Kala Arek Undaan Berjuang Merajut Mimpi

Norman Hsu
Norman Hsu (Dok. Indonesia Media)

Kisah Norman Hsu: Calon Walikota di AS asal Indonesia (1)

Warga Surabaya patut bangga karena memiliki calon walikota di negara adidaya yang asli Arek Suroboyo. Namanya, Norman Hsu. Ia akan bersaing dalam pemilihan Walikota Hacienda Heights, kota dalam pengawasan dan pengelolaan Los Angeles (LA) County, California. Bila menang, ia akan tercatat dalam sejarah sebagai walikota pertama di Amerika dari Indonesia. Berikut penelusuran dan wawancara Surabaya News lewat surat elektronik (e-mail) dengan Norman dan Dr Irawan, Chief Editor Indonesia Media, ,situs yang memberitakan aktivitas warga Indonesia di Amerika Serikat.

Oleh: M. Subchan Sholeh

Siapa Norman?Ia sebetulnya Arek Suroboyo asli yang telah tinggal di negeri Paman Sam itu 24 tahun silam bersama keluarganya. Norman menempuh pendidikan dasar sampai menengahnya di Kota Pahlawan ini. Pendidikan dasar ditenpuhnya di Sekolah Rakyat (SR) di Sidodadi. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di SMP di Gemblongan dan SMA di kawasan Undaan Wetan pada tahun 1950-an.

“Saya arek Suroboyo tulen yang pernah menjadi guru SMA Lian Huo,” kata Norman sambil menitipkan salam hangatnya pada warga Surabaya. Karena seluruh keluarganya berada di Amerika, tak lama setelah itu, Norman bersama istri dan dua putra-putrinya meninggalkan Indonesia pada tahun 1979 dengan prioritas ke-5 (saudara berada di Amerika) dengan visa imigran.

Sebelumnya, ia sempat melanjutkan studinya di Taiwan University dalam bidang Social and Politic Science dan lulus sebagai Sarjana Hukum. “Sebagai pendatang baru ke Amerika, adalah sedikit sulit apalagi saya datang di Amerika dalam usia di atas 40 tahun,” lanjutnya. Pendatang baru. Itulah sebutan terkenal bagi warga negara lain yang bermigrasi ke Amerika, termasuk Norman dan keluarga. Bagaimana ia merajut hidupnya di negeri Abraham Lincoln itu?

Ia menuturkan, ada sebuah peribahasa bagi pendatang baru di Amerika, “America is the land of opportunity, if you work hard, you can make your dream comes true“. Terjemahan bebasnya begini, Amerika wilayah yang memberi kesempatan besar bagi anda yang mau bekerja keras, bahkan anda dapat mewujudkan impian anda”.

Peribahasa yang melecut semangat Norman untuk bekerja keras di negeri yang konon dikenal kampiun demokrasi ini. Dua tahun setibanya di Hacienda Heights, California, Los Angeles, Norman mengikuti ujian dan lulus untuk diterima sebagai Pegawai Kantor Pos (Postal Clerk) di Pusat Pemrosesan Surat (Industry Mail Prossesing Center) Hacienda Heights. Empat tahun kemudian, Norman diangkat sebagai Postal Supervisor Mail Processing tingkat-15. Jabatan tertinggi yang diraih Norman hingga memasuki masa pensiun pada tahun 1997, setelah 16 tahun mengabdi di kantor pos.

“Di Amerika, kita harus menunjukkan diri bahwa kita mampu bekerja. Misalnya, sebagai pegawai pos tingkat 5, saya harus bekerja lebih keras daripada pegawai yang warga setempat. Ketika kesempatan promosi tiba, saya bukan menunggu panggilan tetapi memohon diri bahwa saya ingin menjadi pengawas (supervisor). Melalui proses pertandingan dengan pegawai-pegawai lain baru dapat promosi. Tidak mudah namun adil,” tutur Norman yang masih menggunakan bahasa Indonesia dengan keluarganya di kediamannya, kawasan Yorba Linda.

Isterinya, Naitung masih bekerja di Kantor Pos Besar setempat. Sementara putranya bekerja sebagai detektif pada Los Angeles County Sheriff Department. Sedangkan putrinya bekerja di Pixar, perusahaan yang memproduksi film animasi terkenal yakni “Toy Story”,”Monsters Inc.” dan “The Bugs’ Life”. Meski telah pensiun, Norman sampai kini, menurut Dr Irawan, masih tercatat sebagai penasehat Indonesia Chinese American Association (ICAA) yang berpusat di Los Angeles dan pernah menjadi anggota Committee for Human Rights in Indonesia (CHI).

Bagi Irawan, masyarakat Indonesia sebetulnya agak terlambat dibanding dengan warga dari kawasan Asia lainnya seperti Taiwan, Hongkong, Korea, dan Jepang. Sudah banyak dari mereka yang memangku jabatan penting di Amerika.

“Rupanya sistem politik dan kehidupan demokrasi di Indonesia yang selama ini terkekang membuat dampak yang kurang menguntungkan bagi diplomasi Indonesia terhadap luar negeri,” kata Irawan.

Irawan menambahkan, kini warga Hacienda Heights baik dari Indonesia atau setempat yang belum mempunyai hak pilih sibuk mengkampanyekan Norman dengan memasang plakat-plakat dukungan di rumah masing-masing, membantu absensi kartu pemungutan suara (absentee ballot), kampanye lewat e-mail pribadi dan lainnya. Bahkan, lanjut Irawan, mereka yang berminat menjadi relawan, ICAA siap menerima pendaftaran lewat telepon atau mendaftar langsung ke kantor yang beralamat di Duarte Inn, 1200 East Huntington Dr. Duarte, California tiap Sabtu pagi pukul 08.30 – 12.00 waktu setempat. Sementara absentee ballot dapat diambil di ICAA dan kantor Indonesia Media di 505 East Arrow Highway, Glendora, California.

Dalam pandangan Irawan, antusiasme warga Indonesia ini didasari atas semangat Norman yang telah membawa nama Indonesia ke dalam sistem perpolitikan di negara adidaya. “Itu yang membuat kami merasa bertanggung jawab untuk memperjuangkannya sampai berhasil. Kalau saja Pak Norman berhasil menembus pemilihan walikota ini, maka sejarah akan mencatat untuk pertama kalinya orang asal Indonesia menduduki jabatan walikota di luar Indonesia,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari anggota Kongres Grace Napolitano, anggota DPRD tingkat I (Assemblyman), Ed Chavez dan Walikota Industry, Dave Perez. “Sudah semestinya kami selaku masyarakat Indonesia disini membantu dan mendukung semaksimal mungkin agar Pak Norman berhasil menjadi walikota,” tegas Irawan.

Ditanya tentang kemungkinan dirinya bakal mencatat sejarah, Norman mengaku tak terlalu memikirkannya. “Soalnya bukan apakah saya akan berhasil menjadi Walikota Hacienda Heights yang pertama karena memenangkan suara tertinggi, tetapi bagaimana agar penduduk setempat dapat menyetujui bahwa Hacienda Heights dapat memisahkan diri (incorporated) dari LA County lewat pemungutan suara yang waktunya berdekatan dengan pemilihan wlaikota,” jelasnya.

Di sisi lain, sebagai bangsa Indonesia dari etnis Tionghoa, ia memberi nasehat kepada etnis Tionghoa yang tinggal di Indonesia. “Jika anda ingin tetap tinggal di Indonesia, berasimilasi, ikut serta dan mengabil peran penting di bidang sosial maupun politik. Anggaplah anda sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa, bukan orang Tionghoa yang berdomisili di Indonesia,” Pesan ini juga disampaikannya pada warga pendatang di Amerika khususnya dari Asia. “Anggaplah anda sebagai warga Amerika keturunan Cina, bukan orang Cina yang bertempat tinggal di Amerika,” himbaunya. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: