Hidup Bahagia dengan 14 Anak

M JazidKampanye dua anak cukup rupanya tak berlaku bagi H Muhammad Yazid (67), anggota Komisi A DPRD Surabaya dari PAN dan istrinya, Suchufil Laily (62). Lewat prinsip kembali kepada Allah, pasangan ini tak ragu memiliki 14 anak dan 26 cucu.

Oleh : M Subchan S

Sesuai janji, sekitar pukul 09.30, Surabaya Post tiba di rumah H Muhammad Yazid di Jl Kedurus Dukuh I, Surabaya. Sebuah mobil Daihatsu Zebra Espass warna perak milik Yazid terparkir di halaman bersama sebuah sepeda motor Honda keluaran tahun 1980-an.

Memasuki teras rumah yang diplester semen terlihat sebuah etalase empat tingkat berisi berbagai alat tulis kantor. Meski begitu, agak sulit menyebutnya sebagai toko. “Masuk dulu, Mas. Sebentar, saya panggilkan Bapak,” kata Ny Suchufil Laily ketika mempersilahkan Surabaya Post masuk ke dalam ruang tamu.

Agak sulit membayangkan rumah Yazid yang tidak terlalu luas ini mampu menampung 14 anak, 9 menantu dan 26 cucunya ketika ada kegiatan bersama. Bahkan, rumah ini bisa dibilang sederhana untuk ukuran anggota DPRD di sebuah kota metropolis.

Tak lama kemudian, Yazid menemui Surabaya Post. Penampilannya terkesan santai dengan mengenakan kaos dan sarung bermotif kotak-kotak.

“Sudah saya cek, ternyata tidak ada agenda di Komisi (Komisi A) hari ini. Jadi, ngobrolnya bisa agak lama,” ujarnya membuka perbincangan.

Setelah saling menanyakan kabar, barulah Yazid menceritakan kehidupan rumah tangganya. Khususnya anaknya yang berjumlah 14. Yazid menjelaskan, sejak menikah dengan Suchufil pada Januari 1967, tak pernah terbersit niatan untuk memiliki anak banyak.

“Semua itu karena kehendak Allah,” kata pria kelahiran Surabaya, 5 Oktober 1940 silam.

Dijelaskan Yazid, anak pertamanya lahir pada bulan Desember 1967 sedangkan anak bungsunya lahir pada Agustus 1989. Jarak usia ke-14 anak itu berkisar 1,5 tahun sampai dua tahun. Dari 14 anak itu, tiga di antaranya laki-laki yakni anak nomor 2,4 dan 14. Sampai sekarang, masih lima anaknya yang belum menikah yakni anak nomor 2 serta nomor 11 sampai 14. Kelimanya masih tinggal bersama Yazid sedangkan 10 anaknya yang telah berkeluarga tinggal di Surabaya, Ponorogo, dan sekitarnya. Cucu tertuanya sudah berusia 17 tahun. Sekitar tujuh bulan lalu, Yazid baru saja menikahkan anak ke-10 di Ponorogo. Tepatnya pada menikah 26 Desember 2006.

Keluarga dengan anak banyak tentu menyisakan banyak cerita menarik, terutama dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Yazid menuturkan, semasa masih tinggal bersama, ke-14 anaknya itu ditempatkan dalam enam kamar dengan ranjang susun di tiap kamar.

Suchufil yang kemudian bergabung dalam perbincangan menceritakan soal kebutuhan makan keluarga besarnya. Dalam sebulan, kebutuhan beras keluarga mencapai 1 kwintal. Begitu pula dengan urusan cucian. Mesin cuci yang awalnya hanya satu pun harus ditambah satu lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kesibukan ekstra makin terlihat tatkala seluruh anak, menantu dan cucunya berkumpul. Baik di hari-hari biasa terlebih saat Lebaran. Untuk memasak, Suchufil mengungkapkan, biasa memakai tiga kompor besar sekaligus sehingga tidak perlu lagi membeli. Apalagi salah satu anak perempuannya memiliki usaha katering.

“Mereka janjian sendiri bawa lauk-pauknya, lalu dimasak di sini,” tuturnya

Selain itu, tenda harus dipasang di halaman rumah untuk menampung seluruh keluarga.

Mendidik anak

Walau memiliki anak banyak, Yazid dan Suchufil mengaku tak pernah kesulitan atau kerepotan dalam merawat dan membesarkan seluruh anaknya. Kesulitan dialami keduanya hanya saat masih memiliki 4 hingga 5 anak.

Setelah itu, semuanya berjalan lancar. Wajar saja karena ketika anak kelima lahir, anak pertama sudah bisa momong adik-adiknya. Begitu seterusnya meskipun ada dua pembantu yang disewa.

Bagi sebagian orang, menghidupi banyak anak tentu tidak mudah. Yazid pun tersenyum ketika mendapat pertanyaan demikian. Maklum, pertanyaan itu kerap diajukan kepadanya oleh kenalan dan kerabatnya

“Saya sendiri tidak bisa menjawab. Kalau dihitung secara matematis tentu tidak cukup tapi saya selalu pasrah sama Allah. Alhamdulillah, selalu cukup” kata mantan Ketua PD Muhammadiyah Surabaya tahun 1990-1995.

Ia pun mampu menyekolahkan seluruh anaknya hingga perguruan tinggi. Anak bungsunya sebentar lagi akan memasuki jenjang universitas usai lulus dari Ponpes Gontor, Ponorogo.

Yazid memang tidak sekadar pasrah tetapi juga bekerja keras. Pekerjaan dari guru, usaha percetakan sampai menjabat direktur sebuah pabrik karet selama 40 tahun pernah dilakoninya. Hingga akhirnya pada tahun 2004, ia “dipaksa” salah satu sahabatnya, Amien Rais, Ketua Umum DPP PAN untuk menjadi anggota DPRD di usia senjanya. Selain itu, Yazid masih menyempatkan diri mengisi ceramah di sejumlah kelompok pengajian di sela rutinitas pekerjaannya.

Saat ditanya kiat-kiat membina keluarga besarnya, alumni Ponpes Mualimin Yogyakarta kontan bingung. Pasalnya, ia tak memiliki kiat khusus apapun kecuali memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah

“Kami membiasakan untuk mengembalikan semuanya kepada Allah karena pasti ada jalan keluarnya,” tandas pria yang dibesarkan di kawasan Boto Putih, Ampel ini. (*)

Menular ke Anak

Karunia 14 anak yang diterima M Yazid dan Suchufil Laily rupaya ikut menular ke beberapa anak mereka. Sebut saja anak pertama Yazid, Nur Hayati yang memiliki 8 anak. Lalu, anak kelima Yazid, Nur Qomariah yang dikaruniai 7 anak. Begitu pula dengan anak keempat Yazid, Zainal Abdi yang telah diberi momongan 4 anak.

Suchufil mengungkapkan, anak pertamanya memang bercita-cita punya anak banyak. “Dia kalau ditanya jumlah anaknya, selalu menjawab ‘baru delapan’,” katanya sambil tertawa.

Karunia anak banyak ini ternyata tak terlepas dari kehidupan Yazid yang juga berasal dari keluarga besar. Yazid merupakan anak ke-2 dari 12 bersaudara. Sebaliknya, Suchufil hanya memiliki satu saudara kandung.

“Mungkin ini karunia bagi saya yang hanya punya satu saudara tapi akhirnya diberi (Allah) banyak anak. Biar ramai,” ujar Suchufil sambil tersenyum.

Perempuan kelahiran Lumajang tahun 1945 ini mengaku sengaja tidak ikut KB karena takut akan efek sampingnya.

Walau begitu, ada pula anak Yazid yang belum dikaruniai anak kendati telah lama berkeluarga. Kondisi ini dialami anak ketiga Yazid, Nurul Laila.

“Berbagai cara sudah dicoba tapi belum berhasil. Tapi, tetap saya ingatkan untuk terus berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Allah,” tutur Suchufil. (*)

Beasiswa

Pendidikan adalah salah satu aspek yang menjadi perhatian utama tiap orangtua. Tak sedikit orangtua yang telah menyiapkan biaya untuk pendidikan anak-anaknya sejak masih bayi baik dalam bentuk tabungan atau asuransi. Kenyataan ini cukup wajar mengingat biaya pendidikan yang terus melambung tiap tahun.

Yazid berbeda dengan orang kebanyakan. Tak ada persiapan khusus yang dilakukannya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Pasalnya, seluruh anaknya mendapat beasiswa mulai tingkat sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi.

Itu karena cemerlangnya prestasi akademis mereka.

Bahkan, gara-gara sering mendapat beasiswa, Nur Sahiroh, anaknya yang kuliah di Unesa, sempat disindir oleh staf perguruan tinggi negeri itu. Nur yang menunggu diwisuda tahun 2007 ini dinilai tidak layak lagi mendapat beasiswa karena anak anggota DPRD.

“Tapi, dia protes karena itu hak dia atas prestasi akademisnya. Tidak ada hubungannya dengan profesi ayahnya,” ujarnya sambil tertawa.

Meski begitu, Yazid mengaku sempat menolak beasiswa untuk beberapa anaknya karena ada siswa berpretasi lain yang lebih membutuhkan.

“Waktu itu, saya minta beasiswanya diberikan ke peringkat 2 saja,” tandasnya.

Tidak ada metode khusus yang diterapkan Yazid dan Laily sehingga seluruh anaknya meraih beasiswa akademis. Ia dan Laily hanya fokus mendidik dan mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak sulungnya. Lalu, anak sulungnya itu diminta mengajari anak nomor 2. Setelah itu, giliran anak nomor 2 mendidik adiknya. Begitu seterusnya sampai anak bungsu.

Pola pendidikan ini terbukti efektif dengan raihan prestasi akademis seluruh anak Yazid. Bukan hal yang aneh tentunya mengingat Yazid sempat kuliah di Jurusan Pedagogik (Pendidikan) di Universitas Saweri Gading, Pare-Pare, Sulawesi Selatan tahun 1964.

Jadi, nggak perlu ikut les-les privat. Cukup diajari kakak-kakaknya,” tukasnya bangga.

Uniknya lagi, sejak SD sampai SMA seluruh anak Yazid disekolahkan di Muhammadiyah. Maklum, Yazid adalah aktivis Muhammadiyah sejak lajang sampai sekarang. (30 Juli 2007)

One response to this post.

  1. telah menjadi kebiasaan kami berenam,yakni Akhmad, Cecep, Kuncoro dan AR Hakim berdiskusi dan berdebat di rumah beliau, meski hanya merajut silaturahmi atau menghadapi persoalan bersama, dan, biasanya diskusi berjalan hingga larut malam. Di sela-sela pembicaraan itu, Ibu Yazid selalu menyediakan berbagai camilan. Menariknya… meski beberapa kali rumah sederhana di Jl Kedurus Dukuh I itu sering dikunjungi berbagai tamu istimewa para pejabat penting seperti Gubernur atau Walikota, apabila ada tujuh orang tamu uniknya gelasnya pun ada tujuh dengan corak yang berbeda-beda. itu pun gelas hadiah dari belanja ke pasar, seperti gelas sasa, gelas Rinso, dll.
    kami sering menyebutnya rumah di Jl. Kedurus Dukuh I itu sebagai “rumah cinta’ karena disitu banyak sekali barang-barang hadiah sebagai tanda cinta. Suatu saat “Ustadz”, begitu kami biasa memanggil pernah cerita soal kursi ‘dobol” yang sekarang telah diperbaiki dengan kulit imitasi berwarna hijau, katanya “itu adalah hadiah dari adiknya…” serta banyak lagi mobil tanda cinta dari Pabrik, air ledeng tanda cinta dari sahabat atau bahkan kiriman beras tanda cinta …
    Selamat jalan Ustadz, meski dirimu telah tiada namun kami tetap akan mengingat nasehat dan ajaran-ajaranmu. Semoga Allah menjadikan itu sebagai amal jariah tanda cintamu pada kami semua… Amien…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: