‘Gizi’ Perlu Tapi Bukan Segalanya

Butuh usaha ekstra untuk mewawancarai Jenderal (Purn) Wiranto. Seusai menyampaikan visi dan misi sebagai bakal calon presiden dalam Konvensi Partai Golkar di Hotel Shangri-La Surabaya awal pekan lalu, ia keberatan saat hendak diwawancarai dalam perjalanan menuju Bandara Juanda. Ia meminta diwawancarai setiba di bandara. Agak terlambat mengikuti kawalan rombongan Wiranto, Surabaya Post harus sedikit ngebut untuk menyusulnya. Tiba di bandara hanya sedikit waktu bagi wartawan Surabaya Post untuk bertemu mantan Pangkostrad ini di ruang tunggu VIP pada 9 September 2003.

Setelah menunggu Wiranto berganti pakaian, wawancara dimulai. Eksepresinya yang serius mewarnai suasana wawancara. Hanya sesekali ia tertawa kecil ketika ditanya hobinya menyanyi. Wawancara yang baru berlangsung 15 menit itu harus berakhir karena ia harus segera kembali ke Jakarta. Bersama lima pendampingnya, Wiranto bergegas menaiki tangga pesawat pinjaman temannya dengan nomor pesawat PK-RGI. Tepat pukul 16.22 pesawat jenis King Air B-200 bermesin baling-baling turbo (turbo propeller) dengan kapasitas delapan orang lantas bergerak meninggalkan landasan pacu membelah angkasa membawa sang calon Presiden kembali ke Jakarta.

Wiranto (Dok. Indonesia Media)
Wiranto (Dok. Indonesia Media)

Di antara purnawirawan lain, anda bersama Susilo Bambang Yudhoyono termasuk yang memiliki suara bagus. Tapi, anda lebih memilih menjadi calon presiden daripada penyanyi..

Eh, seseorang dalam memilih jalan hidupnya selain ditentukan oleh kehendak sendiri tetapi juga tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat. Saya merasa tatkala kita menghadapi negeri semacam ini, masih banyak masalah, negeri yang belum bersatu untuk bisa kembali bangkit sebagai negara, yang bisa sejajar dengan negara lain, kita butuh suatu pengabdian atau sumbangsih dari berbagai anak bangsa untuk bisa bersatu padu membangun negerinya.

Nah saya, memang saya penyanyi tapi saya kalau jadi penyanyi, pertama saya akan mengambil lahan orang lain yang sudah menjadi penyanyi, dan kedua tidak maksimal pengabdian saya. Paling-paling hanya menghibur orang lain, tapi menyusahkan yang lain karena lahannya saya ambil. Ya lebih baik saya.masuk dalam kancah politik dimana saya bisa lebih banyak memberikan apa yang saya miliki, memberikan kontribusi dalam pembangunan nasional.

Bukankah menjadi penyanyi tidak seberat menjadi capres?

Memang perjuangan selalu ada risiko. Sesuatu usaha mencapai tujuan selalu memerlukan satu pengorbanan. Dan ini saya anggap sebagai pengorbanan memang kalau dilihat dari risiko saya lebih kecil jadi penyanyi tetapi apakah itu bisa memberikan kemaslahatan pada masyarakat, tunggu dulu. Sekarang walau banyak tantangan harus saya hadapi tetapi saya yakin kalau dengan cara-cara yang bijak, sabar dan kiat baik saya kira semuanya bisa dilalui dengan baik.

Sejak kapan anda sadar memiliki bakat bernyanyi?

Kalau itu, sudah sejak di TK. Soal nyanyian saya disenangi orang lain tidak tahu saya. Tetapi yang pasti, menyanyi itu nggak ada masalah. Menurut saya, yang bermasalah itu ‘kan yang mendengar. Jadi kalau kita disuruh, ya nyanyi aja, soal nanti nggak memuaskan pendengarnya ya salahkan yang mendengarkan. Tetapi sedapat mungkin kita menyanyi itu menyenangkan orang lain. Jangan sampai mendengar suara kita orang malah jadi terganggu..

Sudah berapa album anda?

Baru satu dan itu memang untuk saya sumbangkan buat pengungsi, bukan untuk komersial. Hasilnya sudah banyak. Kemarin pengungsi Aceh saya sumbang hasilnya 1,5 miliar, kemudian Ambon, lalu Timtim. Jadi suara saya sudah menghasilkan dana yang cukup berarti untuk membantu orang lain. Sudah beberapa kali, saya menyumbang menyanyi di kegiatan perkumpulan jantung sehat, untuk pemberantsan narkoba saya juga menyumbang menyanyi. Bahkan saat Broery Marantika sakit, saya juga menyumbang nyanyi utk mendapatkan dana pengobatannya.

Berbicara soal pencalonan anda, kini muncul kekhawatiran di masyarakat bila figur militer seperti anda menjadi presiden maka otoritarianisme di masa Orba akan terulang?

Militer sebenarnya tidak identik dengan otoritarianisme dalam paham. Kalau orang mengatakan begitu, saya tidak sependapat. Memang di dalam kehidupan militer ada suatu keputusan yang tidak terbantahkan saat pemimpin mengambil keputusan. Tetapi dalam proses pengambilan keputusannya sangat demokratis. Tatkala keputusan belum diambil, si pemimpin memberikan hak sepenuhnya pada staf untuk berbeda pendapat dengan pimpinan dalam rangka mencari keputusan terbaik.

Saya sendiri bukan lagi militer, tetapi mantan militer yang hak-hak politiknya sama dengan warga negara lain. Masih banyak orang yang mempermasalahkan itu karena ada suatu budaya dikotomi sipil militer yang terus dipertentangkan. Padahal militer adalah bagian dari masyarakat sipil. Negara manapun selalu membentuk militer. Maka kalau militer dihadapkan dengan masyarakat sipil ini nggak pas. Maka kemudian saya memahami apa yang dikatakan Jenderal Sudirman bahwa tentara bukan kasta tersendiri. Tentara adalah bagian dari masyarakat lain seperti buruh, tani, dan nelayan yang bersama-sama membangun negerinya. Oleh karena itu, dengan melihat track record saya, anda tidak usah khawatir saya akan menjurus pada otoritarianisme. Itu akan bunuh diri. Justru prinsip-prinsip demokrasi akan saya tegakkan secara jelas dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang sudah ada. Ini yang perlu saya luruskan.

Tentang anggapan anda adalah simbol status quo?

Justru yang ngecap itu status quo pemikirannya. Karena tidak pernah berubah. Pak Wiranto dilihat hanya saat menjadi Menhankam dan Panglima TNI. Nggak tahu kalau saya mendirikan lembaga kajian, dekat dengan adik-adik mahasiswa, sudah ada pemikiran baru soal demokrasi, sudah ada reformasi internal TNI, dwifungsi saya cabut, polisi saya pisahkan. Itu semua nggak pernah dilirik. Yang dilirik Pak Wiranto bagian dari rezim Orba. Orba tidak salah semuanya, semua rezim ada baik-buruknya. Karena itu saya kira jangan terpengaruh, karena akhirnya itu akibatnya. Jangan kita menari di gendang orang lain. Konvensi capres Golkar untuk memilih orang terbaik pasti ada isu terhadap orang-orang yang dianggap punya kans cukup besar. Kalau ada seperti itu, jangan ikut menari.

Bagaimana tentang dugaan pelanggaran HAM oleh TNI di Timtim ketika anda menjabat sebagai Panglima TNI?

Kemarin saya bebricara dalam bedah buku di Bulaksumur, Jogjakarta saya buka pertanyaan bebas. Saya bahagia karena pemahaman mahasiswa melihat dinamika politik nassional sehingga tidak ada pertanyaan soal pelanggaran HAM berat. Di buku saya juga sudah dijelaskan. Tuduhan pelanggaran HAM berat oleh TNI itu merupakan opini publik yang sengaja dibangun pihak lain. Karena pelanggaran HAM dengan pelanggaran HAM berat selisih satu huruf tapi definisinya dan implikasinya beda sekali.

Pelanggaran HAM itu macam-macam seperti menghalangi orang beribadah, hukumannya hukuman moral, ibu ambil uang di bank dirampok, melanggar HAM hukumannya pidana. Tetapi soal pelanggaran HAM berat yang dituduhkan ke TNI dan merembet ke pimpinannya itu definisinya dilakukan dengan perencanaan sistematis, berdampak luas (waktu dan biaya) seperti pembersihan etnis (genosida) dan merupakan kejahatan melawan kemanusiaan seperti pengusiran, pembakaran, penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan, dan penganiayaan. Saya jamin TNI kita adalah bagian dari rakyat Indonesia yang beradab. Di DPR saya bersumpah tidak ada rencana, niat, atau kehendak dari pimpinan TNI untuk melakukan pembunuhan massal, tidak pernah ada. Apalagi tentara kita justru mencegah. Kalaupun ada itu ekses dari penegakan hukum. Itu dikatakan almarhum Prof Afan Gaffar, sahabat saya.

Bangsa ini tidak bisa melihat bahwa TNI sudah sedemikian sulit menegakkan hukum dan menjaga konstitusi. Ketika konstitusi berhasil ditegakkan TNI justru dituduh seperti itu. Ini adalah persaingan global dimana banyak negara yang berkepentingan untuk menghambat kemajuan negara ini.

Selain itu, saya tidak pernah melakukan kejahatan melawan kemanusiaan seperti yang dituduhkan media bahkan Sekjen PBB meralat itu. Xanana Gusmao juga mengatakan demikian. Hanya bagian kecil dari PBB yakni The Serious Crime Unit yang diperbantukan di Kejaksaan Timtim yang menggelar konferensi pers sepihak dan melaksankan tuduhan sepihak yang sebenarnya sudah menyalahi aturan internasional karena melampaui kewenangan Dewan Keamanan (DK) PBB. Juga sampai saat ini saya belum pernah didakwa, disangka atau dituntut dalam pelanggaran HAM.

Untuk keikutsertaan anda dalam Konvensi Partai Golkar, sudah berapa daerah yang anda kunjungi?

Sudah 29 propinsi

Berapa orang yang mengiringi kunjungan anda di tiap propinsi itu?

Tidak tentu, tergantung kondisi pesawat terbang dan bagaimana kondisi di daerah itu. Ya rata-rata 2-3 orang, terkadang 5-7 orang. Atau lebih dari itu kalau jaraknya dekat seperti Jawa Barat atau Jawa Tengah, kadang-kadang rombongan pakai bis.

Kunjungan ke Surabaya ini anda mencarter pesawat kecil. Seberapa sering anda mencarter pesawat untuk kepentingan konvensi ini?

Carter, carter siapa. Bukan, itu pesawatnya orang, dipinjamkan ke saya. Dan tidak selamanya saya pakai pesawat itu. Dulu ke Irian Jaya saya pakai pesawat komersial, kebetulan ini pesawat teman nganggur disuruh pakai. Ya dipakai aja namanya rejeki.

Bukan carter, dari mana dananya.

Jadi betul, selain menyiapkan visi dan misi, dalam Konvensi Golkar perlu menyiapkan ‘gizi’ juga?

Lho ‘gizi’ perlu, bagaimana kalau nggak ada gizi. Tapi ‘gizi’ yang bagaimana. Saya sepakat bahwa ‘gizi’ perlu tapi jangan segala-galanya. Uang perlu untuk beli tiket pesawat, bayar hotel, biaya transportasi, partisipasi beli bendera dan kepentingan-kepentingan organisasi, itu ‘kan memang perlu. Tetapi kalau itu kemudian mutlak, segala-galanya itu yang saya tidak sependapat.

Darimana sumber dana anda untuk itu semua?

Sebagian dari dana pribadi, tapi ini ‘kan urusan pribadi. Soal saya jual apa itu urusan saya. Tapi paling tidak ada bantuan dari teman-teman yang ikut berpartisipasi. Partisipasi itu macam-macam, ada partisipasi pemikiran, ide, tenaga, atau dukungan dana. Itu dibolehkan dalam kegiatan kampanye.

‘An Officer and A Gentleman’

Jenderal TNI (Purn) Wiranto SH SIP muncul memimpin TNI dalam masa-masa kritis negeri ini. Pria kelahiran Jogjakarta 4 April 56 tahun silam ini menjadi Panglima ABRI (waktu itu) pada bulan Februari 1998. Sebulan berikutnya ia diangkat sebagai Menhankam. Sejarah mencatat keberhasilannya menghadapi “godaan” yang luar biasa saat kejatuhan Presiden Soeharto di bulan Mei 1998 dan Sidang Istimewa MPR November 1998. Dalam situasi yang sangat kritis itu suami Uga Usman ini berhasil menjaga TNI untuk tidak memanfaatkan kesempatan mengambil alih kekuasaan. Kalau mantan Ketua Umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) dan Ketua Umum Federasi Karatedo Indonesia (Forki) ini mau tidaklah sulit memobilisasi TNI serta merekayasa dukungan dari kalangan masyarakat sipil.

Wiranto tidak seberuntung pendahulunya. Mantan Pangdam Jaya itu memimpin TNI dalam situasi yang yang sangat tidak mengenakkan. Tak jarang dia sendiri harus kena imbasnya. Di masa kepeimpinannya hujatan terhadap TNI datang silih berganti. Ada yang menghendaki TNI melakukan perubahan radikal dengan sepenuhnya meninggalkan peran sosial politiknya saat itu juga. Tetapi ada pula yang menghendaki perubahan secara perlahan, sistematik, terarah dan terkontrol. Penghobi bulutangkis dan tenis ini memilih yang terakhir. Bersama jenderal-jenderal reformis seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Wijoyao dan lainnya lahirlah konsep tentang “Reposisi, Redefinisi Peran Sosial Politik TNI”. Ayah seorang putra dan dua putri dalam pandangan seorang sahabatnya almarhum Afan Gaffar merupakan figur perwira yang terbuka, ramah akan tetapi tegas dan lugas sebagaimana perwira pada umumnya. Afan bahkan menyebut mantan Menko Polkam itu sama dengan judul sebuah film Hollywood “An Officer and A Gentleman”.

Sebagai seorang parajurit yang memiliki komitmen perjuangan Wiranto menemukan caranya sendiri untuk meneruskan perjuangan setelah purna tugas. Selain mendirikan

lembaga kajian bernama Institute for Democracy of Indonesia (IDe), ia kini tercatat sebagai salah satu bakal calon presiden dalam Konvensi Partai Golkar. Waktu akan membuktikan kiprah mantan ajudan Presiden Soeharto ini selanjutnya. (aan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: