Berlatih dengan Hati Sapi

Operasi pemisahan kembar Dwipayanti-Dwipayani berhasil dilakukan. Memang, Dwipayani tidak mampu melewati masa kritis dan akhirnya meninggal. Terlepas dari itu semua, peran Ketua Tim Bedah Anak dr Poerwadi Spb SpBA sangat penting dalam tahapan operasi pemisahan kembar dempet dada perut itu. Ia memimpin tahapan operasi paling krusial, pemisahan liver. Disebut krusial karena operasi ini rawan pendarahan. Namun, dengan tangan dinginnya, waktu operasi yang direncanakan berlangsung 4 jam, selesai dalam waktu 20 menit. Selain didukung alat canggih, ketrampilan ahli bedah anak ikut mempercepat operasi pemisahan. Dokter asal Bojonegoro itu menuturkan pengalamanya selama operasi kepada wartawan Surabaya Post M Subchan Sholeh dan Fatichatun Nadhiroh pada Februari 2005.

Bagaimana perasaan anda setelah Dwipayani meninggal?

Saya sedih sekali. Selama ini saya sudah berusaha semaksimal mungkin dalam operasi itu. Sampai tim medis mengusahakan alat canggih untuk mengurangi pendarahan, latihan dengan alat itu dan masih banyak usaha lain yang dilakukan dokter-dokter. Bahkan, istri saya juga membantu dengan salat malam dan puasa sunnah. Entah..pada saat Yani kritis, saya enggan untuk melakukan apa pun. Saya sempat tidak praktek, dan menjauh dari TV ataupun koran. Di sisi lain, saya lega ketika nenek Yani (panggilan Dwipayani) mengatakan Yani itu pintar kalau meninggal sekarang. Kalau sudah satu tahun mendatang, tentu orangtuanya tidak mampu membiayai. Saya agak terhibur dengan pernyataan neneknya. Tapi, meninggalnya Yani tetap menjadi siksaan buat saya.

Apakah meninggalnya Yani ini bisa disebut kegagalan?

Ini bukan suatu kegagalan, tapi sebuah problema. Problem itu sudah diungkapkan jauh-jauh hari kepada keluarganya. Suatu problem harus dipecahkan. Makanya pada saat operasi kita lakukan transparansi dan jalannya operasi bisa disaksikan oleh banyak orang. Kita ingin menunjukkan orang banyak bahwa prosedur operasi yang kita lakukan seperti ini.

Apa ada kesalahan diagnosa?

Bayi itu up and down kondisinya. Respon dan kekuatan tiap bayi terhadap operasi itu berbeda-beda. Apalagi dengan operasi yang panjang dan besar, tiap bayi pasti memiliki respon dan kekuatan tersendiri. Meski tim dokter telah memberikan bantuan alat-alat yang canggih

Apa Upaya untuk pulihkan Dwipayanti?

Kita sudah lakukan dua prosedur dalam perawatan luka, yaitu perawatan luka lokal menjaga dari infeksi dan pembiusan untuk merawat luka di organ dalam. Operasinya sama tapi probability of survivalnya berbeda satu sama lain. Sangat banyak hal tapi yang menetukan itu di yang di atas.

Dok, sedikit menengok saat operasi kemarin. Bagaimana perasaan anda saat membelah liver Yani-Yanti?

Deg-degan, tapi ahli bedah tidak boleh ragu saat operasi. Harus yakin. Secara fisik tim dokter itu mampu tapi kita itu tidak percaya diri. Tapi semua berjalan normal. Lebih penting itu perawatan pasca bedah (crtitical care). Mampu atau tidak melewati masa kritis ini sebab di Indoensia re-open (membuka luka lagi itu masih dianggap tabu). Sementara di luar negeri seperti Jepang, Kyoto, hal-hal seperti itu sudah biasa. Operasi dibuka ditutup lagi. Yang terpenting pasiennya sembuh.

Pemisahan liver merupakan tahapan operasi paling krusial. Bagaimana anda sebagai ketua tim mengatasi ketegangan selama operasi?

Ya kita berserah pada Allah SWT. Tapi ada juga yang nyanyi, dan ngobrol. Kalau anda lihat operasi kita, beberapa dokter itu ngobrol-ngobrol tapi tangan jalan terus. Nggak pernah berhenti. Jadi apa yang kita hadapi di depan mata ini sudah otomatis jalan. Seperti orang dulunya belum bisa nyetir mobil kalau sudah bisa, melamun sedikit mobil masih tetap dalam kendali.

Sebelum operasi, anda latihan membelah hati sapi. Bisa dijelaskan ?

Karena hati sapi bentuk dan konsistensinya sama persis dengan hati manusia. Itu saja. Kalau hati kambing terlalu kecil.Kita pilih hati sapi yang tebal dan ini juga untuk tes alat ini (harmonic scalple, Red), bisa dipakai atau nggak. Nanti sudah terlanjur dibuka, alatnya nggak jalan, ‘kan celaka.

Berapa kali anda latihan membelah hati sapi itu ?

Sekali saja cukup tapi saya iris berkali-kali. Tapi, itu bukan latihan, hanya mencoba alat harmonic scalple itu, hasilnya bagaimana.

Ini operasi kembar siam keberapa untuk anda?

Mungkin ketiga atau keempat.

Ada yang spesial dari operasi kemarin? Artinya, ada yang unik dan berkesan cukup dalam bagi anda

Ya, begini mas ya. Kalau operasi-operasi yang dulu saya termasuk yunior. Jadi yang bertanggungjawab adalah senior saya. Kalau sekarang, saya adalah senior. Saya yang membuat decision, saya yang melakukan operasi dan saya yang bertanggungjawab. Jadi, kesannya adalah bebannya lebih berat. Kalau dulu tidak diliput luas media seperti sekarang, diam-diam saja. Dirahasiakan. Sekarang diliput dan kita terbuka karena jamannya sudah reformasi. Nggak boleh menyembunyikan sesuatu.

Bagaimana perasaan anda setelah operasi liver kemarin sukses ?

Saya lega sekali, bahwa satu decision kita benar. Kedua, bisa terlaksana dengan aman. Lega, tetapi ya belum 100 persen mas. Seperti sekarang saja, istri saya masih bantu dengan puasa Senin-Kamis. Dia khawatir karena masa kritisnya belum selesai. Istri ‘kan menunjang suami. Waktu saya lagi rapat, dia tiba-tiba telepon tanya soal berita-berita pasca operasi. Dia stresnya lebih berat dari saya karena tidak tahu langsung. Kalau saya kan tahu langsung.

Perawatan pasca bedah itu penting pada hal apa?

Seperti pada kaidah umumnya, jalan nafasnya harus terjamin, kemudian pasokan udara yang masuk harus bisa sampai ke paru-paru untuk kemudian di dalam paru-paru oksigennya diserap. Oksigen yang terserap ini harus dialirkan ke seluruh tubuh untuk proses metabolisme. Jadi jalan nafas, kemudian pernafasan itu sendiri, lalu aliran darahnya sendiri. Ini harus terjamin sampai di semua jaringan. Berikutnya, dia harus terjamin kebutuhan makanannya. Artinya, kalori, gizi dan nutrisi harus cukup. Itu kebutuhan vital. Di samping itu, akibat pembedahan ini orang akan mengalami suatu stres. Dari stres ini tubuh akan bereaksi mengeluarkan katekol amin. Nah, ini berpengaruh dalam tubuh dan harus dinetralkan. Kemudian potensi infeksi karena paparan luka operasi yang demikian luas sampai 50 persen. Apalagi habis operasi ini ‘kan pasien berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Ini mudah sekali terjadi paparan infeksi. Ada yang mengomong, ruangannya kan sudah steril. Memang sudah steril, tapi siapa bisa menjamin tidak ada satu kuman yang tidak masuk.

Untuk operasi pemisahan kembar siam kali ini, tim dokter menggunakan harmonic scalple, pisau bedah seharga Rp 500 juta. Sudah berapa kali pisau jenis ini digunakan dalam operasi pembedahan di RSU dr Soetomo?

Ini keempat kalinya saya pakai alat itu. Kita dipinjami agen alat itu untuk pakai yang generasi ketiga. Istilahnya untuk test drive. Yang generasi ketiga ini sudah kita pakai tiga kali untuk operasi tumor dengan hasil yang bagus. Sekitar 3 bulan sebelum operasi kembar siam. Setelah dicoba akhirnya didatangkan generasi keempat alat ini atau yang terbaru untuk operasi kembar siam. Jadi, baru pertama kali generasi terakhir alat ini kita pakai. Kalau RSU dr Soetomo sendiri baru punya alat ini sejak kembar siam Yani-Yanti ini. Sebelum pakai alat yang terakhir. Terus terang di tempat lain, sudah ada. Di RSCM misalnya, waktu memisahkan kembar siam setahun yang lalu juga sudah pakai alat itu. Hampir sama, dempet dada perut. Persis sama. Di sini yang sudah beli RS Adi Husada, baru datang.

Bagaimana dengan alat operasi lainnya ?

Saya rasa yang paling ngetop ya harmonic scalple itu. Coba bayangkan, kita alokasikan 3-4 jam operasi dengan asumsi perdarahan 2 kantong. Ternyata dengan alat itu operasi hanya 20 menit dan tanpa perdarahan. Apa artinya? Stres, trauma pada anak ini jauh lebih kurang sehingga mengurangi resiko angka kematian dan mempermudah pemulihan anak. Itu sangat membantu sekali

Alat ini nanti akan dipakai untuk apalagi?

Alat ini ‘kan kegunaannya macam-macam. Pokoknya, untuk segala macam operasi yang beresiko menimbulkan perdarahan. Misalnya, memotong usus, pembuluh darah, kelenjar gondok, prostat, atau tumor. Bahkan bisa juga untuk laparoskopik, motongnya pakai itu.

Kenapa mendatangkan alat itu dari Singapura ?

Kita itu ‘kan segala sesuatu kalo beli alat-alat kedokteran lewat makelar. Nah, makelarnya kebetulan di Singapura. Tapi, produsennya dari Jerman.

Apakah Indonesia tidak mampu ?

Kalau mampu, ya mampu. Cuma kelemahan RS pemerintah di Indonesia ini pemeliharaannya. Kita mampu beli tapi maintenance-nya nggak bisa. Alat itu dipakai 100 kali, paling yang bayar sekali. Soalnya, sebagian besar masyarakat kita tidak mampu. Kalau RS swasta tutup mata. Sekali pakai bayarnya sekian juta. Bisa dia.

Sejauh mana pisau ini membantu kelancaran operasi pemisahan ?

Anda bisa melihat sendiri, jadwal operasi ini bisa diketahui semua orang. Ternyata banyak hal-hal yang seharusnya membutuhkan waktu 3 hingga 4 jam, dokter hanya melakukan tidak lebih dari 1 jam. Ini adalah hal yang tidak terduga dan pisau tersebut sedikit banyak membantu anak ini mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.

Bagian tubuh apa yang paling sulit dipisah dari kembar siam ?

Ya jantung. Kalau cuma satu ya nggak bisa, soalnya nggak bisa dibelah dua, nggak mungkin. Kecuali liver atau ginjal, masih bisa ditranplantasi.

Sejauh mana keberhasilan operasi ini meningkatkan citra kedokteran Indonesia khususnya di kawasan Asia Tenggara?

Jelas, itu akan meningkatkan Surabaya pada khususnya RSU dr Sutomo. Seperti anda lihat sendiri sudah ada tawaran-tawaran untuk operasi kembar siam dari beberapa daerah. Ya, kita tetap akan menevaluasi terlebih dahulu. Kita harus rasional, nggak asal terima. Dilihat dulu, bisa dipisahkan atau nggak. Kalau nggak bisa, ya kita angkat tangan dan bicarakan hal itu dengan sebenar-benarnya.

Berani dok ?

Berani asal pemeriksaannya obyektif. Seperti kemarin, kita sangat ditunjang dengan diagnosa yang bagus.

Sepanjang tahun 2004 beberapa operasi pemisahan kembar siam gagal. Nah, untuk kali ini rupanya berhasil. Bagaimana tanggapan anda?

Ya faktornya banyak, persiapan harus betul-betul baik. Kalau rapat jangan dikira, paling lama hampir 2-3 jam. Sebab yang ikut dalam operasi tersebut adalah orang-orang pintar. Jadi saling adu argumen, ilmu-ilmu yang di dapat dikeluarkan dalam forum, sehingga semua menemukan kesepakatan. Dan kalau sudah sepakat, ya selesai sudah. Ya tentunya kita harus gentleman. Obyektifnya bagaimana atau begini, ya tetap harus dilakukan.

Siap operasi kembar siam lagi?

Ya, tenang dulu lah…‘kan itu nggak langsung datang, dan dioperasi lagi. Yang jerit-jerit direkturnya mas, habis uangnya. Lho…kita ini tanpa disupport oleh direktur munyeng.

Kira-kira kapan siap operasi lagi ?

Ya, setelah ini recovery. Nggak mungkin kita terpecah dua konsentrasi, otaknya nggak nututi.

Apakah standar operasi sudah sesuai dengan kode etik kedokteran ?

Dunia kedokteran itu terbuka. Nanti kita akan bikin laporan yg bisa diaudit oleh semua orang medis. Pada masyarakat kita juga berusaha terbuka karena orangtuanya merestui untuk diekspos. Jadi, tidak ada yang ditutup-tutupi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: