Kabar baru datang dari desa vokasi kami, Desa Ngabab. Desa subur di lereng Pegunungan Pujon, Kabupaten Malang itu memasuki babak baru dalam pengolahan limbah sapi. Jika sebelumnya dimanfaatkan sebagai biogas, sekarang sisa biogas diolah menjadi pupuk organik. Bukan hanya itu, desa penghasil susu sapi ini telah memulai usaha pembuatan yogurt.
Ini yang saya jumpai kala berkunjung untuk kedua kalinya tepat pada Hari Ibu tahun lalu. Bersama rekan saya, Mas Widhi, kami menemani kunjungan seorang staf Ditjen PNFI yang hendak memantau perkembangan desa vokasi ini. Masih seperti kunjungan pertama saya pada November tahun 2009, desa ini begitu meneduhkan hati. Hawa dingin nan segar khas pegunungan segera menyergap begitu memasuki mulut desa. Di kiri-kanan jalan hamparan hijau ladang berpadu dengan pegunungan berselimut kabut. Latar belakang yang manis bagi jejeran rumah-rumah penduduk di depannya.
Untuk menyegarkan ingatan, saya ceritakan lagi soal desa vokasi ini. Desa vokasi adalah wujud dari program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) dalam lingkup pedesaan. Program ini dicetuskan tahun 2009 oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan (Ditbinsuskel) Ditjen PNFI, Kementerian Pendidikan Nasional. Tujuannya mengembangkan sumberdaya manusia dan lingkungan yang dilandasi nilai-nilai budaya dan pemanfaatan potensi lokal.
Sebagai pelaksana program, BPPNFI Regional IV Surabaya memilih Desa Ngabab. Bukan tanpa alasan desa sejuk ini ditetapkan menjadi desa vokasi kami. Desa yang didiami sekitar 7.500 jiwa ini merupakan salah satu produsen susu sapi di Kecamatan Pujon. Separo lebih warganya menggantungkan hidup dari susu sapi. Dengan populasi 2.500 sapi perah, setiap hari desa ini menghasilkan sekitar 8.000 liter atau 8 ton susu segar.
Nah, hingga empat tahun lalu, kotoran sapi masih dibuang begitu saja ke selokan dan bermuara ke sungai. Padahal, kotoran sapi itu mengandung racun dan bakteri ecoli yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Melihat kondisi ini, BPPNFI lantas menetapkan Ngabab sebagai tempat ujicoba pemanfaatan limbah sapi menjadi biogas. Sejauh ini, ada sekitar seratus warga yang telah memiliki digester penghasil biogas. Digester merupakan tandon raksasa dengan tutup kerucut lebar yang terbuat dari batu bata dan semen. Digester ini ditanam di bawah tanah untuk mengendapkan limbah sapi. Gas yang terkumpul di dalam digester lantas dialirkan melalui pipa penyalur gas langsung menuju kompor. Sejak saat itu pula, biogas menggantikan peran minyak tanah untuk keperluan memasak harian. Uang untuk membeli minyak tanah pun dapat ditabung warga untuk kebutuhan lain.
Setelah merasakan langsung manfaat biogas, di tahun 2009 BPPNFI memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik beserta strategi pemasarannya. Bahan bakunya dari sisa biogas yang telah hilang gasnya atau slurry dalam bentuk cair atau padat ditambah dengan sisa sayuran busuk yang sebelumnya terbuang percuma.
Sejak awal 2010 mereka telah memproduksi dan memasarkan pupuk organik dengan merk “Granul” dalam kantong plastik ukuran 5 Kilogram. Produksi ini dalam kendali Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Mubarok. Mubarok artinya yang diberkati. Tersemat harapan agar kegiatan yang dilaksanakan PKBM yang baru berdiri tahun lalu itu mendatangkan berkah bagi semua warga desa. Pupuk organik adalah produk perdana. Berikutnya adalah yogurt. Ibu-ibu warga desa sudah mampu membuat yogurt usai menerima pelatihan intensif selama tiga hari. Dalam bungkus plastik, yogurt aneka rasa itu dipasarkan di sekitar desa tetangga dengan harga Rp 700.
Ini belum cukup. Baru-baru ini, mereka baru saja membangun lima greenhouse untuk penangkaran bibit wortel. Mereka memilih menangkarkan sendiri untuk menekan biaya produksi wortel. Soalnya harga bibit wortel di pasaran sangat mahal, hampir Rp 30 ribu per cawan.
Desa Ngabab terus melangkah dengan cara pandang berbeda terhadap limbah. Bukan sebagai sampah tetapi sebagai sumber daya ekonomis yang memberi nilai tambah melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle. Kurangi, pakai lagi, dan daur ulang. Semuanya dari sapi. Mamalia ini bukan hanya populer karena penghasil protein terbaik dari daging dan susunya. Atau dikenal karena kulitnya jadi bahan terbaik untuk beduk penanda waktu salat. Namun kotorannya pun berdaya guna. Sungguh tak sia-sia Tuhan menciptakan hewan herbivora kaya manfaat ini.
Sebelum meninggalkan bumi Pujon, saya sempatkan membeli oleh-oleh bergelas-gelas susu segar bebas pengawet rasa stroberi, coklat, dan melon. Buah tangan untuk keluarga dan rekan seruangan. Wuih, rasanya segar bukan buatan. Sudahkah anda minum susu sapi hari ini ?








Posted by -mbemz- on Januari 30, 2011 at 8:41 pm
mau dunk om… susu segarnya…
*dejavu, kayake dulu juga pernah singgah di desa ini. Tapi buat panen wortel..
Posted by M Subchan on Januari 31, 2011 at 12:02 am
boleh aja dik gesti, mampir lagi aja kesana sama teman-teman hehehe…. seger beneran susunya. biar makin lengkap kenangannya, panen wortel sama minum susu sapi segar. oya, tukeran link blog yuk. blogmu udah tercantum di menu kolega blogku. gantian ya. cheers…..
Posted by DEWI on Februari 3, 2011 at 9:29 pm
mas, bagi2 dong yogurtnya….
lg ngidam nich…….
hehehheheh………….
Posted by M Subchan on Februari 28, 2011 at 11:33 pm
yah, yogurtnya laris manis diserbu di lokasi. nggak kebagian deh mbak dewi. langsung kesana aja ya mbak. hehehe…..
Posted by Tomy on Juli 8, 2011 at 11:31 pm
Pak Aan, gimana kabarnya? Aku dikasih kontaknya dong di tomy@jawapos.co.id
Posted by jelly gamat Gold G sea cucumber jelly on September 8, 2011 at 1:39 am
wahh ide baru untuk buka usaha baru.. makasi mas rtiklnya mnginspirai
Posted by Beni on November 17, 2011 at 7:12 am
gua suka yang alami…
Posted by muslimshares on Desember 6, 2011 at 9:00 pm
nice blog gan
kalo berkenan tukeran link yuk
salam,
muslimshares
http://muslimshares.wordpress.com
Posted by M Subchan on Desember 12, 2011 at 6:15 pm
terima kasih gan. tentu saja saya berkenan bertukar link. salam.