Cita-cita Berubah, Malah Masuk Wikipedia

Soe Tjen Marching, Arek Suroboyo Berprestasi (1)

Tak sedikit arek Suroboyo berprestasi membanggakan. Salah satunya adalah Soe Tjen Marching (35), PhD. Sepak terjangnya sebagai feminis membawa namanya masuk sebagai salah satu tokoh Indonesia keturunan Tionghoa versi Wikipedia Indonesia, situs ensiklopedi bebas di dunia maya.

Oleh : M Subchan Sholeh

“Saya nggak tahu kenapa saya bisa masuk Wikipedia,” ucap Soe saat ditemui di rumah orangtuanya di kawasan Potro

Soe Tjen Marcching (Dok. Jurnal Perempuan)
Soe Tjen Marcching (Dok. Jurnal Perempuan)

Agung V, Surabaya pekan lalu.

Yang ia tahu, pengasuh situs Wikipedia berkirim surat elektronik (e-mail) dan menanyakan kesediaannya dimasukkan ke situs tersebut. Tanpa bertanya lagi, Soe mengijinkan. Selanjutnya, Wikipedia mengirim e-mail tentang profil Soe. Setelah Soe mengoreksi beberapa hal, akhirnya profil wanita kelahiran 23 April 1971 ini resmi bergabung dengan 199 tokoh Indonesia keturunan Tionghoa yang telah tercatat lebih dulu. Namanya sejajar dengan konglomerat Liem Sioe Liong, ekonom Kwik Kian Gie, pebulutangkis top Rudy Hartono, bos pabrik jamu Jaya Suprana hingga fisikawan Yohanes Surya.

“Sekitar November 2006 (masuk ke Wikipedia). Saya sendiri belum sempat lihat karena waktu itu sedang sibuk mau pulang ke Indonesia,” ujar putri pasangan (alm) Sugiarto Gunawan dan Yuliana Susilo (69) ini. Kini, profilnya bisa disaksikan di http://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Tjen_Marching.Sampai sekarang, bungsu dari empat bersaudara ini tidak tahu mengapa namanya bisa masuk Wikipedia.

Wong kriterianya saja saya nggak tahu, mereka juga nggak cerita. Saya juga nggak diminta bayar ha…ha…ha…,” cetusnya ringan.

Tentu Wikipedia tak sembarangan memasukkan namanya. Soe Tjen banyak menulis artikel soal feminisme di berbagai suratkabar Indonesia maupun asing, serta cerita pendek. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne, Australia. Bahkan, salah satu cerita pendeknya telah diterbitkan Antipodes, sebuah jurnal sastra terkemuka di AS tahun 2002 (lihat bibliografi). Ia pernah mengajar Sastra Indonesia di Universitas Melbourne (2002-2003), dan Studi Asia di Universitas Ballarat, Australia (2003-2004). Sekarang, ia mengajar Studi Indonesia di Universitas London, Inggris.

“Mungkin karena feminis dan Indonesianis itu. Yang saya tahu saya orang ketiga yang masuk ke Wikipedia karena itu. Saya sendiri nggak tahu apa pantas disebut begitu,” tukas istri Angus Nicholls PhD (34), pengajar Sastra Jerman di Universitas London ini.

Ia juga seorang komponis. Tahun 1998, ia memenangi kompetisi komponis tingkat nasional di Indonesia. Sebuah komposisi pianonya, “Kenang” (2001) diterbitkan sebagai bagian dari sebuah CD, “Asia Piano Avantgarde: Indonesia” yang dimainkan Steffen Schleiermacher. Soe Tjen lulus sarjana pada jurusan Sastra Inggris UK Petra tahun 1993. Setahun berikutnya, ia mendapat beasiswa untuk meraih gelar MA pada jurusan Sastra Inggris di Universitas Canterburry, Selandia Baru. Usai menempuh studi MA hingga tahun 1996, Soe Tjen pun kembali ke Surabaya di tahun 1997. Ia membantu mengembangkan Sekolah Mandala yang didirikan ibunya. Tahun 1998, ia kembali mendapat beasiswa doktor. Kali ini, dalam bidang Studi Gender di Universitas Monash, Australia. Dalam empat tahun studinya selesai dengan disertasi berjudul “Otobiografi dan Buku Harian Perempuan-Perempuan Indonesia”.

Melihat perjalanan hidupnya hingga kini, Soe Tjen mengaku tak pernah bercita-cita jadi feminis. Awalnya, ia ingin menjadi dokter agar dapat mengobati orangtuanya. Sempat juga tertarik menjadi komponis, apalagi setelah menang kompetisi tahun 1998. Tapi, semuanya berubah tatkala ia mulai kuliah di UK Petra.

“Dulu saya melihat perbedaan laki-laki dan wanita itu sebagai sesuatu yang harus diterima. Perempuan itu memang harus dibedakan. Tapi waktu kuliah di Petra, saya mikir, kok enak harus dibedakan terus. Apes ya kalau begini terus,” celotehnya sambil menggerak-gerakkan tangannya memberi penegasan. Soe Tjen mulai bertanya-tanya. Nurani feminisnya makin terasah saat kuliah di Negeri Kiwi. Apalagi, ia sempat berpacaran dengan pria yang sangat patriarkis. “Bukan main dia menekan saya. Keluar malam saja tidak boleh. Wah, saya tambah menjadi-jadi,” ujarnya dengan nada tinggi. Di Australia, Soe Tjen kian fokus pada studi gender.

Kini, setumpuk agenda telah menanti Soe Tjen. Bersama suaminya, ia akan menyusun sebuah buku. Temanya, soal relasi Jerman dan Indonesia di abad 16. Waktu itu, ungkap dia, banyak misionaris Jerman masuk ke Indonesia. Ia hendak menulis sejarah dan ekspresi perempuan Indonesia saat itu.

“Dari beberapa buku yang saya baca, perempuan Indonesia di beberapa tempat saat itu jauh lebih bebas dan berani berekspresi dibanding perempuan Eropa. Banyak yang berdagang dan bekerja sementara perempuan Eropa kalau keluar rumah harus ijin suami,” paparnya. Buku ini dijadwalkan terbit dua tahun lagi. Di samping itu, Soe Tjen ingin kembali mengarang lagu setelah vakum delapan tahun.

“Sebentar lagi ada trio musikus Belanda yang mau datang ke Indonesia dan mengundang komponis-komponis untuk mengumpulkan materi. Belum tentu diterima, tapi saya mencoba,” lanjutnya. Ditanya ingin dikenal sebagai komponis atau feminis, Soe Tjen mengaku tak ambil pusing.

“Terserah mau disebut komponis atau feminis. Yang penting saya ingin lakukan apa saja yang ingin saya lakukan. Komponis ini hanya selingan tapi tetap serius. Fokus saya tetap, studi gender,” tandasnya mantap. (22 Januari 2007)

Karya Soe Tjen

– “Australia’s Indonesia, Indonesia’s Australia” (ditulis bersama Angus Nicholls) dalam Antipodes, Desember 2002.

– “Two Indonesian Women’s Diaries: Between Public and Private” dalam Colloquy, Mei 2003.

– Indonesian in a Flash (Tuttle Flash Cards) – ditulis bersama Zane Goebel dan Junaeni Goebel (2003).

– Making Out in Indonesian – ditulis bersama Peter Constantine (2004).

– “Women in Indonesia” dalam Women’s Issues Worldwide: Asia and Oceania. Manisha Desai, ed. Greenwood Publishing Group, 2003.

– “Sexual Transgression in the Autobiographies of Two Indonesian Women” dalam Intersections: Gender, History and Culture in the Asian Contex (Issue 10, Agustus 2004).

– “The Suppression of Indonesian Communist Party and Trade Unions.” dalam St. James Encyclopedia of Labor History Worldwide. St. James Press, 2004.

– “Interview with a Terrorist Suspect” (2006) [1].

– Indonesian Women’s Autobiographies and Diaries (akan terbit).

– “Descriptions of Female Sexuality in Ayu Utami’s Saman?” dalam The Journal of Southeast Asian Studies (akan terbit).

– “The Representation of the Body in Two Indonesian Women’s Novels” dalam Indonesian and Malay World (akan terbit).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: