebarkan agama Islam. Umumnya, mereka berasal dari Zhangzhou, Quanzhou, dan Guangdong.
“Meski begitu, kehadiran mereka berdampak besar pada perkembangan Islam di Indonesia,” tukasnya.

Misalnya saja, muhibah Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) ke Indonesia pada abad 15. Maksud awal muhibah itu adalah untuk membangun hubungan antara China dengan negara-negara di Asia dan Afrika. Tetapi, beberapa anak buah Cheng Hoo tercatat sebagai muslim. Sebut saja Ma Huan, Guo Chong Lie, Ha San Shban, dan Pu He Ri. Dua nama yang disebut pertama mahir berbahasa Arab dan Persia serta bekerja sebagai penerjemah. Adapun Ha San adalah ulama masjid Yang Shi di Kota Ki An. Dalam kurun 1421-1431 Masehi, rombongan Cheng Hoo singgah di Jawa, Palembang, Aceh, Batak, Kalimantan, Pulau Karimata, Pulau Belitong dan lainnya.

Perjumpaan Cheng Hoo dengan etnis Jawa, tutur Sutarto, melahirkan apa yang disebut Sino-Javanese Muslims Cultures atau kebudayaan Cina-Jawa-Muslim. Kebudayaan ini terbentang dari Banten, Semarang, Demak, Jepara sampai Surabaya pada abad 15-16..
“Argumentasi ini bukan hanya merujuk pada laporan Ma Huan tetapi juga oleh beberapa pengembara asing lain seperti De Baros dari Portugis, Loedwieks dari Belanda dan Ibmu Battuta,” tandasnya.

Penyebaran Islam oleh China muslim terus berkembang hingga berdirinya organisasi dakwah bernama Persatuan Islam Tionghoa (PIT) pada tahun 1931 di Deli Serdang, Sumatera Utara. Pendirinya adalah Haji Yap Siong dari Moyen, China. Dia berdakwah mulai Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Jawa Timur dengan bahasa Mandarin.
Di tahun 1953, Kho Goan Tjin mendirikan organisasi dakwah bernama Persatuan Muslim Tionghoa (PMT) di Jakarta. pada tahuun 1954, dua organisasi ini dilebur. Dalam perjalanannya, organisasi ini bubar karena berbeda pandangan jelang Pemilu tahun 1955. Lantas pada 14 April 1961, atas prakarsa H Isa Idris dari Pusat Rohani TNI AD mendirikan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di Jakarta. PITI kala itu merupakan gabungan PMT dan PIT. Pendiri PITI antara lain Abdul Karim Oei, Tjeng Hien, Abdusomad Yap A Siong, dan Kho Goan Tjin.

Sampai sekarang, PITI masih aktif mempersatukan muslim China dengan muslim Indonesia serta muslim China dengan etnis China dan etnik China dengan Indonesia asli. Bagi Sutarto, keberadaan China muslim sesungguhnya cukup strategis dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang multikultural dan hidup dalam harmoni.
“Dalam konteks ini, PITI dapat berperan dan memberi kontribusi berarti untuk memenuhi cita-cita itu,” pungkasnya.
Serupa Tapi Tak Sama
Penyebaran Islam di Indonesia dan China memiliki beberapa kemiripan. Utamanya adalah penyebar ajaran Islam. Bila di Indonesia, Islam disebarkan oleh pedagang dari Timur Tengah, India dan China maka di China, Islam hanya disebarkan oleh pedagang asal Timur Tengah. Khususnya dari Arab dan Persia.

Menurut Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Islam China, Amu’er Zhang Guanglin, Islam masuk ke Tiongkok pada abad ke-7 sampai abad ke-16.
“Merekalah yang paling awal membawa masuk isi dan bentuk agama Islam ke China. Jumlahnya ratusan ribu,” ujarnya.
Ketika singgah, lanjut dia, otomatis mereka memerlukan tempat untuk menunaikan salah satu rukun Islam yaitu salat. Untuk itu, para pedagang Arab dan Persia itu mulai membangun masjid-masjid di tempat mereka berada terutama di pesisir laut. Tepatnya di wilayah Beijing sampai Hangzhou. Di dua wilayah itu mereka membangun masjid Huashengsi (Rindu Nabi) di Guangzhou, Fenghuangsi (Phoenix) di Hangzhou, Shengyousi (Sahabat Nabi) di Quanzhou, Xianhesi (Bangau Putih) di Yangzhou dan lainnya.

Tak sedikit pedagang Arab dan Persia yang memutuskan menetap. Mereka membawa kebudayaan sendiri yang berbasis pada rukun Islam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lambat laun, gaya hidup Islam itu mempengaruhi budaya tradisional dan kepercayaan masyarakat di berbagai kota di China.
Wakil Presiden Institut Islam China Esa Gao Zhanfu menambahkan, penyebaran Islam selama seribu tahun itu telah menjangkau 10 suku minoritas di China. Antara lain, suku Hui, Uygur, Kazak, Dongxiang, Kirgiz, Salar, Tarjik, Ozbek, Bao’an, dan Tartar.

Muslim di China (Dok.5pillar.wordpress.com)
Muslim di China (Dok.5pillar.wordpress.com)

Esa menerangkan, penyebaran Islam di China disampaikan dengan cara damai tanpa pertumpahan darah. Pemerintah pusat dan dinasti-dinasti zaman dulu telah menerapkan kebijakan untuk mengutamakan sikap toleransi terhadap agama Islam. Bahkan, sejak berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober 1949, suku-suku minoritas pemeluk Islam mendapatkan hak yang sama.
“Ini membangkitkan antusiasme masyarakat muslim di China untuk cinta negara dan agama,” tuturnya.
Saat ini, lanjut dia, China telah memiliki 43.000 imam, 35.000 masjid, 10 institut agama Islam, ratusan sekolah Bahasa Arab dan kebudayaan Islam. (29 Mei 2008 )

15 responses to this post.

  1. wah baru tau ni

  2. Posted by sukiatno on Januari 2, 2010 at 9:29 am

    saya termasuk dari warga indonesia kturunan tionghoa muslim,
    selama ini saya belum menemukan komunitas tionghoa muslim, jadi keinginan saya untuk dapat bersilaturahmi dengan komunitas ini.

    salam

    sukiyatno Chong/ Chong Bun Kiet

  3. Posted by Tia on Januari 24, 2010 at 8:12 pm

    Saya juga termasuk warga Indonesia keturunan tionghoa muslim. Tapi, udah gak punya marga lagi… ^^ Coz, sejak kakek dari bapak saya masuk Islam, keturunannya gak pake marga dan nama china lagi ^^ Saya juga ingin bersilaturahmi dengan komunitas China Muslim di Indonesia.

  4. Kebetulan komunitas China muslim di Indonesia berhimpun di Perhimpunan Iman Tauhid Islam atau PITI. Mereka punya cabang di kota-kota besar di Indonesia. Tia tinggal cari saja cabang PITI di kota domisili Tia.

  5. Kebetulan komunitas China muslim di Indonesia berhimpun di Perhimpunan Iman Tauhid Islam atau PITI. Mereka punya cabang di kota-kota besar di Indonesia. Bapak Sukiatno tinggal cari saja cabang PITI di kota domisili Bapak. Nanti saya coba bantu cari situsnya.

  6. Posted by satria on Februari 22, 2010 at 11:21 pm

    kita sering termakan oleh omongan orang-2 politik, sebenarnya orang cina yang muslim, ajuh lebih banyak daripada orang betawi muslim, madur muslim, padang muslim, atau arab muslim, lihat saja ada lebih dari 100 juta muslim cina yang tersebar di daratan china, republik2 bekas uni sovyet,

  7. Posted by satria on Februari 22, 2010 at 11:26 pm

    salah satu sebab saudara-saudara kita kurang diterima dibanding keturunan arab, adalah karena ada stikam kalau keturunan cina di Indonesia adalah non muslim, padahal nenek moyangnya lebih dulu muslim dibanding pribumi, jadilah anda-anda semua muslim maka ekonomi, politik adan kebudayaan di negara ini terbuka buat anda.

  8. Posted by Iman on Maret 13, 2010 at 1:50 am

    Ijin copas akhi…syukran atas informasinya…jazakumullah khoir…

  9. silahkan mas iman. semoga bermanfaat.

  10. Posted by citra on Agustus 10, 2010 at 8:26 pm

    informasi yg bgus & menambah wawasan kita. trim’s infonya

    1. terima kasih juga citra sudah sudi mampir.

  11. Posted by Donny on April 23, 2011 at 10:37 pm

    sya tahu Indonesia negri kita ini ada Minoritas di dalam minoritas…
    Sya bukan keturunan Tionghoa,,,namun sya mrasakan pula pahitnya saudara2/i akibat kejahatan politik dan orang2 yg keji…

    Ijinkanlah sya ikut bergabung bersama kaum minoritas muslim lainnya… Di dalam persaudaran seiman…

    Terima kasih mas Subchan,,,smoga berkah dan rahmat Allah dilimpahkan kpd mas Subchan…
    Dan smoga keselamatan selalu terlimpah pada Hamba2 Allah yg soleh…

  12. terima kasih juga dony sudah sudi mampir dan untuk doanya. semoga dony juga dinaungi berkah dan rahmat-Nya. amin

  13. kalau bicara soal orang cina muslim.
    saya langsung ingat dengan nama laksamana cheng ho/Haji Mahmud Shams
    udah ganteng,tinggi,gagah berani,armada kapal pasukannya banyak banget.
    (yang bikin ane kagum dia gak sombong&tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri,buktinya setiap daerah yang di singgahinya tidak pernah
    di jajah,malahan dia memberikan harta ibah untuk daerah2 kerajaan miskin tersebut,bener2 baik banget ).

    satu2nya orang yang menginjakkan kakinya pertama kali di benua amerika
    (orang2 BU13 B4R4T mah banyak yang penipu&tukang adu domba)
    gak percaya???
    buktinya ada perjanjian perdagangan berabad abad yg lalu antara suku muslim china dengan kaum pribumi di amrik sana.(sudah terbukti)

    sayangnya laksamana cheng-ho gak sempat naik haji seperti ortunya.
    jujur saja saya berharap semoga dia hidup bahagia di surga
    &selalu di lindungi sisi Allah swt,amin…🙂

  14. @donny : ngomong2 soal pahitnya jadi china muslim apa nih???
    bukankah waktu kerusuhan 98 banyak kaum china muslim
    yang di selamatkan&di sembunyikan oleh orang pribumi???
    jujur ajah rumah kekek ane juga dulu pernah di jadiin tempat pengungsiannya.

    sepertinya ada orang yang mau berniat mengadu domba nih bro.

    seumur hidup gak ada critanya entah itu orang jawa/suku indo lain yang gesekan dengan orang china muslim.

    kalau china non muslim mah sering,
    cz rata2 yg non muslim gaya bicaranya kasar2.
    (wajar sering crass,terutama sama orang jawa cz kalau orang
    jawa sendiri kalau ngomong pakai bahasa jawa halus,kalau
    ada yg ngomong dengan bahasa jawa kasar,pastiya
    di kira nantangin gitu bro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: