Rote Ndao

Syahdan, dahulu sebuah kapal tentara Portugis terjerat badai di Laut Sawu. Kapal itu karam, tetapi penumpangnya berhasilmenyelamatkan diri ke sebuah pulau. Di pulau tak bernama itu, rombongan tentara asing ini berpapasan dengan penduduk lokal, seorang petani. Dalam bahasa Portugis, seorang tentara bertanya dimana ia sekarang. Jarang melihat orang kulit putih, sang petani kaget bukan main. Dia tak mengerti pula bahasanya. Dengan tergagap-gagap, petani menjawab hanya dengan menyebut namanya. “Rote..,Rote….” Jadilah pulau itu diberi nama Rote.

Perhatikan tiga anak Rote di belakang saya. Kulitnya kuning dan berambut lurus tebal.

Ini hanya salah satu legenda asal-usul Pulau Rote yang diceritakan turun-temurun. Namun, versi ini paling diyakini. Alasan utamanya adalah warisan genetik Portugis yang bisa dijumpai sampai hari ini di sana. Warisan ini paling banyak menurun pada kaum hawa. Mereka terlahir ke bumi dengan kulit putih bersih, dan rambut lurus nan lebat. Konon, anugerah ini menahbiskan mereka sebagai yang tercantik di seluruh dataran Timor.

Gugusan Kepulauan Rote terhimpun dalam sebuah kabupaten bernama Rote Ndao. Teritorinya meliputi 96 pulau walau hanya enam pulau yang dihuni manusia. Pulau Rote, Pulau Usu, Pulau Nuse, Pulau Ndao, Pulau Landu, dan Pulau Do’o. Pulau Rote adalah yang terbesar. Luas kabupaten ini 1280,10 Kilometer persegi atau sama dengan tiga kali luas Surabaya.

RSUD Ba'a

Ba’a adalah urat nadi Rote Ndao. Semua infrastruktur penyangga kehidupan ada di ibukota kabupaten tersebut. Pasar, rumah sakit, sekolah, dan terminal. Lalu lintas manusia, barang dan jasa menuju Rote sangat bergantung pada moda transportasi laut yang beroperasi tiap hari. Jalur udara dengan pesawat terbang perintis bukan lagi andalan. Angkutan udara hanya terbang ketika laut sedang ganas-ganasnya. Itupun jika pesawatnya tidak rusak.

Pangkalan bahan bakar di Ba'a, Rote Ndao


Petugas pangkalan bahan bakar menuangkan jerigen bensin isi 20 liter dengan bantuan corong.

Di sini juga belum ada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pasokan premium dan solar dicukupi dari pangkalan-pangkalan bahan bakar yang lebih mirip warung. Pembedanya adalah logo bergambar kuda laut berhadap-hadapan mengapit bintang emas dalam bingkai persegi. Pengisian bahan bakar dilakukan secara manual. Petugas pangkalan akan membawa jerigen dan corong yang sesuai dengan jumlah bahan bakar yang dipesan. Untuk alasan itu, pangkalan menyiapkan varian jerigen yang lengkap. Dari jerigen ukuran seliter sampai jerigen bujur sangkar gemuk berkapasitas 20 liter.

Lontar dimana-mana.

Dunia mengenal identitas Rote Ndao disematkan pada lontar, sasando dan Nemberala. Lontar tumpah ruah dimana-mana. Dari Ba’a ke lokasi tugas di Busalangga, sejauh 12 Kilometer, ribuan lontar menyapa di kiri-kanan jalan, seolah berkata, “Selamat Datang di Rote.”

Pak Fadlun dan Ridho, putranya tengah menikmati minuman dari nira lontar (legen).

Gula semut

Gula air.

Pohon berbatang tunggal dan berdaun tak bercabang ini menjadi sandaran hidup warga setempat. Di tangan warga, nira lontar beranak pinak menjadi gula lempeng, gula semut, gula air, dan sopi. Sopi adalah tuak dalam versi Rote Ndao. Hasil fermentasi nira ini mengandung alkohol tinggi. Daun lontar juga dipakai sebagai alat musik asli Rote, sasando. Anyaman daun lontar dibentuk seperti kipas lalu dipakai sebagai wadah untuk tabung bambu panjang dengan senar-senar di tengahnya.

Sabana Rote mulai kuning pucat kekeringan.

Dominasi lontar berbeda sehelai rambut dengan sabana. Permadani sabana terhampar di berbagai penjuru. Aneka mamalia berpesta pora di atasnya. Kambing, sapi, kerbau, dan kuda adalah primadonanya. Hewan ternak ini dilepas bebas. Bila senja menjelang, tanpa dikomando, hewan-hewan ini otomatis kembali ke kandangnya masing-masing. Pola pemeliharaan tradisional ini masih dipegang teguh orang Rote secara turun temurun.

Rote memang terpencil tapi pesonanya tak ada habisnya. Lontar, sasando serta savana baru kulitnya. Ada destinasi wisata kelas dunia yang membanggakan di sini. Peringkatnya nomor dua di dunia setelah Hawaii. Dia adalah Nemberala. (bagian ketiga)

16 responses to this post.

  1. Posted by anag punk on September 3, 2010 at 1:21 am

    hhmmmmmmPhhhhhh,,,,,,,,,,,
    ThanKs,
    jDi tau RoTe Neiiih….

    puLau SemauNya jGa DiCritain DuNkZ…

  2. terima kasih mas. sayang, saya belum sempat ke pulau semau. semoga ada kesempatan lagi ke sana jadi bisa mampir ke pulau semau.

  3. Posted by Syamsul on November 11, 2010 at 9:09 pm

    nice info… saya pernah ke kupang, tapi blom sempet ke rote kususnya nemberala… kalo ada kesempatan ingin ke nemberala sana ajak keluarga…

  4. kalo ada kesempatan ke ntt lg, bang syamsul wajib singgah sejenak ke rote untuk menikmati pesona nemberala. dijamin nggak bakal menyesal

  5. Posted by Merry on Januari 28, 2011 at 12:15 am

    Rote Island nice

  6. nice comment. thank you merry :-)

  7. kira-kira pada bulan apa waktu yang tepat untuk mengunjungi pulau rote ini?

  8. sebaiknya di bulan januari sampai agustus saja, karena cuaca dan kondisi ombak cenderung kondusif untuk pelayaran. semoga masih begitu karena akibat perubahan iklim yang drastis, prediksi cuaca seringkali meleset.

  9. Posted by glucklich on Oktober 11, 2011 at 3:16 am

    hati-hati mengatakan keturanan orang rote secara genetik adalah dari potugis. Karena itu membutuhkan telaah yang lebih akurat. Saya adalah orang rote. Warisan genetik orang portugis yang anda katakan terlihat pada kaum hawa itu bukan dari portugis.

  10. asyikkkkk……. anak rote terkenal…… liat aja, sasando aja GO INTERNASIONAL hehehehehehehe…………………..

  11. terima kasih atas informasi anda. saya setuju dengan anda soal warisan genetis ini perlu kajian mendalam. namun dalam tulisan ini saya juga tidak menekankan bahwa soal keturunan portugis itu sebagai versi yang paling benar. pada paragraf kedua, terlihat jelas maksud saya soal ini. namun, saya terbuka untuk masukan yang akan memperkaya tulisan ini terutama dari anda. jika anda memiliki informasi tambahan mengenai hal ini, dengan senang hati saya akan menambahkannya di tulisan ini untuk makin melengkapi cerita soal sejarah rote yang kita cintai bersama. terima kasih atas kunjungannya ke blog saya. saya tunggu kabar baik dari anda, terutama nama terang anda agar kita bisa kenal lebih baik. :-)

  12. Posted by yakub on Desember 25, 2011 at 7:59 pm

    Bukannya rasis nich, mau nanya benar ya di p rote penduduknya mayoritas kristen?
    tapi masih byk yang kristen tradisi(dipengaruhui adat istiadat setempat)? met natal buat p rote GBU.

  13. yeaahhh i believe this story….:)

  14. dua jempol untuk emma. ntt memang menawan namun baru sedikit yang tahu seperti berlian yang belum diasah. pada saatnya nanti, ntt yang penuh pesona akan dikenal dunia

  15. Posted by abia bauana on Maret 27, 2013 at 9:10 pm

    Makasih,,,,Rote tanah saya d lahirkan dan d besarkan (Pantai Baru)
    i love rote island

  16. Posted by telda on Januari 22, 2014 at 8:41 pm

    kalau anda ada kesempatan berkelilinglah ke pulau rote dari ujung timur sampai barat pulau ini disitu anda akan terkagum-kagum dengan panorama alamnya seperti pantai nembrala, batu termanu dan masih banyak lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: