Apapun Aktivitasnya, Motornya Tetap Honda

Honda Revo (Dok. otocontest.com)
Honda Revo (Dok. otocontest.com)

Bulan Desember tahun 2002. Tepat di separo bulan Ramadhan itu, saya mendapat pengalaman seumur hidup yang tak pernah terlupakan. Waktu itu, saya sengaja akan berbuka puasa di kantor dengan teman saya. Setelah menunaikan salat Maghrib, saya dan seorang kawan bergegas turun ke lantai satu. Tanpa ada firasat apapun, saya melenggang santai menuju tempat parkir.

Saya bingung saat melihat motor saya sudah tidak ada di posisinya. Saya masih berpikiran positif, mungkin motor saya dipindah tukang parkir ke tempat lain. Saya pandangi dengan seksama dua baris motor yang parkir di depan kantor. Saya tanya tukang parkir. Dia tidak tahu.

Rupanya, motor kesayangan saya sudah lenyap. Hancur sudah hati saya. Terenggut sudah kuda besi yang telah setia menemani aktivitas saya selama lima tahun terakhir itu. Padahal, kunci setir terpasang dan alarm pemutus kontak dengan mesin sudah aktif. Ternyata, sang maling telah lama mengamati kebiasaan saya mengaktifkan tuas alarm kecil yang tersembunyi di bawah jok. Tanpa buang waktu, saya ajak teman untuk meluncur ke kantor polisi.

Apa yang hilang?,” tanya polisi sambil mengetik laporan saya.

Motor pak. Honda GL Max tahun 1996,” jawab saya.

Dimana hilangnya?,” ucapnya lagi

Di kantor,” tambah saya.

Siapa saksinya?,” ujarnya lagi.

Teman saya pak,” lanjut saya sambil menoleh ke Ikhsan, teman saya. Ikhsan pun mengangguk

Baik, nanti kami kabari kalau motor anda ketemu,” pungkas sang polisi berbadan kekar dan tegap itu.

Jawabannya membuat saya heran. Bukankah seharusnya dia langsung turun ke lokasi kejadian dan melakukan penyelidikan untuk melacak pelakunya. Saya lalu tersadar kalau biaya operasional polisi sangat terbatas dan laporan pencurian motor tentu bukan hal luar biasa. Beda dengan kasus kriminal semacam pembunuhan, terorisme, atau perampokan. Tak habis akal, saya laporkan kasus pencurian itu ke sebuah radio swasta. Tapi, ini pun tak banyak membantu.

Sepanjang perjalanan kembali dari kantor polisi ke warung langganan untuk berbuka, kenangan kebersamaan dengan motor seharga Rp 6,2 juta itu muncul. Apalagi GL Max itu adalah motor Honda pertama yang dibelikan ayah untuk saya di tahun 1997. Tepat saat saya lolos dari SPMB dan diterima di FISIP Unair

Walau bekas, tetapi mesinnya masih terawat baik. Ketangguhannya pun terbukti.

Irit bahan bakar, kuat di tanjakan, dan enteng tarikannya. Ditambah lagi, bengkel AHASS ada di mana-mana sehingga perawatan rutin bisa saya lakukan kapanpun. Suku cadangnya pun sangat lengkap dengan harga terjangkau.

Cemerlangnya kualitas motor Honda serta layanan purna jual nan prima memudahkan saya menjalani padatnya aktivitas perkuliahan, pribadi, sampai organisasi. Kebetulan, saya aktif sebagai pengurus Himaprodi, BEM FISIP dan sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus (OMEK) dalam kurun 1998-2002. Dampaknya, mobilitas saya terbilang tinggi. Baik di dalam kota maupun luar kota. Perjalanan luar kota bersama teman dengan motor lebih sering saya lakukan dibanding semasa di SMA.

Utamanya di daerah-daerah kaya tanjakan seperti Lawang, Malang; Prigen, Pasuruan; serta Trawas, Cangar dan Pacet di Mojokerto. Umumnya, untuk mengikuti pelatihan, atau survei lokasi kegiatan kemahasiswaan. Sebagaimana lazimnya motor empat tak, aneka tanjakan dilahap dengan mudah oleh GL Max kebanggaan saya. Untuk rute mendatar seperti Gresik, dan Jombang, tentu lebih mudah lagi.

Uniknya, motor saya juga pernah menjadi saksi perjuangan cinta seorang teman kuliah. Sebut saja namanya Deni. Dia jatuh hati pada Melati, teman kuliah seangkatan. Tapi, Deni tergolong pribadi yang tertutup. Kekagumannya dipendam sendiri tanpa diketahui teman lain. Sampai suatu ketika, dia melontarkan niatnya mengajak saya berlibur ke rumah seorang teman kami bernama Sudarso di Lamongan. Tanpa prasangka apapun, saya setuju dengan rencananya pada liburan semester itu. Sudarso pun siap menyambut kami. Kelak saya baru tahu kalau itu semua cuma kedok.

Sesuai rencana, kami bertemu di kampus Sabtu pagi. Saya percayakan Deni untuk menyetir sementara saya membonceng. Rute Surabaya-Lamongan dengan mudah kami libas dalam tempo 1,5 jam. Apalagi mesin Honda sudah dikenal makin kencang lajunya jika sudah panas. Tiba di rumah Sudarso, kami beristirahat sejenak. Selepas santap siang dengan ikan tongkol goreng plus sambal terasi, kami berbincang ringan di teras.

Di sela obrolan seru kami, Deni tiba-tiba menggamit lengan saya menuju halaman. Rencana yang sudah disusun rapi Deni pun terlontar dari mulutnya yang tebal. Dia meminta saya menemaninya pergi ke Rengel, Tuban sore itu juga.

Mau kemana ke Tuban. Ke rumah saudaramu,” tanya saya

Bukan,” ujarnya.

Terus kemana?,” tanya saya

Ke rumah Melati,” lanjut Deni sambil menunjukkan secarik kertas bertuliskan alamat lengkap sang gadis impian.

Mendengar jawabannya, saya sontak kaget seperti habis dilempar mercon. Saya tak percaya kalau sudah dikerjai salah satu sahabat saya.

Jadi tujuanmu sebenarnya itu ke Tuban. Dasar playboy cap kapak,” sergah saya kesal.

Deni mengangguk-angguk bagai burung hantu sambil tertawa tanpa beban. Sudarso yang mendengar omelan saya ikut-ikutan tertawa. Deni pun mengaku kalau dia belum memberitahu rencana kunjungannya kepada Melati. Katanya untuk kejutan. Saya tak langsung setuju. Saya interogasi Sudarso soal rute dan waktu tempuh menuju Rengel.

Kira-kira 1 jam. Nggak jauh kok,” ujar Sudarso sambil mencoret-coret petunjuk di atas kertas menuju Rengel. Deni makin di atas angin saja mendengar penjelasan Sudarso. Demi rasa setia kawan, saya kabulkan keinginan Deni. Tapi, kali ini saya yang menyetir motor. Separo perjalanan, rintangan berat sudah menghadang. Kumpulan awan gelap yang sedari tadi menggantung di langit tumpah ruah ke bumi. Dalam sekejap, genangan air bercampur tanah bermunculan. Konyolnya, saya lupa membawa jas hujan. Saya pontang-panting mencari tempat untuk berteduh. Pos kamling di pinggir jalan jadi pilihan. Sayang, semuanya sudah telat. Baju dan celana kami terlanjur basah kuyup.

Balik saja Den, nggak mungkin diteruskan. Hujannya deras,” pinta saya sambil memelas.

Dasar Deni. Pendiriannya sekeras batu karang. “Jangan, sudah tanggung. Sebentar lagi juga sampai,” katanya sambil memeras celananya yang basah.

Masak ke rumah orang basah-basahan begini,” tanya saya dengan cemberut.

Deni adalah Deni. Ada saja jawabannya. ”Nggak apa-apa. Nanti pinjam baju adik lelaki Melati,” ucapnya enteng.

Busyet. Rupanya Deni sudah tahu betul silsilah keluarga Melati. Percuma pula membantah Deni. Saya terpaksa setuju dengan syarat Deni yang menyetir karena saya sudah lelah dan menggigil kedingingan. Deni setuju. Perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini, gas tak bisa ditarik terlalu kencang. Jalanan sudah dipenuhi genangan air setinggi mata kaki di sana-sini. Setelah 1,5 jam, tibalah kami di rumah Melati.

Assalamualaikum,” kata Deni

Alaikumsalam,” jawab Melati dari dalam rumah

Begitu pintu dibuka, Melati kaget bukan kepalang. Dia pantas kaget untuk dua alasan. Pertama, kaget dengan kunjungan dadakan kami. Kedua, kaget melihat dua remaja basah kuyup seperti kucing kecebur kali yang nekat bertamu. Ayahnya yang ada di belakangnya tak kalah kaget. Sambil geleng-geleng kepala, sang ayah menyuruh Melati mengambil dua potong baju dan dua sarung untuk kami berdua. Kami disilahkan berganti pakaian di kamar mandi sementara baju dan celana kami dijemur sejenak.

Usai salat Maghrib berjamaah dan makan malam, kami berempat berbincang-bincang di ruang tamu. Raut muka Deni terlihat ceria dan bahagia. Maklum, keinginannya terwujud. Namun, waktu jua yang membatasi. Jarum jam menunjukkan pukul 19.30. Tiba waktunya bagi saya dan Deni untuk pamitan. Kami kembali memakai baju dan celana yang masih basah. Masih Deni yang menyetir. Ini sebagai hukuman atas kenekatannya. Jam sembilan malam, kami sampai di rumah Sudarso. Rasa lelah dan kedinginan membuat saya langsung menuju tempat tidur dan pergi ke alam mimpi. Deni sendiri memilih begadang sambil menceritakan perjalanan kami kepada Sudarso.

Hei, ayo turun. Kok melamun saja. Sudah lapar nih,” teriak Ikhsan. Dia keheranan melihat saya masih duduk di boncengan motor kendati sudah tiba di warung.

Saya memang pantas terpukul dengan peristiwa ini. Kehilangan motor yang telah menjadi pendamping saya selama ini bukan hanya membuat saya dimarahi habis-habisan oleh ayah dan ibu. Lebih dari itu, mobilitas saya yang lumayan tinggi di perusahaan penerbitan menjadi sedikit terhambat. Untung atasan masih memberi toleransi. Bahkan, perusahaan memberi ganti rugi meski cuma Rp 4 juta.

Pada dua pekan pertama, saya terpaksa naik angkutan umum menuju ke kantor. Untuk tugas-tugas di luar kantor saya terpaksa meminjam motor teman yang kebetulan hanya bertugas di dalam kantor. Syaratnya, saya harus membelikan bensin untuk motornya dan mengembalikan sebelum jam pulang kantor. Tak ada pilihan lain bagi saya kecuali menerima tawarannya.

Melihat kesulitan saya, ayah tak tega juga. Ayah lantas menjebol tabungannya untuk membelikan saya motor. Lagi-lagi motor Honda, tapi keluaran lama. Persisnya, Honda Astrea Grand tahun 1994. Harganya Rp 6 juta. Saya sepakat dengan pilihan ayah. Bagi saya, yang penting mobilitas saya tak terganggu lagi. Pertimbangan ayah pun sangat sederhana.

Honda itu tangguh dan harga jual kembalinya tinggi,” tandasnya mantap laiknya promosi seorang sales.

Ayah memang konsumen setia Honda. Adik pertama saya dibelikan Honda Astrea Grand tahun 1996, dan adik kedua saya dihadiahi Honda Supra keluaran tahun 1999. Ayah benar. Honda memang tak pernah mengecewakan. Tiga tahun motor Honda lawas itu menemani dengan setia aktitivitas keseharian saya. Seusai menikah di tahun 2005, motor itu tetap saya pakai. Bergantian dengan motor baru milik istri. Lagi-lagi Honda. Tepatnya, Supra X 125. Sampai sekarang, dua motor Honda beda generasi itu masih bersanding harmonis laksana sepasang pengantin.

*) Tulisan ini ditujukan untuk mengikuti Honda Writing Contest tahun 2008 lalu. Namun, tulisan ini telah tereliminiasi di babak penyisihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: