“Ada yang Membuat Gus Dur Jadi Buldoser”

Dalam Muktamar II PKB di Semarang , Drs Choirul Anam, Ketua Umum Dewan Tanfidz DPW PKB Jatim ini menjadi motor perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan DPP PKB yang seringkali disimbolkan dengan Gus Dur. Tentu mengejutkan melihat realitas ini jika mengingat Anam merupakan salah satu orang dekat Gus Dur. Apa yang sesungguhnya terjadi, berikut petikan perbincangan Surabaya Post dengan Choirul Anam di ruang kerjanya di Sekretariat DPW PKB Jatim pada akhir April 2005.

Choirul Anam (Dok. inilah.com)
Choirul Anam (Dok. inilah.com)

Bagaimana sebenarnya hubungan anda dengan Gus Dur ?

Sebetulnya sampai sekarang saya tetap sama Gus Dur itu. Sebetulnya nggak ada persoalan karena saya yakin Gus Dur tidak seperti yang kemarin-kemarin itu. Itu mungkin karena Gus Dur mendapat banyak informasi yang salah dan tidak dilakukan cross check. Sehingga hampir semua orang yang tidak melakukan apa-apa dituduh melakukan apa-apa. Kan ya repot. Saya sendiri lama mengikuti beliau saya tahu persis beliau tidak seperti itu. Tapi ya itu tadi akhirnya saya sendiri dituduh begitu. Saya beritahu juga nggak dipercaya akhirnya kan terus ada apa.

Nah, karena ini menyangkut institusi, policy-policy partai akhirnya saya melihat policy partai ini melalui atau tidak tahapan-tahapan yang diatur di AD/ART. Nah, ternyata 3 DPC di Jatim yang dibekukan itu sama sekali tidak mengikuti AD/ART. Jadi, keputusan DPP begini, langsung begini. Nah saya tidak mau seperti itu karena ajaran Gus Dur sendiri kan kita disuruh menegakkan konstitusi, menghormati hukum, menegakkan hak asasi manusia. Jadi, saya tetap dengan pegangan. Nah akhirnya berseberangan. Saya sebetulnya hanya mau minta klarifikasi di muktamar karena muktamar ini merupakan lembaga tertinggi partai. Ayo kita bicarakan, yang bener mana. Kan gitu to. Karena data yang saya peroleh begini, data yang diperoleh disana begini. Ayo kita uji di muktamar. Sebetulnya ‘kan ada. Gus Dur menyatakan mau dibentuk tim penyelidik atau tim klarifikasi itu lebih bagus. Jawaban itu dikemukakan disana kan saya bisa menerima tapi yang jelas justru saya yang seperti menjadi tertuduh. Saya diberi surat peringatan karena dianggap melindungi DPC yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Gus Dur. Dan itu diungkapkan dimana-mana. Fathorrosjid, misalkan. Ketua DPRD itu dituduh perencana pembunuhan, nah itu terus gimana. Ini kan punya akibat dan dampak. Maksud saya, klarifikasi ini nggak benar wong saya tahu orangnya. Kalau diomongkan terus dampaknya juga bahaya. Bahaya terhadap yang diomongkan, dan juga pada saatnya bahaya terhadap Gus Dur kalau yang dilontarkan nggak benar.

Tapi kan apa yang saya kemukakan tidak mendapat respon bahkan mengenai saya sendiri yang dituduh seperti itu.

Menurut anda, pernyataan-pernyataan Gus Dur itu murni dari dirinya atau karena pengaruh lingkungannya ?

Ya jelas pengaruh karena Gus Dur tak seperti itu. Saya ini sejak ‘78 dengan Gus Dur diuber-uber tentara, bagaimana caranya kita menghindar. Gus Dur difitnah tentara saya yang harus menjelaskan waktu itu. Sudahlah, sudah lama saya dengan Gus Dur, saya tahu persis Gus Dur tidak seperti itu. Tetapi, akhir-akhir ini saya sendiri kaget. Artinya, saya pikir harus mengatakan seusai ajaran beliaunya pertama kali atau saya mengikuti DPP ini. Kalau saya mengikuti banyak korban tidak bersalah yang berjatuhan ini.

Akhirnya saya mau nggak mau memutuskan untuk mengatakan yang benar itu begini. Kalau tidak benar mari kita uji. Buktinya sekarang DPC Banyuwangi baru saja memenangkan gugatan atas pemecatan DPP PKB di pengadilan. Coba bayangkan, kalau kita memang menghargai hukum, proses hukum mestinya kita tunggu proses peradilan. Dan kalau kita nunggu proses pengadilan itu DPC yang sah dan berhak mengikuti muktamar adalah DPC-nya Wahyudi, tapi kan nggak boleh. Bahkan ada insiden pemukulan segala akibat dari statement Gus Dur. Itu yang saya prihatin sebetulnya.

Jadi, apa yang dilontarkan Gus Dur lebih banyak memang karena pengaruh lingkungan

Sekarang Adhie Massardi itu orang kurang sabar apa. Presiden sudah gak menjabat, dia masih jadi juru bicara. Tapi terakhir dia komentar, ada kelompok yang sengaja membuat Gus Dur jadi buldoser. Dia ngomong begitu. Sebetulnya kita-kita yang muda ini sayang betul. Tapi sudahlah, gak apa-apa kalau itu sudah dikehendaki Gus Dur dan kelompoknya. Tapi saya tetap hormat kepada Gus Dur sebagai orangtua

Ada yang mengatakan, Muktamar II PKB itu puncak pertarungan anda dan Gus Dur

Ya nggak begitu. Jadi ya saya ini kan begini. PKB itu dari riwayatnya yang melahirkan para kiai. PKB itu bekerja di bawah bimbingan dan pengawasan para kiai. Nonformalnya begitu. Jadi, ada nilai yang harus diperjuangkan. Tanpa itu, percuma. Nah faktor Gus Dur disini. Dulu kan kiai menyatu sama Gus Dur. Nah sekarang kiai-kiai dengan fakta yang ada, berubah sehingga mempengaruhi jalannya PKB. Sekarang para kiai tidak seperti itu. Di Semarang malah menyerukan menarik diri karena melihat proses muktamar itu tidak benar. Nah itu, persoalannya. Kalau Gus Dur menyatu lagi dengan kiai mungkin balik lagi kekuatannya. Tapi kalau sudah berbeda dengan para kiai itu yang susah. Saya juga dalam hati saya waktu itu menentukan bagaimana. Ya sudah karena PKB punya kiai dan ini instruksi kiai ya saya ngikutin kiai.

Kalau itu dibaca pertarungan saya dengan Gus Dur, ya sebetulnya itu persoalannya. Jadi, saya lebih pada para kiai ini. Jadi Gus Dur begini, para kiai itu begini lho Gus. Kiai minta supaya muktamar ini sah libatkan Alwi-Saifullah Yusuf terus kader-kader jangan dibatasi, biar semua boleh jadi calon, demokrasi. Terus juga jangan mengubah putusan-putusan yang sudah diputuskan karena itu nanti akan memacu perkembangan PKB ke depan. Tapi ini semua kan tidak direspon. Kalau itu direspon selesai itu.

Jadi, bukan kita ini memanfaatkan kiai nggak. Kita ini dipanggil kiai, ini lho putusan kiai. Sebetulnya intinya itu. Jadi, Gus Dur dengan kiai ini sudah jauh. Para kiai mengingatkan juga nggak pernah diperhatikan padahal PKB ini kan di bawah bimbingan kiai. Jadi, kelihatannya saya berhadapan dengan Gus Dur. Apalagi anak-anak yang nggak tahu saya dipikir menunggangi kiai. Jadi, kalau dibaca saya berhadapan dengan Gus Dur sebetulnya ya ini. Cuma disana yang mengimplementasikan saya. Itu kalau ada suara-suara begitu keluar, saya dipanggil kiai ini lho keputusan para kiai seperti ini anda bagaimana. Ya saya jawab, Bismillah kiai.

Anda dan Hasyim Muzadi adalah orang dekat Gus Dur. Sekarang satu-persatu meninggalkan Gus Dur

Faktornya lebih pada Gus Dur sendiri. Bukan pada saya atau Pak Hasyim. Gus Dur yang memang apa ya… kan sebetunya karena kita ini dekat kalau diajak ngomong kan bisa enak. Dan saya sudah berusaha berkali-kali. Setelah saya jelaskan ya bisa menerima, bagus sekali. Nggak ada persoalan tapi setelah itu berubah lagi berubah lagi. Saya kan kalau jelaskan terus-terusan nggak bisa. Itu saja. Jadi, perubahannya kalau dulu terjadi klarifikasi tapi kalau sekarang ini ada informasi begini ya sudah tanpa ada cek dan ricek.

Anda sakit hati ?

Nggak, saya hanya minta jangan ada fitnah di kalangan kita. Itu saja. Iya kalau betul, kalau itu tidak terjadi bagaimana. Statement Gus Dur kan akibatnya luar biasa. Misalnya Wahyudi dituduh merencanakan pembunuhan. Itu kan Wahyudi sak bolo-bolone semua tanya itu, terus akibat sosial di bawah seperti apa. Fathorrosjid coba. Tanya dia, semua orang tanya, masa Ketua DPRD jadi perencana pembunuhan. Terus saya dituduh melindungi pembunuh. Ya Allah, kadang-kadang saya ini.

Waktu jadi presiden dulu bagaimana saya menggerakkan kawan-kawan di Jatim, Jakarta untuk mempertahankan Gus Dur meskipun akhirnya jatuh. Wis, pokoknya totallah, sampai saya bikin buku sendiri soal itu. Tapi, ya sudahlah yang penting saya sudah mengemukakan apa adanya, Gus Dur meresponnya seperti itu ya sudah. Sekarang sudah diputuskan ya memang beda saya dan Gus Dur.

Seperti apa Gus Dur yang anda kenal ?

Gus Dur itu demokrat, tidak pernah curiga sama orang, jenius, humoris. Itu yang saya kenal, tapi ya sekarang ini sering curiga nggak ada bukti, terus juga seperti memaksakan kehendak.

Kenapa Gus Dur sekarang berubah?

Ya akhirnya saya sadar dulu Bung Karno dulu juga begitu waktu tua, kan banyak orang kecewa. Ya, sudahlah mungkin ini proses, mungkin sudah tua. Kalau Gus Dur nggak mau dikatakan dikatator, ya gak apa-apa tapi Soekarno buktinya tua ya diktator kan ha…ha…ha…

Tapi saya berusaha dengan Gus Dur sebagai orangtua saya ingin menjaga betul. Jadi istilahnya itu mikul dhuwur mendem jero. Begitu kan kalau orang Jawa. Tapi yang melingkupi Gus Dur itu ingin mendem jero tok nggak mikul dhuwur. Saya ngangkat itu nggak bisa karena yg melingkupi ingin mendem Gus Dur.

Coba sekarang, Gus Dur dihadapkan sama DPC Banyuwangi langsung. Itu ‘kan bukan levelnya Gus Dur, terus menjawab pandangan umum LPj, Gus Dur sendiri. Itu kan bukan levelnya. Gus Dur itu ‘kan diatas. Ini yang saya katakan ini bukan mikul dhuwur. Orang dipendem betul. Jadi, ibaratnya begini. Ini lapangan kecil yang bukan lapangannya Gus Dur dimasuki. Kan nggak ngerti anak-anak kecil itu yang di lapangan, ditembaki semua. Ini yang saya nggak ngerti akhir-akhir ini terjadi seperti ini. Nah, saya sudah nggak didengar, bahkan saya dituduh. Sudahlah, akhirnya saya ikhlas, ya sudah monggo kalau karepnya begitu ya sudah. Selesai…selesai gak apa-apa. Tapi dalam batin saya, saya itu nggak bisa begitu, saya lama dengan Gus Dur masih saja teringat.

Dulu saya bangga betul. Saya dulu kan di Tempo, Jakarta, Gus Dur jadi kolumnis. Kalau malam ketemu dengan Mas Gun (Gunawan Muhammad), Fikri (Fikri Jufri), termasuk Salim Said segala. Kalau lihat artikelnya Gus Dur nggak bisa ngedit karena padatnya, bagusnya tulisan, bangga. Luar biasa. Terus gemilang terus. Tapi akhir-akhir ini setelah jatuh jadi presiden, saya kadang-kadang kok berlawanan.

Saya jelaskan, berlawanan. Saya jelaskan lagi, berlawanan lagi. Saya berkali-kali menjelaskan, ya capek juga. Akhirnya, ya sudah kalau itu kemauan Gus Dur ya monggo. Saya begitu saja. Toh, saya dari dulu mengikuti beliau kan saya juga mandiri. Bukan saya mengharapkan sesuatu. Wong, saya nggak pernah mengundang, ke rumah saja nggak pernah saya undang. Karena saya jaga jangan sampai saya dikatakan mendompleng kharisma Gus Dur. Saya jaga betul.

Apa ada kemungkinan Gus Dur kembali ke jatidirinya seperti yang anda kenal ?

Ya saya nggak ngerti ya. Kalau lihat seperti ini ya susah karena kan mungkin faktor yang mendampingi itu kan juga luar biasa. Dulu jamannya ada Marsilam, Bondan ada partner yang melingkupi. Cemerlang-cemerlang semua. Saya melihat mungkin kawan bicaranya kawan sehari-hari itu mempengaruhi.

Kawan sehari-hari Gus Dur sekarang ini menurut anda akan membawa Gus Dur kembali seperti semula

Tadi itu saya katakan kawan Gus Dur yang sekarang cenderung mendem jero dan itu sudah terlihat di lapangan. Masa Gus Dur dihadapkan cabang, itu kan keterlaluan. Saya yakin itu bukan Gus Dur. Nggak pernah saya jumpai dalam kurun waktu selama saya dekat dengan Gus Dur dia nggak pernah ngurusi yang kecil-kecil.

Karena memang bukan areal dia. Masalah cabang atau wilayah itu kan cukup di sekretariat. Tidak perlu Gus Dur sendiri turun.

Atas berbagai perlakuan Gus Dur itu, anda masih membuka pintu maaf ?

Nggak ada persoalan maaf dan tidak. Saya hanya ingin klarifikasi. Yang saya inginkan Gus Dur melihat kebenaran dari berbagai sisi. Saya ini kan mengemukakan data dan faktanya begini, ayo kita uji mana yang benar. Kalau kita semangatnya mencari kebenaran tapi tanggapan beliau seperti itu. Terus saya kecewa nggak, kalau kecewa ya kecewa. Tapi kan itu maunya Gus Dur akhirnya kita bikin sikap seperti itu. Ya sudah nggak apa-apa. Kalau sikap Gus Dur begitu sikap kami begini, akhirnya menjadi perbedaan sikap dalam konteks memandang muktamar itu. Saya memandang muktamar tidak bener dan sah akhrinya kita minta Alwi yang mengadakan muktamar dan itu sama dengan kiai yang meminta seperti itu. Tapi Gus Dur memaksakan harus jadi, bahkan tidak menghentikan proses muktamar ketika ada syarat-syarat yang cenderung pada salah satu calon yaitu Muhaimin. Padahal, syarat aklamasi itu tidak boleh.

Artinya, pintu rekonsiliasi dengan Gus Dur masih terbuka?

Lho saya sebagai orang muda pada yang tua tetap hormat. Nggak ada masalah. Ini kan persoalan partai. Persoalan pribadi tetap hormat, sebagai orangtua, tokoh yang kita kagumi yang selama ini kita ajak bicara macam-macam. Tapi dalam konteks partai kita berbeda. (M Subchan Sholeh)


Sobat Lama

Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya ini meruakan salah satu orang kepercayaan Gus Dur. Sepanjang sejarah Orde Baru, Anam dan Gus Dur seolah seiring sejalan. Dimana ada Gus Dur disitu pasti ada Anam. Pria kelahiran Jombang, 30 September 1954 ini mulai mengenal Gus Dur sejak mahasiswa dan berlanjut saat ia menjadi wartawan majalah Tempo di tahun 1978. Anam benar-benar dekat dengan tokoh kharismatis NU itu dalam kurun 1981 sampai tahun 1984. Saat itu, Anam menjadi Ketua PW GP Ansor Jatim dan Gus Dur masuk PB NU. Saat Gus Dur menjadi Ketua PB NU pada tahun 1984, Anam mengikuti dengan posisi Bagian Penerangan. Kedekatan ini berlanjut terus sampai

terbentuknya PKB dan Gus Dur terpilih menjadi Presiden di tahun 1999.

Seperti halnya yang lain, Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat ini juga mengaku kagum atas kehebatan Gus Dur yang telah diakui dunia. Ia mengenal Gus Dur dengan tiga sifatnya yang menonjol demokrat, jenius, dan humoris. Bagi Anam, perbedaan sikap yang tengah terjadi antara dirinya dan Gus Dur tidak akan mempengaruhi persahabatan yang telah dijalinnya puluhan tahun. Anam memahaminya sekadar pasang-surut dalam hubungan pertemanan. (ans)

2 responses to this post.

  1. Hi, cool post. I have been wondering about this topic,so thanks for sharing. I’ll likely be subscribing to your site. Keep up the good posts

  2. Hi, thank you for visiting my blogs. I’ll always try to keep up the good posts in my blogs. I know it’s not easy but nothing is impossible. Thank’s again for your support.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: