Raja Seperti Macan, Rakyat Seperti Hutan

anderson2

Wawancara dengan Benedict R. O’Gorman Anderson (Ben Anderson), pakar Indonesia dari AS (23 Desember 2002)

Pengamat politik banyak memprediksi terjadinya apatisme masyarakat saat Pemilu 2004, terkait dengan munculnya ratusan partai baru yang tidak menjanjikan perubahan, sama halnya dengan sejumlah partai besar yang makin menurun performanya akhir-akhir ini. Analisis Pak Ben?

Saya kira ini belum bisa dipastikan, saya beri satu contoh di Flipina. Hampir 100 tahun ada pemilu terus menerus yang selalu menimbulkan kabinet atau pemerintahan yang dipegang elit-elit politik dan ekonomi. Jadi tidak pernah janji-janji dalam kampanye itu dipenuhi, toh masyarakat masih bersedia ke tempat pemungutan suara, selalu dengan harapan bagaimana bahwa kali ini akan terjadi sesuatu yang lebih baik. Itu mengherankan, bahwa mereka sudah agak sudah putus asa, saya juga yakini hal itu disini. Dua tahun lagi belum jelas, ada kemungkinan biarpun perolehan suara PDI Perjuangan turun, toh lawannya akan lebih turun lagi.

Pengamat ekonomi, Umar Juoro memperkirakan perkembangan ekonomi tahun 2003 diperkirakan lebih buruk dari tahun ini,hanya sekitar 3 sampai 3,5 persen. Saat menyambut perdagangan bebas, Indonesia diprediksi hanya jadi pasar bukan lokasi investasi. Pak Ben membuat penelitian tentang Jaman Revolusi 1944-46. Pada akhir Jaman Jepang dan selama Jaman Revolusi itu keadaan ekonomi juga sulit luar biasa. Menurut orang tua kami banyak orang pakai karung goni karena nggak punya pakaian. Jaman Jepang itu makan nasi sudah termasuk mewah karena mayoritas rakyat sudah makan bubur, makan tiwul, makan gaplek, makan bekicot, daun singkong, dan lainnya.Ratusan ribu romusha mati atau hilang begitu saja. Kalau mengingat penelitian tentang Jaman Jepang dan Jaman Revolusi itu lalu membandingkannya dengan keadaan sekarang, apa catatan Pak Ben? Apa yang sama, apa yang berbeda?

Jaman itu orang Indonesia menderita bukan main, bukan hanya akibat jaman Belanda atau Jepang. Toh harus dimengerti, bahwa saat itu harapan untuk masa depan besar, mereka semua percaya akan berubah dan mereka tidak mengalami jaman ‘gendut’. Tapi sekarang pada tahun 80-an, atau awal 60-an banyak sekali orang Indonesia merasa mereka sudah makmur dan sudah berterimakasih pada Suharto. Dengan demikian mereka jatuh seperti sekarang ini khususnya kelas menengah bagian bawah itu membuat suatu psikologi yang cemas-cemas atau gelisah, justru karena mereka tidak melihat dua tiga tahun lagi situasi akan kembali kepada yang dulu, sedang jaman dulu tidak mungkin lebih jelek dari yang mereka alami. Itu bedanya.

Juga pada waktu itu, globalisasi ekonomi tidak seperti sekarang. Ekonomi Amerika sedang goyang, ekonomi di Amerika Latin banyak yang dalam situasi yang sangat berbahaya, Eropa juga lemah. Jadi ini seperti ada epidemi flu ekonomi dimana Indonesia tidak mungkin luput. Tapi kalau dibandingkan dengan Thailand, dan Malaysia, saya melihat semangat lebih tinggi disitu. Banyak koruptor di kedua tempat itu tapi keduanya merasa bahwa mereka lama-lama bisa menghadapi atau mengatasi masalah dan keduanya punya pemerintah yang relatif stabil dan aktif, sedang pemerintah disni sangat pasif, kecuali yang belakangan ini di Aceh. Tapi itu juga akibat ancaman dari Amerika.

Penerapan otonomi daerah sejak 1999 berimplikasi pada munculnya ‘raja-raja’ kecil pada sejumlah daerah yang menomorsatukan kepentingannya. Akibatnya, kepentingan rakyat lebih banyak dipinggirkan. Apa benar kita sedang setback pada jaman kerajaan Jawa dulu? Bagaimana raja-raja Jawa saat itu memperhatikan kepentingan rakyatnya?

Jaman dulu, pertama jumlah penduduk sangat minim. Menurut perhitungan Raffles, tahun 1810, dulu penduduk jawa hanya empat juta manusia, sebagian besar wilayah Jawa adalah hutan rimba. Jadi, waktu itu tidak bisa berbuat banyak karena tidak punya mesin, alat telekomunikasi, tidak punya apa-apa. Jadi itu nggak bisa dibandingkan dengan pemerintahan di jaman modern. Raja saat itu harus selalu curiga pada bupati-bupatinya, yang setiap waktu bisa meloloskan diri dari mereka.Jaman sekarang, kalau dikatakan raja kecil banyak, kita harus mengerti kalau raja itu cuma metaforis, karena orang-orangnya bagaimanapun harus nongol sebagai akibat pemilihan, biarpun itu pemilihan yang tidak sehat. Pada umumnya kepala daerah sekarang adalah birokrator atau pedagang bukan keturunan bangsawan. Saya sendiri melihat masalah utamanya, Otoda dalam arti yang sesungguhnya masih sulit selama tentara tidak melepaskan sistem teritorialnya karena di belakang ini semuanya tentara belum bisa merubah diri menjadi tentara yang normal, dimana tugasnya membela negara dari bahaya dari luar.

Prosentase dari anggaran belanja negara untuk tentara itu sangat minim, 30% .Lainnya diperoleh dari bisnis, logging, perkebunan, dan sebagainya. Jadi masalahnya walau ada raja-raja kecil di Batam atau Sulsel, toh di belakang mereka itu militer. Selalu militer menjadi tulang punggungnya. Jadi banyak konflik sekarang, antara kesatuan ini dan itu, tentara melawan polisi, kalau dibandingkan dengan raja-raja dulu nggak tepat, sulit.

Apa Pak Ben menilai raja-raja Jawa dulu lebih memperhatikan kepentingan rakyat?

Tidak, saya kira jaman itu konsep harus berbakti pada rakyat sama sekali tidak ada tapi bahwa kalau raja itu baik sama rakyatnya, itu bagus, tapi legitimasinya tidak tergantung pada apa dia baik atau tidak baik dan sebagian besar memang tidak baik.Cari di Babad Tanah Jawi, sunan atau sultan yang baik, bandingkan itu semua. Ada ungkapan bagus tentang raja dengan rakyat yang ditulis dengan bagus oleh almarhum teman saya..ehm saya lupa namanya. Pokoknya dia sebut syair-syair kuno Jawa, dimana raja diibaratkan seperti macan, rakyat seperti hutan dan dikatakan, kalau tidak ada hutan raja sulit, tapi kalau tidak ada macan, hutan tidak sulit.

Salah satu sebab terjadinya gerakan separatis seperti di Aceh atau Irian karena mereka merasa dijajah oleh pemerintah ‘Jawa’. Dengan pemikiran Pak Ben tentang “The Idea of Power in Javanese Culture” (1972), sesungguhnya menurut Pak Ben ini hegemoni kultural atau struktural ‘Jawa’? Atau Pak Ben melihat ada aspek lain?

Well, seperti terjadi dulu kalau saya omong dengan teman-teman Fretilin dan sebagainya, konsep Jawa di mata mereka bukan sesuatu yang etnis. Jawa itu nama umum untuk orang luar. Seperti misalnya segala muslim yang kumpul di Arab, namanya pemekaran Jawa walaupun mereka datang dari Johor, atau dari daerah lain, pokoknya Jawa. Ini struktural jelas, artinya awal 80-an sampai akhir 70-an, Aceh itu normal, Gubernur sipil, propinsi teladan kok bisa dengan mendadak menjadi propinsi yang paling rawan. Itu jelas dibikin rawan, yang bikin rawan itu pemerintah. Ini timbul setelah sumber-sumber gas alami ditemukan dan konglomerat asing masuk terus mereka ini menjadi enklave-enklave yang tertutup dimana pekerjanya dibawa dari luar. Jadi mereka betul-betul merasa dieksploitir dan juga kasus Freeport yang menentukan seolah-olah orang Jakarta berkongkalikong dengan konglomerat besar luar negeri untuk ambil semua sedang orang asli cuma dikasih limbah. Cara pemerintah menjaga kepentingannya disitu dengan kekejaman luar biasa dari pihak tentara khususnya baret merah dan kostrad. Itu mengerikan, saya beri contoh yang terkenal waktu Abinowo jadi Panglima di Irian, ketika dia mencari orang-orang OPM, dia merasa bahwa sebuah desa ini sudah simpatik, kalau lagi keluar cari nafkah di pagi hari desa itu malah dikepung oleh tentara, semua orang disuruh masuk satu gedung dan dibakar hidup-hidup. Terus sore hari kalau lagi pulang, orangnya Abinowo menjaga, pagi disuruh makan santai. Kekejaman itu nggak mungkin terjadi di masa revolusi atau masa Bung Karno. Itu sudah sesuatu yang hampir tidak bisa dibayangkan bahwa tentara bisa begitu. Mentally, kalau mereka (orang Irian) merasa bahwa rakyat Indonesia bisa diperlakukan seperti itu maka tidak heran bila orang Timor atau Aceh mengartikan mereka sudah bukan bangsa Indonesia lagi. Jadi sikap orang Irian dan Timor sebagai reaksi terhadap perlakuan tentara yang tidak merasa bahwa orang Irian itu sebangsa, jadi kalau begitu memang kita bukan bangsamu. Itu yang paling penting. Jadi sumber semuanya itu adalah kerakusan di lingkar Suharto dan kekejaman luar biasa dari tentara khususnya golongan-golongan elit dan ini memang sangat kacau. Saya kasih contoh, saya punya teman yang dekat dengan Pangdam Irian yang menjabat 3-4 tahun lalu, dan sebenarnya Panglima ini lumayan diterima oleh orang disana. Pada satu waktu, mereka bertemu di suatu bar di Jayapura. Panglima menangis, ditanya kenapa?, dia jawab, saya bagaimana disini. Kostrad disini sama sekali tidak peduli sama saya. Mereka cuma ke Jakarta, terbang ke Australia, yang baret merah, ketawa kalau saya kasih teguran. Jadi tentara-tentara lokal bawahan saya, mereka bertahun-tahun disini dan tahu kalau saya disini cuma 1,5 tahun. Di depan mereka bilang ya pak, ya pak, tapi mereka tetap jalan terus dengan bisnis-bisnis yang mereka sudah biasa. Jadi saya resminya panglima, tapi dalam prakteknya saya seperti lumpuh. Apalah artinya kalau begitu. Memang pendisiplinan terhadap tentara itu sulit banget. Bagi saya hegemoni ini lebih struktural, saya nggak melihat banyak hubungan dengan kultur Jawa. Manusia kalau dilatih dengan cara tertentu akan bisa menjadi binatang. Yang penting itu training-nya, dan mereka merasa diri di atas hukum, karena mereka bisa berbuat apa saja tanpa terkena sanksi hukum.

Banyak harapan pada masa-masa reformasi pada tokoh seperti Amien Rais, Gus Dur, dan Megawati. Perkembangannya, performa mereka tak seperti harapan masyarakat dalam membenahi negeri ini. Prof Syafii Maarif mengatakan mereka masih ‘hijau’ dan miskin pengalaman dalam memimpin sebuah bangsa. Bagaimana Pak Ben memahami hal ini?

Saya merasa mereka ini semua adalah orang yang dibesarkan atau masa pendewasaannya dalam lingkungan Orba. Reflek-reflek mereka terbiasa dengan politik uang, berbelit-belit, kongkalikong di kalangan elit. Mereka tidak pernah mengalami betul-betul dunia yang terbuka, demokratis dan mereka juga korban dari pembodohan. Suharto cuci otak anak muda tentang sejarah Indonesia. Saya heran omong-omong dengan anak muda Indonesia sekarang, ditanyakan misalnya, Tan Malaka itu siapa, mereka bilang nggak pernah dengar namanya, dr Sutomo, nggak pernah tahu. Sedikit banyak generasi Amin, Mega dan sebagainya, tidak jauh di atas itu, saya nggak tahu kalau Amien Rais disuruh omong panjang lebar tentang pergerakan, dia bisa nggak. Saya nggak yakin.

Jadi ini suatu luka peran terhadap kebudayaan Indonesia. Yang perlu sekarang itu justru di kalangan muda adalah pengetahuan yang lebih luas dari angkatan yang sudah hopeless diatasnya. Saya tidak harapkan apa-apa dari angkatan ini yang timbul ketika Suharto lebih dari 30 tahun berkuasa. Kita harus taruh harapan pada angkatan seusia anda.

Bisa diartikan kelas menengah Indonesia belum optimal berperan mengawal perubahan bila berkaca dari kegagalan tokoh-tokoh itu?

Saya merasa kelas menengah ini sedang hopeless, sama sekali tidak ada kreatifnya. Kalau melihat tontonan TV-nya, kita bisa menilai kelas menengah, tontonannya itu telenovela yang konyol, reklame-reklame yang menjemukan, musik-musik yang paling-paling dangdut atau ada sedikit variasinya. Sudah 50 tahun merdeka kok seperti itu, kalau cari hiburan anak muda dari kelas menengah di Jakarta, nggak ada kecuali ke mal dan Mc Donald’s. Itu kan mengerikan. Ini kalau kelas menengah mau memimpin dia harus punya keyakinan pada diri sendiri, harus berani, tapi sekarang masih takut-takut. Walaupun mereka tidak senang dengan tentara, polisi, dan sebagainya tapi toh hati kecilnya mengatakan lebih baik tentara atau polisi daripada massa. Mereka lebih takut pada massa. Mereka ngomong betapa menjengkelkannya orang Madura di pinggir jalan, tapi kalau menjelek-jelekkan aparat yang menguasai Jatim ya kadang-kadang tapi tidak sesering ngrumpi soal orang Madura.. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak bisa berdiri sendiri, kelas menengah yang merasa diri masih memerlukan perlindungan. Bukan hanya manja, tapi kelas menengah yang merasa diri masih tergantung pada birokrasi, yang masih mengharapkan investasi dari luar negeri. Istilahnya, itu kelas menengah yang dependen dan menjengkelkan luar biasa itu. Mereka mengeluh tentang pendidikan di Indonesia, tapi daripada memperbaiki, anaknya dikirim ke luar negeri, terus mereka jengkel karena anaknya akhirnya kembali dengan sikap Amerika, Australia terus kecewa.

Tesis Huntington tentang benturan antar peradaban khususnya Islam dan Barat, akhir-akhir ini seolah mendapat bukti terutama di Indonesia dengan ditangkapinya sejumlah tokoh Islam yang dituduh Amerika terlibat jaringan teroris internasional. Sesungguhnya yang terjadi ini menurut Pak Ben, benturan antar kebudayaan atau antar kepentingan?

Konsep saya tentang negara ini adalah orang tidak akan melarikan diri kalau mereka merasa diri punya massa. Itu melanda juga di Timteng, dengan rongrongan seperti Amerika dan lainnya mereka menjadi luar biasa pasif. Demo besar-besaran tidak ada, di Indonesia juga tidak ada. Jadi yang timbul itu golongan-golongan kecil yang penuh frustasi, minoritas yang jalan keluarnya cuma begini-begini. Itu terjadi dulu di Mesir, setelah diberantas oleh pemerintah yang otoriter dan korup, tapi ya memang massa tidak tersangkut, sulit. Jadi benturan antar kelompok kecil seperti ini waktu itu bisa dikatakan antar kepentingan. Ini banyak tergantung sikap dari pemimpin setempat, kalau mereka merasa kepentingannya tersangkut mereka bisa hasut kiri kanan, tapi kalo nggak, ya nggak. Saya heran ketika di Indonesia, masalah suku menjadi sangat genting justru pada waktu sistem otoriter selesai. Orang-orang merasa untuk mendapat suara, menjadi Bupati atau Gubernur, mereka tidak cukup hanya memeras Cina. Mereka harus mendapat sokongan dari masyarakat, paling gampang ya pakai isu-isu.

Di Kalimantan, di belakang huru hara orang Dayak, lebih karena frustasi intelektual Dayak yang tidak pernah mendapat ijasah dari luar negeri dan mereka tidak diharapkan Suharto cs. Setelah ramai-ramai orang Madura dibunuh habis-habisan, orang ingin naik semua jadi Sekwilda atau Bupati, setelah itu nggak ada masalah lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: