Menanti Efektivitas Mesin Politik Partai dan Program Kerja Konkrit

Kota Surabaya dengan segudang persoalan yang wajib diselesaikan oleh siapapun yang terpilih memimpin Kota Pahlawan ini. (Dok. Skyscrapercity.com/photobucket.com)
Kota Surabaya dengan segudang persoalan.

Meneropong Peluang Parpol Dalam Pilwali Surabaya 2005 (2-habis)

Di atas kertas, pemilihan kepala daerah di Surabaya memang menjadi milik PDI Perjuangan (PDI-P) atau PKB. Namun, itu tidak menjamin. Dibutuhkan kerja keras untuk mengefektifkan mesin politik dan meyakinkan pemilih agar prediksi di atas kertas menjadi realitas.

Oleh: M Subchan Sholeh

Menurut pengajar FISIP Unair, Kacung Marijan MA, sampai saat ini peluang terbesar masih dimiliki pasangan calon yang diajukan PDI-P atau PKB. Terlebih, kedua partai ini didukung mesin politik hingga tingkat kelurahan. Di samping itu, pasangan calon yang diajukan kedua partai ini cukup dikenal masyarakat. Bambang DH adalah mantan Wali Kota Surabaya sedangkan Alisjahbana adalah mantan Sekretaris Kota yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua PMI dan Ketua KONI Surabaya.

Berbeda halnya dengan pasangan calon yang diajukan PD-PAN Erlangga Satriagung-AH Thony atau partai Golkar-PDS yakni Gatot Sudjito-Yosafat Suharto yang belum begitu dikenal warga Surabaya. Namun, lanjut Kacung, mesin politik dan popularitas kandidat belum cukup jika mengingat masih adanya konflik di tubuh PDI-P dan PKB.
“Di PDI-P mesin politiknya belum solid benar karena adanya Gerakan Pembaruan PDI-P, sedangkan di PKB juga muncul penolakan atas pasangan calon yang diajukan,” kata Kacung yang sedang menunggu wisuda doktoralnya di Australian National University (ANU) ini.

Airlangga Pribadi pengajar FISIP Unair lainnya juga masih mempertanyakan efektivitas mesin politik partai. Ia mencontohkan hasil Pemilu Legislatif dan Presiden tahun 2004 yang menunjukkan tidak berjalannya mesin politik partai. Sebab, yang terlihat adalah adanya perbedaan preferensi pemilih antara memilih partai politik dan calon presiden yang diajukan partai politik pada pemilihan presiden.

“Untuk mengefektifkan mesin politik, partai harus meninggalkan model lama yang hanya terlihat beraktivitas saat momen-momen tertentu seperti pemilu atau pilkada. Sementara fungsi utama paprol untuk mengartikulasikan kepentingan rakyat sampai sekarang belum terlihat,” ujar mahasiswa pascasarjana UI ini.
Konflik internal parpol menurut Kacung juga potensial terjadi di koalisi Partai Demokrat (PD) dan PAN. Pasalnya, pasangan cawali-cawawali yang diajukan bukan kader kedua partai itu. Bagi dia, PDI-P dan PKB harus segera menetralisir konflik internal ini untuk kemudian mengefektifkan mesin politik partai dan mulai merancang strategi kampanye .

Khusus PKB, setelah Alisjahbana-Wahyudin Husein ditetapkan DPP PKB sebagai pasangan cawali-cawawali muncul gelombang penolakan dari internal dan eksternal PKB. Misalnya, Forum Pengurus Anak Cabang (PAC) PKB Pro Mosi Tidak Percaya yang menolak pencalonan Wahyudin. Forum ini mengklaim didukung 20 dari 31 PAC PKB di Surabaya. Penolakan juga datang dari Forum Aliansi Masyarakat Madura Surabaya (FAMMS) dan Pergerakan Perempauan Kebangkitan Bangsa (PPKB). Mereka mempertanyakan keputusan ditetapkannya Wahyudin sebagai cawawali mengingat saat konvensi terdaftar sebagai bakal cawali. Mereka juga memprotes pencalonan Alisjahbana karena diangggap bukan kader PKB. Persoalan yang agak mirip juga terjadi di koalisi Partai Golkar-PDS. Sejumlah Pengurus Kecamatan (PK) partai Golkar dan internal PDS memprotes pengajuan Yosafat sebagai cawawali.

Erlangga yang mantan pengurus DPD Golkar Jatim dan AH Thony mantan pengurus DPC PDI-P memiliki potensi mendapat tambahan suara dari massa Golkar atau PDI-P. Kacung mengakui potensi itu memang ada namun tidak terlalu besar karena suara massa Golkar tidak terlalu besar. Sebaliknya, Airlangga menilai Erlangga-Thony bisa mendapat tambahan suara cukup besar karena massa Golkar tergolong swing voter (pemilih mengambang). Namun, untuk potensi tambahan suara dari massa PDI-P baik Kacung maupun Airlangga sependapat bahwa tambahan suara itu tidak sebesar yang diharapkan. Karena Thony tidak termasuk dalam mainstream PDI-P yang Pro Megawati Sukarnoputri.

“Soalnya karakteristik pemilih PDI-P masih fanatik pada Megawati sementara AH Thony tidak berada dalam arus itu,” lanjut Airlangga.
Kendati demikian, Kacung berpendapat, Erlangga-Thony yang kansnya agak berat itu dapat membalikkan seluruh perhitungan matematis ini jika mampu menyusun dan menyampaikan program-program kerja yang konkret dalam membangun kota dan menyelesaikan problem klasik kota Surabaya. Sejauh ini, ujar dia, semua program para kandidat masih abstrak dan belum konkrit.

Menurut Kacung, setidaknya ada tiga fungsi pemerintahan yang dapat menjadi bahan dalam menyusun program kerja konkrit. Pertama, strategi distribusi sumber daya seperti bagaimana rencana alokasi APBD untuk publik seperti sektor pendidikan, kesehatan dan pelayanan. Kedua, strategi ekstraksi sumber daya kota misalnya program untuk menarik sumber-sumber pendapatan. Ketiga, penciptaan regulasi di bidang eknomi, dan kemasyarakatan.

Ia menambahkan, ketika seorang kandidat mampu meyakinkan pemilih dengan program kerja konkretnya bahwa dialah yang terbaik dibanding kandidat lainnya maka ia berpeluang besar untuk menggaet suara dari undecided voters (pemilih yang belum menjatuhkan pilihan). Sebab, undecided voters ini termasuk kelompok pemilih rasional yang menjatuhkan pilihan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional pula. Untuk pemilih jenis ini memang tidak ada cara lain untuk mendekati selain dengan program kerja konkrit. Ia memprediksi, 50 persen dari jumlah pemilih pilkada di Surabaya termasuk undecided voters.
“Ini jumlah yang cukup signifikan untuk mendongkrak perolehan suara jika seorang kandidat mampu meyakinkan pemilih ,” lanjutnya. (*)

2 responses to this post.

  1. nice…
    salam kenal……..

  2. salam kenal juga bang abenk. terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: