Bakti untuk Warga Senior

(Dok. langit perempuan)

(Dok. langit perempuan)

Provinsi Jatim kembali menjadi pelopor dalam peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Atas prakarsa bersama pemprov dan DPRD, lahir Peraturan Daerah Propinsi Jatim Nomor 5 Tahun 2007 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia (Lansia). Aturan hukum ini akan membuat kesejahteraan hidup lansia lebih terjamin. Kini, tiba saatnya untuk berbakti kepada warga senior.

Oleh : M Subchan S

Pukul 08.00, Moedjajana (67) telah tiba di kantor Satuan Administasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Surabaya I. Lansia asli Surabaya ini tiba tepat saat jam buka. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya, janda seorang PNS ini harus mengurus pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB) untuk motor tua peninggalan sang suami.

Rumitnya birokrasi sempat membayang di benaknya sebelum tiba di kantor yang dikelola bersama oleh Dispenda Jatim dan Polda Jatim ini. Langkah kakinya menuju pintu masuk terlihat agak berat seperti terikat di sebuah bola besi. Namun, ketaatannya sebagai seorang wajib pajak membulatkan niatnya untuk tidak ragu.

“Selamat pagi, bu. Ada yang bisa saya bantu,” sapa seorang petugas perempuan yang berada di sisi kiri pintu masuk.

“Saya mau ngurus perpanjangan STNK,” kata Moedjajana dengan nada ragu.

“Baik, sekarang ibu ikut saya,” lanjut petugas tadi sambil menggandeng tangan Moedjajana. Ia dibawa ke loket di pojok paling kiri. Loket ini disediakan khusus untuk lansia, ibu hamil dan penyandang cacat.

“Nah, sekarang ibu duduk saja di sini, saya uruskan semuanya sampai selesai. Ibu nanti tinggal bayar saja pajaknya. Saya pinjam STNK-nya sebentar ya bu,” ucap sang petugas.

Laksana kemarau yang dihapus hujan sehari, dalam sekejap itu pula bayangannya akan ruwetnya birokrasi sirna sudah. Dalam tempo setengah jam, namanya dipanggil. Moedjajana bergegas menuju ke loket pembayaran.

“Semuanya 80 ribu bu,” kata petugas di loket pembayaran.

Perempuan yang mengenakan setelan baju muslimah warna hijau itu kemudian mengeluarkan tiga lembar uang. Selembar uang Rp 50 ribu, Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu. Setelah dibayar, selembar bukti pembayaran PKB untuk tahun 2008 dan STNK asli sudah diterima kembali oleh Moedjajana.

Rasa senang tak terkira meluap-luap dalam diri Moedjajana ibarat anak kecil yang dibolehkan naik ke atas tank. Wajahnya yang sedari tadi kusut berubah ceria.

“Ternyata enak sekali mbayar pajak di sini. Tinggal duduk, semua selesai,” tuturnya. Ia pun melenggang keluar kantor samsat dengan hati berbunga-bunga.

Layanan khusus lansia ini memang sudah lama diterapkan di Samsat Surabaya I. Dalam tempo tiga tahun mendatang, lansia di Jatim dipastikan akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas publik yang ramah untuk mereka.

Berkat lahirnya Perda 5/2007 pada 31 Juli 2007 silam. Disusul terbitnya Peraturan Gubernur (Pergub) Jatim No. 6 Tahun 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda 5/2007.

Kedua aturan ini mengatur detail peningkatan kesejahteraan lansia dalam berbagai sektor kehidupan yang menjadi tanggung jawab bersama pemprov, pemkab, pemkot, keluarga dan masyarakat sesuai kewenangan dan kemampuan masing-masing.

Perda 5/2007 sendiri berisi kebijakan-kebijakan yang bertujuan menyejahterakan para lansia. Yang termasuk dalam kategori lansia adalah seseorang yang telah berusia 60 tahun atau lebih. Dalam perda ini dijelaskan bahwa setiap sarana dan prasarana umum di lingkungan pemprop maupun swasta harus memperhatikan aksesibilitas bagi lansia. Baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik. Dalam bentuk fisik, aksesibilitas bagi lansia menyangkut fasilitas di bangunan umum, jalan umum, angkutan umum, serta sarana sosial lainnya. Aksesibilitas nonfisik meliputi pelayanan informasi dan pelayanan khusus. Dengan adanya kemudahan akses tersebut, kehidupan lansia bisa dipastikan lebih terjamin.

Di seluruh Indonesia, baru Provinsi Jatim yang memiliki aturan ini. Ini adalah prestasi kedua Jatim setelah sebelumnya berhasil menelorkan Perda No. 11 Tahun 2005 tentang Pelayanan Publik. Namun, jika dicermati pembuatan perda lansia ini boleh dibilang terlambat. Pemerintah pusat sendiri telah membuat UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia dan petunjuk teknisnya dalam penerbitan PP Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Lansia.

DPRD dan pemprov sendiri baru membahasnya pada 19 September 2005 dan selesai tahun 2007. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Jatim punya alasan sendiri membahas raperda ini. Jumlah lansia di provinsi paling timur pulau Jawa ini terbilang banyak. Sekitar 11 persen (5,4 juta jiwa) dari total penduduk Jatim sejumlah 39 juta jiwa.

Data Komisi E (Kesejahteraan Rakyat) DPRD Jatim menunjukkan, jumlah lansia di Jatim mencapai 5.490.370 orang. Dari jumlah itu, separo lebih lansia atau 2.745.690 orang tidak terurus. Ironisnya, angka lansia telantar ini kemungkinan besar bertambah banyak. Soalnya, masih ada 31.704 jiwa lansia (0,58 persen) yang tergolong rawan telantar. Dengan jumlah yang tidak sedikit, tentu perlu upaya serius untuk memberdayakan lansia agar fisik dan pikiran mereka tetap berguna.

“PBB sudah menyebutkan kalau abad 21 ini akan menjadi abad lansia mengingat banyaknya jumlah lansia dan ini akan sangat membebani. Agar itu tidak terjadi, salah satu caranya adalah dengan memberdayakan lansia,” ujar Ketua Yayasan Gerontologi Abiyoso Jatim, Trimarjono.

Lahirnya Perda 5/2007 dan Pergub Jatim 6/2008 disambut baik Trimarjono. Setidaknya, dengan terbitnya aturan ini kesejahteraan lansia akan lebih terjamin.

“Kami tentu lebih tenang dan nyaman dalam menjalani hidup karena adanya perlindungan hukum dari perda ini,” ujarnya.

Agar tidak menjadi macan kertas, mantan Ketua DPRD Jatim periode tahun 1992-1997 ini meminta agar seluruh instansi pemerintahan dan swasta menjalankan dengan konsisten apa yang tertuang dalam dua aturan itu.

Hal senada juga dilontarkan Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Rofi’ Munawar.

Bagi dia, agenda mendesak yang harus dilakukan pemprov adalah sosialisasi perda ini kepada masyarakat dan lembaga-lembaga yang menangani pemberdayaan lansia.

Selain itu, tambah dia, pemprop harus segera mengkoordinasikan dinas yang terkait dengan pelaksanaan perda ini. Tujuannya, untuk menyiapkan fasilitas-fasilitas publik yang sesuai dengan lansia untuk memudahkan aktivitas sehari-hari mereka.

“Seperti di tempat-tempat perbelanjaan, transportasi publik, lembaga-lembaga pendidikan khusus lansia, rumah sakit, dan panti-panti lansia” tandas politisi asal PKS ini.

Harapan yang sungguh sederhana mengingat persoalan klasik di negeri adalah penegakan aturan yang tidak konsisten. Tak terhitung sudah puluhan peraturan perundangan yang isinya sangat ideal namun gagal diterapkan di lapangan karena aparatnya tidak bersungguh-sungguh menegakkan aturan. (*)

Daerah Harus Dukung

Terbitnya Perda Lansia dari hasil pembahasan pemprov dan DPRD Jatim hanyalah awalan untuk menjamin kesejahteraan hidup lansia. Agar pelaksanaannya betul-betul maksimal, 38 kabupaten/kota di Jatim juga perlu membuat perda sejenis. Lalu, ditindaklanjuti dengan membuat petunjuk teknisnya yang dituangkan dalam peraturan walikota/ bupati atau SK bupati/walikota.

“Soalnya, ada yang dibiayai pemprov, pemkab/pemkot dan masyarakat. Oleh karena itu, pemprov harus segera melakukan sosialisasi perda dan pergub itu ke seluruh kabupaten/kota,” kata Ketua Yayasan Gerontologi Abiyoso Jatim, Trimarjono.

Mantan Wakil Gubernur Jatim periode 1985-1990 ini memandang sosialisasi kelembagaan ini memiliki arti penting. Utamanya dalam menjamin pelaksanaan perda ini secara efektif di seluruh provinsi

“Kalau perlu perwakilan pemkab/pemkot, DPRD dan Yayasan Gerontologi Abiyoso di kabupaten/kota dikumpulkan di kantor pemprop untuk sosialisasi. Setelah itu mereka diwajibkan buat perda lansia di daerahnya masing-masing,” pinta pensiunan TNI AL ini.

Setelah itu, baru dibentuk komisi lansia tingkat kabupaten/kota. Lalu, membuat peraturan desa (Perdes) soal pembentukan karang werda dan terakhir menyiapkan sarana dan prasarana fisik dan non fisik yang ramah lansia.

Ia sendiri sangat berharap agar seluruh kabupaten/kota di Jatim bisa memiliki perda lansia pada tahun 2008. Selanjutnya, di tahun 2009-2010 baru dilaksanakan penerapan perda ini. Khusus pelaksanaan perda ini, menurut dia, dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran masing-masing kabupaten/kota.

Tapi, ini jangan dijadikan alasan untuk tidak melaksanakan. Harus dilakukan walau cuma sedikit,” ujar pria kelahiran Geneng, Ngawi, 14 April 1933. (*)

Kemudahan di Semua Sektor

Bila diterapkan dengan sunguh-sungguh, Perda 5/2007 benar-benar akan memanjakan lansia. Betapa tidak, ada delapan sektor layanan untuk meningkatkan kesejahteraan lansia. Mulai pelayanan keagaaman, kesehatan, kesempatan kerja, pendidikan, bantuan sosial, perlindungan sosial, bantuan hukum serta kemudahan dalam memakai fasilitas umum.

Dari sisi kemudahan dalam memakai fasilitas umum, perda ini mewajibkan pemprov, pemkab/pemkot dan swasta melengkapi diri dengan sarana dan prasarana yang aksesibel untuk lansia. Misalnya, penyediaan tempat duduk khusus, loket khusus, pegangan tangan di tangga, lift, dinding, kamar mandi dan toilet serta telepon.

Perda ini memberi waktu tiga tahun kepada instansi pemerintah dan swasta untuk melengkapi aksesibilitas di sarana umum secara bertahap. Khususnya sarana umum yang tekah ada tapi belum dilengkapi aksesibilitas. Untuk sarana umum yang akan atau sedang dibangun maka wajib dilengkapi dengan aksesibilitas

Selain itu, para lansia yang potensial juga berhak mendapatkan kesempatan bekerja melalui sektor formal. Dunia usaha diwajibkan memberikan peluang seluas-luasnya kepada para lansia untuk mendapatkan pekerjaan.

“Tapi, harus disesuaikan dengan kemampuan fisik dan kualifikasi,” ujar anggota Komisi E DPRD Jatim Rivo Hernardus..

Ia menjelaskan, dalam perda lansia, peluang kerja untuk para lansia harus disesuaikan dengan enam faktor. Yakni, kondisi fisik, keterampilan atau keahlian, pendidikan, formasi yang tersedia, bidang usaha, serta faktor lain yang terkait dengan kemampuan lansia.

Mayoritas lansia tidak memiliki penghasilan lagi. Khususnya lansia yang bukan PNS. Kalau PNS kan masih bisa mendapatkan uang pensiun,” tambah politisi dari Partai Demokrat ini.

Untuk lansia potensial yang bergerak di sektor informal, lanjut dia, pemprov maupun pemkab/pemkot didorong memberikan bantuan stimulan secara non permanen yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Perda ini juga mewajibkan semua pengelola tempat wisata dan penyedia jasa transportasi umum dari darat, laut dan udara memberi potongan harga dan kemudahan pelayanan. Bagi Rivo, ini adalah hal wajar mengingat para lansia hampir tidak memiliki penghasilan.

Pemprov juga harus memudahkan pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi untuk lansia pada lembaga-lembaga keuangan, perpajakan, dan pusat pelayanan administrasi lainnya. Khusus tempat wisata, pengelolanya juga wajib menyediakan fasilitas rekreasi dan olahraga khusus lansia. Selain itu, pemprov wajib membentuk panti werda untuk lansia telantar sementara kelurahan wajib membentuk karang werda di wilayah masing-masing. (20 Feb 2008)

4 responses to this post.

  1. Posted by Anam on Oktober 6, 2009 at 12:23 am

    Sdr M. Subcan Sholeh S

    Tulisannya sangat menarik.
    Saya tertarik pada gambar wajah nenek di blog anda.
    Bila diizinkan akan saya pakai untuk slide saya yang akan dipresentasi di Korea tgl 11-14 Oktober 2009 di pertemuan Asian Society Against Dementia.

    Terima kasih

  2. terima kasih mas anam. pakai saja gambarnya mas, wong saya juga ngambil dari situs lain kok. semoga gambar itubisa membantu tugas anda. selamat bertugas, semoga sukses. oya, jangan lupa oleh-olehnya. ginseng !

  3. Posted by dinar adriaty on Januari 8, 2013 at 1:54 am

    eh…morotuwone dewe dibahas…btw, koq gk pake gambarnya sekalian….sapa tau banyak yg minta….royaltine jgn lupa ya…hehehehehe (manajere bu moedjajana…hahahahah)

  4. I actually think about exactly why you titled this blog,
    “Bakti untuk Warga Senior | AyahAan’s Blog”. Anyway I personally admired the blog!Thanks a lot,Cliff

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: