Berwisata di Jembatan Barelang

Jembatan Barelang

Jembatan Barelang

Hardwork, seafood, dan teh obeng. Tiga kata untuk mengenali Pulau Batam. Di kepulauan yang memang merupakan sentra industri dan perdagangan, hampir 80% dari 600 ribu penduduknya adalah pendatang yang bertujuan mencari nafkah. Tiap jam masuk dan pulang kerja terlihat ratusan ribu pekerja beraktivitas di berbagai industri milik pemodal asing maupun nasional yang berinvestasi di pulau yang berjarak 2 jam perjalanan udara dari Jakarta.

Lokasinya yang berada di pesisir laut membuat seafood (makanan laut) menjadi makanan favorit wisatawan yang mudah dijumpai di pinggir-pinggir jalan dan restoran. Begitu juga cara Batam menyebut teh obeng untuk es teh dan teh o untuk teh hangat, dua kata yang merupakan Bahasa Melayu Malaysia.

Di samping tiga hal itu, ada satu objek wisata yang seringkali diidentikkan dengan Batam. Objek itu adalah Jembatan Barelang. Kepanjangan dari Batam, Rempang, dan Galang. Objek wisata ini telah menjadi trade mark Pulau Batam. Bahkan, anda disebut belum ke Batam jika belum berkunjung ke jembatan yang berjarak 20 Km dari pusat kota ini. Untuk mencapai objek yang satu ini, bisa ditempuh dengan menumpang bus kota dari berbagai halte bus di Batam. Siapkan dua lembaran seribu rupiah untuk perjalanan selama 40 menit. Warga Batam umumnya menggunakan bus kota ini untuk menuju ke Barelang. Namun, jika anda ingin lebih menikmati perjalanan anda dapat menyewa taksi yang banyak terdapat di Batam. Harga sewa sekitar Rp 60 ribu untuk perjalanan pergi-pulang. Jalan menuju Barelang relatif mulus dengan sejumlah kelokan dan tanjakan tajam. Di kiri kanan jalan dijumpai perbukitan dengan pepohonan yang tak lagi lengkap. Sebagian besar terlihat telah ditebangi. Ada pula yang meranggas habis dibakar. Menurut keterangan sejumlah warga, pohon-pohon ditebangi dan dibakar karena sebagian areal di perbukitan akan digunakan sebagai pemukiman. Sekitar 1 Km menjelang jembatan Barelang, kondisi sebagian jalan agak bopeng-bopeng. Selepas itu, kondisi jalan relatif mulus. Anda pun telah tiba di jembatan kebanggaan warga Batam ini.

Jembatan Barelang merupakan rangkaian enam jembatan yang menghubungkan tiga pulau yaitu Batam, Rempang dan Galang. Seluruh jembatan selesai dibangun pada 1992. Jika digabungkan, panjang keenam jembatan itu mencapai 2 Km. Waktu tempuh dari jembatan satu hingga keenam sekitar 20 menit.

Uniknya, keenam jembatan ini memiliki nama masing-masing yang diambil dari nama raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Melayu-Riau pada abad 15 sampai 18.

Jembatan pertama yang menghubungkan Pulau Batam-Pulau Tonton dinamai Tengku Fisabilillah. Panjangnya mencapai 642 meter persegi (m2). Bentangan jembatan sekitar 350 m2 dengan tinggi 38 m2.

Narasinga menjadi nama jembatan kedua. Penghubung Pulau Tonton dan Pulau Nipah yang relatif lurus tanpa lengkungan ini panjangnya 420 m2, dengan bentang 160 m2 dan tinggi 15 m2. Jembatan ketiga bernama Ali Haji. Dengan panjang 270 m2, bentang 45 m2dan tinggi 15 m2 jembatan ini menghubungkan Pulau Nipah-Pulau Setokok. Tonton, Nipah dan Setokok masih dalam gugusan Kepulauan Batam.

Berikutnya, Jembatan Sultan Zainal Abidin. Penghubung Pulau Setokok – Pulau Rempang memiliki panjang 365 m2, bentang 145 m2, dan tinggi 16,5 m2. Setelah itu, giliran jembatan Tuanku Tambusai. Penyambung Pulau Rempang-Pulau Galang ini terbentang sepanjang 385 m2, bentang 245 m2, dan tinggi 31 m2. Jembatan keenam dinamai Raja Kecil. Dengan panjang 180 m2, bentang 45 m2 dan tinggi 9,5 m2, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru terghubungkan.

barelang-jembatan1-7


Bagi warga Batam, jembatan pertama dan terakhir adalah yang paling populer. Jembatan pertama dikenal karena cable stay pengikat jembatan yang terlihat unik dan artistik. Mengingatkan pada jembatan Golden Gate di San Fransisco, AS. Bahkan, jembatan satu diabadikan sebagai logo Pemerintah Kota (Pemkot) Batam. Di ujung jembatan di Tonton, tepatnya di bagian kanan jalan terdapat puluhan kios PKL menjajakan ragam makanan laut seperti udang goreng, kepiting, dan lainnya. Tak mengherankan, jembatan ini menjadi tujuan utama warga Batam terutama remaja untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Kemacetan arus lalu lintas di dua arah pun menjadi pemandangan jamak. Lain halnya dengan jembatan keenam. Jembatan terakhir ini dikenal karena nilai sejarahnya. Pulau yang dihubungkan oleh jembatan keenam ini akan melempar anda menuju memori 30 tahun silam. Betapa tidak, saat itu, Pulau Galang menjadi tempat penampungan 250 ribu “manusia perahu” dari Vietnam. Mereka terdampar di Pulau Galang setelah terombang-ambing di lautan berhari-hari dalam perahu kayu. “Manusia perahu” ini menghuni Pulau Galang sejak 1975 hingga 1996. Setelah ditinggalkan “manusia perahu”, lokasi ini dijadikan tempat wisata oleh Otorita Batam. Bahkan, 24 Maret 2005, sebanyak 142 mantan pengungsi Vietnam melakukan reuni yang difasilitasi Overseas Vietnamese Community dan Otorita Batam. Dalam acara ini, mereka diundang untuk mengunjungi kembali tempat penampungan di Pulau Galang yang pernah mereka huni.

Di akhir pekan, warga Batam dan wisatawan lokal kerapkali mengunjungi untuk menyaksikan sisa-sisa peninggalan pengungsi Vietnam. Sisa-sisa perahu kayu, beberapa benda, bangunan, dan makam “manusia perahu” menjadi penanda dominan di Pulau Galang. Selain menyaksikan sisa-sia peninggalan “manusia perahu”, wisatawan juga dapat menyaksikan panorama di Pantai Melur yang berada di pulau ini. Anda juga dapat menyewa perahu untuk berkunjung di pulau-pulau kecil di dekatnya seperti Pulau Galang Baru.

Kendati tidak terlalu populer, di jembatan ketiga kerap digunakan warga Batam sebagai lokasi memancing. Ini wajar mengingat jarak dari jembatan dengan permukaan air laut masih terjangkau bagi pemancing untuk melempar kailnya. Disini, anda juga dapat berwisata bahari di Pantai Pulau Setokok.

Pemandangan agak berbeda tersaji di jembatan kedua. Kondisi jalan di jembatan yang lurus memanjang ratusan meter “menggoda” tiap pelintas untuk memacu mobil atau motor sekencang-kencangnya. Bahkan, di akhir pekan, lokasi ini sering digunakan sebagai arena kebut-kebutan liar. Sejak pukul 04.00, deru knalpot puluhan mobil telah meraung-raung memecah keheningan pagi. Selama 1,5 jam, remaja Batam mengadu nyali memacu mobil berusaha menjadi yang tercepat.

Di luar Barelang, anda dapat berwisata bahari di Pantai Nongsa, Pantai Marina, Pantai Tanjung Tinggi, Pantai Kampung Panau, dan Pantai Batu Besar. Atau berwisata belanja di sentra-sentra belanja di Nagoya, Jodoh atau Muka Kuning. Anda juga bisa mengasah kemampuan golf di enam padang golf kelas internasional yang berada di Batam. Nah, sekarang berpulang pada anda untuk memilih wisata yang sesuai dengan anggaran yang tersedia. (M Subchan Sholeh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: