PDI Perjuangan dan PKB Berpeluang Besar

Balai Kota Surabaya, tempat kerja Walikota-Wawali Surabaya. (Dok. warungcangkruk.blogspot.com)
Balai Kota Surabaya, tempat kerja Walikota-Wawali Surabaya. (Dok. warungcangkruk.blogspot.com)

Meneropong Peluang Parpol di Pilwali Surabaya 2005 (1)

Iklim pemilihan Wali Kota –Wakil Wali Kota Surabaya 2005 secara langsung telah dimulai. Setelah beberapa parpol mengumumkan pasangan calon yang akan diajukan seperti PDI Perjuangan, PKB, koalisi PD-PAN dan koalisi Partai Golkar-PDS. Peluang partai dan gabungan partai ini dalam memenangkan pilwali akan diulas dalam tulisan berikut.

Oleh: M Subchan Sholeh

Secara sederhana, peluang memenangkan pemilihan kepala daerah di Surabaya bulan Juni mendatang bisa dilihat dari hasil perolehan suara Pemilu 2004 yang menempatkan PDI Perjuangan (PDI-P) dan PKB sebagai peraih suara terbesar. Dari hasil pemilu legislatif lalu PDI-P tercatat sebagai peraih suara terbanyak dengan 384.337 suara (27 persen). PKB menyusul di belakangnya dengan perolehan 309.389 suara (22 persen). Sedangkan Partai Demokrat (PD) mendapat 182.257 suara dan PAN 104.015 suara. Karena dua partai ini telah sepakat berkoalisi dalam menghadapi pilkada maka jumlah perolehan suara kedua partai ini mencapai 289.272 suara (21 persen). Koalisi menghadapi pilkada juga dilakukan oleh Partai Golkar (PG) dan Partai Damai Sejahtera (PDS). Dalam pemilu legislatif, PG mendapat 82.507 suara dan PDS sebanyak 93.352 suara. Total perolehan suara dua partai ini mencapai 175.859 suara (13 persen).

Data KPU Kota Surabaya menunjukkan PDIP unggul di tiga daerah pemilihan (DP) dari total 5 DP dalam Pemilu Legislatif. PDIP menang di DP 1, DP 4, dan DP 5. sedangkan PKB menang di DP 2 dan DP 3. Sebaliknya, tidak ada satu DP pun yang dimenangkan oleh empat partai yang telah berkoalisi. Ditinjau dari jumlah kecamatan di tiap DP, tercatat 20 kecamatan dimenangkan PDI-P dan 11 kecamatan lainnya dimenangkan PKB.

Peta politik hasil pemilu legislatif ini setidaknya menjadi modal awal yang cukup berharga bagi PDIP dan PKB dalam menyongsong pilkada langsung.
Namun, mesin politik terkadang tak selamanya menjamin kemenangan dalam sebuah pertarungan politik. Dari total 31 kecamatan, hanya 13 kecamatan yang menggambarkan preferensi pemilih yang sama antara memilih partai politik dan calon presiden yang diajukan partai politik pada pemilihan presiden putaran pertama.

Ke-13 kecamatan yang memiliki preferensi yang sama adalah Kecamatan Gubeng, Genteng, Krembangan, Tegalsari, Tambaksari, Sukolilo dan Mulyorejo. Ada juga Kecamatan Dukuh Pakis, Wiyung, Sawahan, Lakarsantri, Sambikerep, dan Sukomanunggal. Di 13 daerah ini terlihat adanya preferensi pemilih yang sama antara parpol pemenang pemilu legislatif dan calon presiden yang diajukan parpol tersebut saat pemilihan presiden putaran pertama lalu. Realitas sebaliknya terjadi di 18 kecamatan yang menunjukkan perbedan preferensi pemilih dalam memilih parpol dan calon presiden yang diajukan parpol.

Bagi koalisi PD-PAN dan PG-PDS tampaknya harus bekerja keras untuk memenangkan pilkada Surabaya ini. Dibutuhkan strategi yang jitu untuk meningkatkan perolehan suara dari “modal” suara yang dimiliki saat pemilu legislatif guna memenangkan calon kepala daerah yang diajukan.
Melihat hasil Pemilu 2004, agaknya peluang besar memenangkan pilkada ada di tangan PDI-P dan PKB. Sekarang tinggal upaya kedua partai ini untuk menarik loyalitas konstituennya dan mencari suara tambahan dari swing voter atau pemilih mengambang yang belum menentukan pilihan. Di samping itu, dua partai ini perlu menggarap popularitas calon.

Pilpres putaran pertama lalu di Surabaya menjadi bukti bahwa popularitas calon menjadi faktor penentu yang mempengaruhi pemilih dalam menentukan presidennya. Politik uang juga diprediksi ikut mempengaruhi hasil pilkada Surabaya kelak meski masih sulit dibuktikan. Mulai tumbuhnya rasionalitas berpolitik individu juga patut diperhitungkan. Artinya, pemilih sekarang tidak mudah dimobilisir untuk kepentingan pragmatis kandidat atau partai. Beberapa faktor ini bisa saja membuat hasil prediksi meleset. Yang jelas, pilkada langsung ini akan menjadi wahana ujian bagi para kandidat apakah mereka “orang-orang kerdil” yang tak bisa jadi pemenang yang baik atau pecundang yang baik. Ataukah mereka memang “orang-orang besar” yang ruang kerelaannya untuk menang sama lapangnya dengan keikhlasan untuk kalah. Wallahu a’lam bisshawab. (*)

3 responses to this post.

  1. Posted by H Wahyu Gumono on Desember 25, 2009 at 8:43 pm

    Untuk pemilihan WALI Kota Surabaya saat ini tidak bergantung pada perolehan suara partai tertentu, Surabaya punya kapasitas pemilih yang modern, tidak tergantung keberadaan partai, jadi Cawali yang memiliki strategi yg tepat dan akurat dapat memenangkan pilwali saat ini, untuk Cawali saat ini cepat-cepat cari seorang ahli strategi yang dapat memenangkan pilwali 2010-2015. TQ

  2. selamat malam, isi absen dulu ya.

  3. oke pak syaiful. terima kasih atas kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: