Penghargaan untuk Korban Pencemaran

Limbah cair industri kertas yang tidak diolah langsung dibuang ke Kali Surabaya (Dok. Ecoton)

Limbah cair industri kertas yang tidak diolah langsung dibuang ke Kali Surabaya (Dok. Ecoton)

Malam Anugerah Bencana Lingkungan 2006 dengan agenda utama penyerahan Pagebluk Award menjadi ajang penghargaan untuk masyarakat korban pencemaran industri. Padahal, sedianya penghargaan itu diberikan kepada industri pencemar lingkungan. Wajar memang mengingat tak ada satu pun industri yang “meraih” Pagebluk Award hadir dalam acara itu.

Oleh: M Subchan Sholeh

“Kami sudah cukup lama tersiksa dengan pencemaran industri di desa kami. Jadi, sangat pantas PT Jaker (Jaya Kertas) mendapat Pagebluk Award,” kata Kastamun, warga Desa Kemaduh, Nganjuk saat “mewakili” menerima Pagebluk Award untuk PT Jaker atas kategori The Most Disturbing and Annoying Industry (industri yang meresahkan dan tidak peduli masyarakat.

Ia menuturkan, Sungai Avoor I yang melintasi Kemaduh dan lima desa lainnya yakni Klinter, Pisang, Pandan Toyo, Pandan Asri, dan Nglawak tercemar limbah cair yang diduga berasal dari PT Jaker sejak tahun 1997. Pencemaran itu berdampak pada perubahan kondisi sungai. Tiap pagi dan malam, pabrik yang berdiri sejak 1982 itu membuang limbah yang membuat air sungai berubah warna menjadi biru, merah atau putih seperti santan. Ikan dan biota air pun menghilang. Akibatnya, warga yang umumnya petani atau buruh tani miskin kehilangan profesi sampingan sebagai pencari ikan dan kijing.

Kecaman serupa juga disampaikan Mulyo Bhakti, warga Desa Bambe, Gresik saat “mewakili” PT Surabaya Agung Industry Pulp & Paper Tbk menerima Pagebluk Award untuk kategori River Pollution Long Life Achievement. Penghargaan ini untuk industri yang secara konsisten mencemari Kali Surabaya sehingga meracuni sumber air minum warga Surabaya dan Gresik.

“Sudah tak terhitung berapa kali ribuan ikan mati massal karena pencemaran limbah PT SAK sehingga warga kesulitan mencari ikan. Tapi, perusahaan itu tak pernah dihukum setimpal,” tegas Mulyo.

Begitu juga dengan Pagebluk Award untuk kategori The Most Disobedient Industry. yang diraih PT Jatim Steel, Sepanjang. Penghargaan ini diterima warga Taman, Imam Suharmadji. Perusahaan ini dua kali berturut-turut menerima masuk dalam kategori hitam Proper KLH karena tidak melakukan upaya pengelolaan lingkungan dan pengendalian dampak lingkungan. Termasuk Ketua Dewan Lingkungan Hidup Sidoarjo Nurul Ahdi yang “mewakili” PT Eureka Aba, Mojokerto meraih penghargaan sebagai The Most Excluder Industry. Nurul tercatat aktif memantau pencemaran yang dilakukan perusahaan kertas ini. Selain itu, warga Mojosari, Mojokerto juga mewakili PT Alu Aksara Pratama, Mojosari, Mojokerto meneirma The Stinkiest Industry atau industri yang dalam aktivitas produksinya menimbulkan bau yang mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga sekitar. PT Lapindo Brantas Inc (PT LBI) pun tak luput meraih penghargaan sebagai The Most Careless Industry atau industri yang paling ceroboh dalam pengendalian pencemaran saat eksplorasi gas hingga menimbulkan banjir lumpur lumpur panas di Porong, Sidoarjo. Penghargaan PT LBI ini diterima warga Porong.

Praktis, tak ada satu pun wakil industri pencemar yang hadir dalam acara yang digelar Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan (KJPL) di Gedung Cak Durasim, Minggu (30/7) malam. Humas KJPL Teguh Ardi Srianto mengaku sudah mengantisipasi hal ini. Bagi Teguh, hal itu tidak penting.

“Kami sudah mengundang masyarakat korban dari industri pencemar tersebut. Oleh karena itu, KJPL menyerahkan award itu kepada mereka dan diharapkan masyarakat korban akan menyerahkan kepada industri yang bersangkutan,” papar reporter Radio Suara Surabaya ini.

Selain penghargaan untuk industri dengan kinerja lingkungan buruk, Tim Riset KJPL yang diketuai Vita Monica dari Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra juga memberi penghargaan untuk media massa dan lembaga non pemerintah yang melakukan upaya mendorong penyadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan. Untuk media cetak, penghargaan diberikan kepada harian sore Surabaya Post sebagai The Most Environmental Indepth Newspaper atau media massa yang secara mendalam memberitakan kasus lingkungan. Adapun harian pagi Kompas edisi Jatim meraih The Most Informatif and Educatif Newspaper for Environmental Issue.

Terakhir, Radio Suara Surabaya mendapat The Most Interactive Radio for Environmental Cases Dissemination. Lalu, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) meraih penghargaan sebagai The Most Focused NGO on Water Pollution Issue.

Menurut Ketua KJPL Aries Widoyoko, pemberian penghargaan dengan judul Pagebluk Award bukan tanpa alasan. Ia menjelaskan, bencana yang tak kunjung habis merundung negeri ini tak lain karena pagebluk yang sedang mencengkeram. Dalam Bahasa Jawa, ujar dia, pagebluk bisa berarti petaka atau bencana yang menimpa manusia sebagai hukuman bagi manusia.

Pagebluk datang saat manusia sudah berlaku di luar batas kewajaran. Pagebluk datang karena manusia terlalu serakah dalam mengambil isi perut bumi, mengambil sumberdaya alam di hutan, gunung, dan Sungai. Pagebluk datang untuk mengingatkan pada kaum manusia bahwa tabiat dan perilaku pada bumi harus diperbaiki, harmoni keselarasan antara manusia dan alam harus direvitalisasi,” lanjutnya.

Ia menambahkan, sedikitnya berita lingkungan dibanding berita politik dan selebritis membuktikan pers tidak peduli pada persoalan lingkungan. Padahal dampak menurunnya kualitas lingkungan akan berdampak bagi kelangsungan hidup manusia.

Bencana yang tak kunjung habis merundung dinegeri ini, tak lain karena Pagebluk yang sedang mencengkeram kita. Kata Pagebluk bisa berarti Bala’, petaka atau bencana yang menimpa manusia yang datang karena karma, bentuk hukuman bagi manusia. Pagebluk datang saat manusia sudah berlaku kelewat batas kewajaran. Pagebluk datang karena manusia terlalu serakah dalam mengambil isi perut bumi, manusia terlalu berlebihan dalam mengambil sumberdaya alam dihutan, di gunung, dan di Sungai. Pagebluk datang untuk mengingatkan pada kaum manusia bahwa tabiat dan perilaku pada bumi harus diperbaiki, harmoni keselarasan antara manusia dan alam harus direvitalisasi.

Sekaligus mengingatkan kita semua bahwa Bumi ini adalah titipan anak cucu kita dan bukan warisan nenek moyang. (31072006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: